Bayer Leverkusen (2-0) FC Bayern: Pressing Brilian ala Roger Schmidt

Leverkusen mencatatkan kemenangan penting dalam lanjutan Bundesliga pekan ke-31. Raihan tiga poin ini penting untuk menjaga jarak dengan Borussia Monchengladbach dalam perebutan peringkat ketiga yang menggaransi kelolosan langsung ke Liga Champions tanpa kualifikasi.

Susunan pemain

Dalam pertandingan kali ini, Roger Schmidt menggunakan skema 4-2-3-1. Di bawah mistar, Bernd Leno masih menjadi andalan utama. Duet bek tengah diisi oleh Omer Toprak dan Tin Jedvaj yang bergeser dari fullback kanan menggantikan Kyriakos Papadopoulos. Roberto Hilbert (kanan) dan Wendell (kiri) mengisi pos fullback di samping keduanya. Duo gelandang tengah diisi oleh Simon Rolfes dan Stefan Reinartz. Hakan Calhanoglu bermain sebagai no. 10 dengan Son Heung Min dan Karim Bellarabi di sisi kiri dan kanannya. Posisi no. 9 masih dipercayakan kepada Stefan Kießling.

Line Up
Line Up

Sementara itu, Pep Guardiola yang dikepung oleh jadwal padat merotasi sejumlah pemainnya. Dalam skema 3-4-2-1, Pep masih mengandalkan Manuel Neuer sebagai penjaga gawangnya. Tiga bek Bayern diisi oleh Javi Martinez yang diapit oleh Rafinha dan Dante Bonfim. Philipp Lahm dan Gianluca Gaudino mengisi pos gelandang tengah Bayern. Di kanan-kiri mereka, ada Mitchell Weiser dan Rico Strieder yang berperan sebagai wingback. Duo no. 10 Die Roten ditempati oleh Mario Gotze dan Bastian Schweinsteiger yang bermain di belakang Claudio Pizarro.

Statistik pertandingan

Sebelum memasuki analisis teknis pertandingan, mari kita melihat hasil catatan statistik pertandingan ini. Sepanjang pertandingan, anak asuh Pep menguasai bola hingga mencapai 57% dengan akurasi umpan mencapai 83%. Terlihat menguasai jalannya pertandingan? Tidak. Dilihat dari catatan jumlah tendangan, Bayern justru hanya melakukannya sebanyak sembilan kali. Bandingkan dengan anak-anak asuh Roger Schmidt yang mampu melakukannya hingga 20 kali.

Bila dilihat lebih detil, terdapat perbedaan jumlah sentuhan yang sangat timpang antara bek Bayern dengan gelandang-gelandangnya. Sepanjang pertandingan, Dante menyentuh bola sampai 98 kali dan Rafinha 84 kali. Javi Martinez yang hanya bermain 62 menit menyentuh bola sebanyak 50 kali. Sementara itu, di lini tengah, Gaudino menyentuh bola sebanyak 65 kali, Lahm – yang bermain 64 menit – 46, Gotze 60 dan Schweinsteiger 55 kali. Dari uraian singkat catatan statistik tersebut dapat disimpulkan bahwa penguasaan bola yang dilakukan Bayern memiliki tingkat progresi yang rendah. Dari diagram pengaruh pemain terlihat bahwa bola lebih banyak berkutat di area permainan FC Hollywood.

Player Influence

Dalam bukunya yang fenomenal, Pep Confidential, Marti Perarnau menuliskan salah satu pernyataan Pep:

“Saya muak dengan semua (permainan) umpan untuk tujuan itu (memenangi penguasaan bola), semua (tentang) tiki-taka. Anda harus mengumpankan bola dengan tujuan yang jelas, dengan tujuan untuk membawanya ke gawang lawan. Ini bukan tentang mengumpan dengan tujuan itu (memenangkan penguasaan bola).”

Ya, Pep memang selalu menekankan pemainnya untuk melakukan umpan-umpan dengan progresi yang jelas. Pep memandang penguasaan bola sebagai alat agar permainan umpan yang dilakukan timnya memiliki progresi yang jelas. Lalu bagaimana bisa catatan statistik pada pertandingan ini menunjukkan bahwa progresi umpan-umpan The Bavarians rendah?

BACA JUGA:  Half-Space Sebagai Ruang Strategis Dalam Sepak Bola (Bagian 1)

Pressing brilian ala Schmidt

Saat tidak menguasai bola, Leverkusen menerapkan sistem immediate pressing dengan orientasi akses dalam skema 4-4-2. Kießling berdiri sejajar dengan Calhanoglu dan keduanya berperan untuk menutup akses umpan ke Lahm dan Gaudino. Sementara itu, Son dan Bellarabi berperan untuk menutup akses umpan ke kedua wingback Bayern. Rolfes dan Reinartz yang mengisi lini tengah memosisikan diri mereka dengan sangat agresif untuk mempersempit ruang antara lini depan dengan lini tengah. Sementara itu, empat bek Leverkusen juga memosisikan diri mereka hingga mendekati garis tengah lapangan.

Yang menarik adalah bagaimana Leverkusen cenderung untuk melakukan overload ke sisi kiri. Son memosisikan dirinya cukup dekat dengan Rafinha – hampir sejajar dengan Kießling dan Calhanoglu, sedangkan Bellarabi sedikit lebih sejajar dengan Rolfes dan Reinartz serta membiarkan Dante mendapatkan ruang yang lebih luas. Rolfes dan Reinartz bergeser ke sisi kiri di mana Rolfes berada cukup dekat dengan Weiser sedangkan Reinartz berada di tengah.

