Memahami Peran Kitman Melalui Sosok Pietro Lombardi

Selayaknya cabang olahraga yang lain, sepak bola menyediakan beraneka profesi bagi umat manusia sebagai pelaku sepak bola itu sendiri. Ada yang bersinggungan langsung seperti pemilik klub, pelatih, pemain hingga pemandu bakat. Di sisi lain, ada juga yang tak berurusan langsung namun tetap dapat memetik buah dari sepak bola, contohnya adalah para pedagang merchandise atau penjual aneka makanan di stadion.

Dari sekian banyak profesi yang berhubungan langsung dengan sepak bola, mungkin yang paling kita kenal adalah pemilik klub, pelatih dan pemain. Sebagai pencinta olahraga sebelas lawan sebelas ini tentu jamak bagi kita untuk mengenal figur-figur seperti Florentino Perez, Silvio Berlusconi, Pep Guardiola, Jose Mourinho, Lionel Messi sampai Boaz Solossa yang namanya hilir mudik di media cetak maupun digital.

Akan tetapi ada satu pekerjaan yang keberadaannya tak bisa dipandang sebelah mata karena sangat sentral untuk sebuah tim sepak bola, kitman namanya. Mengapa kitman begitu penting kehadirannya? Bukankah yang jatuh bangun mengupayakan kemenangan di lapangan adalah para pemain? Bukankah yang paling pening memikirkan strategi guna menaklukkan lawan adalah pelatih?

Sebagai perbandingan, sehebat apa pun Leonardo Di Caprio berakting dalam film The Revenant yang memberinya Piala Oscar sebagai aktor terbaik, tentu hasilnya bisa berbeda jika bukan Emmanuel Lubezki yang jadi cinematographer film garapan sutradara asal Meksiko, Alejandro Gonzalez Inarritu, tersebut.

Profesi kitman memang jauh dari sorotan karena hanya bergerak di belakang layar. Peran mereka dalam sebuah tim sepak bola memang tak ada bedanya dengan asisten rumah tangga. Menyiapkan perlengkapan tim seperti bola, jersey (untuk latihan, pemanasan maupun bertanding), kaos kaki hingga ban kapten adalah menu sehari-hari.

Pun begitu dengan mencuci dan membersihkan jersey ataupun kaus para pemain seusai berlaga. Sebuah pekerjaan yang membutuhkan ketelatenan ekstra dan tak semua orang bersedia melakukannya.

“Menjadi seorang kitman berarti Anda bekerja tujuh hari dalam sepekan. Bukan sesuatu yang mudah untuk lelaki muda yang sudah berkeluarga karena bisa membuat pernikahannya berakhir dengan perceraian. Saya mulai bekerja sejak pukul delapan pagi dan kembali ke rumah setelah pelatih dan pemain pulang,” papar John Clark, kitman legendaris Glasgow Celtic yang jadi bagian tim The Bhoys saat memenangi Piala Champions 1967 di Lisbon seperti dikutip dari fourfourtwo.com.

Lebih jauh, Clark mengungkapkan bila para kitman biasanya menjadi sangat sibuk sehari jelang sebuah pertandingan berlangsung. Karena saat itu para kitman diwajibkan untuk menyiapkan segalanya.

BACA JUGA:  Hikmah di Balik Euro 2016

Kostum yang akan digunakan harus sudah dicuci dan siap dipakai, tak terkecuali kostum cadangan. Kitman mesti tahu pemain mana yang meminta seragam berlengan panjang atau sebaliknya. Kitman juga jadi orang pertama yang harus tahu bila ada seragam tim yang rusak atau tak dapat dikenakan lagi sehingga pihak klub dapat sesegera mungkin mendapatkan penggantinya.

Begitu juga dengan ban kapten, kaos kaki hingga sepatu para punggawa tim. Kitman lah yang bertanggungjawab menyiapkan semua kebutuhan pemain sebelum bertanding. Ada satu saja yang terlewat, maka bisa fatal akibatnya.

Baru-baru ini (17/3) kabar duka datang dari penjuru Italia tatkala eks kitman tim nasional Italia saat menjadi kampiun di Piala Dunia 2006, Pietro Lombardi, wafat pada usianya yang ke-92. Memang tak banyak orang yang tahu soal figur yang satu ini.

