Corona, Dunia Olahraga dan Nyawa Manusia

Dalam kurun beberapa bulan terakhir, dunia hiruk-pikuk oleh sebaran penyakit yang disebut virus Corona. Mereka yang terinfeksi virus ini umumnya mengalami pilek, batuk, dan demam. Tak berbeda jauh dengan penyakit flu pada umumnya. Meski demikian, Corona menjadi ancaman baru bagi nyawa manusia.

Pertama kali terdeteksi di Cina, virus ini lantas menyebar ke sejumlah negara di kawasan Asia seperti Jepang, Korea Selatan, Iran, Thailand, dan Indonesia. Beberapa negara yang terletak di benua Eropa dan Amerika pun terkena dampaknya.

Berdasarkan data yang dikeluarkan oleh worldometers.com. (saya akses pada pukul 06.00 WITA dan datanya terus diperbarui), sudah ada 134.477 orang yang terjangkiti Corona di seluruh dunia. Korban meninggal dunia mencapai 4.970 orang. Sementara mereka yang selamat dan pulih menembus angka 68.915 orang.

Keadaan ini mendorong banyak kalangan menggencarkan kampanye bebas Corona. Caranya antara lain, rajin mencuci tangan menggunakan sabun, jangan terlalu sering menyentuh area wajah (utamanya bagian mata, hidung, dan mulut), menutup hidung dan mulut dengan lengan atau tisu ketika batuk maupun bersin, menghindari tempat yang ramai, hingga bertahan di rumah saat merasa demam atau flu.

Sebaran yang cepat dan dampak yang dihasilkan Corona bikin semua pihak kalang kabut. Tak terkecuali mereka yang membidani kompetisi olahraga. Berbagai langkah diambil sebagai tindakan preventif, mengamankan para pemain, ofisial dan tentu saja para suporter yang selalu ingin memenuhi arena tanding saat jagoan mereka beraksi.

Federasi sepakbola Cina beserta operator liga sudah menyatakan bahwa Liga Super Cina belum akan dihelat sampai masalah ini berakhir. Kondisi serupa juga terjadi di Jepang dan Korea Selatan.

Di sejumlah liga top Eropa, ada beberapa partai sepakbola yang dihelat tanpa penonton guna mereduksi risiko sebaran Corona. Sampai akhirnya, beberapa negara memilih untuk menghentikan sementara kompetisinya seperti di Belanda, Italia dan Portugal karena sebaran Corona kian tak terkendali.

Makin menyesakkan, salah seorang penggawa Juventus, Daniele Rugani, dikabarkan positif terjangkiti Corona. Ia menjadi pesepakbola profesional kedua yang terinfeksi setelah pemain Hannover 96, Timo Hübers. Kubu Juventus kabarnya juga telah mengambil langkah cepat dengan melakukan tes kesehatan kepada seluruh skuad dan ofisialnya guna mencegah penyebaran Corona.

Tak berbeda jauh, melalui rilis resmi yang dikeluarkan, Internazionale Milano juga sudah menghentikan seluruh aktivitas keolahragaannya sampai waktu yang belum ditentukan guna mengkarantina seluruh pemain, staf, ofisial dan pihak manajemen.

Akhir pekan lalu, Inter bertandang ke Stadion Allianz di kota Turin buat melakoni partai Derby d’Italia melawan Juventus, klub Rugani. Sang pemain tercatat sebagai salah satu penggawa cadangan I Bianconeri di laga yang akhirnya mereka menangkan dengan skor 2-0 itu.

BACA JUGA:  Kita Tidak Siap Kehilangan El Clasico

Setali tiga uang, pemilik Nottingham Forest dan Olympiakos Pireaus, Evangelos Marinakis, juga didiagnosa terinfeksi Corona. Hal ini pula yang mendorong asosiasi sepakbola Inggris (FA) menunda laga Arsenal versus Manchester City tengah pekan ini karena beberapa hari sebelumnya, pemain-pemain Arsenal sempat bertemu dengan Marinakis yang saat itu mendampingi Olympiakos dalam laga Liga Europa.

Ketika saya kembali berselancar di dunia maya dini hari tadi, berita tentang pesepakbola profesional yang positif Corona kembali muncul. Adalah penggawa Sampdoria, Manolo Gabbiadini, yang kali ini menjadi korban virus tersebut.

Masifnya sebaran Corona juga mendorong sejumlah asosiasi sepakbola di Eropa untuk meminta kepada induk organisasi sepakbola Benua Biru (UEFA) buat menghentikan kompetisi Liga Champions dan Liga Europa musim ini serta menggeser gelaran Piala Eropa yang seharusnya diselenggarakan tahun 2020 menjadi tahun 2021 nanti.

