Corona dan Sepakbola yang Tak Lagi Sama

Semenjak virus Corona merebak dalam kurun empat bulan terakhir, kompetisi sepakbola di banyak negara terpaksa dihentikan. Hal ini bertujuan untuk menekan adanya perkumpulan manusia di satu tempat dan waktu tertentu sehingga memperbesar potensi penyebaran Corona.

Hingga tulisan ini dibuat, virus yang menyerang sistem respirasi itu telah menelan 69.321 korban jiwa di seluruh dunia. Angka tersebut saya dapatkan dengan mengakses worldometer pada Senin, 6 April 2020 pukul 06.00 WITA. Jumlah itu bahkan melampaui kapasitas Stadion Emirates kepunyaan Arsenal yang ‘cuma’ memiliki 60.260 tempat duduk.

Corona yang muncul pertama kali di Cina, menghadirkan dampak yang sangat masif bagi kehidupan manusia. Banyak sektor penting dalam kehidupan ini yang goyah karenanya. Salah satu sektor yang paling menderita gara-gara Corona adalah ekonomi.

Sebaran Corona memaksa kantor, sekolah, pusat perbelanjaan, hotel, restoran, kafe, sampai wahana bermain ditutup. Lebih menyesakkan lagi, kondisi itu dilakukan tanpa batas waktu yang jelas.

Para bos pusing tujuh keliling memikirkan operasional perusahaannya karena pemasukan yang minim. Sementara jutaan karyawan mulai berpikir keras tentang keberlanjutan hidup mereka di saat kabar pemangkasan karyawan oleh perusahaan semakin sering terdengar belakangan ini.

Bukan hanya pekerja di bidang formal saja yang mumet, mereka yang mencari rezeki dari bidang informal juga geleng-geleng kepala. Tak perlu heran bila sambat jadi hal yang amat dimaklumi.

Ketidakpastian yang mengemuka bikin semuanya serba tak enak. Terlebih, ancaman krisis ekonomi terus menghantui. Alih-alih menghamburkan uang buat membeli sesuatu yang tidak perlu, orang-orang lebih memilih berhemat demi kelangsungan hidupnya sendiri maupun keluarga.

Potong Gaji Pemain

Seperti tutupnya kantor, sekolah, pusat perbelanjaan dan restoran, tak adanya pertandingan sepakbola juga bikin manajemen klub di seluruh dunia puyeng. Sebagai entitas, mereka dipaksa berpikir keras guna memenuhi hak-hak pekerjanya, mulai dari pihak manajemen sendiri, staf, ofisial, sampai para pemain.

Pasalnya, segala potensi pendapatan dari hak siar televisi, tiket pertandingan, penjualan merchandise hingga perjanjian dengan sponsor terjun ke titik nol. Padahal poin-poin tersebut adalah sumber kehidupan kesebelasan sepakbola.

Salah satu langkah yang kemudian dipilih sejumlah klub sepakbola agar mampu bertahan di situasi sulit seperti sekarang adalah memotong gaji pemain. Biasanya, sektor ini merupakan pengeluaran terbesar dari sebuah kesebelasan sepakbola. Khususnya tim-tim mapan yang skuadnya dijejali pemain bintang.

BACA JUGA:  Sepakbola yang Seksi di Mata Politisi

Raksasa La Liga Spanyol, Barcelona, sepakat untuk memangkas gaji Lionel Messi dan kawan-kawan sebesar 70 persen. Hal ini terpaksa dilakukan pihak klub dan sudah disetujui para pemain supaya staf dan ofisial tetap menerima upah mereka secara penuh.

Saat kabar ini diketahui publik, tersiar pula rumor bahwa Messi dan kawan-kawan menolak keputusan manajemen. Namun megabintang Argentina tersebut menyanggah hal itu.

“Kami ingin mengonfirmasi bahwa dalam keadaan darurat seperti ini, upah kami dipotong 70 persen. Kami sendiri merasa kaget tatkala orang-orang menyebut bahwa para pemain menolak hal tersebut,” terang Messi seperti yang ia tuliskan di akun Instagram pribadinya.

Cara serupa diambil oleh penguasa Serie A dalam sewindu terakhir, Juventus. Klub yang bermarkas di kota Turin itu menyunat gaji para pemain dan sanggup menghemat pengeluaran mereka sebesar 90 juta Euro. Dalam momen sepelik ini, jumlah tersebut tentu dapat menyelamatkan kas keuangan I Bianconeri mengingat pemasukan yang begitu minim.

