Depok United FC Hadir: Saatnya Pembinaan Usia Muda Berjenjang Berjalan

Bulan Agustus ini dipastikan akan menjadi tonggak awal kebangkitan sepak bola grassroot Jawa Barat, khususnya Depok.

Pasalnya, Liga Nusantara (Linus) 2016 regional Jawa Barat yang digagas oleh PT. Gelora Trisula Semesta (GTS) akan segera bergulir. Malah Depok sendiri ditunjuk sebagai tuan rumah dalam turnamen yang mempertemukan seluruh klub amatir di tanah Sunda tersebut.

Tentunya, sebagai tuan rumah, Depok memiliki klub yang diikutsertakan dalam ajang Linus kali ini, tiada lain dan tiada bukan adalah Depok United FC.

Klub yang dimanajeri langsung oleh Wakil Walikota Depok, Pradi Supriatna ini rencananya akan dilatih oleh Nana Priatna, dibantu Bahtiar Ibrahim sebagai asiten pelatih, dan Juanda sebagai pelatih kiper.

Nama Depok United memang masih sangat asing di telinga pencinta sepak bola Depok. Maklum, sebagai peserta Linus, kehadirannya pasang surut.

Tak banyak info yang dapat diperoleh di media perihal perjalan klub ini, bahkan di koran-koran lokal Depok pun kita kesulitan menemukan berita tentang klub yang sudah didirikan dan memiliki badan hukum sejak tahun 2012 tersebut.

Hal ini menandakan bahwa dalam beberapa tahun terakhir, sepak bola di Depok memang mengalami mati suri yang sedikit banyak menggangu pembinaan usia dini.

Bahkan seniornya, klub Persikad Depok, yang notabene klub profesional satu-satunya milik Depok, sempat dijual ke Purwakarta tahun 2015 sebelum akhirnya dipulangkan beberapa hari jelang ulang tahun yang ke-17 Kota Depok bulan April 2016 lalu.

Meski Depok United tidak populer, ia memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh Persikad Depok, yakni soal subsidi dana APBD. Seperti yang diketahui bersama, klub-klub peserta Linus diperbolehkan menggunakan APBD dengan tujuan agar sepak bola akar rumput bisa berjalan.

BACA JUGA:  Suning, Internazionale Milano, dan Ekspektasi yang Berlebih

Namun, walau dianugerahi keistimewaan menggunakan dana yang berasal dari rakyat, seyogyanya manajemen Depok United harus cermat dalam mengelola dana yang diberikan. Misalnya, dana tersebut jangan sampai dihambur-hamburkan untuk mengontrak pemain bintang atau yang sudah jadi.

Lebih baik, dana tersebut dialokasikan untuk membuat kompetisi regional se-Depok untuk menarik bakat pemain-pemain muda yang diproyeksikan sebagai penggawa Depok United masa depan.

Mengontrak pemain muda, terutama talenta asli Depok dipastikan maharnya jauh lebih murah juga efisien bila dibandingkan mendatangkan pemain yang sudah senior atau pemain luar daerah. Ini bukan soal semangat kedaerahan, melainkan semangat total pembinaan usia dini di Depok.

Depok sendiri, dalam catatan Asosiasi Kota (Askot) PSSI Depok memiliki total 71 klub internal atau dalam hal ini adalah Sekolah Sepak Bola (SSB) yang terbagi dalam tiga Divisi.

Satu klub bahkan memiliki beberapa kategori usia. Dengan jumlah yang sedemikian banyak, bahkan mungkin akan bertambah lagi, seharusnya mampu menghasilkan banyak pemain sekelas Muhammad Roby — pemain tim nasional Indonesia kelahiran Depok — yang tentunya bisa dilakukan bila dikelola dengan profesional.

Memang, pada peraturan Linus tahun ini, PT. GTS tidak membatasi usia, yang artinya segala usia dapat bermain. Namun alangkah bijaknya apabila Depok United bisa menggunakan banyak pemain muda.

Siapa tahu, dari sini kita bisa melihat calon pemain-pemain bintang baru yang tidak menutup kemungkinan menjelma sebagai pemain timnas Indonesia yang baru.

Selain itu, Depok United juga bisa menjadi klub reserve klub Persikad Depok. Di Eropa kita bisa mencontoh Real Madrid yang memiliki klub cadangan bernama Real Madrid Castilla atau Barcelona dengan Barcelona B-nya.

Baik Castilla maupun Barcelona B merupakan tempat persinggahan pemain muda untuk meningkatkan kemampuan mereka dengan berlaga di divisi bawah sebelum akhirnya dipromosikan ke tim senior.

BACA JUGA:  Sepak Bola di antara Bisnis dan Gairah

Nama-nama beken macam Iker Casillas, Alvaro Morata, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, dan Lionel Messi merupakan contoh keberhasilan sistem pembinaan yang berjenjang. Di Indonesia, khususnya di Depok pun seharusnya bisa dilakukan.

Adapun kuncinya adalah sinergi dan konsistensi. Hal ini bisa terjadi bila pemangku asosiasi mau duduk bersama dan menyatukan tekad untuk memajukan sepak bola Depok. Apalagi saat ini, sepak bola sudah mendapat tempat di hati para pemangku kekuasaan di Depok, seperti KONI, Pemkot, bahkan Walikota, dan Wakil Walikota .

Pemain muda berbakat yang dimiliki Depok United bisa dijual kepada klub yang lebih besar. Dananya bisa diputar untuk melepas jeratan APBD, sehingga klub bisa mandiri tanpa perlu “netek” dana APBD.

Dana yang seharusnya meluber ke klub bisa dialokasikan ke hal yang lebih bermanfaat. Misalnya, pembangunan fasilitas olahraga yang baru di Depok, atau juga bisa digunakan untuk merawat fasilitas yang sudah ada saat ini.

 

Komentar
Penjaga gawang @id_fm yang jadi idaman setiap calon mertua. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @handyfernandy.