Jika Liga di Eropa adalah Makanan

Pada penghujung musim ini, ada beberapa hal yang patut disimak dari selesainya beberapa liga besar di Eropa. Beberapa liga sudah memastikan para juaranya, mulai dari Italia, Prancis, Inggris, Jerman hingga Spanyol, bahkan, liga Belanda.

Di Italia, Prancis hingga Jerman, dominasi Juventus, Paris-Saint Germain hingga Bayern Munchen berlanjut dengan gelar juara beruntun yang mereka amankan masing-masing tahun ini. Di Inggris, dongeng Leicester City memberi kejutan surealis yang menyenangkan bagi banyak penggemar sepak bola di dunia.

Di Belanda, serunya pertarungan di pekan pamungkas antara Ajax dan PSV menutup Eredivisie musim 2015/2016 dengan dramatis di mana PSV berhasil mempertahankan gelarnya usai ditinggal beberapa pilarnya semisal Georginio Wijnaldum hingga Memphis Depay yang hijrah ke Britania.

Berjalannya liga-liga top di Eropa sepanjang musim ini memberikan banyak kemeriahan dan euforia masing-masing. Banyak sudut pandang yang bisa diambil perihal cara kita menikmati tayangan sepak bola di Eropa, mengingat sepanjang tahun ini, kita dipaksa libur sementara waktu menikmati tayangan liga sepak bola di Indonesia.

Berikut saya menganalogikan jalannya liga-liga top di Eropa dengan sudut pandang cita rasa tentang makanan.

Dan perlu diingat, pembaca berhak untuk kritis dan sangat terbuka untuk tidak setuju dengan penulis. Karena laiknya selera dalam memilih dan menikmati makanan, kita harus menghargai opini masing-masing orang, bukan?

Demi efisiensi dan kenyamanan, kita sepakati pembahasannya hanya berdasar lima liga besar di Eropa yang koefisiennya cukup bagus di UEFA yaitu Spanyol, Jerman, Inggris, Italia dan Prancis. Seharusnya Liga Portugal, karena ia berada di ranking lima koefisien liga terbaru di UEFA, tapi karena sisi subjektifitas penulis, kita sepakati untuk menggantinya dengan Ligue 1 di Prancis.

Liga Inggris

Liga ini adalah yang paling populer di dunia. Hak siar paling tinggi, paling komersil, banyak perputaran uang di sana dan yang pasti, cukup kompetitif. Hanya di liga ini, kita akan menemukan seorang pemain yang mendekati senjakalanya digaji 300 ribu poundsterling per pekan.

Hanya di liga ini pula, seorang pemain muda yang miskin prestasi dan belum juara bisa ditebus dengan harga 49 juta poundsterling.

Liga Inggris musim ini sedikit berbeda nuansanya karena juaranya adalah tim dari luar penghuni zona papan atas biasanya. Dan sebaiknya, kita batasi saja bahasan tentang Leicester City, sang juara baru Inggris musim ini.

Ibarat makanan, Liga Inggris saya klasifikasikan sebagai junk food. Makanan cepat saji setara burger Big Mac di McDonalds atau paket ayam ala KFC.

Liga ini sangat prestisius, persis seperti apa yang dirasakan kebanyakan orang ketika makan di gerai McDonalds atau KFC dibanding beli pecel lele di warung tenda pinggir jalan. Ada gengsi di situ.

Selain itu, makanan yang disajikan juga cepat saji dan sangat mengenyangkan, bagi saya pribadi. Walau pada kenyataannya, sangat amat tidak sehat.

Persis seperti Liga Inggris yang beberapa pemainnya cenderung berharga dan bergaji mahal bahkan acapkali overrated. Itu tidak sehat bagi iklim bursa transfer di dunia. Juga bagi pasaran harga dan kontrak pemain tiap musimnya.

