Antisipasi Sejak Lini Pertama Menjadi Kunci Tottenham Hotspur Mengalahkan Manchester City

Menghadapi Manchester City, Mauricio Pochettino, pelatih Tottenham Hotspur, menggunakan formasi 4-2-3-1 yang bertransformasi ke bentuk 4-4-2 saat melakukan pressing blok tinggi yang menjadi kunci kemenangan timnya.

Tim yang diasuh oleh Pep Guardiola selalu dikenal sebagai tim yang sangat baik dalam memainkan konstruksi serangan dari lini pertama. Menghadapi tim semacam ini, salah satu cara yang dapat ditempuh adalah meminimalkan kestabilan serangan tim Pep sejak fase pertama, yaitu fase membangun serangan dari lini belakang (lini pertama).

Salah satu cara untuk menghadapinya adalah tim bertahan mesti memainkan pressing blok tinggi. Selain dapat menahan progres serangan lawan sedini mungkin, memainkan pressing blok tinggi juga sangat berpotensi membuka celah besar di area pertahanan sendiri. Oleh karena itu, cara ini memang tidak mudah untuk dilakukan.

Potensi bahaya ini bisa diderita apabila lawan mampu melewati pressing blok tinggi dengan okupansi ruang yang ideal, sehingga serangan terkoneksi dengan baik yang pada gilirannya megeksploitasi celah vertikal besar di antara kiper dengan lini belakang.

Pochettino memutuskan mengambil risiko ini demi mencegah kemungkinan City memeragakan sirkulasi yang terstruktur. Dengan (berusaha) menghentikan City memainkan build-up terstruktur, Pochettino telah mengeliminasi berbagai ancaman dini dari lawannya yang sedang berada dalam rekor sempurna di Liga Primer Inggris.

Pressing blok tinggi Tottenham Hotspur

Orientasi awal pressing Tottenham Hotspur terhadap build-up fase pertama Manchester City
Orientasi awal pressing Tottenham Hotspur terhadap build-up fase pertama Manchester City

 

Dalam gelombang pertama pressing, Pochettino menginstruksikan Dele Alli, salah satu gelandang tengah untuk bergerak ke atas masuk ke area #9 menemani Son Heung-Min memberikan tekanan kepada trio John Stones, Nicolas Otamendi, dan kiper Claudio Bravo.

Orientasi awal mereka lebih kepada position-oriented (berorientasi kepada posisi rekan satu tim sembari menunggu reaksi lawan). Saat bola dimainkan oleh Bravo kepada salah satu bek tengah, #9 terdekat akan secara gradual mendekatinya.

Bila bola dioper ke sisi seberang, kembali ke penjaga gawang atau langsung kepada bek tengah di sisi lain, #9 yang dimaksud tadi akan melakukan pressing dengan lintasan lari melengkung untuk menutup opsi umpan balik ke bek tengah City pertama.

Saat bola tiba di bek tengah kedua, Son akan dengan segera keluar dari posisinya untuk melakukan press berusaha menjepitnya ke garis batas sisi lapangan (touchline). Di lini kedua dan ketiga, Christian Eriksen dan Victor Wanyama memberikan perlindungan di tengah.

Eriksen seringkali terlihat melakukan pressing dengan pendekatan option-oriented (meng-cover opsi-opsi yang mungkin diambil lawan). Dengan tidak melakukan penjagaan perorangan (man-oriented), misalnya, kepada hanya salah satu dari Fernandinho atau Fernando, Eriksen membiarkan Wanyama untuk berkonsentrasi di area yang lebih dalam di depan bek tangah.

Bila Eriksesn melakukan penjagaan perorangan, tentu Wanyama perlu lebih berfokus kepada salah satu #6 City dan ini mengurangi perlindungan langsung olehnya kepada lini terakhir Tottenham.

Di area sayap sisi bola, kedua pemain sayap tuan rumah melakukan pressing perorangan. Erik Lamela kepada bek sayap lawan dan Danny Rose kepada gelandang sayap City.

Apa yang terjadi selanjutnya dari situasi ini? Seperti yang diharapkan Spurs, City terpaksa harus melepaskan umpan jauh ke depan. Rose berhasil melakukan intersep, tetapi bola berhasil di-­recovery pemain-pemain City.

Tottenham kembali melakukan pressing dengan intensitas tinggi, baik di luar kotak penalti sampai ke kedalaman pertahanan Manchester Biru, kepada penjaga gawang. Dan untuk kesekian kalinya, City terpaksa melepaskan umpan jauh ke area lawan, tetapi, lagi-lagi, lini belakang tim asuhan Pep Guardiola tersebut sukses melakukan recovery.

