Cerita Tentang Klub Proletariat Terakhir, IFK Gothenburg

860402 Fotboll, Europacupen, Semifinal, IFK Gšteborg - Barcelona: Torbjšrn Nilsson, Gšteborg gšr 2-0 © BildbyrŒn - Dia

Bukan di Kuba, tidak pula di Rusia. Klub sepak bola milik proletariat terakhir hanya ada di Swedia. Namanya IFK (Idrottsforeningen Kamraterna) Gothenburg. Cerita tentang IFK Gothenburg ini bukan semata soal bendera Karl Marx yang berkibar di stadion atau simbol palu dan arit yang menjadi tifo atau koreografi, tetapi lebih jauh, klub tersebut adalah dongeng tentang simbiosis mutualisme kelas pekerja yang berubah jadi nyata.

IFK Gothenburg didirikan pada sebuah musim dingin yang mencucuk di Gothenburg, 4 Oktober 1904. Sebermula ketika sekitar 20 orang tengah berbincang di sebuah kedai kopi bernama Olivedal Café – kini namanya telah berubah menjadi Aberdeen – untuk mendirikan sebuah klub olahraga.

Kendati telah resmi didirikan dan telah terdaftar di badan olahraga Swedia, IFK Gothenburg baru pertama kali memainkan pertandingan sepak bola beberapa minggu setelahnya. Lawan pertama yang mereka hadapi adalah IK Viking, sebuah klub lokal lain di Swedia. IFK Gothenburg menang telak 4-1 pada pertandingan tersebut.

Pada tahun 1907, IFK Gothenburg memenangi pertandingan penting pertamanya setelah mengalahkan Orgryte IS, klub yang paling dominan di Swedia kala itu. Kemenangan tersebut membuat nama IFK Gothenburg mulai diperhitungkan, mengingat sepanjang empat tahun lamanya tak ada satu pun klub di Swedia yang mampu mengalahkan Orgryte.

Setahun kemudian, IFK Gothenburg berhasil merengkuh trofi pertama mereka ketika menjuarai Svenska Mästerskapet, sejenis turnamen Piala Swedia, yang kini telah berganti nama menjadi Svenska Cupen. Kesuksesan ini terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya: menjuarai kompetisi teratas Liga Swedia, memasukkan beberapa pemain mereka ke tim nasional, hingga menembus Liga Champions.

Cerita kesuksesan IFK Gothenburg kian melesat ketika mereka merekrut seorang pelatih muda berusia 31 tahun yang tak dikenal orang. Namanya Sven-Goran Eriksson.

Kala itu Eriksson direkrut dari Degerfors IF, salah satu klub Swedia lain kala itu. Prestasi Eriksson sendiri di klub tersebut tak buruk dan tak bagus-bagus amat. Mulanya ia hanya menjadi asisten pelatih Tord Grip di Degerfors. Barulah, setahun kemudian, ketika Grip dipanggil untuk melatih tim nasional (timnas) Swedia, Eriksson ditunjuk untuk mengisi posnya. Mulai melatih sejak 1 Desember 1977 hingga 31 Desember 1978, Eriksson berhasil membawa Degerfors menembus divisi dua Liga Swedia.

Perlu diketahui sebelumnya, ketika itu di Swedia tak banyak pemain sepak bola profesional atau katakanlah mereka yang benar-benar berkarier di atas lapangan hijau. Nyaris setiap pemain memiliki profesi lain di luar itu. Sebagian besar merupakan pekerja kasar, sebagian lain tersebar sebagai koki dan guru. Dengan kata lain, klub-klub sepak bola Swedia kala itu “hanyalah” diisi oleh para pemain amatir, termasuk IFK Gothenburg.

Eriksson tentu paham dengan hal tersebut. Tetapi, selayaknya pelatih muda yang masih memiliki gairah tinggi, ia melupakan fakta bahwa yang dilatihnya hanyalah sekumpulan montir dan para jagal sapi. Dengan mantap, ia pun menerima pinangan IFK Gothenburg, kala itu, 1 Januari 1979.

Tak hanya bermodal semangat belaka, Eriksson pun telah mempersiapkan sebuah cetak biru taktikal yang akan ia terapkan di IFK Gothenburg. Lewat formasi 4-4-2 dengan pendekatan yang pragmatis, terukur, disiplin, dan lebih mengandalkan fisik. Dengan kata lain, Eriksson lebih mengedepankan hasil ketimbang gaya bermain. Ia juga menekankan kepada pemainnya untuk tak usah sering-sering melakukan improvisasi di atas lapangan.

