Atletico Madrid: Konstantinopel pada Zaman Modern

Salah satu alasan penting kenapa Kekaisaran Romawi menjadi tonggak sejarah yang hebat adalah bercokolnya ibu kota mereka yang terletak di Konstantinopel. Selama berabad-abad, kota yang terletak di antara dua benua ini, Asia dan Eropa, menjadi salah satu alasan utama kenapa Romawi bisa berkuasa selama beratus-ratus tahun.

Ketika Kekaisaran Romawi kuno pimpinan Constantine I membangun kota Konstantinopel dari titik nol, satu yang dipikirkan adalah bagaimana agar kota ini, yang kelak akan menjadi ibu kota negara, harus memiliki pertahanan berlapis yang tidak akan bisa ditembus dari segala sektor oleh musuh.

Proyek ini diinisiasi oleh Kaisar Konstantinus I yang berinisiatif membangun sebuah tembok besar yang terbentang mengelilingi kota. Dan ini bukan tembok lapisan pertama pertahanan, karena di dalam kota pun, mereka memiliki benteng yang cukup tangguh.

Proyek kedua dilanjutkan Kaisar Theodosius yang membangun tembok Theodosian yang terbentang 1,2 mil (sekitar dua kilometer) ke arah barat dari tembok pertama yang dibangun mengelilingi kota.

Hebatnya lagi, tembok Theodosian dibangun dengan sistem ganda. Dua lapis. Dan untuk menambah kesan garang, di tiap tembok, ditempatkan ribuan pasukan untuk bersiaga menjaga kota. Tiga lapis tembok dengan ribuan penjaga di tiap lapisnya. An impregnable fortress.

Menjadi sebuah kewajaran kenapa Kaisar Romawi pada tiap masanya begitu bersemangat membangun benteng tangguh untuk melindungi kota ini. Selain berada pada jalur perdagangan yang sangat strategis, karena terletak di jalur darat dari Eropa ke Asia, Konstantinopel juga menjadi jalur maritim dunia yang begitu ramai saat itu.

Ia adalah kota yang dibangun di atas tujuh bukit (bisa tengok sejarah Latin kuno di narasi Romus-Remulus), terletak di jalur antara Laut Mati dan Laut Mediterania. Dengan segala akses yang sedemikian potensial, pembangunan tembok berlapis untuk melindungi kota adalah sebuah kewajaran.

Tembok itu tidak hanya menjadi simbol semata bagi Konstantinopel, namun juga menjadi basis pertahanan penting yang membuat Konstantinopel menjadi sebuah kota yang megah, kaya dan sulit ditembus.

Sepanjang sejarah berdirinya Kekaisaran Romawi (atau Byzantium) di Konstantinopel, hanya dua kali kota ini berhasil ditembus. Pertama, ketika para ksatria Templar dari tentara Latin Perang Salib Keempat datang menjarah Konstantinopel.

Penjarahan Konstantinopel juga menjadi catatan sejarah penting karena menjadi tonggak awal perselisihan antara Gereja Ortodoks dengan Gereja Katolik di Roma.

Dan 200 tahun setelahnya, barulah kota ini kembali berhasil ditembus oleh Sultan dari Kesultanan Ottoman, Sultan Mehmed II yang kemudian secara aklamasi mengubah nama Konstantinopel (yang berbau Nasrani) menjadi Islambol. Mustafa Kemal Ataturk kemudian menyempurnakannya menjadi Istanbul, seperti yang kita kenal sekarang.

Narasi tentang Konstantinopel di atas akan menjadi pengantar untuk sejenak mengajak Anda membandingkan cerita hebat salah satu kota terpenting dengan sejarah kuat di Eropa dan dunia ini dengan sepak terjang Diego Simeone bersama Atletico Madrid musim ini (juga musim-musim sebelumnya).

BACA JUGA:  Inzaghi dan Memori Fantastis bagi Milanisti

***

Sejak Diego Simeone datang ke Madrid lima tahun lalu, Atletico Madrid sudah mencatatkan 135 clean sheets dari 256 pertandingan. Kalau ilmu matematika kita tidak salah, rasio clean sheet Atleti sejak ditangani Cholosapaan akrab Simeoneberada di atas 50%, bung!

Catatan itu sangat amat istimewa, mengingat mereka berada di sebuah Liga yang selama bertahun-tahun dimonopoli oleh Real Madrid dan Barcelona.

Salah satu bukti pelatih hebat adalah ketika ia mampu menerapkan sebuah filosofi yang ia yakini tepat bagi timnya. Louis Van Gaal dengan penguasaan bolanya di Manchester United, Pep Guardiola dengan juego do posicion-nya di Bayern Munchen dan Barcelona dulu, hingga Arsene Wenger dengan Wengerball-nya di Arsenal.

Cholo, memiliki filosofinya sendiri. Mari kita mundur ke belakang pada masa ketika sang pelatih necis masih berlaga sebagai pemain profesional.

Simeone adalah gelandang bertahan dengan semangat spartan dan tak sungkan bermain keras. Ia juga seorang pemain dengan karakteristik licik dan sangat provokatif. David Beckham bisa diminta testimoni khusus mengenai hal ini.

