Fandomenulis

Memilih Tema yang Menarik untuk Ditulis

  • Yamadipati Seno

    Pertamax

    • Sirajudin Hasbi

      Pertalite

    • Alief Maulana

      Sing genah, Mas.

    • test…

      • Alief Maulana

        Telaaaat

  • Ashila Amriyani

    dulu pernah sekali atau dua kali menulis artikel menyangkut sepak bola di blog sendiri dan cukup mendapat respon yang bagus. tapi belakangan ini ketertarikan buat nulis artikel menurun ketimbang nulis cerpen walaupun ‘tugas’ buat nulis artikel lebih banyak. alasannya? mungkin lebih pada ketakutan untuk menulis artikel sepak bola dan tema yang ingin diangkat terkesan mainstream alias ‘itu-itu’ aja. but then again, im not that good with statistic 🙁

    • Sirajudin Hasbi

      Statistik memang booming dalam beberapa tahun terakhir ini. Tapi, menulis sepakbola tanpa statistik itu tidak masalah, justru memiliki kekhasan tersendiri dan bisa jadi malah tidak kaku. Ayo menulis lagi, kepercayaan diri memang perlu untuk dibangun 🙂

      • Ashila Amriyani

        makasih banyak atas dukungannya min:’) tapi entah kenapa ngeliat artikel yang ada kaitannya tentang statistik agak bikin jiper since i know nothing about that wkwkw anw, mau share artikel yang saya bikin bulan Maret lalu. sekiranya jika berkenan untuk ditanggapi dan dikomentari, boleh? 😀

        • Sirajudin Hasbi

          Boleh dik Ashilla, silakan saja.

          Jangan jiper, semua hal bisa dipelajari, hanya perlu siapkan mental dan semangat untuk belajar 🙂

          • Ashila Amriyani

            Footbal-life: Winning

            Dalam sepak bola, kemenangan adalah tujuan utama. Segala sesuatu akan dilakukan untuk memperoleh kemenangan tersebut, dan tentu hal itu akan menjadikan beberapa pasang mata menganggap bahwa ‘hal curang’ pun akan tetap dilaksanakan demi kemenangan. Sepak bola menandakan kemenangan sebagai poin, khususnya dalam sebuah liga. Lain cerita ketika format laga seolah seperti Piala Dunia, maka kemenangan adalah harga mati—menang atau keluar dari medan pertempuran.

            Begitu pula dalam kehidupan, kemenangan adalah tujuan. Bukan hanya soal lahir, tapi juga soal batin. Seperti halnya Idul Fitri untuk kalian yang Muslim, pasti seringkali terdengar ‘Hari Kemenangan’ setelah berhasil mensucikan diri setelah berpuasa selama sebulan penuh atau dalam Adzan pun ada yang berarti ‘Marilah menuju kemenangan’. Dalam hal ini kemenangan dapat berarti banyak hal. Tak ubahnya dalam kehidupan; mencapai goal pun dapat dikatakan sebagai sebuah kemenangan. Tak heran jika dalam sepak bola, suatu klub yang berhasil mencetak lebih banyak gol akan memperoleh kemenangan.

            Memang benar ada banyak cara untuk memperolehnya, tapi jangan lupakan akan satu hal yang membuat kalian mendapatkannya—yakni mental untuk meraih kemenangan tersebut.

            Dalam konteks sepak bola, saya sering menyebutnya sebagai winning mentality.

            And that is the most important thing in football, for me. Because no matter who you are, even if there are best footballers around you in the squad, even if youre playing for the best team in this world, even youve got the best coach, even if youre playing for the most passionate fans youve ever seen, or even if youre that one players whom deserved every football awards—you’re nothing, without winning mentality.

            Semangat juang untuk menang tak hanya berlaku pada satu orang semata, hal tersebut justru bisa mempengaruhi rekan-rekan di sekitar, yang memiliki tujuan yang sama. Ini seperti virus yang menyebar, hanya saja dalam hal yang positif. Dengan semangat juang tersebut, kita takkan pernah cepat untuk menyerah.

            Ini terbukti pada laga sepakbola Arema v Semen Padang di Piala Presiden dan Barcelona v Paris Saint German di Liga Champions. Arema berhasil memenangi laga dengan 5 gol setelah sebelumnya dikalahkan dengan skor 2-0, sedang Barcelona berhasil meruntuhkan desas-desus yang ada dengan mencetak 6 gol dalam laga mission impossible setelah dikalahkan PSG dengan skor telak 4-0 di leg pertama.

            Bukan karena nama besar atau pemain berkelas di dalamnya—tapi keinginan yang kuat untuk mewujudkan yang tidak mungkin. Coba tanyakan fans sepak bola pada umumnya, siapa yang mengira Barca bisa lolos ke quarterfinal dengan agregat 6-5? Mungkin ada, tapi tetap saja ada umpatan halus yang keluar dari mulut tanpa sengaja. I honestly didnt, saya pun nyesel karena ngga nonton streaming.

            Terlepas dari itu semua, segala sesuatu yang kita lakukan itu tidak mustahil dan tergantung dari seberapa kuat keinginan kita untuk melaksanakannya. Dengan begitu, bukan tidak mungkin kemenangan yang sesungguhnya akan kita dapatkan. Hanya, tentu saja, jangan pernah menyerah. Itu kuncinya.

            Dan mengutip dari kalimat yang sering disampaikan oleh guru ekonomi saya di SMA, “tak ada yang tidak mungkin di dunia ini, kecuali memakan kepala sendiri.”

            So, remember to always keep fighting to reach your goals!

          • Sirajudin Hasbi

            Masih SMA? hahaha

            Kalau untuk ditulis di status atau blog pribadi sih sudah cukup, hanya paling melakukan spesifikasi tema agar tidak melebar. Dan tidak banyak bahasa Inggris, biar tidak jadi kesan keminggris.

            Kalau mau dikirim ke media, sebaiknya gunakan kata baku, misalnnya ngga diganti tidak 🙂

          • Ashila Amriyani

            udah kuliah mas wkwk tapi ngambil kutipan dari guru waktu sma wkwk

            waaaa! siap deh mas, makasihh banyak atas koreksinya. tapi untuk yang ini tema nya udah cukup spesifik kan ya? wkwk nah itu dia terkadang susah nyari terms dari bahasa indonesia jadi ujug2 pake bahasa inggris. kudu wajib belajar bahasa indonesia lagi nih kayaknya xD

            makasihh banyak loh mas, buat bahan perbaikan untuk kedepannya :’)

          • Mukhammad Najmul Ula

            Asemmm,
            Sini malah repot nerjemahin sumber berbahasa Inggris, situ malah keenakan pake bahasa Inggris…
            Hebat lah mbak…

          • Ashila Amriyani

            sebenernya itu tergantung persepsi masing-masing, mas. justru saya suka banget sama artikel berbahasa indonesia yang rapi dan enak dibaca dan ngerasa minder karena saya malah minjem istilah dari bahasa asing. btw, makasih banyak yo mas, jadi terharu nih :’) haha sukses terus!

          • Ashila Amriyani

            ohiya sebenernya ini malah kayak opini si min/mas/om Hasbi (yang mana nih? wahaha) dan tujuannya buat bikin something like inspiring notes gitu. saya bikin ber-seri dan salah satunya ya yang saya post ini mwehehe sekedar info, mungkin ini lebih ke arah kaitannya sepak bola dengan kehidupan sehari-hari yang terkadang sukar kita sadari bahwasannya sepak bola bisa mengajarkan banyak hal terlepas dari sekedar di lapangan aja 😀

          • Sirajudin Hasbi

            Kalau tujuannya ini, sudah oke, tinggal dirapikan lagi aja bahasanya 🙂

          • Ashila Amriyani

            siap, mas! thank youuuuuuuuuu 😀

  • Hartoni Amin

    Kebetulan tadi siang saya nulis ini min -> http://satpol-pepi.blogspot.co.id/2017/09/urgensi-pembangunan-stadion-di-wonosobo.html?m=1
    Kali aja ada tanggapan itu akan sangat membantu dan memotivasi saya, terima kasih 😀

    • Sirajudin Hasbi

      Tolong langsung dicopas ke sini ya mas, nanti dikomentari

    • Sirajudin Hasbi

      Tulisannya menarik karena menulis sesuatu yang jarang diberitakan. Jujur saya sendiri kurang mengikuti sepakbola Wonosobo. Tentunya juga tak tahu mengenai nama stadionnya. Tapi, itu menarik dan tentunya kamu bisa melakukan eksplorasi lebih lanjut. Karena kondisi stadion tentunya berkaitan dengan dana APBD, alokasinya ke mana dan lain sebagainya.

      Untuk tulisannya, rasanya kurang nyaman di bagian awalnya karena ada dua pendahuluan, terkait dengan pencalonan tuan rumah Piala Dunia dan persaingan klub Jawa Tengah. Saya pribadi lebih menyarankan untuk menggunakan yang persaingan klub Jawa Tengah, itu lebih kontekstual untuk memulai cerita tentang kiprah mengenai klub dari Wonosobo.