Untuk gengsi dan nilai prestisius, kita memang sudah sewajarnya menonton Liga Inggris. Konon, ini liga yang banyak dibicarakan kaum awam penikmat sepak bola di jalanan, di kampus, di warung hingga di pedesaan dan kaki gunung sekalipun.

Anda akan cenderung membicarakan Liga Inggris dengan mulut berbusa-busa. Anda mungkin seorang Juventini atau Romanisti bahkan Milanisti atau Interisti sekalipun, tapi sulit rasanya Anda tidak menahan rasa gatal untuk menonton dan berkomentar soal Liga Inggris, bukan? Liga ini sarat gengsi.

Liga Inggris adalah media darling, itulah sebab mengapa liga ini sangat komersil dan memiliki perputaran uang yang besar di dalamnya.

Tapi dari segi yang lebih edukatif, liga ini adalah omong kosong. Miskin taktik, tidak ada inovasi permainan yang mengundang decak kagum hingga penampilan beberapa pemain berharga mahal yang cenderung flop dan mengecewakan. Untuk membuktikan itu, coba jawab pertanyaan ini, ada di titik mana level permainan Raheem Sterling musim 2015/2016 bersama Manchester City?

Liga Italia

Liga Italia musim ini mutlak milik Juventus yang mengamankan Scudetto kelima kalinya beruntun sejak 2011. Sempat terjerembab di papan bawah pada sepuluh laga awal.

BACA JUGA:  Rekomendasi Anime Sepakbola Selain Tsubasa, Aoashi, & Blue Lock

Sempat pula diusik SS Napoli, AS Roma, Internaziole Milano, dan Fiorentina, namun pada akhirnya, Juventus tak terbendung dan mengunci gelar dengan gemilang.

Liga Italia musim ini saya ibaratkan seperti sayur tumis kangkung. Layaknya makanan yang berbahan utama sayuran, tentu saja Liga Italia juga menyehatkan.

Dari segi edukasi, liga ini memiliki beberapa manajer handal yang memiliki kapabilitas taktikal yang bagus untuk ditonton dan dipelajari. Massimiliano Allegri di Juventus, Maurizio Sarri di Napoli hingga debutan baru, Paulo Sousa di Fiorentina.

Tapi sewajarnya makanan berbahan sayuran, liga ini cukup datar dan membosankan. Tumis kangkung memang enak, dimakan dengan nasi panas yang pulen dan sambal terasi yang segar.

Namun karena minim lauk-pauk, jadi membosankan dan hanya terkesan itu-itu saja. Kita perlu menambahkan tempe atau tahu goreng untuk membuatnya nyaman dimakan dan sedikit bervariasi.

Karena seperti itulah Liga Italia. Siapa sanggup membendung superioritas Juventus di Italia?

Napoli dan Roma kepayahan. Fiorentina tidak memiliki stabilitas yang mumpuni. Dua tim dari kota Milan? Mereka sibuk bercanda satu sama lain hanya untuk memperebutkan tiket ke kompetisi Eropa.

Liga Italia cukup menyenangkan, tapi laiknya sayur tumis kangkung, ia minim variasi. Mereka perlu sosok yang menjadi tahu dan tempe goreng agar liga itu semakin variatif dan lebih kompetitif untuk dinikmati.

Liga Jerman

Salah satu liga yang perkembangannya sangat pesat mulai dari cara mereka mengemas sisi hiburan, kualitas pertandingannya, dan inovasi taktik tim-tim pesertanya. Liga Jerman adalah idola baru, kalau konteksnya mengacu pada kondisi pada beberapa tahun belakangan ini.

Terlepas dari dominasi Bayern Munchen yang sudah mengamankan gelar keempat beruntunnya pekan lalu, liga ini memiliki banyak sisi positif yang bisa dicermati bagi para penikmat sepak bola di kalangan kaum awam hingga para analis sepak bola jempolan.