BACA JUGA:  Pilkada, Diving, dan Sportivitas

Banyak orang kemudian menyebut metode melatih Eriksson tersebut dengan nama ‘Svenglish Football’ – merujuk kepada gabungan dari gaya Kick and Rush Inggris dengan sikap khas bangsa Skandinavia yang egaliter, tenang, sekaligus tekun.

Pada musim pertamanya, Eriksson berhasil membawa Gothenburg meraih Svenska Cupen. Dalam laga final, Gothenburg menang telak atas lawannya, Avidabergs, 6-1. Dua musim setelahnya, Gothenburg sukses meraih gelar liga dan Svenska Cupen. Dan cerita kesuksesan itu pun berlanjut hingga musim 1982-83.

Pada musim tersebut, Eriksson berhasil membawa Gothenburg meraih trofi Piala UEFA setelah mengalahkan beberapa tim yang levelnya cukup jauh di atas mereka: mengalahkan Valencia di perempatfinal, menghempaskan Kaiserslautern di semifinal, hingga membenamkan Hamburg di final dengan agregat 4-0.

Setelah berderet gelar diberikan, beberapa klub besar meminati jasa Eriksson. Ia pun akhirnya hijrah ke Benfica pada musim berikutnya. Tongkat kepelatihan IFK Gothenburg kemudian dipegang oleh Gunder Bengtsson. Di tangan Bengtsson-lah IFK Gothenburg mengalami kisah paling dramatis sepanjang sejarahnya.

Syahdan, setelah pada musim 1986-87 Bengtsson berhasil membawa IFK Gothenburg meraih Piala UEFA keduanya, klub tersebut kemudian memasuki level yang lebih tinggi pada musim berkutnya dengan mengikuti European Cup – kini dikenal dengan nama Liga Champions.

Di putaran pertama, IFK Gothenburg sukses mengalahkan PFC Botev Plodiv dengan agregat 5-3. Lalu di fase selanjutnya, skuat asuhan Bengtsson tersebut menghajar Fenerbache lewat kemenangan agregat 5-2. Di babak perempatfinal, lewat keunggulan gol tandang, IFK Gothenburg memaksa Aberdeen pulang kandang. Hingga tibalah mereka di babak semifinal untuk melawan salah satu tim paling mengerikan di Eropa, Barcelona, yang kala itu diperkuat salah satu striker terbaik Spanyol, Pichi Alonso.

Bertindak sebagai tuan rumah pada leg pertama, IFK Gothenborg di luar dugaan berhasil menghajar Barcelona tiga gol tanpa balas. Barisan suporter yang memadati stadion Gamla Ullevi pun seolah tak percaya. Dengan hasil ini, mereka pun bersemangat untuk melakoni leg kedua di Nou Camp. Bahkan lebih jauh: mereka sudah berani bermimpi meraih trofi.

16 April 1986, pertandingan leg kedua pun digelar. Bengtsson meminta skuatnya untuk bermain rapat, cenderung defensif.

Tetapi malam itu Pichi Alonso menggila: ia mencetak trigol bagi Barcelona. Pertandingan pun dituntaskan lewat adu penalti. Dua penendang IFK Gothenburg, Per Edmund Mordt dan Roland Nilsson, gagal menjalankan tugasnya. IFK Gothenburg pun harus tersingkir.

Publik Swedia mengenang pertandingan tersebut sebagai momen yang menyayat ingatan. Kepiluan kian bertambah lantaran beberapa bulan sebelumnya, Olof Palme, Perdana Menteri Swedia kala itu yang amat dicintai rakyatnya, tewas ditembak. Beberapa pemain IFK Gothenburg bahkan mengalami trauma berkepanjangan hingga nyaris menyudahi kariernya di lapangan hijau karena merasa gagal memberi sumbangsih demi Olof Palme.

Walau begitu, kisah tentang keberhasilan IFK Gothenburg menghantam Barcelona tak pernah dilupakan. Sebuah tim yang diisi mayoritas pemain amatir dan sanggup mengalahkan tim sebesar Barcelona adalah dongeng yang lebih menggidikkan ketimbang hikayat 1001 malam sekalipun. Tak ada yang pernah membayangkan sebelumnya Tommy Holmgren dan Torbjorn Nilsson dapat menjebol gawang Javier Urruticoechea hingga tiga kali.

