Final Leg 1 Piala AFF 2016: Melawan dengan Sebaik-baiknya, Sehormat-hormatnya

Ada banyak persoalan di sepak bola kita. Mau mengoreknya dari mana? Semua ada. Bangsa kita punya lengkap. Serba ada kita ini. Pengelolaan tiket bermasalah di markas militer? Dipukulin karena tidak bisa tertib?

Ah, itu cuma upil-upilnya.

Namun suka atau tidak suka harus diakui, segala macam kecaman maupun kritik untuk penjualan tiket yang benar-benar hipster—masih offline di momen “harbolnas” (hari belanja online nasional)—ini mendadak langsung lenyap sementara kala sepak bola yang dimainkan anak-anak negeri dengan lambang Pancasila di dada dimulai.

Sebenci apa pun dengan Pemuda Pancasila, sejelek apa pun nilai di pelajaran PMP atau PPKn di bangku sekolah, atau se-anarko apa pun pemikiran Anda, sepak bola yang dimainkan atas nama Indonesia selalu mampu meleburkan segala idealisme kita.

Sekaligus mampu dengan ajaibnya melumerkan daya kritis kita. Mendadak lidah maupun kata-kata pedas kita bungkam, kalaupun masih bersuara ia kena dempul dan jadi tumpul.

Seketika kita tak malu mengakui bahwa lagu “Indonesia Raya” jauh lebih ampuh melelehkan air mata di stadion daripada mendendangkan lagu “Selimut Tetangga”-nya Repvblik (entah bagaimana itu bacanya)—misalnya.

Persetan gol itu dicetak anak Papua maupun anak Jakarta, daerah-daerah yang belakangan sedang rawan konflik suku, ras, dan agama—kita semua tetap akan mengangkat tangan tinggi-tinggi. Pekik gol sampai merusak pita suara tak akan berarti apa-apa asalkan bola masuk ke gawang lawan.

Malam ajaib di Pakansari, Cibinong, Bogor, Final AFF 2016 (14/12) pertandingan pertama malam itu ternyata benar-benar punya potensi. Potensi merusak banyak pita suara—sekaligus gendang telinga di dekatnya tentu saja—bagi seluruh suporter timnas Indonesia di seluruh belahan dunia.

Kita tidak peduli gol atas nama Rizki Pora dicetak dengan cara-cara khas “Filippo Inzaghi”—membentur pemain lawan. Toh, kalaupun dianggap sebagai gol bunuh diri dari pemain bertahan Thailand sekalipun, kita ikhlas asal masih tetap dianggap gol.

Kita akan tetap merayakannya dengan gaya selebrasi meledak-ledak khas Inzaghi kalau perlu. Seolah-olah baru saja cetak gol dengan rentetan umpan sukses beberapa kali sebelum masuk ke gawang lawan sepeti gol Esteban Cambiaso di Piala Dunia 2006.

Kita tidak peduli, benar-benar tidak peduli.

Memahami logika Alfred Riedl

Secara akal sehat, sulit memang benar-benar mantap nan tulus menjagokan Indonesia bisa mengalahkan Thailand sebelum laga berakhir. Menimbang rekor pertemuan sekaligus kualitas sepak bola dalam empat sampai tiga tahun terakhir. Harus diakui, level Thailand sudah bukan lagi Asia Tenggara, tapi Asia.

BACA JUGA:  Internazionale Milano yang Penuh Masalah

Indonesia? Boro-boro mengejar prestasi di Asia Tenggara, memilih mana yang lebih utama dari keberlanjutan gengsi kompetisi dalam negeri dengan prestasi timnas saja masih belum mampu kok, sempat-sempatnya menganggap bahwa Thailand adalah rival abadi.

Kalaupun ada yang kelewat optimis akan kemenangan hari ini, itu bisa berarti dua hal: pertama, tidak begitu tahu jumlah anak tangga bagaimana jarak kualitas sepak bola kedua negara dan yang kedua sudah konsultasi dengan dukun terdekat.

Didominasi sepanjang pertandingan, dengan kegugupan yang luar biasa dari wajah-wajah Hansamu Yama maupun Abduh Lestaluhu. Bohong, jika Anda tidak juga ikut merasa gentar akan kelincahan kaki-kaki Theerathon Bunmathan maupun ketenangan Teerasil Dangda.

Berkali-kali bola mampir di sepertiga lapangan permainan Indonesia. Semua berpadu dalam tik-tak pemain Thailand yang terlihat betul menikmati permainan. Babak pertama, Boaz Salossa dkk seperti mengejar gerombolan ninja.

Dalam keadaan semacam itu, suara komentator di televisi betul-betul menganggu telinga saya. Komentar yang muncul saat pemain Indonesia tertekan habis-habisan karena benar-benar tidak bisa mengembangkan permainan sehingga melepaskan umpan langsung ke depan.

“Pemain kita kurang sabar, Bung,” katanya.

Kurang sabar, Mbahmu Kiper.

Ingin rasanya merebut mikrofon di studio dan teriak: “Hentikan semua lelucon ini, Bung!”

