Gerrard dan Liverpool yang Nyaris Berjarak

Steven Gerrard dan Liverpool sudah seharusnya disebut dalam satu tarikan nafas. Klub sepakbola yang ikonik itu dikapteni oleh pemain yang tak kalah kharismatik sejak 2003 sampai 2015.

Waktu yang cukup lama untuk membuatnya menjadi salah satu orang paling dicintai di daerah Merseyside.

Akan tetapi, cukup ironis ketika dalam perjalannya, ada banyak noda yang cukup mengganggu warisan Gerrard yang gemilang.

Dua hal yang paling kentara adalah absennya trofi Liga Primer Inggris, dan ketika ia menjadi musuh publik saat perpanjangan kontraknya mandek setelah menjuarai Liga Champions pada musim 2004/2005.

Kian panas, klub yang kabarnya dituju Gerrard adalah salah satu pesaing di Liverpool di Inggris, Chelsea.

Pada pertengahan 2000-an, gerak-gerik Chelsea memang luar biasa karena mereka baru saja mendapat suntikan dana masif dari pemilik anyar, Roman Abramovich, guna bertarung di Inggris maupun Eropa.

Gerrard adalah orang Liverpool asli. Ia lahir di Whiston, Merseyside, dan bermain untuk tim lokal pada level junior.

Tentu saja talenta Gerrard muda diendus oleh The Reds dan diboyong ke akademi mereka saat usianya baru sembilan tahun. Saat itu, dimulailah perjalanannya berbaju merah Liverpool.

Gerrard mendapatkan debut di tim senior pada November 1998. Pelan tapi pasti, ia menapaki jalan menuju tempat utama.

Bersama Liverpool pada musim 2000/2001, Gerrard memenangkat trigelar berupa Piala FA, Piala Liga, dan Piala UEFA.

Atas peran sentralnya pada saat itu, sosok yang kini berstatus pelatih Aston Villa ini diganjar penghargaan PFA Young Player of the Year.

Sebagai salah satu talenta muda terbaik di Inggris, Gerrard sudah mulai dilirik kanan-kiri. Ya, cukup banyak tim mapan yang kepincut akan performanya di atas lapangan.

Penunjukannya sebagai kapten Liverpool di usia yang terbilang belia, 23 tahun, pada Oktober 2003 tidak menghentikan minat tim-tim yang menginginkan jasa sang gelandang enerjik.

Jose Mourinho, pelatih baru Chelsea yang membawa FC Porto menjuarai Liga Champions adalah orang yang meminatinya.

“Satu-satunya yang bisa saya katakan jika ia datang adalah saya akan menyambutnya dengan tangan terbuka,” ujar Mourinho dalam sebuah wawancara.

Gerrard tidak tertarik dengan tawaran tersebut. Ia tetap bersama Liverpool. Terlebih lagi ketika mereka berbenah menuju musim 2004/2005.

Selain mendatangkan Rafael Benitez, pelatih yang membawa Valencia juara La Liga Spanyol dan Piala UEFA, mereka juga mendaratkan talenta-talenta terbaik lapangan hijau, terutama dari Spanyol, seperti Xabi Alonso dan Luis Garcia.

Musim 2004/2005 Liverpool dimulai dengan hasil imbang melawan Tottenham Hotspur. Nahas, mereka lalu keok dari Bolton Wanderers pada pekan ketiga.

Tiga laga awal menjadi penanda bahwa mereka akan mengarungi musim yang diwarnai inkonsistensi.

Baca Juga:  Mengikhlaskan Kepergian Gianluigi Buffon

Kabar bahwa Gerrard akan pergi dari Stadion Anfield sebenarnya sudah samar-samar terdengar setelah musim 2003/2004.

Musim tersebut tidak ada trofi yang sukses direngkuh. Manajer mereka asal Prancis, Gerard Houlier, juga mengundurkan diri.

Liverpool pada saat itu juga masih belum bisa konsisten menggebrak jalan ke papan atas Liga Primer Inggris secara konsisten. Asa untuk menjadi juara liga atau menguasai Eropa serasa jauh dari genggaman.

“Kita bisa melihat aura pemenang pada diri Mourinho. Ditambah lagi, ia didukung oleh pemilik klub dengan dompet paling tebal di dunia sepakbola. Sulit untuk tidak merasa minder.”

Gerrard menuliskan hal tersebut dalam autobiografinya yang berjudul Kisah Saya. Sedikit banyak tulisan yang muncul bertahun-tahun setelah musim 2004/2005 menggambarkan betapa rapuhnya Gerrard dan Liverpool pada saat itu.

The Blues dengan kekuatan finansial Abramovich menjadi salah satu kekuatan baru di tanah Britania.

Mereka membeli pemain dengan harga yang mahal. Lalu disandingkan dengan pelatih yang baru memenangkan Liga Champions. Sebuah kombinasi yang akan menggugah pesepakbola manapun yang menerima tawaran dari Chelsea.

Gerrard dan Liverpool menghadapi Mourinho dan Chelsea di partai final Piala Liga pada musim itu juga. Piala Liga adalah gelar yang berhasil dimenangkan Liverpool secara rutin sejak awal milenium.

Karena itu, mengalahkan Chelsea berarti mengalahkan si kaya dan juga sebagai sebuah penyataan tegas mengenai Gerrard. Ia adalah kapten tim yang akan menuntun klub ini ke banyak piala.