      Sementara untuk stadion bisa dimasukkan ke bagian isi sebagai daya dukung infrastruktur untuk pembinaan sepakbola. Hanya saja kamu perlu kritis tentang keinginan untuk memiliki stadion, jangan-jangan sebelum punya stadion, lebih baik klubnya ditata manajemennya hehe

      • Hartoni Amin

        Sebelumnya terima kasih banyak mas Hasbi atas tanggapannya saya sangat senang dan jujur saya belum pernah dikomentari segamblang ini sebelumnya apa lagi oleh jurnalis seperti Mas Hasbi.
        Baik mas masukannya akan segera saya lakukan, terima kasih banyak masukannya mas luar biasa saya jadi tambah semangat nih 😀

        • Sirajudin Hasbi

          Semoga makin semangat Hartoni, semua memang butuh proses, jangan cepat lelah 🙂

    • Haris Chaebar

      Salam kenal mas, saya juga dari Wonosobo dan saya juga sedang nulis tentang sepakbola Wonosobo.

      • Hartoni Amin

        Wah salam kenal mas saya dari mirombo 😀 mari lanjutkan menulis mas, oh iya mas Haris bisa hubungi saya lewat twitter di @albrightonne kalau mau bincang2 gitu hehe

        • Sirajudin Hasbi

          mantap jadi ketemu teman untuk kolaborasi 🙂

  • Alief Maulana

    Kuy

    • Sirajudin Hasbi

      sing tenanan

      • Alief Maulana

        Yang sering terjadi adalah ide buntu, Mas. Menulis bola bukan karena memang ingin, tapi lebih ke kewajiban pekerjaan. Minta saran agar sekiranya tema selalu ada.

        • Sirajudin Hasbi

          Kewajiban pekerjaan ya tetap dilakukan, tapi kan biasanya karena itu kewajiban mintalah redaktur untuk membantu penyusunan tema yang perlu dan tidak perlu ditulis. Sepakbola ceritanya banyak sekali, tapi kebijakan redaksi akan menentukan apa saja yang kiranya perlu untuk diangkat, sementara yang lain tidak perlu ditulis.

          Kalau kulihat masalah ide buntu dan kewajiban ini adalah karena kamu sedang bosan. Sekali-sekali perlu untuk jalan-jalan atau main yang tidak ada kaitannya dengan sepakbola, siapa tahu jadi refresh pikirannya 🙂

          • Alief Maulana

            Nitip koreksi ya, Mas.

          • Alief Maulana

            Tim sepak bola itu ibarat tubuh. Satu bagian tubuh terluka, bagian tubuh yang lain berusaha mencari cara agar sembuh. Satu sakit, yang satunya menyembuhkan.

            Tak ada yang mau membiarkan bagian tubuhnya sendiri terluka. Kalau memang ada, kemungkinannya satu: otak mereka rusak.

            Ini yang terlihat dari aksi penggalangan dana senin (14/8) malam. Saat para pemain merasakan kesusahan yang teramat dalam, suporter yang menjadi elemen penting dalam sepak bola, berusaha mencari cara untuk menyembuhkan luka itu.

            Sejatinya, malam itu Gresik United harus bermain. Tak seperti biasanya, Ultras Gresik memilih menunggu di luar stadion. Stadion bak kuburan. Sepi.

            Seribu orang berkumpul di satu titik: belakang sektor dua atau belakang GOR. Membawa lilin sebagai tanda berduka. Menyisihkan uang saku – yang sejatinya untuk menonton para pejuang bertanding – untuk diberikan ke perwakilan Ultras Gresik. Tujuannya satu: uang tersebut bisa digunakan untuk keperluan para pemain.

            Dua bulan lebih, gaji dari para pemain belum diberikan. Jangankan untuk makan, untuk beli sabun mandi saja, para pemain tidak bisa. Alhasil, satu sabun digunakan untuk banyak orang. Miris.

            Para pemain harus memecah celengan mereka yang isinya recehan. Ya Tuhan, mereka pesepak bola profesional atau anak kecil yang mau jajan di Pasar Bandeng.

            Mereka jelas tak mau memecah celengan mereka. Tapi, hidup harus terus berjalan. Mereka juga butuh makan, minum, dan mandi. Sandang, pangan, dan papan harus dipenuhi.

            Untuk itulah Ultras Gresik bergerak. Meminta dana yang saya yakin tidak akan cukup untuk membayar dua bulan gaji belasan pemain Kebo Giras. Tapi, sebagai suporter yang merasa memiliki tim, hal ini harus dilakukan.

            Mereka, para pemain yang masih bertahan, adalah sekumpulan orang yang hebat. Mereka memilih bertahan di klub yang tidak menunaikan kewajibannya. Padahal, kalau mereka mau, mereka bisa pindah ke klub lain.

            Misalnya saja Arsyad Yusgiantoro yang beredar kabar sedang diincar salah satu klub mapan Liga 2 yang berasal dari Jawa Timur. Dia memilih bertahan di Gresik.

            Apa kalian tega pemain setia seperti Arsyad dan pemain lainnya, kelaparan?

            Jumlah dana yang terkumpul memang tidak terlalu banyak. Hanya Rp. 8.887.500,00 saja. Tapi, ini adalah dana yang terkumpul dengan susah payah. Kami susah payah menahan gejolak untuk memasuki stadion, gejolak mendukung Kebo Giras dari belakang gawang.

            ***

            Sang pemilik tubuh memang enggan mengetahui fakta bahwa ada yang tidak beres di dalam tubuhnya. Otak yang merupakan sumber dari segala penghidupan, menolak untuk memberikan isyarat kepada bagian tubuh lainnya untuk merawat bagian tubuhn yg terluka.

            Kalau Otak enggan menggerakkan, Tangan bersikukuh untuk membantu sebisa mereka. Menyembuhkan luka dan merawat bagian tubuh yang sakit sampai sembuh.

            Itulah kehidupan.

          • Sirajudin Hasbi

            Wes apik, tapi kurang detail soal kegiatan e Ultras, bisa dielaborasikan meneh.

  • Yamadipati Seno

    Cara nyari ide yg bagus gimana ya, mas?

    • Sirajudin Hasbi

      berbincang dengan teman-teman yang suka dengan sepakbola, cara paling ampuh sih berdiskusi tatap muka, wes gak ono sing ngalahke iki 😀

      • Budi Windekind

        aku butuh ikiiiiiiiiiiiiiihhhh

        • Alief Maulana

          Jogja, Mbah.

        • pindah Jowo ae mbah ben akeh koncone, wkwk…

          • Alief Maulana

            Bar iki rabi oleh cah Jogja kok.

    • sering nongkrong sama yang mbaurekso suporter atau klub, kayak situ 😀

  • Rizki Darmawan

    Saya sebelumnya jarang menulis, hanya suka membaca. Sampai pada akhirnya saya harus menulis untuk tugas akhir saya. tulisan saya saat awal-awal menulis sangat jauh dari kata layak, tanda baca yang kacau menjadi permasalahan yang utama.
    Setelah lulus kuliah, saya bersama teman saya mendirikan portal khusus literasi yang bertemakan Persija dan supporternya, Penggunaan tanda baca dalam penulisan sebuah artikel membaik seiring waktu, tetapi makin lama, muncul masalah baru; memilih tema yang menarik untuk ditulis. Produktifitas menulis saya fluktuatif, website yang saya dan teman-teman dirikan pun kadang puasa menerbitkan tulisan sampai satu bulan lamanya.
    lho kok jadi curhat, sih.
    anyway, mohon kiritik dan sarannya terhadap tulisan saya di bawah ini, om Hasbi.