Kendati demikian, proses pemotongan gaji para penggawa Juventus tidak berlangsung mudah. Pilar asal Argentina, Paulo Dybala, mengungkapkan bahwa proses negosiasi antara pemain dan kubu manajemen berjalan alot.

“Presiden klub, Andrea Agnelli, mengajak kami membahas hal tersebut. Beliau menyatakan bahwa klub membutuhkan bantuan para pemain (dengan memotong gaji). Awalnya sejumlah pemain tak bersedia, tapi Giorgio Chiellini bertindak sangat proaktif sehingga kesepakatan itu didapat,” papar Dybala seperti dikutip dari Football Italia.

Setali tiga uang, kesebelasan asal Surabaya yang berlaga di Liga 1, Persebaya, juga memutuskan buat memotong gaji skuadnya agar roda operasional klub bisa tetap berjalan.

Sebelumnya, asosiasi sepakbola Indonesia (PSSI) dan operator kompetisi, PT. Liga Indonesia Baru (LIB) meminta kepada seluruh kontestan Liga 1 untuk membayar 25 persen gaji para pemain selama bulan Maret, April, Mei, dan Juni sebab kompetisi dihentikan.

“Melihat situasi yang ada, para pemain tak keberatan jika gajinya harus dipotong. Apalagi kondisi klub juga sedang sulit. Walau begitu, seperti permintaan pelatih, kami ingin gaji di bulan Maret dibayar penuh,” jelas Rendi Irwan, gelandang senior Persebaya seperti dikutip dari Jawa Pos.

Waktu Pemulihan yang Tidak Sebentar

Lesunya ekonomi karena Corona sudah menjamah semua kalangan. Realita inilah yang kelak mengubah wajah sepakbola. Ya, bahkan ketika pandemi Corona sudah berakhir, sepakbola tak akan sama bagi penggilanya.

Mengapa begitu?

Problem ekonomi yang membelit, berpeluang besar memaksa para pencinta sepakbola menunda keinginan mereka untuk datang ke stadion guna menyaksikan laga secara langsung seraya membeli tiket. Sekadar datang ke gerai resmi klub atau jenama ternama buat membeli pernak-pernik ofisial dari tim kesayangan pun tidak.

Ketimbang menghambur-hamburkan uang dengan membeli tiket pertandingan atau kostum orisinal, kita pasti memilih buat menyimpannya terlebih dahulu. Siapa yang bisa menduga kalau nantinya, kita butuh uang demi membeli kebutuhan yang sifatnya amat mendesak. Apalagi banyak ketidakpastian yang membayang di depan mata.

Daripada membeli tiket pertandingan atau jersi tim kesayangan, para ayah pasti memprioritaskan pembelian beras untuk keluarganya. Dibanding membeli produk kecantikan, para ibu bakal mendahulukan pembelian susu dan popok untuk buah hatinya.

Perilaku seperti itu adalah hal yang lazim dilakukan manusia kala terjebak dalam situasi pelik. Maka tak perlu heran andai terdapat banyak bangku stadion yang kosong atau gerai-gerai resmi klub yang lengang karena tak dikunjungi penggemar beberapa saat usai sepakbola digulirkan kembali.

Bukan hanya sepakbola atau klub-klubnya saja yang butuh waktu memulihkan diri demi mencapai stabilitas keuangan. Kita, para fans, juga demikian. Masalah finansial yang ada bakal mendorong kita untuk mencari penyelesaiannya terlebih dahulu dan itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar.

Kembalinya sepakbola akan kita ikuti dengan euforia. Barcelonistas tentu gembira melihat klub kesayangannya turun lagi ke lapangan. Juventini merasa senang tatkala Cristiano Ronaldo dan kawan-kawan memeras keringatnya lagi di atas rumput hijau. Pun dengan Bonek yang pastinya tak sabar melihat performa Rendi beserta kolega.

Akan tetapi, perilaku dan sikap kita terhadap sepakbola, belum tentu sama dengan sebelumnya. Pada momen tersebut, sampai akhirnya pulih seperti sedia kala, sepakbola cuma hiburan semata untuk sebagian besar dari kita.

Komentar