Ironisnya, Liverpool kalah. Dan jika hal itu belum cukup melukai hati para penggemar Liverpool, Gerrard juga mencetak gol bunuh diri dalam laga yang berakhir dengan skor 3-2.

Banyak yang beranggapan bahwa gol Gerrard tersebut adalah gol pertamanya untuk Chelsea.

Tensi semakin meninggi setelah pertandingan tersebut. Kritikan dan hinaan yang dialamatkan kepada Gerrard semakin menjadi-jadi.

Tidak ada jalan lain untuk menyelamatkan musim mereka sekaligus reputasi Gerrard selain menjuarai Liga Champions.

Seakan seperti hantu, Chelsea kembali berhadapan dengan Liverpool. Kali ini di babak semifinal Liga Champions.

Leg pertama berakhir sunyi dan tanpa gol di Stadion Stamford Bridge. Leg kedua, dihadapan para Kopites, Liverpool berhasil menang dramatis.

Gol “hantu” Luis Garcia pada menit kelima menjadi satu-satunya gol yang kemudian mengantar Liverpool ke laga puncak kompetisi antarklub terakbar di Eropa tersebut dan bersua raksasa Italia, AC Milan.

Ada asa untuk menyelesaikan musim dengan gemilang dan mengangkat beban berat di pundak.

Dalam final Liga Champions musim 2004/2005 tersebut, Milan yang merupakan juara enam kali mengakhiri babak pertama dengan tiga gol tanpa balas.

Gol pertama malah dicetak di detik-detik awal pertandingan oleh Paolo Maldini, bek sekaligus kapten I Rossoneri.

Pendukung Liverpool yang sudah memadati Stadion Ataturk, Istanbul, menolak menyerah. Mereka menyanyikan lagu kebanggan mereka, You’ll Never Walk Alone sepanjang jeda menuju babak kedua.

Baca Juga:  Patah Tanduk Si Kabau Sirah

Terlepas dari permainan buruk tim yang mereka dukung, mereka tetap bernyanyi sambil merapal doa agar Gerrard dan kawan-kawan mampu membalikkan keadaan.

Lalu keajaiban datang secara beruntun. Gerrard sanggup menanduk bola ke jaring gawang Nelson Dida pada menit ke-54.

Dua menit berselang, giliran sepakan Vladimir Smicer yang menghujam gawang Milan.

Terakhir, Alonso membuat kedudukan sama kuat pada menit ke-60. Keberhasilan menyamakan skor bikin tribun Stadion Ataturk yang dihuni suporter Liverpool bergemuruh.

Nyanyian para Kopites membakar semangat pasukan Benitez. Mereka mati-matian menahan gempuran Milan.

Kiper Liverpool saat itu, Jerzy Dudek, kalang kabut menghalau serangan dari Andriy Shevchenko. Namun semuanya terbayar ketika sang kiper melakukan penyelamatan terakhirnya terhadap tendangan penalti striker Ukraina tersebut.

Liverpool lantas keluar sebagai juara Eropa. Semua larut dalam haru biru. Atribut dan konfeti merah berhamburan. Pendukung Liverpool saling berpelukan dalam kegirangan.

Pada akhirnya, Gerrard menaiki podium, mencium trofi, dan mengangkat Si Kuping Besar dengan bungah. Ia mengangkat piala yang sama seperti kapten-kapten legendaris Liverpool terdahulu.

Lalu menutup malam itu dengan sebuah kalimat menohok. “Bagaimana mungkin saya pergi setelah malam yang luar biasa ini?”

Akan tetapi, dua bulan setelah malam yang luar biasa itu, Gerrard mengajukan agar dirinya ditransfer.

Bahkan sebelumnya, pembicaraan mengenai pembaharuan kontrak sudah menemui jalan buntu. Chelsea sendiri sempat mengajukan penawaran yang ditolak oleh Liverpool.

Publik Liverpool marah. Jerseynya dibakar. Sesi latihan The Reds di Melwood diintip puluhan pendukung.

Jepretan paparazzi tiba-tiba ada di mana-mana. Semua mata dan telinga tertuju pada Gerrard dan langkah selanjutnya.

Putra daerah yang baru mengantarkan timnya ke puncak kejayaan, disinyalir siap membelot ke rival yang selama ini menguntit dari belakang.

Paul Gerrard, ayah sang gelandang, adalah orang yang paling berpengaruh dalam menyiram api konflik. Namun pada akhirnya, ia pula yang membuat anaknya tersebut melupakan tawaran apapun.

“Orang-orang itu tidak akan mencintaimu sama seperti orang-orang ini. Kau tidak bisa mengubah dirimu, yang sudah ada sejak dulu. Kau adalah Scouser.” kata sang ayah dalam dokumenter Make Us Dream.

Gerrard luluh. Pada 6 Juli 2005, dirinya menandatangani kontrak baru. Ia mengubur segala pemikirannya yang lalu dan siap berkomitmen penuh untuk Liverpool serta para pendukungnya yang sempat untuk sesaat akan dia tinggalkan.

Dan dengan gol tendangan jarak jauh khasnya untuk memenangkan Piala FA musim 2005/2006, Gerrard menghapus jarak dan mengembalikan marwahnya sebagai pemuda lokal kebanggaan Liverpool.

Komentar
Indra Sinaga
Menggemari sepakbola dan basket. Menulis dan bermain gim di kala senggang. Bisa disapa di Twitter lewat akun @ihytkn16