Sementara penyelenggara Motogp telah meniadakan balap di kelas primer pada seri Qatar lalu (8/3). Dalam rilis lanjutan, mereka juga sepakat untuk menunda balapan Motogp Thailand, Motogp Amerika Serikat, dan Motogp Argentina agar seluruh elemen yang terlibat pada ajang ini tetap sehat dan aman.

Ajang gulat profesional World Wrestling Entertainment (WWE) yang sedianya bakal memutar salah satu event bayar per tayang termegahnya setiap tahun, WrestleMania (WM), juga tengah mempertimbangkan untuk membatalkan pagelaran tersebut setelah Pemerintah Kota Tampa Bay, tempat di mana WM 36 akan diselenggarakan pada 6 April 2020 mendatang, mengadakan pertemuan guna membatalkan atau menunda semua event besar di kotanya.

Kompetisi bola basket termegah di Eropa, Euroleague, juga telah merilis bahwa mereka menghentikan kompetisinya untuk sementara waktu. Hal ini dilakukan sebagai bentuk perlindungan diri terhadap pemain, ofisial, dan juga fans.

Sementara liga basket paling populer di dunia, National Basket Association (NBA), menghentikan kompetisinya per kemarin (12/3). Keputusan itu diambil para petinggi NBA karena salah satu pemain Utah Jazz, Rudy Gobert, positif terinfeksi Corona ketika dites. Rekan Gobert, Donovan Mitchell, turut terinfeksi virus Corona. Meski mengagetkan, tapi keputusan cepat NBA disambut positif oleh banyak pihak.

Mark Cuban, pemilik klub Dallas Mavericks, merasa bahwa tindakan NBA sudah tepat karena situasi yang ada sekarang begitu pelik. Demi keselamatan semua pihak, menghentikan kompetisi adalah opsi terbaik. Pada akhirnya, menurut Cuban, ada hal yang lebih penting daripada basket itu sendiri.

Aktor kawakan yang membintangi film Saving Private Ryan dan Cast Away, Tom Hanks, bahkan melansir bahwa ia dan sang istri, Rita Wilson, positif Corona ketika melakoni syuting di Australia. Kabar ini Hanks sampaikan lewat akun twitter pribadinya kemarin (12/3). Kenyataan ini bisa saja memunculkan efek domino di Negeri Kanguru.

Benar saja, salah satu tim Formula 1, McLaren, telah menyatakan undur diri dari Grand Prix (GP) Australia yang diselenggarakan pada hari Minggu (15/3) mendatang. Keputusan itu diambil setelah salah satu staf mereka positif terinfeksi Corona dan wajib menjalani proses karantina. Lebih jauh, kabar terbaru menyebutkan kalau seri perdana F1 musim 2020 itu dibatalkan.

Kita tak boleh memandang remeh sebaran Corona yang seiring waktu telah mengganti jubahnya dari wabah menjadi pandemik. Keseriusan dalam menangani kasus ini sekaligus melaksanakan segenap tindak pencegahan adalah wajib. Termasuk oleh mereka yang berwenang akan berbagai kompetisi olahraga di muka Bumi. Terlebih, kita tak betul-betul tahu kapan masalah ini akan selesai.

BACA JUGA:  Nostalgia Liga Primer Inggris: Nyeri Leher dan Tantangan Malam Hujan Berangin di Kandang Stoke City

Menghentikan seluruh kegiatan olahraga yang berpotensi mengundang massa dalam jumlah besar adalah langkah terbaik. Apalagi menyelenggarakan pertandingan atau perlombaan tanpa penonton tak lagi bisa dikategorikan sebagai tindak preventif. Lupakan pula aspek bisnis yang kelewat menggoda sebab ada hal lain yang lebih penting dari uang, trofi, maupun eksposur yakni nyawa manusia.

Tentu segala penundaan atau pembatalan kompetisi akan mendatangkan efek negatif. Namun kita takkan pernah menyesalinya jika betul-betul menempatkan keselamatan manusia sebagai prioritas utama.

Jangan berlagak seperti petinggi asosiasi sepakbola Inggris (FA) saja yang bebal dan congkak karena tetap menggelar pertandingan untuk akhir pekan ini seperti rilis yang baru saja mereka keluarkan. Padahal kasus Corona di Inggris terus meningkat dalam beberapa hari ke belakang. Salah satu korban terbarunya adalah pelatih Arsenal, Mikel Arteta.

Dalam situasi macam ini, rasa kemanusiaan kita benar-benar diuji. Mengacu pada data yang ada di paragraf awal, Corona bisa disembuhkan sekaligus dihindari. Namun kita pun sepatutnya bertanya, dalam keadaan maha pelik seperti sekarang, apakah kita peduli dengan sesama atau sebetulnya cuma memikirkan keuntungan diri sendiri dalam menjalani hidup?

Lekas pulih, Bumi.

Komentar