Indonesia 4-0 Cina Taipei: Awal yang Baik untuk Timnas Garuda

Indonesia 4-0 Cina Taipei: Awal yang Baik untuk Timnas Garuda
Indonesia 4-0 Cina Taipei: Awal yang Baik untuk Timnas Garuda

Kebahagiaan dan euforia kemenangan Timnas Indonesia U-16 berhasil disambung oleh Timnas Indonesia U-23 lewat kemenangan telak 4-0 atas Cina Taipei (12/8). Indonesia menunjukkan penampilan dominan selama 90 menit. Empat gol berhasil disarangkan di babak kedua oleh Stefano Lilipaly (’67, ’76), Albeto Goncalves (’71), dan Hargianto (’93).

Build-up serangan Indonesia

Satu hal positif yang dapat dilihat dari penampilan anak asuh Luis Milla semalam adalah moncernya distribusi bola untuk membangun serangan. Apresiasi layak diberikan ke duo Zulfiandi dan Evan Dimas yang mampu mengontrol ritme aliran bola dari tengah dengan baik.

Meskipun, keleluasaan ini dapat terjadi karena minimnya tekanan yang diberikan lawan ke gelandang double pivot Indonesia. Akurasi operan Indonesia pun mencapai 83% dengan penguasaan bola 70% berbanding 30% oleh Cina Taipei.

Penggunaan taktik untuk menguasai bola dan mengalirkan bola dari kaki ke kaki ini juga memberi gambaran bahwa revolusi pola permainan yang dibawa oleh Luis Milla mulai menampakkan hasil.

“Kami harus tetap rendah hati dan memikirkan pertandingan selanjutnya. Menurut saya selain mencetak gol kami mampu menciptakan banyak peluang,” tanggap Milla mengomentari permainan timnya.

Penyelesaian akhir (masih) menjadi misteri

Luis Milla datang dengan formasi 4-3-3. Namun pada praktiknya, formasi yang terlihat justru beradaptasi menjadi 4-2-3-1.

Tujuan dalam pertandingan ini sangat jelas, Indonesia akan bermain melebar untuk mengoyak Cina Taipei dari samping. Strategi ini berbuah positif. Febri Haryadi dan Rezaldi ‘Bule’ Hehanusa yang beroperasi di sebelah kiri lapangan bergantian mengirim umpan silang bulat dua kali + L1 namun sayang, belum ada gol tercipta hingga menit ke-67.

Persoalannya klasik, mayoritas peluang terbuang sia-sia karena pengambilan keputusan yang kurang bijaksana. Entah itu bola crossing yang terlalu terburu-buru, memaksakan tembakan dari sudut sempit, ataupun pemilihan teknik yang kurang sesuai seperti momen ketika Saddil dan Febri yang alih-alih melakukan placing justru menendang bola dengan penuh tenaga ketika tinggal berhadapan dengan kiper.

BACA JUGA:  Kilas Balik dan Prediksi Perjalanan Persipura di Piala AFC 2015

Penyelesaian akhir memang masih menjadi catatan, namun, empat gol yang tercipta di pertandingan ini juga memberi bukti bahwa Indonesia mulai menemukan titik terang dalam hal menciptakan peluang.

Pembuktian Lilipaly

Di babak pertama, penampilan Stefano Lilipaly sekilas menimbulkan keraguan. Peluang-peluang yang ia dapatkan belum bisa dimaksimalkan untuk memberikan keunggulan bagi Indonesia. Bahkan dalam beberapa kesempatan, Lilipaly justru kerap bermain terlalu ke depan dan membuat Evan Dimas kesulitan untuk meneruskan bola ke depan.

Selain itu, kecenderungan Indonesia untuk bermain melebar membuat peran Lilipaly yang diplot sebagai gelandang serang merangkap second striker cenderung terpinggirkan.

Namun, Lilipaly akhirnya menjadi penentu kemenangan Indonesia berkat catatan dua gol dan satu asis di pertengahan babak kedua. Terlebih setelah ia memecah kebuntuan Indonesia, Lilipaly nampak lebih percaya diri dan luwes untuk membuka ruang di sepertiga akhir lapangan.

Torehan satu asis-nya dalam proses gol Beto Goncalves dan satu gol tambahan lewat aksi spektakuler tendangan salto membuat optimisme untuk melenggang hingga semifinal semakin menguat.

Next: Palestina

Selanjutnya, Indonesia akan bersua dengan Palestina di lanjutan grup A cabang sepakbola Asian Games. Berbeda halnya dengan Cina Taipei, Palestina memiliki kemampuan fisik yang lebih mumpuni dan berpotensi untuk menghambat strategi Indonesia yang nampaknya akan kembali mengandalkan serangan dari sayap.

Selain itu, barisan belakang yang dikomandoi oleh menteri pertahanan Hansamu Yama juga harus waspada dengan ancaman bola atas karena mereka belum teruji betul di pertandingan melawan Cina Taipei.

Komentar
Sarjana HI UGM yang entah bisa mewujudkan mimpi jadi diplomat atau tidak