Namun bila melihat apa yang diperbuat oleh dua gacoan AS Roma, Francesco Totti dan Daniele De Rossi, pasca-mengetahui jika sang kitman telah berpulang keharibaan Tuhan Yang Maha Esa, pasti ada hal spesial pada diri kakek berjuluk Spazzolino atau sikat gigi ini.

Julukan Spazzolino sendiri diberikan seluruh awak Gli Azzurri karena Lombardi dikenal sangat teliti dan cermat dalam membersihkan serta merawat sepatu para penggawa tim nasional Italia.

Sang kakek yang berasal dari Portico, sebuah daerah di dekat Firenze, telah menjadi kitman di timnas Italia sejak tahun 1994. Ini artinya Spazzolino telah bekerja sama dengan puluhan pemain dan beberapa pelatih kenamaan.

Generasi Giuseppe Bergomi dkk. lalu berlanjut ke era Totti dan De Rossi jelas tahu betapa luar biasanya kakek yang satu ini. Pun begitu dengan figur allenatore handal macam Arrigo Sacchi, Cesare Maldini, Dino Zoff, Giovanni Trapattoni dan Marcello Lippi yang tetap memercayai Lombardi sebagai kitman di saat mereka membesut Gli Azzurri. Etos kerja brilian yang dilengkapi kepribadian nan hangat membuat Spazzolino begitu dekat dengan para pemain dan pelatih.

BACA JUGA:  Robin van Persie: Kepingan Puzzle yang Melengkapi Manchester United

Sosok luar biasa yang akan selalu kusayangi. Penuh canda dan selalu ada di saat kami (para pemain Gli Azzurri) butuhkan. Dia memiliki respek dan cinta yang begitu besar kepada kami. Seseorang dengan pembawaan yang luar biasa dan aku akan sangat merindukannya. Spazzolino, kau akan selalu ada di dalam hatiku.

Itulah kalimat yang ditulis Totti di blog pribadinya guna mengenang sosok Lombardi yang begitu luar biasa.

Bila Totti menunjukkan dukanya via dunia maya, lain lagi dengan De Rossi. Pemain yang populer dengan panggilan DDR ini melakukan hal yang berbeda.

Di hari ketika Lombardi tiada, DDR menyudahi latihannya lebih awal untuk pulang ke rumah. Luciano Spalletti, pelatih Roma, tahu pasti alasan anak buahnya meninggalkan Trigoria, markas latihan Roma, lebih cepat dari  biasanya. Sehingga sang pelatih berkepala plontos itu pun tak sedikitpun marah atau kecewa pada pemain bernomor punggung 16 tersebut.

DDR pulang ke rumah untuk kemudian mengendarai mobilnya menuju Firenze demi menghadiri pemakaman Lombardi yang baginya lebih dari seorang sahabat. Tak lupa pula DDR membawa medali juara Piala Dunia bersamanya. Setibanya di Firenze, DDR menyempatkan diri melihat sang sahabat untuk terakhir kalinya sebelum kemudian meletakkan medali juara Piala Dunia miliknya di dalam peti jenazah Lombardi.

Medali juara Piala Dunia tentu bukan barang sembarangan untuk para pesepak bola, namun DDR dengan tulus memberikan salah satu item paling berharga itu sebagai penghormatan untuk sahabatnya.

Dalam hati kecilnya yang paling dalam, DDR mungkin menyadari bila kehadiran Lombardi di skuat Italia pada Piala Dunia 2006 sama esensialnya dengan sepakan Fabio Grosso pada babak adu penalti ketika berhadapan dengan Prancis di partai puncak. Persiapan Gli Azzurri jelang final mungkin takkan sebaik saat itu jika bukan Lombardi yang bertindak sebagai kitman.

Dengan status ofisial tim semata, tentu sang kakek tak memperoleh medali juara seperti para pemain atau pelatih. Namun DDR tahu jika Lombardi juga seorang pemenang dan pantas mendapat medali juara yang kelak bisa dibawa sang kakek ke surga.

 Addio Spazzolino.

 

Komentar