    RASA IRI

    Jangan pernah meremehkan kekuatan rasa iri. Kata seorang peraih Academy Award bernama Oliver Stone. Rasa iri bisa menjadi kekuatan yang destrutif atau pun konstruktif. Destruktif jika rasa iri itu timbul apabila Anda sudah memiliki segalanya, konstruktif jika rasa iri itu timbul ketika anda tidak memiliki sesuatu.
    Rasa iri bisa menjadi destruktif itu diakibatkan oleh ketiadaannya rasa syukur terhadap sesuatu yang sudah dimiliki. Sementara, rasa iri bisa menjadi konstruktif jika dijadikan motivasi untuk memiliki hal yang tidak kita miliki.
    Supporter Persija, The Jakmania, dan warga Jakarta pada umumnya, memiliki rasa iri yang besar terhadap provinsi-provinsi lain di Indonesia pada masalah ketersediaan stadion yanng representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional.
    Setelah kehilangan Stadion Menteng dan Stadion Lebak Bulus, praktis hanya tinggal Stadion Utama Gelora Bung Karno saja stadion yang representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional. Selebihnya, seperti stadion Bea Cukai, Stadion Soemantri, stadio Tugu, hanya cocok untuk menjadi tempat anak-anak sekolah mengambil nilai ujian mata pelajaran olahraga.
    Padahal, Jakarta memiliki kultur sepak bola yang cukup tua dan besar. Sejak akhir abad ke sembilan belas, olahraga paling populer di muka bumi ini sudah dimainkan di tanah Jakarta. Sampai pada awal abad ke dua puluh, klub-klub sepak bola mulai bermunculan di Jakarta. Bahkan, klub asal Jakarta pulla yang menginisiasi berdirinya federasi sepak bola di Indonesia. Dengan fakta-fakta tersebut, sangat wajar jika suporter sepak bola Jakarta dan warga Jakarta sangat iri dengan provinsi lain di Indonesia yang memiliki bahkan lebih dari satu stadion yang representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional.
    Kita ambil contoh dari provinsi tetangga Jakarta, Jawa Barat. Provinsi yang ber-ibukota di Bandung ini memiliki sangat banyak stadion yang cukup representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional. Butuh lebih dari sekali tarikan nafas untuk menyebutkan semuanya. Beberapa diantaranya adalah: Stadion Patriot, Stadion Wibawa Mukti, Stadion Gelora Bandung Lautan Api, Stadion Si Jalak Harupat, Stadion Pakansari, Stadion Cibinong, Stadion Galuh, dan masih ada beberapa lagi stadion yang cukup representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional.
    Sedangkan provinsi lain, setidaknya memiliki dua stadion yang cukup representatif. Contoh, Sumatra Barat ada Stadion Dharmasraya dan Stadion Haji Agus Salim. Sumatra Selatan, ada stadion Jakabaring dan stadion Bumi Sriwijaya. Jawa tengah punya stadion Manahan yang sering jadi kandang Persija, Stadion Gelora Bumi Kartini, Stadion Jati Diri, dan masih ada beberapa stadion lain. Yogyakarta ada Maguwoharjo, Mandala Krida, dan Sultan Agung. Jawa Timur punya Gelora Bung Tomo, Gelora Delta, Kanjuruhan, Gajayana, Gelora Bangkalan, Gelora Ratu Pamelingan, dan lain-lain. Kalimantan Timur punya Stadion Batakan, Stadion Segiri, dan Stadion Palaran. Kalimantan Selatan ada Stadion 17 Mei dan Stadion Demang Lehman. Dan masih banyak stadion lain di Provinsi lainnya yang tidak mungkin saya sebutkan semua.
    Dari stadion-stadion yang saya sebutkan di atas, semuanya adalah milik pemerintah daerah tempat stadion berada. Kita lihat di Jakarta, walaupun ada stadion yang megah, stadion itu milik pemerintah pusat. Pemerintah daerah DKI Jakarta, tidak atau belum memiliki sttadion yang representatif untuk menggelar laga sepak bola profesional.
    Jika dibandingkan dengan provinsi lain yang kultur sepak bolanya tak se-meriah Jakarta, contoh Aceh. Jakarta jelas kalah dalam hal ketersediaan stadion yang representatif. Aceh memiliki stadion Harapan Bangsa dan Cot Gapu, yang keduanya dimiliki oleh pemerintah daerah setempat.
    Jakarta dengan kultur sepak bolanya yang sudah lebih dulu ada dan meriah pastinya, harus memiliki stadion sepak bola yang kriterianya minimal bisa unntuk menggelar laga profesional tingkat nasional. Miris jika melihat fakta bahwa klub sepak bola asal Jakarta menumpang bermain di stadion yang terletak di provinsi lain. Memang pemerintah provinsi DKI Jakarta sedang membangun stadion baru, yang jika dilihat dari desainnya akan sangat megah begitu jadi nanti.
    Memang tidak apple to apple membandingkan DKI Jakata yang merupakan Ibu Kota Negara dengan Provinsi lain. Tetapi rasa iri ini sudah tak tertahankan lagi. Melihat klub kebanggaan bermain di tanah sendiri kembali merupakan sebuah keinginan bagi semua pendukung Persija. Semoga janji pemerintah provinsi DKI Jakarta yang menyebutkan bahwa tiga tahun ke depan Jakarta akan meiliki stadion yang bertaraf Internasional bukanlah sekadar janji belaka.
    Saya sangat berharap, pemerintah provinsi DKI Jakarta juga memiliki rasa iri yang sama dengan kami, pendukung Persija yang juga warga Jakarta.

    • Sirajudin Hasbi

      saya komentari curhatnya dulu ya :p

      Writers block itu bisa menjangkiti siapa saja. Selain membaca, kamu tentu suka menyaksikan pertandingan Persija baik di stadion maupun layar kaca. Jika sekali waktu kamu ke stadion atau warkop, cobalah untuk ngobrol dengan mereka yang ada di dekatmu. Biasanya dari obrolan itu kita bisa memperoleh kutipan yang menginspirasi kita untuk menuliskannya.

      Selain itu cobalah untuk terus menulis, di berbagai jam. Kenapa? Itu membantu kita untuk mendapatkan jam terbaik untuk menulis. Saya bisa menulis saat malam, tapi waktu terbaik saya untuk menulis adalah pagi hari. Paling sulit menulis saat siang hari. Nah, hal semacam ini sangat personal, jadi kamu perlu menemukannya sendiri 🙂

    • Sirajudin Hasbi

      Sudah ada yang mengirimkan dua tulisan bertemakan stadion di sini haha

      Ada beberapa poin yang perlu untuk diperbaiki.

      Pertama, kamu dan teman-teman perlu punya selingkung/acuan penulisan, agar lebih rapi dan enak dibaca. Juga agar tidak jauh dari kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Misalnya, Stadion Lebak Bulus atau stadion Lebak Bulus. Sederhana, tapi dari hal-hal kecil tersebut kita belajar untuk perhatian pada detail kecil yang membangun sesuatu yang besar.

      Kedua, biasakan untuk menggunakan ukuran yang terukur atau secara logika bisa dipertanggungjawabkan. Misalnya, ” Jakarta memiliki kultur sepak bola yang cukup tua dan besar.” Tidak jelas setua apa atau kenapa kamu sebut tua. Juga besar, sebesar apa? hehe. Kalau kamu yakin bahwa kultur sepakbola Jakarta itu sudah sedemikian tua, kamu bisa perkuat dengan fakta penguat, seperti fakta ada klub sepakbola di Jakarta yang berdiri tahun 1898 atau lainnya.

      • Rizki Darmawan

        wahhhhh terima kasih, om hehehe

        • Sirajudin Hasbi

          sama-sama, ayo dirawat lagi medianya 🙂

          • Rizki Darmawan

            siap… salah satu masalah juga sih kita, anak-anak Jakarta ga ada panutan yang bisa ditemui secara langsung, jadi agak bingung mau nanya-nanya kalo masalah literasi sepak bola hehe

          • Sirajudin Hasbi

            Di Jakarta malah banyak. Coba hubungi Zen RS di Tirto atau Yoga Cholandha dan Rossi Finza di Kumparan. Di Kumparan juga ada mas Dalipin. Atau Eddward SK dan Pangerang Siahaan 🙂

          • Rizki Darmawan

            maksud saya, yang suporter Persija juga, mas. hehe. kan kalo Sleman Football ada Mas Hasbi yang mbimbing, media suporter Persib ada Kang Zen, anak Jakarta gak ada atau sayanya aja yang belum ketemu hehe

          • Sirajudin Hasbi

            haha, saya tidak ada batasan, siapa pun yang datang saya bersedia. Tidak hanya Sleman Football, media PSIM, Persis Solo, Persebaya, dll pun tidak masalah.

            Kalau Jakarta, ada Gerry tuh yang bagus juga, dulu kelola abidinside. Btw, medianya apa?

          • Rizki Darmawan

            Sepakbola Jakarta, Mas. Hehe…

          • Sirajudin Hasbi

            oalah sepakbola jakarta, sempat ngobrolin itu sama Gerry, bagus kok, aku ngikutin, tinggal konsistensinya aja dijaga, semangat 🙂

  • Agung Pramudita

    Tahun 2011 tulisan saya dimuat di salah satu tabloid. Sayangnya mereka gak nepati janji untuk ngasih hadiah. Sekarang tabloidnya udah gulung tikar dan saya lupa dimana naruh tabloid tersebut. Udah dicari2 masih gak ketemu. Kalau diingat2, lucu juga ya kwwkkwwk 😀

    • Sirajudin Hasbi

      hahaha, saya juga pernah mengalami hal serupa. Biasa itu di media, banyak urusan, kadang honor juga lupa ditransfer. Tapi, jangan sampai meruntuhkan semangat untuk menulis 🙂

  • Sovi Nur Wakhidah

    Daripada tentang statistik, saya lebih tertarik buat nulis tentang perilaku suporter di lingkungan stadion terutama tribun. Kalau mau mengangkat tema itu, saat di stadion kita harus membaur (bergabung) dengan kelompok suporter tersebut atau hanya perlu mengamati perilakunya saja?

