Emosi dan Drama Sebuah Pertandingan dari Suara John Helm dan Fabio Caressa (Bagian 1)

Adanya komentator dalam pertandingan sepak bola sudah seperti syarat wajib ketika kita menyaksikannya melalui layar televisi. Aneh rasanya memang menyaksikan pertandingan di layar kaca tanpa ditemani suara komentator, sampai seringkali, jika kebetulan komentar berbahasa Inggris sedang tidak ada karena gangguan, presenter acara (beserta pengamatnya) pun mengambil alih untuk memandu jalannya laga–meski jadinya justru kadang menggelikan.

Bagi saya pribadi, peran komentator itu sendiri cukup signifikan. Setidaknya sejak pertama kali saya menonton sepak bola, suara, ulasan, dan drama yang dihadirkan komentator bisa menentukan mood menonton pertandingan sepak bola melalui televisi. Peran para komentator ini akan terasa lebih krusial lagi apabila kesebelasan favorit kita sedang bermain di pertandingan yang amat krusial seperti leg kedua fase knock-out Liga Champions, final Piala Dunia, atau pekan terakhir kompetisi liga di mana selisih poin atau gol sangat ketat.

Bicara soal komentator sepak bola, pasti banyak dari kita yang fasih menyebut satu-persatu para komentator terkenal. Dari era 1990-an, penggemar Liga Primer Inggris terutama, pasti tidak asing lagi mendengar suara Martin Tyler, John Motson, Clive Tyldesley, Jon Champion, Trevor Brooking, dan Jim Beglin. Apalagi, mereka semua pernah menjadi komentator resmi video game FIFA dan Pro Evolution Soccer.

Di Indonesia, siapa tidak kenal dengan sosok Oland Fatah, Tris Irawan, dan Muhammad “Bung Kus” Kusnaeni? Kemudian, dewasa ini, dunia persepakbolaan Indonesia juga mengenal berbagai komentator dengan gimmick unik seperti Hadi “Ahay” Gunawan, Valentino “Jebret” Simanjuntak, hingga Hardimen Koto yang pernah spontan berteriak “Cap Jaguuung” ketika pemain sayap Persib Bandung medio 2000-an, Salim Alaydrus, berhasil mencetak gol ke gawang salah satu klub K-League (Korea Selatan) pada laga persahabatan. Belum lagi, jika Anda sering menonton cuplikan-cuplikan pertandingan di YouTube berlabel Koora Sport, pasti Anda akan menemui komentator-komentator berbahasa Arab dan Rusia yang sering membuat kita geleng-geleng kepala.

Dari sekian banyak komentator hebat yang ada di dunia, sebagai penggemar Liga Champions dan Serie A Italia, ada dua komentator yang menjadi favorit saya, yaitu John Helm dan Fabio Caressa, dua nama yang agak sedikit kurang terkenal dibandingkan komentator-komentator yang telah disebut sebelumnya. Namun, meski barangkali nama mereka berdua kurang terdengar familiar, apabila Anda mendengar suara mereka, perasaan asing itu pasti akan hilang. Pada bagian pertama ini, John Helm akan mendapat jatah terlebih dahulu.

John Helm dan komentar-komentarnya yang sastrawi

John Helm, pria berkebangsaan Inggris yang lahir pada tahun 1942, adalah seorang sportscaster yang mengawail kariernya pada dekade 1970-an sebagai komentator di BBC Radio untuk berbagai pertandingan olahraga. Sebenarnya, selain sepak bola, John Helm pun banyak mengomentari cabang olahraga lain. Bahkan, sampai tahun 2014 lalu, ia masih menjadi komentator untuk pertandingan bulutangkis Asian Games nomor ganda campuran antara salah satu pasangan andalan kita, Praveen Jordan/Debby Susanto melawan Ko Sung Hyun/Kim Ha Na.

BACA JUGA:  Napoli vs Manchester City: Mengintip Model Permainan Napoli dan City

Helm sendiri mulai eksis menjadi komentator sepak bola ketika menjadi komentator liga Inggris pada dekade 1980-an bersama ITV (saluran TV Inggris), wabil khususnya pada zaman Glenn Hoddle memenangi Piala FA bersama Tottenham Hotspur tahun 1981. Setahun berikutnya, ia menjadi komentator ITV untuk Piala Dunia 1982 di mana dia mengaku sangat emosional ketika mengomentari jalannya laga perempatfinal antara Brasil dan Italia karena ia merasa Brasil, dengan Zico, Socrates, Falcao, Eder, dan Junior yang memainkan sepak bola terbaik di zamannya, tidak layak kalah dari trigol seorang Paolo Rossi pada partai yang berkesudahan 2-3 untuk Italia. Semenjak itu, karier John Helm terus menanjak hingga diberi kesempatan untuk menjadi komentator Liga Champions pada akhir 1990-an. Puncaknya adalah ketika ia mulai diminta FIFA sebagai salah satu komentator resmi untuk Piala Dunia 2002 yang kemudian berlanjut sampai Piala Dunia 2014 tahun lalu.