Musim ini, selain Pep Guardiola, ada deretan pelatih handal yang memiliki kapabilitas taktik yang segar dan inovatif, semisal Thomas Tuchel di Borussia Dortmund yang menjalani musim debutnya.

Selain itu, ada nama-nama keren semisal Dieter Hecking di Wolfsburg, Roger Schmidt di Bayer Leverkusen, dan Andre Schubert di Borussia Moenchengladbach. Selain itu, ada sensasi pemuda 28 tahun bernama Julian Nagelsmann yang menjadi manajer muda di Hoffenheim yang patut dipertimbangkan. Juga jangan lupakan sepak terjang Pal Dardai yang mekar bersama klub ibu kota, Hertha Berlin, musim ini.

Ibarat makanan, liga ini adalah satu-satunya liga di Eropa yang menurut hemat saya, mendekati konsep makanan bergizi ala empat sehat lima sempurna. Ada kombinasi protein, karbohidrat, mineral, dan vitamin yang cukup sehat dikonsumsi.

Secara hiburan, liga ini cukup menghibur. Kanal Youtube resmi yang dimiliki Bundesliga pun juga dikemas dengan sangat menarik.

Ada nama-nama pemain kelas satu Eropa yang bermain di sini, berkat Bayern Munchen. Dan mengingat bahwa juara dunia tahun lalu adalah timnas Jerman, semakin menambah gengsi dan nilai jual Bundesliga musim ini.

Walau cukup membosankan dengan dominasi Bayern, liga ini patut Anda saksikan untuk menambah wawasan perihal taktik dan inovasi strategi di sepak bola. Ada banyak nama pelatih hebat yang berkecimpung di Bundesliga, sedikit alasan yang bisa membuat Anda menyempatkan waktu duduk di depan televisi dan menyaksikan Bundesliga tiap pekannya.

Liga Prancis

Ini liga yang kapasitas membosankannya satu atau dua tingkat di atas Liga Italia. Kesenjangan finansial yang terbentang antara Paris Saint-Germain (PSG) dan para lawannya adalah iklim yang buruk bagi nilai kompetitif liga ini.

Dan bukan sekali ini saja Ligue 1 mengalaminya. Dalam rezim Jean-Michel Aulas, Olympique Lyon bahkan mampu berturut-turut menjuara Ligue 1 selama tujuh musim beruntun dari musim 2001-2002 sampai 2007-2008.

Seakan ingin berupaya memupus rekor Lyon, PSG pun berencana melakukan dominasi serupa dan didukung dengan mengalirnya uang yang berlimpah dari raja minyak dari Qatar. Tim ini berubah menjadi mesin kemenangan yang menyeramkan.

Sulit membayangkan akan muncul lagi tim seperti Montpellier yang sanggup merusak hegemoni PSG di Prancis. Pada musim ini saja, PSG sudah memastikan juara jauh sebelum liga berakhir, dan mengakhiri musim dengan selisih 31 angka dari Lyon! Gila.

BACA JUGA:  Terkikisnya Victoria Concordia Crescit dari Rona Arsene Wenger

Ibarat makanan, Ligue 1 adalah snack ringan yang tidak bergizi, namun cukup sering dimakan saat waktu senggang. Ia mirip camilan ringan semisal jajanan pasar, kebab daging sapi, hingga jajan bungkusan berharga seribu-dua ribu rupiah yang dimakan kala waktu luang.

Layaknya makanan ringan, ia tidak akan pernah menjadi makanan pokok.

Sama seperti Ligue 1 yang tidak akan mampu menyaingi glamornya Liga Inggris atau edukatifnya Liga Jerman dan Italia. Ligue 1 perlu Anda tonton sesekali saja, seraya menghabiskan waktu atau mencari hiburan baru.

Ada beberapa aksi pemain-pemain yang cukup menarik ditonton di luar aksi para bintang PSG. Ada nama Ryad Boudebouz di Montpellier, atau Sofiane Boufal di Lille yang cukup menghibur.