    • Sirajudin Hasbi

      Kedua cara itu baiknya dilakukan, juga ditambah banyak membaca mengenai perilaku suporter. Sekarang ini, di Fandom sendiri, banyak yang mengangkat tentang kultur suporter. Berbaur dengan mereka yang ada di stadion membantu kita untuk ikut merasakan emosi yang ada saat pertandingan. Kegembiraan, amarah, semua jadi satu. Itu menarik. Satu tips lagi: bisa banyak-banyak nonton Youtube utamanya channel Copa90 yang banyak mengupas kultur suporter 🙂

      • Sovi Nur Wakhidah

        Kalau misalnya dalam tulisan kita hanya fokus ke kultur suporter Indonesia, tanpa membandingkan dengan suporter negara lain kira-kira bagaimana Mas Hasbi? Karena jujur, saya agak sulit ketika harus menuliskan sesuatu yang tidak saya alami. Misal, hanya menyaksikan lewat youtube atau membaca artikel. Saya lebih mudah menuliskan apa yang saya lihat dan alami secara langsung di stadion 😀

        • Alief Maulana

          Nimbrung, Mas Bi. Suporter itu unik. Saking uniknya, banyak hal yang bisa dicomot. Ada banyak angle yang bisa diambil. Menurutku, kalau memang membahas suporter lokal, duduk bersama mereka, menikmati setiap detik apa yang mereka lakukan. Karena bisa jadi suporter di Jatim dan Jabar berbeda kultur. Misalnya, saat di Stadion A, kebiasaan suporter mengumandangkan salawat. Sisi unik yang di stadion dan suporter lain belum ada. IMO.

          • Sirajudin Hasbi

            Betul mas Luka, sepakat.

          • Sovi Nur Wakhidah

            Matur nuwun sarannya Mas..

        • Sirajudin Hasbi

          Ya tidak apa-apa. Malah bisa dijadikan tulisan berseri hehe kalau begitu, mulailah untuk menuliskan apa yang dialami, tapi jangan kebanyakan pakai kata “saya” dan sebagainya 🙂

          • Sovi Nur Wakhidah

            Siap.. Matur nuwun Mas Hasbi..

          • Sirajudin Hasbi

            sama2, keep writing ya 🙂

          • Sovi Nur Wakhidah

            Pasti 🙂

  • Mukhammad Najmul Ula

    Mengenai kalimat “mendatangi lapangan latihan atau bergabung dengan para suporter di tribun penonton bisa memberikan pengalaman yang berbeda,” saya justru tidak (atau belum) pernah melakukannya.
    Ini pula yang membuat saya merasa belum mampu memecahkan isu “menulis dari dekat”.
    Dua tulisan saya di Fandom merupakan hasil “studi literatur”, di mana saya menentukan tema, mencari data, mengolah data dan menulis esainya sepenuhnya berasal dari hasil penelusuran di media daring.
    Saya memang pernah menulis tentang sepakbola lokal, tetapi itu pun lagi-lagi merupakan hasil pengamatan melalui layar kaca yang dibumbui berbagai data dari sejumlah literatur.
    Mungkin para mahaguru di sini bisa memberi nasihat, bimbingan, atau pencerahan agar tulisan kita tentang sepakbola eropa (yang jauh dari kita) bisa serasa menulis dari dekat.
    Mengingat kadar literasi saya yang masih cetek, saya hanya bisa mengatakan, Darmanto Simaepa adalah penulis yang mampu mengubah sepakbola jauh menjadi semacam catatan hidup sehari-hari…

    • Sirajudin Hasbi

      Nah, itu kamu sudah menemukan jawabannya. Darmanto Simaepa dan Mahfud Ikhwan itu bagus dalam menulis dari dekat. Mas Darmanto itu kalau nonton sepakbola tidak hanya 90 menit, tapi juga menyaksikan saat pemanasan, ketika pemain keluar dari lorong, dan lainnya. Di situ dia bisa melihat raut muka Lionel Messi yang gugup jelang final Liga Champions 2013 dan lain sebagainya. Selain itu, kamu perlu banyak membaca apa yang disebut sebagai jurnalisme sastrawi, menulis yang detail, mengalir, dan begitu nyaman untuk dibaca. Salah satu buku yang bisa digunakan sebagai rujukan adalah Narasi terbitan Pindai.

      • Mukhammad Najmul Ula

        Nah itu mas. Belakang Gawang membentuk paradigma baru bagi saya dalam menulis sepakbola.
        Btw, Mas, semenjak Fandom reborn, saya sudah berkali-kali mengirim naskah ke Fandom, tetapi tidak pernah tembus. Menariknya, ketika naskah-naskah tersebut saya kirimkan ke media daring lain yang sejenis, beberapa diantaranya dinyatakan layak tayang. (Mohon maaf apabila saya menggunakan jurus “kirim kemana-mana siapa tau tembus”).
        Memang cukup menantang standar yang dibangun Fandom.
        Saya juga sekalian ingin meminta pendapat Mas Hasbi soal tulisan saya yang satu ini.
        *Tulisan ini saya kirimkan juga ke Fandom, tetapi tidak dibalas, heuheuheu.
        *Tulisan ini juga saya kirimkan ke Football Tribe (ngapunten sebut merk). Mereka menyatakan naskah awal cukup panjang dan mempersilakan saya untuk merevisi. Saya pun segera mengirim naskah revisi, tetapi sampai sekarang belum dikonfirmasi, keburu Championship main lagi. Jadi saya kira sudah kedaluarsa. Naskah dibawah adalah naskah revisi. (Mohon maaf pada para punggawa Football Tribe yang nongol disini apabila tersinggung saya ungkit percakapan di surelnya).

