Lautaro Martinez: Sang Protagonis Utama

Lautaro Martinez: Sang Protagonis Utama
Lautaro Martinez: Sang Protagonis Utama

Mahar senilai 25 juta Euro dikucurkan Internazionale Milano pada musim panas 2018 silam guna merekrut penyerang muda kepunyaan Racing Club, Lautaro Martinez.

Masih bercokolnya Mauro Icardi di lini serang tak menyurutkan hasrat I Nerazzurri buat mengamankan jasa figur yang disebut-sebut memiliki potensi istimewa tersebut.

Kendati performanya belum kelewat impresif pada musim debutnya mengenakan baju hitam-biru (mengemas 9 gol dari 35 penampilan di seluruh ajang), tetapi cukup banyak orang, terutama Interisti, yang kesengsem dengan kemampuan Lautaro.

Memiliki kecepatan, kekuatan tubuh, insting mencetak gol tinggi, kesadaran spasial mumpuni yang ditunjang oleh etos kerja paripurna di lapangan, membuatnya jadi seorang striker yang cukup komplet.

Wajar jika akhirnya Interisti menggadang-gadang dirinya sebagai pengganti Icardi yang sangat buas di depan gawang, tapi kelewat sering memunculkan drama bersama istri sekaligus agennya, Wanda Nara.

Saat manajemen Inter memutuskan untuk meminjamkan Icardi, berikut klausul penebusan, ke Paris Saint-Germain (PSG) di bursa transfer musim panas 2019 lalu, sekonyong-konyong muncul dugaan kalau Lautaro adalah simbol masa depan I Nerazzurri. Tak peduli bahwa Inter juga sudah memboyong satu striker anyar dalam wujud Romelu Lukaku.

Sempat tampil kurang meyakinkan pada awal musim karena melesakkan sebiji gol saja dari enam kali main, Lautaro yang dipasang Antonio Conte sebagai tandem Lukaku di lini depan mulai memperlihatkan taringnya sepanjang bulan Oktober.

Ia begitu rajin mencatatkan namanya di papan skor meskipun hasil akhir tak selalu berpihak kepada Inter. Tercatat, sudah ada empat tim yang jalanya dikoyak lelaki kelahiran Bahia Blanca itu. Mereka adalah Barcelona, Juventus, Sassuolo, dan yang termutakhir, Borussia Dortmund.

Total, Lautaro menorehkan lima gol dari empat pertandingan tersebut. Rinciannya berupa tiga gol dari situasi open play dan sepasang melalui titik penalti.

BACA JUGA:  Parma: Narasi Kejayaan dan Titik Nadir

Jumlah itu bahkan melebihi koleksi Lukaku yang hanya bikin dua gol dari tiga partai (absen kontra Barcelona akibat cedera). Lautaro pun sah jadi pencetak gol terbanyak (dari semua kompetisi) I Nerazzurri sejauh ini.

Setelah performa semenjana yang tampak darinya, kini momentum tengah berada di tangan Lautaro. Pemilik 15 caps dan 9 gol bareng tim nasional Argentina tersebut kudu sanggup meneruskannya sebagai pembuktian kapasitas.

“Kami (khususnya saya) harus terus berlatih keras guna meningkatkan kemampuan. Mengikuti instruksi pelatih adalah kewajiban agar permainan kami semakin baik dan lawan kesulitan mengimbangi”, terang Lautaro seperti dikutip dari footballitalia.

Akan tetapi, masih ada banyak hal yang kudu dibenahi Lautaro supaya transformasinya jadi penyerang ganas nan menakutkan bagi para pemain belakang semakin paripurna.

Selama ini fans kerap memprotes cara main sosok setinggi 174 sentimeter itu yang terlalu egois. Benar jika alat ukur kehebatan seorang striker adalah gelontoran golnya, tetapi Lautaro wajib memahami juga bahwa di era sekarang, para striker juga memiliki fungsi yang beragam.

Selama ini, Lautaro kerap berlama-lama dengan bola atau menggiringnya sendiri ketika dekat dengan gawang lawan walau mendapat pengawalan ketat. Seolah-olah, ia hendak memamerkan aksi individu yang ciamik.

Padahal, di saat yang sama ada rekan setimnya yang berdiri bebas dan memiliki peluang mencetak gol lebih tinggi. Di luar itu, Lautaro juga perlu mengasah inteligensianya dalam mengambil keputusan.

Sosok yang kabarnya masuk dalam incaran Barcelona sebagai suksesor Luis Suarez tersebut mesti tahu kapan waktu yang tepat untuk mengeksekusi sendiri bola yang ada di kakinya dan kapan harus memberi umpan kepada rekan setim sehingga tim beroleh keuntungan paling maksimal dari setiap aksinya.

BACA JUGA:  Torino dan Usaha Mengulang Kejayaan

Terbaru, seperti yang diutarakan Lautaro pada footballitalia selepas pertandingan versus Dortmund dini hari tadi (24/10), masalah pengambilan keputusan, lagi-lagi, telah mengganggunya.

Dalam pertandingan tersebut, Inter mendapat hadiah penalti di menit ke-82 usai bek sekaligus kapten Die Schwarzgelben, Mats Hummels, melanggar Sebastiano Esposito di area terlarang. Maju sebagai algojo, Lautaro malah gagal memanfaatkan momen itu buat memperlebar jarak.

Alih-alih menendang bola ke sisi kiri Roman Bürki seperti rencana awalnya, Lautaro mengubah keputusan tersebut di detik-detik akhir eksekusi dan mengirim bola ke sisi kanan kiper berpaspor Swiss tersebut.

Hasilnya, bola justru mampu ditepis Bürki serta membangkitkan semangat tempur Dortmund untuk menyamakan kedudukan.

Beruntung, I Nerazzurri bisa menyobek jaring Die Schwarzgelben pada menit-menit akhir pertandingan lewat kaki Antonio Candreva untuk membungkus kemenangan seraya memelihara kans lolos ke fase gugur Liga Champions musim ini.

Manakala Icardi dipinjamkan ke PSG dan Inter mendatangkan Lukaku, banyak yang mengira jika penyerang asal Belgia itu yang akan berperan sebagai tokoh paling sentral di lini depan. Nyatanya, sang protagonis utama adalah Lautaro.

Komentar