Delapan Momen PSM Makassar Paling Berkesan

Pada 2 November 2015, tim kebanggaan Sulawesi Selatan, Persatuan Sepak Bola Makassar (PSM), genap berusia 100 tahun. Setiap pencinta sepak bola pasti punya momen-momen berkesan yang berkaitan dengan klub-klub idola mereka. Artikel ini bertujuan untuk mengenang momen-momen berkesan seputar PSM, dilihat dari sudut pandang pendukung sebagai pencinta PSM sejak dua puluh tahun lalu.

1. PSM vs Persipura 4-3 (semifinal Liga Indonesia 1995-1996)

Meski gagal menjadi kampiun Liga Indonesia 1995-1996, saat paling membanggakan sebagai pendukung PSM justru terjadi di semifinal turnamen tersebut. Sampai kapan pun saya tidak akan melupakan perjuangan PSM di pertandingan menegangkan itu. Saya dan ribuan warga Sulawesi sudah hampir pasrah ketika pada babak pertama tim kesayangan kami tertinggal 1-3.

Namun, di babak kedua Juku Eja bangkit. Gol Arif Kamaruddin diikuti sundulan mematikan bek asal Brasil, Marcio Novo, sukses menyamakan kedudukan menjadi 3-3. Sempat mengira pertandingan menuju perpanjangan waktu, saya pun bersorak kegirangan ketika supersub Rahman Usman mencetak gol kemenangan yang mengantarkan PSM ke final menghadapi Mastrans Bandung Raya.

Sampai sekarang, saya selalu memutar momen-momen itu di pikiran setiap kali saya butuh pemompa semangat.

2. Rahman Usman kembali jadi pahlawan di final tahun 2000.

Pemain PSM yang paling berkesan bagi saya adalah Rahman Usman. Bukan hanya karena ia talenta lokal yang besar dan pensiun di Juku Eja, saya dan banyak pendukung PSM berterima kasih atas memori-memori indah yang telah dipersembahkan oleh pemain berposisi penyerang ini.

Selain gol kemenangan atas Persipura di semifinal Liga Indonesia 1995-1996, ia juga mencetak gol melawan Pupuk Kaltim (PKT) Bontang di final tahun 2000. Gol itu memastikan PSM menjadi juara Liga Indonesia pada tahun tersebut. Padahal, pemain yang kadang dijuluki “Zidane” karena rambutnya yang menipis seperti Zinedine Zidane ini hanya spesialis pengisi bangku cadangan.

Memang, itulah yang spesial dari Rahman. Di tahun-tahun menjelang akhir karirnya, sebenarnya ia telah terpinggirkan dengan adanya striker-striker hebat baik dari dalam maupun luar negeri. Dari Jacksen Tiago, Kurniawan Dwi Yulianto, Miro Baldo Bento, hingga Fouda Ntsama, semua telah bergantian mengisi lini depan PSM. Namun, layaknya Teddy Sheringham atau Henrik Larsson, ia selalu mencetak gol-gol penting.

Sayang sekali, saat ini dokumentasi tentang “Zidane” di dunia maya sangat kurang dan susah ditemukan. Tapi mungkin itu jugalah yang perlu diteladani dari Rahman Usman: senantiasa berkontribusi meski tidak menjadi sorotan.

3. PSM vs Persebaya 1927: 4-0

Pertandingan ini memang “hanya” berlangsung sebagai rangkaian kompetisi Indonesian Premier League (IPL). Status sebagai kompetisi tandingan yang berstatus illegal membuat gengsi pertandingan ini sedikit berkurang. Meski demikian, saya menempatkan memori ini di posisi yang cukup tinggi karena saya menjadi saksi langsung kehebatan PSM ketika menghantam Persebaya 1927 pada bulan Mei 2011.

BACA JUGA:  Liga Ramadan: Tarkam Paling Prestisius di Indonesia

Kegairahan penonton memang sedikit menurun, terlihat dari stadion Andi Mattalatta yang hanya terisi sekitar setengahnya. Namun, saya sangat menikmati jalannya pertandingan dari tribun penonton. Kehebatan duet Andi Oddang dan Muhammad Rahmat sukses membantai Persebaya 1927 empat gol tanpa balas, padahal tim Bajul ijo saat itu merupakan pemuncak klasemen.

4. Lolos ke perempat final Piala Champions Asia 2000/2001

Setelah menjuarai Liga Indonesia 1999/2000, PSM berhak tampil sebagai wakil Indonesia di Piala Champions Asia. Di babak penyisihan pertama, PSM menghadapi wakil Vietnam Song Lam Nge Ahn (SNLA). Keraguan sempat menyelimuti seluruh skuat dan pendukung PSM, mengingat ketika terakhir kali berlaga di ajang tersebut, tim Juku Eja dibantai 0-4 oleh wakil Korea Selatan, Pohang Atoms.

Terbukti, SNLA sukses menahan imbang PSM tanpa gol di Makassar. Namun, dengan gagah berani PSM membantai tuan rumah di Vietnam dengan skor 4-1. Kemenangan ini membuat penonton bergairah dan memadati pertandingan penyisihan kedua melawan Royal Thai Air Force (RTAF). Di luar prediksi, PSM kembali mengamuk dengan membantai juara Thailand tersebut. Dua gol Fouda Ntsama, satu gol Kurniawan serta hattrick Miro Baldo Bento mempersembahkan kemenangan terbaik PSM di Liga Champions Asia.