Musim ini juga musim reborn bagi si bengal Hatem Ben Arfa bersama Nice usai musim yang buruk di Inggris. Di Marseille juga ada beberapa nama yang menonjol dan asyik untuk ditonton seperti pemuda Belgia, Michy Batshuayi hingga gelandang veteran Lassana Diarra. Juga ada fenomena Angers SCO yang sedikit memberi warna berbeda bagi Ligue 1 musim ini.

Liga Spanyol

Liga Spanyol bukan liga yang buruk, dan sebenarnya, tidak begitu membosankan. Secara kualitas, memang poros Madrid dan Catalan tercermin begitu kuat lewat dominasi Real-Atletico Madrid dan Barcelona di Spanyol.

Tapi itu pun terbantu dengan pembagian nilai kontrak hak siar antara Barcelona dan Real yang berbeda nilainya dibandingkan dengan yang diterima tim-tim lain di liga.

Wajar memang dengan nama besar keduanya, pembagian kontrak hak siar akan cenderung menguntungkan mereka. Namun itu juga membuat kesenjangan yang cukup besar dan terasa dengan minimnya perlawanan dari para liyan di luar lingkaran mereka.

Juaranya Atletico pada musim 2013/2014 pun sebenarnya memberi harapan yang cerah, namun itu tidak terulang lagi, setidaknya dalam dua musim belakangan, walau Atleti mampu tampil baik dan konsisten.

Liga ini menarik, karena, dalam tiga tahun terakhir, tim-tim dari Spanyol menunjukkan hegemoninya di kompetisi teratas Eropa, baik di Liga Champions maupun Liga Europa.

Real Madrid dan Barcelona menjuarai Liga Champions dalam dua musim terakhir. Musim ini pun gelar itu dipastikan jatuh untuk wakil dari Spanyol karena Real akan meladeni Aletico di partai puncak nanti.

Di Liga Europa, Sevilla menjadi raja selama dua musim terakhir dan bersiap menuju gelar ketiganya beruntun saat akan meladeni wakil dari Inggris, Liverpool di final.

Liga ini selesai akhir pekan lalu (15/5) usai Barcelona mengalahkan Granada dan mempertahankan gelarnya musim lalu. Itu juga gelas keenam dalam delapan musim terakhir Los Cules di La Liga. Sebuah gambaran tentang dominasi raksasa Catalan di tengah himpitan dari duo Madrid, Real dan Atletico

Andai diibaratkan oleh makanan, Liga Spanyol cukup rumit untuk dicarikan analoginya. Ia enak dan mengenyangkan, tapi bukan makanan yang sempurna.

Maka dari itu, saya mengibaratkan liga ini sebagai nasi gudeg. Saya bukan membenci gudeg, tapi makanan khas kota Yogyakarta ini terlalu manis bagi lidah saya.

Ia enak dan mengenyangkan, juga dilengkapi banyak lauk-pauk yang menyenangkan dan cukup sedap dipandang mata serta dikunyah mulut. Tapi karena laiknya ciri khas masakan khas masyarakat Yogyakarta dan Jawa Tengah yang manis, cita rasa gudeg di mata saya agak berkurang.

Sama seperti Liga Spanyol. Ia menarik dan menghibur, juga edukatif, mengingat dua tim terbaik abad ini, Barcelona dan Real Madrid ada di sana. Tapi dengan melihat faktor-faktor lain, liga ini juga tidak cukup sempurna untuk ditonton tiap pekannya.

Itu beberapa hal yang bisa saya analogikan dari liga-liga top Eropa dan analoginya dengan makanan. Pembaca tentu boleh tidak setuju, karena ini negara demokrasi dan kebebasan berpendapat masih dijunjung tinggi di sini.

Tapi perlu diingat, yang namanya selera, tidak perlu diperdebatkan dan diperjuangkan untuk selalu benar. Santai saja, tidak perlu twitwar berlebih.

Selamat makan!

 

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.