Left Overload

Leverkusen seolah menggerakkan pemain-pemain Bayern agar bergerak ke sisi kanan dan meninggalkan Dante. Sudah menjadi rahasia umum bahwa Dante merupakan titik lemah dari pertahanan Bayern. Hal ini dilakukan dengan dua tujuan utama:

  • Dante merupakan pemain Bayern yang paling mudah diberi pressure, sedangkan Rafinha mampu membawa bola ke depan. Rafinha sendiri memang berposisi asli sebagai fullback kanan dan memiliki kualitas olah bola bagus. Dengan begini, progresi permainan Bayern dari sisi kanan dapat ditekan.
  • Ketika bola mencapai Rafinha, maka Kießling atau Calhanoglu akan menjaga Martinez yang merupakan poros perpindahan aliran bola Bayern di lini belakang. Dengan demikian, maka mau tidak mau pemain-pemain Bayern harus bergerak ke sisi kanan untuk membantu progresi bola. Ketika pemain-pemain Bayern berada di area kanan, maka ruang di sisi kiri pertahanan mereka akan lebih terbuka, sehingga counter attack yang dilakukan oleh Leverkusen akan melibatkan Bellarabi dan Dante dalam situasi 1v1. Hal ini tentu sangat menguntungkan karena Bellarabi memiliki kecepatan yang sangat baik.

Dante

Upaya menekan Rafinha serta mengekspos Dante tersebut tidak serta merta membuat progresi permainan Bayern terhambat. Overload ke sisi kiri yang dilakukan Leverkusen menyebabkan Dante memiliki ruang yang lebih luas dan waktu yang lebih baik dalam mengambil keputusan. Umpan-umpan yang diberikannya juga lebih progresif dibandingkan dengan Rafinha dan Martinez.

Dante

Selain itu, bukan perkara mudah untuk dapat memindahkan bola ke sisi lain dalam situasi counter attack di mana pemain-pemain bertahan lawan berada di area yang dekat dengan gawangnya. Berbeda jika sebuah tim melakukan overload pada fase buildup dari belakang, maka ruang yang berada di sisi yang jauh dari bola dan lebih terbuka akan mudah dieksploitasi. Pada pertandingan ini, Dante sendiri bermain cukup baik dalam bertahan, tercatat ia melakukan empat tekel, lima sapuan dan dua blok selama babak pertama.

BACA JUGA:  Juventus (2-1) Lazio: Perang Taktikal yang ditentukan oleh Kemampuan Individu

Penyelesaian akhir Bayern buruk

Bayern bukannya sama sekali tanpa peluang pada pertandingan ini. Mereka setidaknya memiliki beberapa peluang emas, namun semuanya gagal dimanfaatkan dengan baik. Yang pertama adalah ketika Gotze lepas dari jebakan offside dan berhasil mengelabuhi Leno. Sayang, penyelesaian akhirnya terlalu lemah sehingga berhasil diantisipasi oleh Jedvaj. Yang kedua adalah usaha Pizarro setelah mengecoh Jedvaj namun tembakannya berhasil ditahan Leno. Yang ketiga adalah ketika Gotze kembali berhadapan 1v1 dengan Leno, namun tendangan chip­-nya kembali gagal menemui sasaran.

Peluang-peluang tersebut berawal dari situasi yang mirip, yaitu memanfaatkan tingginya barisan pertahanan Leverkusen. Hal ini dapat terjadi karena blok pressing yang dilakukan Leverkusen melibatkan kedua sayapnya yang memosisikan diri dengan sangat agresif dan meninggalkan kedua gelandang tengahnya dengan hanya sedikit bantuan. Dengan begini, zonal coverage yang harus ditanggung kedua gelandang tengah tersebut menjadi cukup luas dan meninggalkan lubang terutama di area halfspace. Hal ini dieksploitasi dengan cukup baik ketika Bayern beberapa kali mampu melewati pressing Leverkusen. Hanya saja penyelesaian akhir mereka kurang sempurna.

Kontrol terhadap pemain bebas

Sementara itu, dua gol yang dicetak oleh Leverkusen masing-masing berasal dari tendangan bebas berkelas Calhanoglu dan proses counter attack Leverkusen. Leverkusen berhasil mematahkan serangan Bayern, kemudian melalui Bellarabi yang melakukan solo run, Leverkusen melakukan serangan balik yang diselesaikan dengan apik oleh Julian Brandt yang masuk menggantikan Calhanoglu.

Counter attack ini dapat terjadi karena Bayern gagal mengontrol pemain yang punya kemungkinan untuk bebas ketika serangan mereka berhasil dipatahakan. Ketika Bayern kehilangan bola, jarak antar pemain mereka terlalu jauh sehingga hanya satu orang (Gaudino) saja yang dapat memberikan pressure kepada Bellarabi yang dengan mudah melewatinya. Selain itu, gelandang pengatur Bayern yang semula diperankan Lahm digantikan oleh Thiago yang kemampuan bertahannya kurang sehingga tidak ada cover ketika Gaudino memberikan pressure kepada Bellarabi. Hal yang paling krusial dalam membidani counter attack ini adalah ketika Bayern kehilangan bola di area sentral di mana pemain yang mendapatkan bola di area ini akan memiliki opsi yang lebih banyak.

Pertandingan ini memang sangat penting bagi Schmidt untuk dapat lolos ke Liga Champions di musim pertamanya. Sedangkan bagi Guardiola yang sudah dipastikan memenangi gelar juara Bundesliga pekan sebelumnya, laga ini tingkat urgensinya rendah. Apalagi ketika timnya dikepung oleh jadwal padat sehingga ia harus menurunkan sejumlah pemain dari tim junior. Namun, kredit perlu diberikan kepada Schmidt yang mampu menekan Munchen hingga berada di areanya sendiri.

 

Komentar