Tottenham segera bereaksi, Dele Alli kembali ke lini tengah dan secara kolektif membentuk struktural blok yang bergeser horizontal menurut letak bola berusaha meniadakan opsi vertikal “bersih” bagi tim tamu. Alli sendiri, dalam fase ini, berdiri di area #10 demi memberikan tekanan kepada Fernando, #6 City.

BACA JUGA:  Polemik Anggaran Keamanan Pertandingan Sepakbola di Inggris

Dari posisinya ini, terkadang Alli menyesuaikan pergerakan pressing-nya dengan cara tetap memberikan tekanan kepada Fernando tetapi terus berusaha melakukan press (option-oriented) kepada bek tengah City yang menguasai bola dan berada di dekatnya.

Ketika Alli bergerak semakin ke atas dan memaksa sirkulasi bola tiba di kaki kiper, Eriksen yang memberikan cover di kedalaman sementara Lamela bergerak naik memberikan pressure kepada bek tengah terdekat sambil mempertahankan akses ke bek sayap City di sisi bola berada.

Dari situasi-situasi inilah gol pertama bermula.

Saat Pablo Zabaleta yang di­-press oleh Lamela melepaskan umpan ke half-space terdekat, pemain-pemain Spurs segera melakukan pressing kolektif dengan koordinsi jempolan, dengan timing, harmonisasi, dan organisasi ruang yang mampu mengisolasi area di mana bola berada.

Lamela dan Alli melakukan backward-pressing (pressing dengan arah lari ke arah pertahanan sendiri) sementara Rose dan Wanyama ikut bergerak ke arah bola bergulir dan menekan pemain-pemain City terdekat.

3 lawan 1. Sebuah pressing-trap!
3 lawan 1. Sebuah pressing-trap!

 

Bola diterima Lamela, dimainkan ke sisi sayap kepada Danny Rose yang berujung salah antisipasi Alexandar Kolarov terhadap umpan silang melambung Rose yang membuahkan gol bunuh diri. Totteham Hotspur 1-0 Manchester City.

Pochettino tampak berusaha memainkan tempo dalam kecepatan tinggi, terutama, dalam pressing yang mereka lakukan. Ini bisa terlihat bahkan saat City melakukan kick-off dan melepaskan umpan balik ke belakang.

Pemain-pemain Spurs akan segera melakukan pressing kolektif dengan tujuan mendorong City ke touchline serta melepaskan umpan jauh ke depan. Tottenham berusaha mengirimkan sebuah aksi taktis yang sarat pesan psikologis kepada lawan.

Strategi dan taktik Manchester City

Pemain-pemain City sendiri bukannya tanpa usaha berarti. Ketika Spurs membangun serangan dari belakang, seperti yang sudah-sudah, tim asuhan Pep akan selalu melakukan pressing blok tinggi.

Pressing yang mereka lakukan pun mampu mempersulit sirkulasi bola “bersih” tuan rumah. Sama seperti yang dialami The Citizen, banyak progresi serangan Tottenham yang berlanjut dengan umpan jauh prematur akibat tekanan kolektif blok tinggi City.

Dalam fase menguasai bola, City memperlihatkan beberapa variasi yang membuat mereka mampu berprogres dari gelombang pressing Tottenham. Salah satunya, adalah memanfaatkan gerak melebar bek sayap di sisi bola, dikombinasi dengan okupansi ruang di half-space dan sayap sisi jauh.

Mekanismenya begini, saat bola berada di kaki bek tengah, Fernando akan turun ke area #6 untuk membantu perpindahan bola dari bek tengah kiri ke bek tengah kanan. Di titik ini, Fernandinho dan Kolarov akan berada sejajar statis di half-space dan sayap kiri (segaris dengan pos #8) memancing pergeseran blok Tottenham.

Di sisi kanan, Zabaleta akan bergerak jauh ke depan demi mengundang perhatian Lamela. Pada saat seperti ini, Jesus Navas akan begerak turun ke #8 menjemput bola dari kaki bek tengah kanan. Sayangnya, Navas bukan tipe pemain “possession” dengan intuisi playmaker.

Ia merupakan pemain eksplosif yang berkarakter vertikal dan direct. Akibatnya, beberapa kali Navas membuang kesempatan melepaskan umpan pendek ke area strategis dan memilih melakukan dribbling jauh ke depan seorang diri.

Absennya Kevin De Bruyne, di sisi lain, membuat City kehilangan elemen vertikal yang biasa mereka dapatkan.

Bersama David Silva, De Bruyne sering kali muncul dari lini kedua dan menciptakan opsi umpan dalam usaha progresi City. Absennya pemain Belgia tersebut bukan hanya membuat City kehilangan elemen vertikal, tetapi juga kehilangan sosok yang bisa menanamkan ancaman psikologis kepada lawan.

 

Faktor tanpa De Bruyne, serta fakta bahwa City memainkan 2 gelandang yang secara alami bukan tipe “penyerbu” (Fernandinho-Fernando) membuat ketergantungan City terhadap mobilitas dan kreativitas Silva menjadi sangat besar.

