Kenapa Bonek FC Lebih Memilih WO?

  • is h

    Sah-sah saja penulis mengecam demikian. Semua pecinta bola tentu akan menyayangkan pengambilan sikap seperti itu.
    Tetapi akan lain halnya jika kita berbicara dari sudut pandang pelaku, kemungkinan besar akan berbeda pemikirannya. Tidaklah mudah menghadapi teror, terlebih lagi teror yang terencana, melibatkan perangkat pertandingan, dan parahnya lagi didiamkan oleh aparat, baik aparat pengawas pertandingan maupun aparat hukum.

    Apakah rela membiarkan pemain berjibaku dihajar pemain lawan dan dicurangi wasit sementara taruhannya tak hanya sekadar menang dan kalah, melainkan masalah kehormatan dan nyawa?

    Saya sendiri pernah merasakan itu, baik sebagai pemain maupun sebagai pelatih meskipun di taraf yang sangat rendah di liga tarkam. Saya terpaksa menyuruh anggota tim saya untuk berhenti pemain lantaran tak tega membiarkan anak didik saya dihajar dan diintimidasi di lapangan sementara aparat pertandingan mendiamkan saja. Karena nyawa dan masa depan anak latih saya lebih berharga dari sekadar 3 poin dan hiburan bagi penonton. Barangkalio perspektif seperti ini yang seringkali tak terlintas di benak para pengamat yang mungkin tak paham bahkan sekadar cara berlari yang benar.

    Jika diteruskan dan kemudian situasi menjadi fatal, siapa yang berani bertanggungjawab? Para pengamat jelas takkan mau bertanggung jawab. Ofisial pertandingan saling melempar tanggung jawab. Tinggallah pemain dan keluarganya yang merana sendirian dan terlupakan.

    Seharusnya ada petimbangan-pertimbangan empatis semacam itu sebelum menghakimi suatu keutusan WO atau lainnya. Agar fair.

    Btw, saya lebih mendukung Persebaya versi 1927 ketimbang Bonek FC.

    • Isidorus Rio

      Terimakasih kritik dan sarannya, mas. Namun begini, teror aparat atau kejanggalan keputusan wasit itu masih teka-teki dan berbau opini satu pihak. Bukan hal yang faktual dan terbukti benarnya. Melanjutkan dan menyelesaikan pertandingan adalah sebuah ketentuan, bukan sebuah opsi. Dan mohon maaf, tidak perlu sebuah pertimbangan empatis untuk sebuah keputusan WO di sebuah pertandingan profesional. Pengalaman pribadi yang mas tulis kan berawal dari liga tarkam di Indonesia yang memang terkenal keras dan penuh intimidasi, tapi konteks yang saya tulis adalah turnamen resmi dan dimainkan pemain profesional. Jadi, jelas beda ketentuannya. Terimakasih.

      • Is Harjatno

        wah, saya malah kurang sepakat dengan itu. Menyebut turnamen piala presiden sebagai sebuah turnamen profesional kemudian menjadi rancu karena yang dituntut untuk menjadi profesional hanya klub dan pemain, sementara ofisial pertandingan dan penyelenggaranya tidak.

        Dikemas dengan gaya apapun, faktanya Piala Presiden tetaplah bukan sebuah turnamen resmi yang diakui FIFA. Dengan kata lain, tak lebih dari sekadar turnamen tarkam yang elit dan diadakan pemerintah.

        Kita sama-sama tak suka dengan PSSI dulu dan sekarang, tetapi saya juga tak setuju dengan cara kemenpora. Pembekuan ini dampaknya luas. Bukan hanya berhentinya kompetisi, tetapi juga mandegnya pembinaan. Apakah adil mengorbankan generasi-generasi pemain-pemain u-10 s/d u-21 sementara yang hendak ditembak adalah level pemain di atasnya dan para perangkat federasinya? Itu jauh lebih fatal bahkan jika dibandingkan dengan merosotnya ranking timnas.

        Jujur aja, dulu sayapun mendukung pembekuan PSSI, tetapi dengan harapan dibarengi adanya tindakan hukum dan politis yang konkret. Ini tidak. Gelagatnya malah cuma sebagai alat penekan agar PSSI mau disetir, bukan untuk menyehatkan persepakbolaan.

        Jika ingin memperbaiki PSSI, seret petinggi-petingginya di pusat dan daerah yang terindikasi sebagai mafia dan teroris bola ke meja hijau. Habiskan di sana, dengan jalur hukum. Bukan dengan pembekuan yang tak jelas arahnya.

        Terakhir, WO jelas bukan sebuah cara yang baik. Tetapi jika itu adalah pilihan terbaik di antara terburuk, kenapa tidak? Sekali lagi saya ucapkan, nyawa manusia jauh lebih penting daripada 3 poin.

        • Isidorus Rio

          Saya tidak bilang artikel ini tentang memperbaiki PSSI. Itu bukan urusan saya. Apalagi urusan pembekuan dan tetek bengek lainnya. Tindakan WO, apapun situasi dan kondisinya, adalah salah. Itu saja. Pahami konteks tulisan, mas. Terimakasih kritiknya (lagi).

          • is h

            ya semoga aja nantinya mas bisa bersikap demikian, jika berada dalam posisi yang sama dengan mereka. saya pernah soalnya. meskipun dalam konteks yang berbeda. tetapi intinya sama: risiko nyawa anak orang.

  • arip

    Nasib…