Persinggungan saya dengan komentar khas dari John Helm dimulai ketika menonton pertandingan Liga Champions pada pertengahan dasawarsa 2000-an kala AC Milan tengah menapaki satu per satu babak di Liga Champions. Jujur, saya merasa emosional ketika gol-gol dari Pippo Inzaghi, Kaka’, dan Andriy Shevchenko yang mengantarkan Milan ke babak selanjutnya, diucapkan melalui gaya dan intonasi yang meluap-luap dari John Helm melalui frasa semacam “Filippo Inzaghi smashed their dream!” ketika Super-Pippo mencetak gol krusial pada menit ke-88 yang memupuskan harapan Olympique Lyonnais untuk lolos ke semifinal Liga Champions musim 2005/06. Kemudian, ada pula kalimat “Now this is the moment that we’ve been waiting for… and yess surely! Milan take the lead….” ketika Andriy Shevchenko yang menyongsong umpan dari Kaka’ berhasil melepaskan diri dari kawalan Wilfred Bouma lewat adu sprint untuk kemudian menaklukan kiper Heruelho Gomes pada leg pertama semifinal Liga Champions 2004/05 kontra PSV Eindhoven.

Komentar-komentar yang muncul dari mulut Helm, sebagaimana diamini oleh wartawan Titis Widyatmoko pada status Facebook-nya beberapa tahun lalu, tidak melulu berisi soal bola saat itu ada di kaki siapa. Namun, Helm juga sangat detail dalam memberi informasi mengenai kedua tim yang bertanding (sejarah pertemuan, informasi menarik dan segar dari masing-masing tim), informasi pribadi seorang pemain yang ia sebut (ulang tahun, tahun debut, dan informasi trivia lainnya), hingga detail-detail situasi pertandingan tentang bagaimana gol diceploskan, reaksi dan antusiasme penonton, kondisi psikologis pemain, ofisial, dan pelatih di dalamnya. Semua dijelaskan dengan bahasa yang deskriptif, komunikatif, dramatis, melalui intonasi pengucapan yang sempurna. Misalnya, coba simak video gol Andres Iniesta ke gawang Maarten Stekelenburg yang menyegel gelar juara dunia pertama Spanyol ini:

BACA JUGA:  Tak Ada Turnamen Pra-Musim di Indonesia

Dari video tadi, kita bisa mendengar bagaimana proses gol Iniesta dijelaskan melalui intonasi emosi yang meluap dan diksi yang dramatis sebagaimana Helm mengatakan:

“‘Fabregas sliced it through| no doubt in the world (if) that is offside| and Andres Iniesta blasted it beyond Martin Stekelenburg | show his grab of the glory| Stekelenburg’s right hand made a contact with the ball | as it flew beyond him| and the net is disturbed for the first time in the World Cup Final in 2010.”

Bagi saya, kalimat itu adalah penggambaran yang sangat apik dalam menjelaskan satu-satunya gol yang tercipta pada babak perpanjangan waktu dalam final Piala Dunia itu.

John Helm tidak hanya mampu menjelaskan pertandingan sepak bola. Lebih dari itu, intonasi dan gaya bahasa Helm mampu mendeskripsikan sebuah drama dan emosi pertandingan yang membuat kita bisa ikut merasakan adrenalin dan atmosfer dari setiap pertandingan sepak bola. Ia mungkin bukan komentator yang selalu berteriak histeris setiap saat, namun ia selalu mencoba membungkus pertandingan menjadi suatu kisah dramatis mengenai sepak bola.

Rasanya, profil dan kontribusi Helm selama 35 tahun dalam dunia penyiaran pertandingan sepak bola bisa menjadi catatan dan masukan menarik untuk para sportscaster lain di seluruh dunia, khususnya di Indonesia, mengenai bagaimana cara menuturkan sebuah pertandingan sepak bola bak laiknya orang bercerita. Cara demikian tidak hanya menghibur, tetapi juga mencerahkan penontonnya. Untuk menguasai hal tersebut, diperlukan pengetahuan yang komplit mengenai sepak bola dengan segala cerita di dalamnya, penguasaan bahasa yang apik, serta intonasi vokal yang prima.

Post-Scriptum: Tulisan ini didedikasikan untuk John Helm yang berulang tahun ke-73 pada hari ini.

 

 

Komentar