BACA JUGA:  Makna Penting Capital One Cup Bagi Liverpool

Wanyama merespons dengan baik. Sebagai #6, secara otomatis, posisinya “bertabrakan” dengan #10 City. Karena Silva sering memerankan posisi tersebut, Wanyama perlu berfokus terhadap segala tingkah pola Silva. Dan Wanyama melakukannya dengan baik.

Saat melakukan man-to-man terhadap Silva, Wanyama dapat menjaga jarak dan jangkauan pandangan yang baik sembari mengikuti pergerakan pemain asal Spanyol tersebut di sepanjang area #10 menghindarkan Tottenham dari situasi kalah jumlah (underload) terhadap struktur sirkulasi Manchester City.

Pada fase eksekusi peluang (fase ke-4), ketiadaan De Bruyne membuat Sergio Aguero dan Raheem Sterling banyak melakukan rotasi. Keduanya bergantian bergerak di sekitar half-space sekitar zona 14 dan di dalam kotak penalti.

Babak kedua

Pep melakukan perubahan. Kelechi Iheanacho masuk menggantikan Navas. Masuknya Iheanacho menggeser posisi Aguero yang semula bermain sebagai ujung tombak menjadi penyerang sayap yang banyak bergerak dari dan ke half-space.

Ada indikasi Pep ingin mencoba memanfaatkan eksplosivitas dan semangat bertarung Aguero untuk merusak kestabilan pertahanan tuan rumah dari sisi sayap.

Isu minor terlihat di dalam strategi ini. Karena, pada dasarnya, Aguero bukan seorang distributor. Sering ia akan dengan sesegera mungkin melakukan gerakan penetratif dengan bola untuk menerobos barikade pressing lawan.

Yang menjadi masalah adalah struktur di sekitarnya kurang mendukung. Ketiadaan pemain di sekitarnya berarti Aguero tidak mendapatkan opsi wall-pass atau back-pass ketika ia membutuhkannya akibat jepitan pressing pemain-pemain tuan rumah.

 

Menit ke-68, Pep kembali melakukan pergantian dengan memasukan Ilkay Gundogan menggantikan Fernando. Masuknya Gundogan memberikan beberapa efek positif dalam fase penguasaan bola. Salah satunya adalah ia hadir di area yang tepat ketika City membutuhkan akses perpindahan bola antarlini maupun antar-area horizontal.

Tottenham sendiri membuang peluang memperbesar keunggulan, setelah Eric Lamela, yang berebut mengambil penalti dengan Son, gagal menceploskan bola ke gawang Bravo.

Namun, lepas dari kegagalan tersebut, penampilan Lamela, terutama sekali, dalam pergerakan pressing-nya sangat patut diacungi jempol. Ia bukan hanya mobile tetapi juga pandai menempatkan diri dalam struktur pressing yang diarsiteki Pochettino.

Pemain lain yang juga bermain baik adalah Christian Eriksen. Pemain asal Denmark tersebut sangat aktif bergerak di antara 2 sayap. Dengan daya jelajahnya, Eriksen sering terlibat dalam sirkulasi bola Tottenham.

Selain dalam fase serang, keterlibatan Eriksen yang patut diberikan pujian, adalah, tentu saja, perannya dalam pressing tuan rumah. Dari posisinya, pemain Denmark ini sering menyediakan perlindungan yang memadai terhadap ruang di belakang Dele Alli, yang diakibatkan oleh pressing vertikal yang dilakukan oleh pemain muda Inggris tersebut.

Kesimpulan

Spurs sukses merengkuh 3 poin akibat kesiapannya untuk memainkan sepak bola sendiri ketimbang bersikap reaktif terhadap superioritas lawan. Pressing blok tinggi menjadi salah satu kunci utama keberhasilan Spurs.

Pressing blok tinggi yang mereka tampilkan mampu menghambat City ketika membangun serangan terstruktur dari lini pertama mereka. Antisipasi yang diambil oleh Tottenham membuat City terpaksa memainkan bola-bola panjang yang tidak tercantum dalam buku panduan skema serang yang mereka rencanakan sebelumnya.

Di sisi lain, walaupun pendekatan yang dilakukan oleh Tottenham membuahkan hasil maksimal, tetapi, pada faktanya, sangat sedikit tim yang mampu mempraktikkan sepak bola semacam ini.

Apalagi di Liga Inggris, yang glamor tapi bermasalah dalam taktik.

Namun demikian, apa yang diderita oleh City di White Hart Lane patut mendapatkan perhatian lebih oleh Pep. Sang manajer perlu membuktikan bahwa ia mampu menciptakan rencana B ketika rencana A tidak mungkin untuk dijalankan.

Mia san mia.

 

Komentar