        Tua Bangka Pemburu Tahta
        Sungguh asyik memelototi Divisi Championship musim ini. Pelatih beken internasional sekelas Nuno Espirito Santo (Wolverhampton), Leonid Slutsky (Hull), Thomas Cristiansen (Leeds), Slavisa Jokanovic (Fulham), Jaap Stam (Reading), dan Daniel Farke (Norwich) mau membesut tim di liga maraton ini. Mereka mendapat tantangan dari manajer lokal bereputasi seperti Harry Redknapp (Birmingham), Steve Bruce (Aston Villa), Garry Monk (Middlesbrough), atau Gary Rowett (Derby). Predikat sebagai “one of most unpredictable league in Europe” terejawantahkan secara sempurna hingga enam pekan pertama musim ini.
        Pemilihan kata “Tua Bangka” pada judul artikel ini bukan merupakan bentuk peyorasi usia dua manajer tersebut. Alih-alih, McCarthy sendiri yang menggunakan istilah kasar itu untuk mengejek para pengkritik usai pekan kelima. “Two old farts who know nothing about the game, hey?”, begitu kutip The Guardian. Orang Irlandia itu memang sepuh. Kecuali Redknapp sang imortal, tidak ada diantara deretan manajer di paragraf pertama yang menghirup udara bumi lebih awal dibanding dirinya. Pada pekan kelima, Ipswich dibawanya melesat ke peringkat dua, tepat dibawah hidung Neil Warnock. Orang ini pada pekan keenam masih bercokol di puncak klasemen bersama Cardiff City. Menariknya, ia berusia sebelas tahun lebih tua dibanding McCarthy, menjadikannya salah satu pelatih penyintas Football League edisi lama.
        Ramuan McCarthy Dinanti Saat Semuanya Kembali
        Mick McCarthy, pria bermuka lonjong dengan uban permanen, sejauh ini adalah manajer dengan masa pengabdian terlama di Championship (sejak 2012 di Ipswich). Kariernya tidak bergelimang sukses seperti halnya Sir Alex Ferguson, tetapi toh ia tetap punya dua tiket promosi ke Premier League (bersama Sunderland dan Wolves) dalam portofolionya. Pengalaman diejek pendukung sendiri pada musim lalu saat The Blues—julukan Ipswich- hanya finis di peringkat 16 mungkin salah satu catatan gelap dalam kariernya, walaupun dalam hal ini pemecatan di Wolves bisa disebut titik terendah karier kepelatihannya.
        Laiknya pujangga yang telah membetot sajak jutaan rindu lamanya, McCarthy tentu punya bait tersendiri untuk melukiskan Divisi Championship. Ia menggubah larik “Fantastis dan menyenangkan, sekaligus brutal, alot, tak terkontrol, dan tanpa belas kasihan”. Meski terpuruk pada musim lalu, ia tidak menatap ke belakang, “Musim lalu, aku mendengar nyanyian ‘kau akan dipecat esok hari’. Namun akhirnya aku tetap (melatih) disini untuk kembali mencoba menjadi lebih baik. Kita dapat terlecut dengan kenyataan bahwa kita tidak termasuk tiga tim terdegradasi yang sekarang turun kasta.”
        Frasa ‘kembali mencoba menjadi lebih baik’ sekilas tampak seperti ucapan klise para politisi petahana semasa kampanye, tetapi McCarthy benar-benar mengerti aspek aksiologis dalam kalimat itu. Dua penyerang Rangers, Martyn Waghorn dan Joe Garner diboyong guna menaruh beberapa bola melewati garis gawang lawan. Tugas berlawanan diharapkan dilakukan oleh Bek Emyr Huws, Callum Conolly, dan Dominic Iorfa (pinjaman). Bersant Celina, wonderkid Manchester City juga turut menghiasi alternatif lini tengah tim penantang promosi ini.
        Menariknya, keperkasaan Ipswich awal musim ini justru diraih dengan skuad cukup tipis dan penuh tambal sulam. Nick Ames dalam kolomnya di The Guardian menyebut McCarthy sanggup mengubah wajah Ipswich pada saat tiga bek tengah utama masih menepi, tiga rekrutan anyar belum bisa berpartisipasi (Tom Adeyemi, Huws, dan Celina), serta dengan komposisi gelandang yang kurang mengigit. Kemenangan 2-0 melawan Brentford menjadi pertunjukan penuh risiko yang amat sukses: empat bek sayap dan empat striker diberdayakan bersamaan saat sepak mula. Oleh karenanya, Ames setengah berharap berujar, “Kunci sukses Ipswich-nya McCarthy terletak pada cara mereka bereksplorasi saat sumber daya mereka tersedia penuh.”
        Neil Warnock Mengejar Promosi Kedelapan
        Sementara itu, di kota terbesar Wales di mana Millenium Stadium—stadion ini dianggap sebagai deputi Wembley yang agung- berdiri dengan gagahnya, Cardiff City sang empunya sedang menikmati kehormatan bertengger di puncak klasemen Championship. Pelatih Neil Warnock merupakan satu dari hanya dua veteran kelahiran 1940-an yang masih sanggup bekerja siang malam dibalik kemudi balapan Championship (satu lainnya adalah Harry Redknapp).
        Warnock sendiri pernah begitu rapuh—ia mengakuinya sendiri- saat gagal mempertahankan cinta sejatinya, Sheffield United, di belantara Premier League. Pada pekan terakhir musim 2006/07, penalti David Unsworth (Wigan) mengirim The Blades kembali ke Championship. Pekan pamungkas yang lebih diingat publik lewat keajaiban Carlos Tevez di Old Trafford (ia menyelamatkan West Ham dengan gol tunggalnya), Warnock merasa pengabdiannya sudah purna. Butuh waktu baginya untuk kembali merasakan aura kompetitif.
        “Aku merasa terkoyak ketika terdegradasi bersama Sheffield, tetapi itu mengantarku menerima pekerjaan di London,” akunya pada BBC. “Aku menyukai para fans di QPR, yang mana itu (melatih di QPR) tidak akan terjadi bila Sheffield selamat. Aku menikmati kegidupan di London, Rotherham juga, dan sekarang di Cardiff. Aku bahagia disini, seperti biasanya. Aku benar-benar bersiap menyambut musim ini. Kami kembali dianggap underdog, para petaruh mengatakan kami akan berada di peringkat 15. Meski begitu, kau selalu ingin membalikkan anggapan seperti itu.”
        Sebagai pelakon sejarah yang sudah bergelut di rimba persepakbolaan Inggris sejak “belum ditemukan para bandit televisi”, Warnock punya pandangan tersendiri terkait dua hal yang menjadi patologi sepakbola modern: inflasi dan media sosial. “Media sosial membuat segalanya menjadi lebih sulit bagi para manajer. Semua merasa memiliki kompetensi. Mereka mengatakan lebih paham dibanding dirimu. Banyaknya telepon masuk juga tidak terlalu membantu. Biarpun demikian, kadang aku mendengarkan mereka dan berkunjung ke forum penggemar. Dengan begitu, sekali waktu aku akan menemukan informasi yang penad. Jadi aku tidak bisa mengatakan semua ini (media sosial dan sebagainya) omong kosong belaka.”
        Ia pun tidak terlalu bersemangat dengan kehadiran gelontoran uang di sepakbola modern. “Kita tidak tahu di mana ini akan berakhir. Gejala itu menjalar ke semua kasta. Di Championship, pemain senilai 2 juta paun sudah berharga 10 juta paun, dan pemain seharga 10 juta paun dibanderol 20 juta paun. Itu menyulitkan. Namun itu semua tidak begitu terasa di Cardiff mengingat kami tidak mengeluarkan terlalu banyak uang.”
        Dan sekarang, saat Cardiff sedang memuncaki klasemen, Warnock mewanti-wanti, “Suporter akan berangan-angan, tetapi aku tahu di liga ini semua dapat berbalik dengan cepat. Kau dapat kalah tiga-empat kali beruntun.” Optimiskah ia mengejar tiket promosi kedelapannya? “Jika kami dapat berkeliaran di empat besar sampai Oktober, kurasa tempat di play-off pantas bagi kami. Kami harus tetap menunggu dan mencermati.”
        **
        Well, dengan Neil Warnock (69 tahun) dan Mick McCarthy (58 tahun) berkejaran merebut tahta Divisi Championship, kita dapat menggugah kembali ingatan kita saat sepakbola Inggris belum “tercemar” aktor-aktor impor. Dua pelatih tersebut merupakan representasi pelakon lawas, yang tentu dapat membuktikan bahwa produk lokal sanggup bersaing dengan para pendatang. Jika kakek-kakek renta saja bisa tampil kompetitif, darah muda semacam Garry Monk atau Gary Rowett sudah pasti mampu berbicara banyak, dong?
        ****

        • Sirajudin Hasbi

          Sejak awal Fandom ada, kami memilih untuk tidak menayangkan artikel yang dikirimkan kemana saja, karena itu bisa menjadi persoalan kredibilitas. Siapa tahu nanti kami tayangkan terus tayang di tempat lain. Jadi, sebaiknya dikirim ke satu media, jika tidak diterima baru ditarik dan dikirimkan ke media lainnya ya.

          Selain kualitas tulisan, ada baiknya kamu juga membangun citra sebagai penulis yang memiliki etika. Ada semacam kesepakatan tidak tertulis di antara penulis dan media bahwa jangan mengirimkan artikel yang sama ke banyak media dalam waktu bersamaan. Juga soal interaksi dengan redakturnya.

          Soal revisi di Tribe ya saya kurang tahu kebijakan redaksi mereka. Tapi, jujur saja, jika naskahnya tidak timeless, merevisi artikel yang sudah dikurasi redaktur tapi tidak lolos, mungkin memang sebaiknya kamu mulai menulis yang baru saja 🙂

          • Mukhammad Najmul Ula

            Wah begitu ya, Mas. Terima kasih banyak.
            Saya jadi merasa berdosa, heuheuheu.

          • Mukhammad Najmul Ula

            Ngomong-ngomong soal “Sebaiknya dikirim ke satu media, jika tidak diterima baru ditarik dan dikirimkan ke media lainnya”, saya mungkin punya satu permohonan ke Fandom. Yakni, tolong lah Fandom kasih pemberitahuan naskahnya ditolak, biar kami bisa tahu kapan saatnya merevisi…

          • Sirajudin Hasbi

            oke, dikabulkan, tapi untuk konsultasi tulisan hanya saat #fandomenulis ya 😉

  • Bahar

    Mas, seminggu yang lalu saya sempat kirim beberapa tulisan ke situs bola, tapi ndak tembus semua hahaha. Mohon bantuannya Mas buat kritik dan sarannya. Langsung copas di seksi komen ini atau gimana? Agak panjang soalnya, lebih dari 1000 kata. Matr nuwun.

    • Sirajudin Hasbi

      iya langsung copas saja, tapi satu per satu dulu. Satu saya komentari dulu

      • Bahar

        Mungkin salah satu saja ya Mas, soalnya temanya agak mirip. Ini saya tulis selang sekitar tiga jam setelah kualifikasi Piala Dunia zona Asia selesai minggu lalu.

