Kebangkitan La Masia, Embun di Tengah Kemarau

Pada rentang 1990-an hingga 2010-an, nama akademi La Masia kepunyaan Barcelona begitu harum.

Pasalnya, akademi yang satu ini amat piawai menelurkan pesepakbola dengan kemampuan eksepsional.

Guillermo Amor, Pep Guardiola, Carles Puyol, Xavi Hernandez, Andres Iniesta, Cesc Fabregas, Lionel Messi sampai Sergio Busquets adalah nama tenar yang merupakan jebolan La Masia.

Mereka dan sejumlah nama lainnya kemudian menembus tim utama Blaugrana dan meraih kesuksesan.

Ada yang bertahan sampai pensiun di tanah Catalan, ada pula yang hijrah ke klub lain guna mencicipi tantangan baru.

Kejayaan La Masia yang berimbas kepada prestasi Barcelona membuat akademi satu ini dipuji banyak pihak.

Sayangnya, selepas era Messi dan kolega, La Masia seperti kesulitan untuk mengorbitkan pesepakbola hebat. Seolah-olah ada siklus yang terputus.

Kebijakan transfer klub yang berubah plus tata kelola yang keliru mengantar Barcelona jatuh ke titik nadir.

Nestapa tak henti-hentinya menghampiri Blaugrana. Setelah merelakan kepergian pemain terbaik mereka sepanjang masa, Messi, ke Paris Saint-Germain, tim asuhan Ronald Koeman menjalani start terburuk mereka sejak musim 1987/1988.

Dari 13 laga yang dilakoni armada Ronald Koeman, enam di antaranya berakhir dengan kekalahan.

Pasca-kalah dari Real Madrid dalam laga El Clasico pada Ahad (24/10) lalu, Barcelona terdampar di peringkat sembilan La Liga. Terbaru, mereka dibungkam Rayo Vallecano dengan skor 0-1 dini hari tadi (28/10).

Sementara di Eropa, Barcelona sudah kalah dua kali, masing-masing dari Bayern Munchen dan Benfica.

Untungnya, Gerard Pique dan kolega masih mampu memetik kemenangan atas Dynamo Kiev pada matchday ketiga Liga Champions sehingga asa untuk lolos ke fase gugur masih terjaga.

Problem finansial yang melanda kampiun Spanyol 26 kali tersebut dianggap sebagai salah satu biang keladi utama anjloknya kinerja mereka musim ini.

Namun sejatinya, degradasi performa Barcelona telah terjadi sedikit demi sedikit bak garis pantai yang terkikis abrasi.

Mengandalkan bakat-bakat ajaib seperti Iniesta, Messi, Puyol, dan Xavi, Barxelona sanggup mendominasi sepakbola Eropa dan dunia.

Dalam masa kepelatihan Guardiola (2008-2012), mereka mampu merengkuh 14 trofi prestisius dari 18 kesempatan.

Akan tetapi setelah satu per satu pilar angkat kaki, baik pindah ke klub lain maupun pensiun, Barcelona tak sanggup menghadirkan pengganti yang sepadan.

Dari uang sekitar 1,47 miliar Euro yang digelontorkan sejak 2010 silam, Barcelona gagal untuk menduplikasi kedigdayaan yang pernah mampir di Camp Nou.

Uang sebanyak itu digunakan untuk mendatangkan nama-nama seperti Andre Gomes, Philippe Coutinho, Ousmane Dembele, Paco Alcacer, Antoine Griezmann, Arturo Vidal, dan Paulinho.

Coutinho dan Dembele mungkin tak beruntung karena masalah cedera kambuhan. Namun nama-nama lainnya benar-benar tidak bisa bermain secara integral dengan sistem yang diterapkan oleh Barcelona.

Identitas permainan Barcelona yang unik membuat tak sembarang pemain bisa menyatu dengan sistem tersebut. Hanya pemain-pemain yang familiar dengan sistem itulah yang bisa beradaptasi.

BACA JUGA:  Xavi Hernandez Terlahir untuk Barcelona

Sejatinya, metode permainan bola dari kaki ke kaki tersebut sudah diajarkan di akademi sejak level anak-anak.

Begitu pula di level remaja, Barcelona B hingga tim senior, semuanya memakai sistem yang sama. Dengan kata lain, hanya produk La Masia saja yang mampu menyatu dengan sistem tersebut secara cepat dan sempurna.

Dengan mendatangkan pemain-pemain dari luar yang tak terbiasa bermain dengan sistem yang diimani Barcelona, segalanya menjadi amat buruk.

Apesnya, kebiasaan Barcelona merekrut pemain jadi berstatus bintang pada era Sandro Rosell dan Josep Bartomeu mengubah segalanya.

Padahal sejak dulu, terutama pada era kepelatihan Johan Cruyff (1988-1996), Barcelona selalu menggarap serius program pembinaan pemain muda dengan cara menjaga koneksi tim junior dan tim utama.

Dilansir dari The Athletic, menurut pengakuan seorang eks pemain muda Barcelona pada era Cruyff, Xavi Roca, pelatih asal Belanda itu tak hanya menonton latihan tim junior tapi juga beberapa kali mengambilalih sesi latihan untuk menyampaikan ide-ide yang ingin ia terapkan.

Bahkan, Cruyff juga beberapa kali mengirimkan pemain senior yang baru sembuh dari cedera untuk berlatih bersama tim junior.

Roca mengingat jika pemain sekelas Romario pernah menghadiri sesi latihan bersama pemain-pemain muda.

Konektivitas yang mengikat tim junior dan tim utama Barcelona terus dijaga pada era kepelatihan Louis van Gaal, Frank Rijkaard, dan Guardiola.