Beberapa ciri dari gaya mainnya selama menjadi pemain, ia aplikasikan menjadi filosofi yang tepat di Atletico selama lima tahun ini. Los Rojiblancos menjelma menjadi tim yang spartan dan kuat. Sangat taktis dan rapat. Tak jarang, mereka sudi bermain kotor.

Anda ingat insiden Arda Turan melepas sepatunya dan melemparkannya ke hakim garis saat melawan Barcelona musim lalu di Copa Del Rey? Atau tekel keras Gabi, Tiago Mendes hingga Diego Godin tiap kali mereka bersua para bangsawan dari Real Madrid dan Barcelona? Itu adalah wujud Atleti di bawah Simeone.

Atletico hebat, karena ia berada di tangan yang tepat dengan racikan formasi yang brilian. Simeone membuat orang sadar kembali dengan kehadiran formasi klasik 4-4-2 kala mengantarkan anak asuhnya merusak hegemoni Barca dan Madrid di Liga Spanyol musim 2013/2014.

Ia tidak membangkitkan kembali 4-4-2, tapi ia membuat publik kembali sadar bahwa formasi klasik yang dianggap usang ini masih mampu menghasilkan gelar juara kalau dieksekusi dengan takaran pas dan cara main yang tepat.

Mungkin ya, ini hanya spekulasi, apa yang diterapkan Leicester City di bawah asuhan Claudio Ranieri musim ini, menyerap dari apa yang ditunjukkan pria Argentina kelahiran Buenos Aires ini di Atleti. Leicester sangat rapat, kompaksinya terjaga dan bermain dengan pakem yang sama, 4-4-2 klasik.

Kebetulan? Mungkin saja. Tapi apa pun itu, klub Cinderella itu bersiap merengkuh gelar juara dalam beberapa minggu ke depan. Dan itu, adalah fakta sahih.

BACA JUGA:  Menakar Kapabilitas Duet Palang Pintu Arsenal: Laurent Koscielny dan Shkrodan Mustafi

Hebatnya tembok yang dibangun Simeone bersama Atleti kembali berlanjut musim ini. Sebagai data, dari 35 laga yang sudah dijalani di Liga, tim tetangga Real Madrid ini berhasil meraih catatan clean sheets sebanyak 22 kali. Dan selama 35 laga itu pula, mereka hanya kebobolan 16 kali.

Catatan itu makin sempurna mengingat pada musim ini, dalam semua ajang yang mereka ikuti, Los Colchoneros tidak pernah kalah dengan selisih lebih dari 1 gol. Sebuah bukti bahwa tim ini merupakan tim dengan pertahanan terbaik di Eropa musim ini.

Dan bukan tanpa alasan kenapa kemudian mereka bersanding dengan Barcelona di puncak klasemen La Liga saat ini dengan 82 angka, hanya kalah head to head mengacu pada rekor pertemuan kedua tim di Liga.

Inilah sederet angka statistik yang menunjukkan bahwa Atletico di bawah asuhan pria bernama lengkap Diego Pablo Simeone Gonzalez adalah salah satu tim yang sangat amat layak untuk menjuarai Liga Champions musim ini.

Simeone membangun sebuah tim dengan benteng berlapis yang sangat kuat dan kokoh. Ia membangun sebuah Konstaninopel baru dalam rupa tim sepak bola.

Uniknya, permainan bertahan ala Atleti tidak pernah membosankan, karena di situ banyak hal edukatif yang bisa dipelajari. Pressing trap, misalnya, strategi ini acapkali digunakan Simeone kala bersua dengan tim-tim yang dihuni banyak pemain lawan dengan kualitas teknik mumpuni.

Perempat final Liga Champions Eropa musim ini melawan Barcelona adalah bukti keampuhan taktik ini. Dua gelandang terbaik dunia, Sergio Busquets dan Andres Iniesta dibuat mati kutu.

Di leg kedua, trio alien di lini depan Barcelona bahkan kesulitan melepas tembakan ke gawan Jan Oblak. Masih kurang?

Kalau Anda punya cukup banyak waktu, silakan tonton ekspresi Pep Guardiola kala Bayern Munchen dibuat frustasi kala menembus tembok berlapis Atleti yang tidak hanya kokoh, tapi juga taktis Kamis dinihari (28/4).

Laiknya Konstantinopel, Atleti pun sempat ditembus dan dikuasai lawan. Final Liga Champions musim 2013/2014 adalah contoh nyata.

Satu gol buzzer beater Sergio Ramos ke gawang Thibaut Courtois menggagalkan impian Atleti merengkuh trofi. Tak cukup sampai di situ, tiga gol di babak perpanjangan waktu membenamkan tim yang bermarkas di Vicente Calderon ini pada sebuah kekalahan pahit.

Dan seperti Konstantinopel pula, Atleti mengalami restorasi. Ia bangkit, bersama Simeone. Membuat benteng yang lebih tangguh lagi. Membangun armada perang yang lebih tajam lagi, dan yang paling utama, melapis pertahanan mereka dengan tembok yang lebih kokoh lagi.

Kali ini, mungkin, mereka akan berjaya. Tidak hanya di Spanyol, tapi juga Eropa, bahkan dunia.

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.