        Sampai Kapan Level Sepak Bola Kita Jalan di Tempat?
        Oleh: Rizka Anggita Bahar

        Sepanjang hari ini, masyarakat Indonesia masih akan terbawa keriangan kemenangan atas Myanmar pada ajang Piala AFF U-18 yang digelar di Yangon, Myanmar. Tampil di hadapan publiknya sendiri, Myanmar dipaksa menyerah oleh Indonesia. Dua gol yang diciptakan Egy Maulana Vikri pada menit 71 dan 90+1 berhasil menundukkan perlawanan Myanmar yang sempat unggul di babak pertama lewat gol Myat Kaung Khant pada menit 27. Hasil ini tentu membuat publik sepak bola Indonesia kembali menaruh harapan pada tim nasional, setelah pada perhelatan ajang sebelumnya, SEA Games ke 29 di Kuala Lumpur, Malaysia tim nasional Indonesia U-22 gagal mempersembahkan medali emas setelah dikalahkan tuan rumah Malaysia di semifinal.
        Kemenangan anak asuh pelatih Indra Sjafri semalam tentu membuat publik berharap memori indah tahun 2013 kembali terulang. Kala itu di ajang Piala AFF U-19 yang digelar di Indonesia, Timnas U-19 berhasil menjadi juara setelah mengandaskan perlawanan Vietnam di final lewat drama adu penalti. Apalagi di tahun ini, Timnas U-19 kembali ditangani oleh Indra Sjafri, setelah sempat dipecat usai gagal memenuhi target lolos ke Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru. Publik masih percaya dengan racikan tangan dingin Indra Sjafri yang terbukti mampu membawa prestasi bagi tim nasional Indonesia, meskipun baru level Asia Tenggara, sekaligus berhasil mengorbitkan beberapa pemain muda yang tampil apik untuk kemudian tampil di level senior, sebut saja Evan Dimas dan Hansamu Yama. Hal ini paling tidak dibuktikan dengan ramainya media sosial Twitter oleh pujian warganet Indonesia yang ditujukan kepada Timnas U-19.
        Mungkin sebagian pecinta sepak bola kita juga tau, selain berita kemenangan Timnas U-19 semalam, ada satu berita lagi yang membuat terkejut banyak pihak. Secara dramatis tim nasional Suriah berhasil mengunci satu tempat ke putaran empat kualifikasi Piala Dunia 2018 zona Asia setelah berhasil menahan imbang tuan rumah Iran 2-2 berkat gol di penghujung laga pemain Suriah, Omar Al Soma. Hasil imbang tersebut menempatkan Suriah berada di posisi tiga Grup A, satu tingkat di bawah Korea Selatan dan dua tingkat di bawah Iran sebagai pemuncak klasemen. Pada putaran empat babak kualifikasi Piala Dunia zona Asia nanti, Suriah dipastikan akan menantang Australia, yang juga berada di peringkat ketiga Grup B. Putaran empat sendiri memainkan laga Suriah lawan Australia dengan sistem home and away.

        Selebrasi pemain Suriah seusai pertandingan melawan Iran semalam (sumber: the-afc.com)

        Jalan memang masih panjang bagi Suriah, setelah harus memainkan putaran empat pada dua leg, Suriah masih harus menjalani laga intercontinental play-off melawan peringkat empat perwakilan zona Amerika Tengah, Utara, dan Karibia (CONCACAF), sebelum berhasil menyegel satu tempat di Piala Dunia 2018 Rusia, dengan catatan Suriah mampu menyingkirkan Australia terlebih dahulu. Masih panjang bukan? Memang, setidaknya Suriah maksimal harus memainkan empat laga lagi untuk bisa memastikan satu tempat di Rusia. Hal yang menarik dan patut kita perhatikan tentu saja keikutsertaan Suriah yang bahkan bisa melangkah lebih jauh ketimbang negara lain yang sudah punya tradisi kuat di sepak bola Asia seperti Tiongkok, Uni Emirat Arab, maupun Irak. Seperti kita tahu, Suriah merupakan negara yang tengah dilanda konflik serta krisis kemanusiaan. Perang saudara dan klaim organisasi ISIS tengah berkecamuk di Suriah. Namun siapa sangka dibalik konflik yang tengah melanda, tim nasional sepak bola mereka justru mampu berbicara banyak dan sedang merintis jalan untuk meraih satu tiket di Piala Dunia 2018. Melihat kondisi tersebut, tak mengherankan jika selebrasi pemain serta ofisial tim Suriah begitu emosional selepas gol Omar Al Soma pada injury time babak kedua. Bahkan, salah satu komentator sepakbola Suriah tak kuasa menahan air matanya setelah gol itu terjadi.

        https://twitter.com/_DrOsama/status/905136609640710144

        Mau Sampai Kapan, Indonesia?
        Setelah kita menengok kabar dari Suriah semalam, sudah sepantasnya kita dan seluruh pecinta sepak bola Indonesia mulai bertanya dalam hati. Sampai kapan Indonesia terus berkutat di level Asia Tenggara? Bisa kah sepak bola Indonesia naik level di kancah Asia? Kalau Suriah saja bisa, kenapa kita tidak? Sepintas memang terdengar klasik, namun bukankah kenyataannya memang Indonesia masih terus berusaha untuk menjadi juara bahkan “hanya” level Asia Tenggara saja. Kelihatan terlalu menuntut kah kita bila berharap suatu saat kita setidaknya menjadi negara yang diperhitungkan di Asia? Saya pun termasuk orang yang percaya pada suatu proses untuk mendapatkan hasil. Namun sekali lagi, apakah kurang lama proses yang dibuat oleh federasi sepakbola PSSI semenjak terakhir kali merebut medali emas SEA Games 1991? Karena setelah medali emas tersebut kita tidak bisa lagi melihat timnas senior Indonesia merengkuh gelar juara. Rasanya kok kita terlalu lama berada di kondisi dan prestasi yang itu-itu saja.
        Sebenarnya jalan panjang menuju Piala Dunia mulai dirintis PSSI semenjak Timnas U-19 berhasil lolos ke Piala Asia U-19 tahun 2014 di Myanmar. Kala itu, PSSI menetapkan target lolos ke semifinal sebagai syarat otomatis untuk mendapatkan tiket ke Piala Dunia U-20 tahun 2015 di Selandia Baru. Namun, alih-alih sebagai ajang persiapan, Timnas U-19 justru “dipaksa” untuk melakukan Tur Nusantara yang digelar oleh PSSI. PSSI berdalih bahwa kegiatan tersebut sebagai ajang uji coba sekaligus persiapan sebelum terjun di Piala Asia U-19 Myanmar. Tur Nusantara yang mengharuskan anak – anak muda ini berlaga 10 kali selama bulan Februari 2014 ini memang hasilnya bagus, skuat Garuda Muda tak terkalahkan, tetapi perlu diingat bahwa lawan yang mereka hadapi belum sepadan. Hasil akhirnya anti-klimaks, timnas Indonesia gagal total di Piala Asia U-19 Myanmar. Dari 3 pertandingan yang dijalani di babak grup, tak sekalipun tim asuhan Indra Sjafri ini meraih kemenangan, dengan catatan memasukkan 2 gol dan kemasukan 8 gol. Harapan seluruh elemen masyarakat Indonesia untuk menyaksikan timnas berlaga di Piala Dunia menguap tak bersisa. Setelah gelaran Piala Asia U-19 2015 tersebut, keadaan bertambah buruk setelah dijatuhkannya sanksi FIFA terhadap Indonesia karena intervensi pemerintah. Harapan menyaksikan timnas berlaga di Piala Dunia, bahkan Piala Asia sekalipun pupus setelah sanksi tersebut. Indonesia tidak diperkenankan mengikuti seluruh kegiatan FIFA selama pemerintah masih ikut intervensi keadaan sepak bola nasional.
        Kita boleh saja menyalahkan intervensi pemerintah dua tahun lalu, sehingga menyebabkan kita hanya berkutat di level Asia Tenggara selama dua tahun terakhir. Namun, sudah sepantasnya pula kita untuk mulai berharap (lagi) terhadap generasi muda sepak bola kita. Jalan panjang itu akan mulai dirintis lagi. Dimulai dari Piala AFF U-18 yang sedang berlangsung di Myanmar, lalu kualifikasi Piala Asia U-19 yang akan berlangsung bulan Oktober mendatang. Jika kita menilik performa yang ditampilkan anak asuh Indra Sjafri semalam, boleh lah kita berharap dan berdoa timnas kita bisa berbicara banyak. Minimal mengulangi kejayaan di tahun 2013 yang lalu.
        Setelah dahaga gelar yang begitu panjang, mungkin sudah saatnya bagi kita untuk memulai berharap sesuatu yang lebih tinggi. Bukan lagi tentang urusan adu gengsi lawan Malaysia, tetapi untuk bisa menaklukkan (lagi) Korea Selatan di kualifikasi Piala Asia U-19 nanti. Kemudian berharap lolos di semifinal Piala Asia U-19 2018 yang diselenggarakan di Indonesia. Dengan begitu, mimpi seluruh pecinta sepak bola Indonesia untuk menyaksikan Indonesia berlaga di Piala Dunia akan terwujud. Ah, bermimpi memang menyenangkan. Namun, bukan kah memang mengasyikkan jika kita, supporter Indonesia, di tahun 2019 nanti ramai – ramai awaydays ke Korea Selatan mendukung timnas kita berlaga di Piala Dunia U-20? Mimpi yang semoga bisa diwujudkan Indra Sjafri dan seluruh punggawa tim nasional Indonesia.

        • Sirajudin Hasbi

          Imho tulisanmu terlalu panjang dengan beragam topik yang mestinya bisa dipecah menjadi beberapa artikel. Situasi Suriah justru bisa kamu jadikan awalan atau jika kamu ingin menggunakan yang Piala AFF U18 sebagai pembuka, maka idenya bisa kamu spesifikan ke pembinaan kita yang salah ada di mana sehingga ketika mereka beranjak dewasa tidak berkembang maksimal dan kalah dengan negara lain.