Saya rasa, ada perbedaan mendasar antara “buru-buru melepaskan umpan ke depan karena bebal” dengan “melepaskan umpan langsung ke depan karena memang  tidak ada pilihan lain”. Toh, lagi pula skema itulah yang digunakan timnas Indonesia berkali-kali untuk mengawali gol ke gawang lawan sepanjang turnamen Piala AFF 2016 ini.

Umpan satu dua memang merupakan cara main paling sederhana. Dan karena sederhana, maka wajar saja jika dianggap bahwa cara main itulah paling mudah dilakukan. Jadi kalau mudah, kenapa tidak dilakukan?

Masalahnya ada jurang perbedaan besar antara “bermain sederhana” dengan “bermain mudah”. Bermain sederhana tidak pernah mudah. Terutama dalam sepak bola.

Malah tim yang mampu bermain sederhana—terutama dengan bola-bola daerah yang mampu terus dikuasai, justru mereka sedang memainkan sepak bola yang begitu rumit. Sebab, yang sederhana kelihatannya, belum tentu mudah penerapannya.

Dominasi Thailand sepanjang pertandingan sampai 61% penguasaan bola menunjukkan hal itu. Mereka jauh memainkan sepak bola secara efisien dari kaki ke kaki.

Yah, jika saja mereka ini adalah orang Indonesia, saya tidak akan heran kalau Dangda dkk akan jadi bintang iklan sosis terkenal dan jadwal Tur Nusantara beberapa jam setelah pertandingan usai.

BACA JUGA:  Pertarungan Media Cetak Berebut Pembaca Melalui Berita Sepak Bola

Kekuatan inilah yang kemudian ingin dihindari oleh Alfred Riedl. Mungkin bagi Riedl, berhadapan dengan tim yang punya teknik, fisik, dan kemampuan taktis yang lebih baik, maka jangan melawan di tempat terbaik mereka, tapi lawanlah di tempat terlemah mereka.

Toh, jika masih tidak ditemukan kelemahan itu, maka pilihlah tempat yang membuat kekuatan lawan jadi seimbang. Dan tempat itu ada di atas lapangan, yakni: di angkasa.

Jadi, daripada memaksakan diri menghancurkan tembok di depan mata, bukankah lebih baik mengabaikannya dan memanfaatkan area paling bebas di atas lapangan? Yah, kecuali pemain Thailand punya ilmu peringan tubuh, itu mungkin jadi masalah baru.

Cara ini barangkali memang cara bodoh, karena hampir-hampir mirip dengan style Kick ‘n Rush, gaya kesukaan Isidorus Rio dan Yamadipati Seno. Namun harus diakui, dengan keterbatasan pemain yang boleh dipanggil dan durasi masa persiapan yang tidak cukup memadai, skema semacam ini adalah satu-satunya jalan paling realistis.

Mengharapkan timnas sekarang bermain seperti Timnas U-19 hasil asuhan Indra Sjafri beberapa tahun silam jelas sama sulitnya dengan mengharapkan Arsenal menjuarai Liga Champions musim ini. Kebersamaan, kebugaran, dan kematangan taktik tidak cukup untuk mengejar permainan yang ideal.

Inilah kenapa, di saat semua tim berlomba-lomba menguasai area tengah untuk mengejar kemenangan, Riedl malah menerapkan konsep bermain yang berkebalikan.

Kalau memang area ini susah sekali untuk dikuasai, sedangkan sumber daya yang dipunyai tidak sanggup untuk melakukannya, jadi kenapa harus memaksakan diri untuk menguasainya?

Lebih baik tinggalkan saja dan optimalkan cara-cara lain. Seperti yang ditunjukkan Antonio Conte dan Claudio Ranieri saat membungkam Josep Guardiola beberapa pekan lalu di Liga Inggris.

Skema yang tidak keren-keren amat itulah yang dalam perjalanannya kemudian melahirkan gol Hansamu Yama. Gol yang meledakkan kita semua karena bermimpi untuk mengalahkan Thailand sekalipun rasanya terlalu lancang, dan ajaibnya, malam ini hal tersebut benar-benar terjadi.

Rasanya aneh, saat melihat Thailand kemudian jadi di posisi mengejar-ngejar pemain kita karena ketinggalan. Dan ketika peluit wasit berkumandang layaknya suara azan di bulan Ramadan, rasanya puasa gelar timnas Indonesia sebentar lagi bisa disudahi.

Jadi, mari, rakyat Indonesia, kita nikmati sajian takjil kemenangan ini sementara—paling tidak sampai dua hari ke depan. Rayakan saja.

Tidak usah pedulikan hasil hari esok. Mau juara atau tidak, yang penting malam tadi kita sudah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Komentar
Lahir di Jogja tapi besar dan belajar cinta sepak bola dari Pelita Solo dan Persijatim Solo FC. Tukang modifikasi dan renovasi kalimat di Indie Book Corner (IBC). Masih bermimpi jadi atlet kayang pertama yang berlaga di UFC World Champion. Biasa nggambleh di @dafidab