Ketika bertandang ke Thailand, PSM kembali menang 5-0 atas tuan rumah, dan berhak tampil di semifinal. Seolah ingin meneruskan kebahagiaan para pendukung PSM, stadion Mattoanging ditunjuk menjadi tuan rumah delapan besar turnamen antarklub tertinggi Asia tersebut. Sayang, PSM gagal bersaing dengan Shandong Luneng (Tiongkok), Suwon Samsung Bluewings (Korea Selatan) dan Jubilo Iwata (Jepang). Nama terakhir kala itu masih diperkuat legenda timnas Jepang, Kazuyoshi “King Kazu” Miura.

5. Lolos degradasi (musim 2009-2010)

Tidak hanya kesuksesan menjadi juara, sukses lolos dari jurang degradasi pun cukup membuat para pendukung PSM bahagia.

Ini terjadi pada musim 2009-2010. Sempat berkubang di zona degradasi membuat PSM gonta-ganti pelatih. Hingga akhirnya ucapan terima kasih dialamatkan kepada Tumpak Sihite, mantan pelatih Persipura yang sukses meloloskan Laskar Ayam Jantan dari jeratan degradasi. Pertandingan yang menentukan nasib Syamsul Chaeruddin dan kawan-kawan itu sebenarnya cukup berat. PSM harus menang di Gelora Bumi Kartini, kandang Persijap Jepara. Untungnya, gol semata wayang Diva Tarkas memastikan PSM tetap di level teratas.

6. Syamsul pulang kampung

Suporter mana pun pasti sedih melihat pemain idolanya pergi meninggalkan klub kesayangannya. Apalagi jika pemain tersebut sudah menjadi ikon kedaerahan klub tersebut. Hampir semua pendukung PSM bersedih ketika Syamsul Chaeruddin meninggalkan Makassar untuk bergabung dengan Persija Jakarta pada awal musim 2010-2011. Dua tahun sang ikon memperkuat klub-klub di seberang pulau, sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali di tahun 2012.

BACA JUGA:  Marc Klok Akan Selalu Merah

Saya sendiri sangat mengagumi sosok Syamsul Chaeruddin, terutama setiap kali melihat kepribadiannya yang sangat kuat di dalam maupun luar lapangan. Layaknya Carles Puyol di Barcelona, Syamsul adalah panutan bagi para pemain muda PSM saat ini.

7. Gol Rasyid Bakri ke Gawang AS Roma

Cukup lama PSM tidak melahirkan talenta untuk menjadi pemain tim nasional Indonesia. Setelah Syamsul Chaeruddin, praktis hanya nama Rasyid Bakri yang lumayan sering dipanggil membela tim Merah putih. Maka, sebagai pencinta PSM, saya merasa sangat bangga ketika Rasyid mencetak gol ke gawang salah satu tim kuat Eropa, yaitu AS Roma. Meski pertandingan yang dilangsungkan di bulan juli 2014 itu hanya bersifat latih tanding bagi timnas U-23, momen itu cukup berkesan bagi para pendukung PSM, dan untuk Rasyid sendiri, tentunya.

8. Petar Segrt

Setelah memutuskan pindah ke Indonesian Premier League (IPL), berbagai polemik menghampiri PSM. Kurangnya pemain yang tertarik berkompetisi di liga ini memaksa manajemen memaksimalkan penggunaan talenta-talenta lokal. Di sinilah akhirnya PSM berjodoh dengan sosok bernama Petar Segrt.

Meski namanya di Indonesia masih tergolong asing, Petar ternyata pernah menukangi tim nasional Georgia. Bahkan, ia masih dicintai publik Georgia berkat kontribusinya bagi negara pecahan Uni Sovyet tersebut. Kecintaannya terhadap pemain-pemain muda membuat Petar leluasa menyulap pemain-pemain muda PSM menjadi profesional. Salah satu yang tersukses adalah Rasyid Bakri, pemain yang sukses bersaing di tim nasional dan sekarang menjadi pilar tim utama PSM.

Sayang, Petar tidak bertahan lama. Karut-marutnya kondisi persepakbolaan Indonesia ternyata menjadi tantangan yang tidak mudah bagi idealismenya. Pelatih berkebangsaan Kroasia ini akhirnya meninggalkan Indonesia pada pertengahan 2013. Meski demikian, sebagian besar publik Makassar masih mencintainya. Saya sendiri pernah menulis sebuah artikel sebagai tribut baginya, dan menyumbang kata pengantar bagi buku Petar Segrt yang ditulis oleh teman-teman saya, Andi Wina Syadzwina dan Sirajudin Hasbi.

Tadinya saya ingin membuat daftar 100 momen PSM terbaik, agar sesuai dengan ulang tahun PSM yang ke-100. Namun, keterbatasan waktu dan tenaga dalam menulis akhirnya membuat saya berhenti sampai delapan saja. Yang penting, dukungan bagi PSM tidak terbatas!

 

NB: Silakan bagi momenmu yang berkesan dengan PSM di kolom komentar.

 

Komentar
Selalu percaya sepak bola bukan hanya 2 x 45 menit di lapangan hijau, melainkan juga filosofi sederhana yang bisa mengubah hidup manusia. Cintanya terhadap sepak bola tumbuh di stadion bersejarah yang dulu bernama Mattoanging, dan sampai sekarang tetap menjadi pendukung setia PSM. Pernah menerbitkan buku memoar perjalanan sepak bola berjudul Home & Away (2014).