          Mulailah untuk membatasi tema tulisan yang kamu tulis. Salah satu siasatnya agar sebuah tulisan tidak melebar dengan membuat coretan kerangka tulisan. Lalu, fokuslah membaca bahan bacaan yang sesuai dengan apa yang kamu tulis dan bisa membantumu untuk membangun argumen.

          Terus menulis ya 🙂

          • Bahar

            Nah itu dia mungkin kesalahan saya, asal tulis yang ada di kepala tanpa bikin kerangka dulu. Selain itu, saya juga masih terlalu terpaku dengan pembatasan jumlah kata, sehingga targetnya malah jumlah kata yang mengakibatkan melubernya topik tadi. Anyway, makasih Mas saran dan masukannya, bikin tambah gereget lagi hehe. Oh iya, ada yang perlu dibenahi lagi mungkin selain topik yang terlalu banyak?

          • Sirajudin Hasbi

            Saya dulu juga memikirkan batasan kata, lama-lama nanti menyesuaikan kok, asal rajin-rajin saja menulis, nanti akan ketemu ritme ddengan sendirinya, semangat ya 🙂

          • Bahar

            Siap, Mas. Matur nuwun.

          • Sirajudin Hasbi

            Sama2 mas Bahar, keep writing 🙂

  • Alfian Ishlah

    Saya punya kendala dalam menuangkan ide – ide yang ada di kepala saya menjadi sebuah tulisan. Pertama adalah perkara memulai. Memulai untuk menulis menurut saya adalah perkara yang sulit. Entah itu karena kurang percaya diri atau kurang bisa membahasakan ide – ide yang terlintas di kepala. Kedua, tentang bagaimana melebarkan / mengembangkan ide – ide yang sudah ada. Tak jarang saat menulis, apa yang ada di kepala ternyata menjadi sangat monoton, singkat dan kurang menarik saat dikonfersi menjadi sebuah tulisan. Mungkin bisa bagi tipsnya mas untuk perkara memulai dan mengembangkan ide ide ?

    • Sirajudin Hasbi

      Bisa disiasati dengan menyusun kerangka tulisan terlebih dahulu. Jadi, ide yang ada di kepala bisa ditulis di secarik kertas lalu bikin rancangan apa saja yang ingin ditulis. Ini membuat kita lebih terstrukur juga dalam hal mencari sumber yang mendukung tulisan kita.

      Kalau menulisnya di media online, bisa dilakukan penambahan gambar atau video pendukung, ini juga bikin ide tulisan kita terjelaskan dengan lebih baik.

  • Abu Bakar

    Assalamualaikum, selamat malam teman-teman. Saya cukup tertarik dengan kalimat “Kebaruan atau up to date itu penting, tapi kedalaman tidak kalah pentingnya” terkadang saya punya tema-tema yg menurut saya cukup menarik, salah satu tema yg pernah saya coba angkat adalah bagaimana tim sepakbola asli daerah bisa menjadi fasilitator atau wadah anak-anak muda mengikuti perkembangan dan transisi daerah itu sendiri. Tapi setelah coba untuk menulis dan sudah hampir selesai sering timbul keraguan akan tulisan saya sendiri karena informasi yg saya sampaikan rasanya kok kurang berisi atau kurang sesuai dengan tema, mohon sarannya buat mas-mas sekalian, sekiranya apa yg perlu saya lakukan?

    • Sirajudin Hasbi

      Berbincang atau melakukan wawancara dengan narasumber yang kamu kira kompeten dengan tema yang sedang kamu tulis, itu penting dan sangat membantu. Jika masih ragu untuk mempublikasikannya, kamu bisa meminta tolong satu dua temanmu untuk membaca tulisanmu, di situ bisa diketahui apakah sudah cukup layak atau masih perlu ada perbaikan.

      • Abu Bakar

        lalu mas bagaimana kita bisa menentukan narasumber yg kompeten itu dengan latarbelakang kita yang memang masih sangat pemula dalam hal menulis ini? mohon jawabannya kembali mas

        • Sirajudin Hasbi

          Bisa dengan bertanya kepada relasi atau membaca media setempat, siapa kiranya yang kerap dimintai komentar terkait dengan sepakbola. Bisa juga mendatangi instansi terkait, jangan skeptis dulu, bisa jadi ada orang yang cocok jadi narasumbermu 🙂

          • Abu Bakar

            terimakasih mas Sirajudin Hasbi dan Fandom, sering-sering buat diskusi online ya biar pertanyaanku bisa tersalurkan yg terhambat karena jarak hahaa..

  • Katondio B. Wedya

    Oke saya menangkap pembahasan di atas adalah perihal isinya aja. Bagaimana dengan hak cipta? Kita penulis juga butuh pengetahuan bagaimana agar tidak tersandung persoalan plagiarisme karena gambar yang kita cantumkan dalam artikel. Apa lebih baik kita pilih gambar tanpa watermark tapi sumbernya kita tulis “blogspot.com” atau yg ada watermark-nya aja? Darimana kita bisa belajar soal ini krn kita semua blm tentu kuliah jurnalistik.

    Kemudian jg perihal tanda baca dan kata sambung, kata depan yg sepele tapi saya yakin ada pentingnya utk diperhatikan agar menambah rapi tulisan.

    Darimana kita belajar semua itu? Apakah teman-teman di sini semua punya referensi online-nya?

    • Mukhammad Najmul Ula

      Mohon maaf ikut nimbrung Mas Hasbi.
      Mas Katondio, untuk masalah penggunaan tanda baca, saya kira kebiasaan membaca kita bisa membentuk pengetahuan berbahasa yang baik dan benar. Makanya kita harus sering-sering baca.
      Kalau memang ingin punya patron untuk masalah kaidah kebahasaan, banyak orang sudah mengakui kompetensi Ivan Lanin, Mas. Beliau juga sering sekali menanggapi pertanyaan para warganet, walaupun terkesan sepele. Silakan ikuti akun twitternya (saya tidak tahu apakah beliau punya akun instagram)

      • Sirajudin Hasbi

        Selain Ivan Lanin, jangan lupakan soal “selingkung”, yang kita anggap salah belum tentu salah, begitu pula sebaliknya, yang kita anggap benar belum tentu benar 🙂

    • Rizki Darmawan

      Izin ikut komentar, Mas. Kalo masalah hak cipta, saya juga gak begitu ngerti. Tpi, kalo yang masalah tanda baca dan kata sambung, saya banyak belajar dari banyak baca buku dan artikel2 bebas. Kadang juga sambil buka KBBI daring, atau bisa juga follow twitter @ivanlanin

      • Sirajudin Hasbi

        wikipedia juga lengkap

    • Sirajudin Hasbi

      Soal hak cipta memang sebaiknya mencantumkan sumber. Walaupun belum rajin, pelan-pelan mau coba benahi soal ini, sekarang grafis Fandom jika memuat foto milik orang lain diberi sumber, bisa dicek ke akun Instagram Fandom_ID. Tidak ada aturan baku, yang lebih banyak diketahui adalah aturan dari masing-masing pribadi dan redaksi. Yang perlu adalah, tahu mana foto yang bisa digunakan gratis dan enggak. Coba disearch saja web penyedia foto gratisan, akan ada lebih dari 10 kok 🙂

      • biasanya pake pixabay.com, tapi dari pengalaman memang kalau nyari foto pemain sepakbola (apalagi sepakbola lokal), pasti bakal kesulitan… kalo punya duit bisa langganan ke, misal, Getty Images, yang foto-fotonya sudah pasti bagus…

        • Sirajudin Hasbi

          Nah…

        • Jeremia Viktor

          di tumblr banyak foto hd sepak bola. Tapi jangan cari lewat hashtag, coba stalking per akun

  • M Dewa Baskoro

    Dulu saya sering nulis masukin Kompasiana juga sering haha tapi makin kesini makin malas. Selain karena ide, saya juga merasa tulisan tidak cukup bagus, ditambah saya tidak punya latar belakang jurnalistik dan juga beberapa kali mengirim ke sebuah portal website tapi gak di publish haha. Sebenarnya apakah latar belakang itu juga cukup berpengaruh dalam tulisan ? Biasanya untuk survive dalam hal seperti ini yang dibutuhkan apasih mas ?

    • Sirajudin Hasbi

      Latar belakang apapun punya ceritanya masing-masing. Di Fandom ini ada yang dokter tapi rajin menulis. Dia tidak pernah kuliah komunikasi atau ambil kelas jurnalistik. Tapi, dia rajin membaca, baik apa yang disukai maupun hal yang terkait dengan kepenulisan dan jurnalistik. Belajar bisa dengan siapa saja dan di mana saja, jadi mas Dewa juga bisa, asal tekun. Yang penting dua hal: gairah dan ketekunan. Dan tentunya jangan mudah putus asa 🙂

  • Isidorus Rio

    Saya ikut meramaikan diskusi, ya. Permasalahan utama yang sering saya temui di penulis sekarang adalah pemilihan tema yang hanya populer bagi dirinya sendiri. Saya sempat mengalami hal ini juga di awal-awal menulis. Seiring waktu, penulis harus memahami bahwa agar menarik, tulisan harus menarik bagi pembaca. Bagi saya, penulis harus memosisikan diri sebagai penulis dan pembaca. Melihat tulisan bukan hanya sebagai kepuasan mereka pribadi, tapi juga untuk menyenangkan pembaca.