Proses naik kelas dari tiap level usia selalu berjalan mulus bagi pemain binaan akademi karena sistem yang diterapkan selalu serupa dengan yang diajarkan pada setiap tingkatan. Sistem ini sendiri populer disebut dengan nama ‘Juego de Posicion’.

Menurut Sergi Samper, pemain klub Jepang, Vissel Kobe, yang merupakan alumni La Masia, formasi 4-3-3 adalah satu-satunya formasi yang tersedia sejak tim junior hingga tim utama sehingga para pemain sudah familiar dengan apa yang harus dilakukan karena mereka sudah menjalankannya selama lebih dari sepuluh tahun.

Fakta tersebut menggambarkan betapa solidnya internalisasi ide-ide dan sistem yang ditanamkan pada pemain junior Barcelona untuk menembus tim utama.

Tak heran jika banyak pemain yang berstatus sebagai bintang dunia, justru gagal mengintegrasikan diri dengan sistem yang diterapkan di Camp Nou dan tidak mampu mengangkat performa tim.

Sialnya, kebijakan Rosell yang diperparah oleh Bartomeu menjadi awal kegagalan Barcelona melakukan regenerasi. Benar jika mereka tetap berprestasi di Spanyol, tetapi di kancah Eropa langkah mereka semakin gontai. Kesuksesan mengangkat trofi Liga Champions 2014/2015 belum jua terulang.

Ada kontinuitas yang hilang dari Barcelona. Banyaknya pemain dari luar memblokade jalan masuk untuk para alumni La Masia yang berkualitas. Hal ini pula yang membuat sistem permainan khas Barcelona tidak bisa dijalankan secara paripurna.

Sandro Ramirez, Adama Traore, Munir El-Haddadi, Andre Onana, dan Sergi Gomez, adalah nama-nama kondang yang gagal menembus atau mencapai kesuksesan di tim utama Barcelona.

BACA JUGA:  Menjadi Pelatih Sepak Bola Usia Dini

Nama-nama lainnya seperti Carles Perez, Juan Miranda, Mateu Morey, dan Monchu, juga gagal memberikan impresi terbaiknya.

Tak hanya perkara bakat, kemunculan seorang bintang juga memerlukan momentum. Sosok-sosok seperti Traore dan Munir sama sekali bukan pemain dengan talenta semenjana.

Sayangnya, keberadaan pemain-pemain bintang yang tengah menjalani masa emasnya di tim utama menjadi penghalang buat mereka mengaktualisasikan kemampuan.

Sejak era Guardiola, hanya satu pemain saja orbitan La Masia yang benar-benar menjadi figur andalan di tim utama. Dialah Sergi Roberto.

Mujur bagi Blaugrana, di tengah kemarau yang mereka alami, ada setetes embun yang muncul dari La Masia. Ansu Fati dan Pablo Martin Paez Gavira alias Gavi melesat sebagai asa baru untuk tim Catalan tersebut.

Mereka diprediksi bisa menjadi pembuka jalan kesuksesan Barcelona pada masa yang akan datang. Terlebih klub sedang dilanda krisis finansial sehingga mau tidak mau, pihak manajemen lebih memfokuskan diri buat meroketkan jebolan La Masia.

Fati yang baru saja kembali dari cedera panjang, telah membukukan 49 penampilan dan mencetak 15 gol sejak musim 2019/2020 lalu. Catatan tersebut ia torehkan saat usianya masih belum genap 19 tahun.

Saat seusia Fati, Messi saja baru bisa bermain di tim utama Blaugrana sebanyak 34 kali dan membuat 9 gol.

Fati juga mewarisi nomor punggung 10 peninggalan seniornya tersebut. Balik nama nomor punggung itu juga bermakna bahwa sang pemuda kelahiran Guinea-Bissau sudah dipersiapkan untuk menggantikan peran Messi sebagai protagonis utama bagi Barcelona.

Sementara Gavi sudah membukukan 10 penampilan di tim utama dan sukses ciptakan satu asis. Pada pengujung September lalu, pemuda kelahiran tahun 2004 tersebut secara mengejutkan mendapatkan panggilan ke Tim Nasional Spanyol untuk berlaga di semifinal UEFA Nations League.

Gavi bermain sejak awal menghadapi Italia dan membantu Spanyol melenggang ke final. Pada laga puncak kontra Prancis, ia kembali menjadi starter.

Walau tidak bermain penuh dalam dua bentrokan tersebut, Gavi sukses mencatatkan diri sebagai pemain termuda yang membela La Furia Roja di level senior.

Kendati saat ini masih tertatih-tatih, masa depan di Barcelona tampaknya sangat cerah. Profil-profil muda di atas menjadi alasannya. Dengan Joan Laporta yang kini menyandang jabatan presiden klub, kebijakan transfer juga pasti berubah.

Sudah waktunya bagi klub yang berdiri tahun 1899 ini untuk lebih melirik talenta-talenta berbakat dari akademinya sendiri ketimbang membelanjakan uang miliaran Euro guna membeli bintang tetapi performanya selama berbaju biru-merah tak pernah memuaskan.

Trofi memang sulit datang dalam waktu dekat. Namun bersama anak-anak didikan La Masia itu plus sejumlah pemain muda lain seperti Pedri, Ronald Araujo, Frenkie de Jong, dan Sergino Dest, Barcelona bisa menyongsong masa depan dengan keyakinan.

Komentar
Sesekali mendua pada MotoGP dan Formula 1. Bisa diajak ngobrol di akun twitter @DamarEvans_06