BACA JUGA:  Eksistensi Persis dalam Pusaran Sepakbola Indonesia

Publik Catalan pun juga memperlihatkan rasa hormat yang tinggi kepada IFK Gothenburg. Beberapa hari sebelum pertandingan digelar, salah satu saluran televisi di Catalan bahkan sampai menayangkan sebuah acara khusus yang mengulas kehidupan beberapa pemain IFK Gothenburg yang memiliki profesi lain di luar sepak bola.

Pemain-pemain tersebut antara lain adalah Holmgren, yang merupakan seorang tukang ledeng, lalu Johnny Ekstrom, seorang buruh kasar yang biasa mengangkut barang di gudang logistik. Hingga kemudian Nilsson. Pemain asli Swedia terhebat sepanjang masa ini yang pada masa tersebut merupakan bintang IFK Gothenburg adalah seorang koki di pabrik pengolahan bir.

Cerita tentang IFK Gothenburg mengingatkan saya kepada klub-klub lain yang juga didirikan oleh para pekerja. Pada tahun 1908, misalnya, barisan pemikir anarkis di Argentina mengorganisasi para buruh untuk membentuk sebuah klub bernama Atlético Libertarios Unidos (Libertarians United), sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah yang menganggap mereka subversif.

Dua tahun sebelumnya, sebuah klub bernama Argentinos Juniors juga didirikan oleh para martir anarkis di Argentina sebagai bentuk kehormatan para pejuang Haymarket Anarchists dan Chacarita Juniors. Dengan semboyan “In soccer you learn how to act in solidarity”, Argentinos Juniors memakai seragam berwarna merah-hitam sebagai simbol perlawanan. Warna seragam yang di kemudian hari juga turut dipakai klub sepakbola anarkis lain di Uruguay bernama Progreso Uruguay.

Pada tahun 1912, mereka yang merasa sebagai bagian dari kelas pekerja miskin di Kroasia juga menggagas ide yang sama dengan mendirikan sebuah klub bernama RNK Split of Croatia. Selain sebagai tempat untuk bermain bola sesama pekerja, RNK Split of Croatia juga turut berperan dalam persebaran ide-ide anarkis ke segenap pekerja lain.

Klub-klub di Bristol, Inggris, seperti Cowboys Easton dan Cowgirls, yang mayoritas pemainnya terdiri dari kelas pekerja, bahkan pernah menyelenggarakan “Piala Dunia” tandingan. Acara tersebut kemudian membuat Subcomandante Marcos mengundang mereka dalam turnamen sepakbola yang mereka bentuk sendiri di Chiapas, Mexico.

Kisah mengenai heroisme IFK Gothenburg kemudian dibuatkan sebuah film dengan judul The Last Proletarians of Football karya Carl Pontus Hjorten. Selain bercerita mengenai latar belakang profesi tiap pemain, film tersebut juga menjelaskan bagaimana perubahan ekonomi-sosial-politik masyarakat Swedia seiring dengan keberhasilan IFK Gothenburg menembus level elit sepak bola Eropa.

Dalam wawancaranya dengan Offside Fest, sebuah badan perfilman tentang sepak bola di Barcelona, pada 4 Februari 2014 lalu, Hjorten sempat ditanya apakah kisah IFK Gothenburg dapat kembali terulang. Ia menjawab datar.

Don’t think so, mainly because modest clubs can’t retain their top players. What’s the current situation of Swedish football? Miserable.

Saya ingin sekali menyanggah Hjorten dengan mengatakan bahwa masih ada Zlatan Ibrahimovic yang membuat Swedia cukup ditakuti. Hingga kemudian saya ingat, Zlatan bukan keturunan bangsa Skandinavia. Ia “hanyalah” anak dari para imigran Bosnia yang kebetulan lahir Malmo. Lebih jauh: Zlatan bukanlah seorang proletar. Ia merupakan representasi totalitarianisme yang mewujud dalam daging berlapis tato dan gol-gol dari tendangan kungfu.

Orang terakhir yang dapat menggabungkan totalitarianisme dan proletariat bernama Stalin. Tetapi, sayang, ia bahkan tak tahu bahwa bola itu bundar.

 

Komentar
Pemalas, penulis, pembangkang.