    • Alief Maulana

      Wah editor.

      • Sirajudin Hasbi

        aku geli rio nulis e serius ngene whahaha

        • Alief Maulana

          Asline kui curhat lho.

        • Isidorus Rio

          Jare kongkon meramaikan….aku content activator ki. Invoice tak enteni lo.

          • Sirajudin Hasbi

            nek kowe tak kirimi invoice ku mah luwih ngelu lho, invoice konsultan jhe :))

    • Sirajudin Hasbi

      Betul sekali dik Rio yang tampan. Penting bagi kita para penulis ini untuk memikirkan agar tulisan ini mudah dipahami oleh para penikmatnya. Itu akan membuat kita lebih membumi dalam menulis dan tidak berusaha membuat tulisan yang penuh istilah sulit untuk dipahami.

      • Mukhammad Najmul Ula

        Mohon maaf Mas Hasbi & Mas Rio,
        Memang bagi penulis yang sudah jam terbangnya tinggi, apalagi jika terikat dengan institusi kepenulisan, menyusun tulisan dengan sudut pandang pembaca terasa lebih mudah.
        Bahkan saya kira sudah tugas media semacam Fandom dan sebangsanya menyediakan tulisan yang “sesuai kebutuhan khalayak”.
        Beda halnya bagi kami yang menulis hanya sekadar mengisi waktu luang, menulis hanya untuk membunuh waktu. Saya merasa hanya sanggup menulis sesuai kesukaan, sesuai gairah yang saya punya. Mungkin perlu waktu bagi kami agar bisa menulis seperti yang panjenengan harap…

        • Sirajudin Hasbi

          Saya mengelola Fandom, jujur saja, hanya menuruti passion mas, tapi passion tidak melulu tentang diri sendiri namun juga orang lain 🙂

          • Yamadipati Seno

            Ha iya

          • Alief Maulana

            Ha ya

        • Yamadipati Seno

          Wah iya betul mas. Mas Isidorus Rio memang begitu.

      • Jeff Winm

        Saya kalo menulis sampe 2000 kata bisa seminggu baru jadi..

  • Budi Windekind

    kadangkala, ketika menulis sesuatu kok ya masih ngerasa ada yang ngganjel ya? ngerasa harusnya masih bisa diubah sedikit lagi supaya lebih enak. apa ada pendekatan yang salah ketika menulis?

    • Gilang

      Sa juga sering gini mbah. Setelah tulisan jadi rasanya masih ada yang kurang. Setelah dicek dan beberapa kalimat diubah tetep masih ngganjel.

      • Sirajudin Hasbi

        ya bikin kerangka menulis, tapi ini soal jam terbang. Kalau sudah lama menulis nantinya kan enak sendiri, tapi juga bisa jadi kita ini memang perfeksionis. Tapi, saya sepakat, setiap tulisan yang selesai ditulis, sebaiknya kita baca ulang, setidaknya sekali.

        • Alief Maulana

          Wah Maz Bud kok dibilang jam terbang. Wah wah.

  • Haris Chaebar

    Selamat malam.. ada anggapan kalau menulis sepakbola, maka
    istilah-istilah sepakbola seperti pressing, atau build-up dan sebagainya
    bisa dimasukkan untuk memberi” kesan yang teknis atau khas sepakbola”. Tetapi seringkali
    orang kesulitan dalam mengerti istilah-istilah tersebut, bahkan bagi
    yang menggemari sepakbola pun kadang masih asing menerima
    istilah-istilah tersebut. lalu apakah penerjemahaan atau pengartian
    istilah-istilah itu harus selalu disampaikan tiap kita menulis sebuah artikel? Lalu bagaimana tips mendeteksi ketertarikan pembaca agat tetap senang dengan tulisan-tulisan dari kita? Terimakasih.

  • Budi Windekind

    Bagaimana cara terbaik untuk menemukan kekhasan tulisan kita sendiri dan mengembangkan skill menulis supaya lebih baik? Karena kadangkala, ada kejenuhan yang terasa berkaitan dengan tulisan kita sendiri. Kok ya ngunu2 ae, hehe.

    • Sirajudin Hasbi

      Kuncinya ya hanya 2: menulis dan membaca sebanyak-banyaknya. Tapi ada satu tips lagi, hanya saja agak berat: membaur dengan aktivitas sepakbola, seperti bermain sepakbola, nonton di stadion membaur dengan suporter, ikut jadi relawan di SSB, dan lainnya, itu bisa mengubah kejenuhan menjadi semangat kembali mbah 🙂

      • Budi Windekind

        bakal dicoba iki. mung balbalan kene ki sepi, hiks. futsal sih yang rame. termasuk kiblat futsal nasional.

  • Alfian Muhammad Ishlah

    Kadang sulit untuk mengembangkan ide ide di kepala. Saat dibahasakan malah jadi garing, berat, singkat dan tidak nyaman dibaca. Mungkin bisa kasih saran untuk penulis pemula bisa mengembangkan tulisan agar tidak menjadi monoton dan nyaman untuk dibaca ? sekalian saran buku / karya tulis yang recommended untuk dijadikan inspirasi dalam menulis tulisan tentang budaya suporter indonesia

    • Sirajudin Hasbi

      Bisa disiasati dengan menyusun kerangka tulisan terlebih dahulu. Jadi, ide yang ada di kepala bisa ditulis di secarik kertas lalu bikin rancangan apa saja yang ingin ditulis. Ini membuat kita lebih terstrukur juga dalam hal mencari sumber yang mendukung tulisan kita.

      Untuk buku, ada Merayakan Sepakbola karya Fajar Junaedi, Sepakbola: The Indonesian Way of Life karya Antony Sutton, dan Pemain Kedua Belas karya Ekspresi UNY.

  • Haris Chaebar

    Selamat malam.. ada anggapan kalau menulis sepakbola, maka
    istilah-istilah sepakbola seperti pressing, atau build-up dan sebagainya
    bisa dimasukkan untuk memberi” kesan yang teknis atau khas sepakbola”. Tetapi seringkali
    orang kesulitan dalam mengerti istilah-istilah tersebut, bahkan bagi
    yang menggemari sepakbola pun kadang masih asing menerima
    istilah-istilah tersebut. lalu apakah penerjemahaan atau pengartian
    istilah-istilah
    itu harus selalu disampaikan tiap kita menulis sebuah artikel? Lalu
    bagaimana tips mendeteksi ketertarikan pembaca agat tetap senang dengan
    tulisan-tulisan dari kita? Terimakasih sebelumnya

    • Sirajudin Hasbi

      Bisa dilakukan dengan memberi backlink pada istilah tersebut sehingga kita tidak perlu menjelaskan di dalam artikel. Itu pula sebabnya fandom menyusun glosarium sepakbola tahun lalu.

      Lalu, penggunaan istilah tidak serta membuat tulisan kita keren, karena penggunaan istilah yang keliru justru akan membuat tulisan menjadi jelek. Jadi, sebaiknya pahami dulu dan gunakan istilah yang benar-benar kita pahami.

      Dan tanpa istilah asing pun sebenarnya tulisan kita tetap bisa menjadi bagus 🙂

      • Haris Chaebar

        Suwon mas Hasbi.. makin nambah ilmu kalau sering ada diskusi yang kaya beginian. hehe

  • Irda Rindhana

    Mas’e saya selalu kesusahan ngebuat paragraf yg menarik, punya saran gk buat nulis paragraf awal yg menarik

    • Sirajudin Hasbi

      Paragraf awal sebaiknya ditulis secara ringkas tentang apa yang akan dibahas dalam tulisan tersebut atau latar belakangnya. Bisa disiasati dengan menggunakan kutipan, ada banyak kutipan tentang sepakbola yang menarik atau yang unik bisa diambil dari Twitter. Saya dulu pernah menulis artikel tentang Bambang Pamungkas yang paragraf awalnya merupakan kutipan twit, “Apakah benar Bambang Pamungkas pemain titipan apparel timnas?” twit itu ditujukan ke akun Bepe langsung 🙂

  • Ismail Surendra

    bagi tips tentang konsistensi menulis dong kak

    • Sirajudin Hasbi

      kamu kan sudah hobi membaca, tinggal ditulis saja, menulis dimana saja dan kapan saja il 🙂

  • Sirajudin Hasbi

    masih banyak yang bilang Tuhan tidak adil, lho.

  • Yamadipati Seno

    Mas mas..cuma mau manggil aja…