Memahami Sepak Bola Ala Jamie Hamilton

“What Is ‘Good’ Football? The Role Of Aesthetics In The Modern Game” adalah artikel Jamie Hamilton di thesefootballtimes.co yang mendedah sepak bola modern dengan argumentasi yang runut dan berimbang.

Jamie membawa saya menyelami perkara 11 lawan 11 ini pada kedalaman yang tidak terbayangkan sebelumnya. Dan anehnya hal itu membuat Liga junk food Primer Inggris 2015/2016 tampak menjadi liga ter-asik di dunia di mata saya tahun ini.

Jamie Hamilton memulai artikelnya dengan sebuah ungkapan lawas money buys quality, ono rupo ono rego. Demi kemahsyuran dan gelar juara tim-tim berkantong tebal mendatangkan pemain berkualitas dengan mendebit jutaan poundsterling dari rekening mereka.

Kualitas seorang pemain bola diukur dalam banyak variabel. Beberapa yang jamak adalah jumlah gol, jumlah asis, umpan sukses, juga chances created. Sebagian besar parameter-parameter itu diukur pada posisi on the ball.

Parameter pada posisi off the ball (artinya posisi bertahan/tidak memegang bola) seperti distance covered atau jumlah sprint kurang mendapat perhatian karena sulit memberikan informasi akurat tentang kualitas seorang pemain.

Pun pada bursa transfer. Pemain-pemain termahal adalah mereka yang mempunyai parameter on the ball  (gol, asis, dan passing) tinggi.

Apakah hal itu berarti pemain-pemain ini lebih bernilai dibandingkan dengan pemain yang lain?

Chris Anderson dan David Sally, dalam The Numbers Game menyimpulkan “One goal for is greater than not scoring, 1>0, but keeping a clean sheet is more valuable than scoring a single goal, 0>1.”

Kesimpulan Anderson dan Sally itu relevan bila disandingkan dengan cara memenangkan sebuah pertandingan sepak bola; mencetak gol lebih banyak dari lawan dalam waktu yang sudah ditentukan.

Clean sheet berpeluang besar membawa sebuah tim memenangkan pertandingan sepak bola. Bahkan bila Anda tidak memiliki pemain dengan jumlah gol dan asis terbanyak yang harganya mahal itu.

BACA JUGA:  Masihkah Sergio Pizzorno Mencintai Leicester City?

Real Madrid dan Barcelona

Real Madrid membeli kualitas dengan membentuk Los Galacticos. Mereka mendatangkan pemain terbaik di setiap posisi dan memberinya panggung untuk tampil dan menunjukkan kemampuan terbaik mereka. Satu gaya yang akan sulit ditandingi tim lain, Los Galacticos membutuhkan dukungan finansial yang besar.

Barcelona mencoba menjadi antitesis bagi cara bermain Real Madrid. Mereka membentuk tim dengan dasar kolektivitas. Bila Los Galacticos mengandalkan kemampuan teknik individu, maka kerja sama tim dalam bentuk Juego de Posición (ketika ditangani Josep Guardiola) menjadi trademark untuk tim asal Catalan ini.

Untuk mengeksekui skema ini Barca butuh pemain yang setidaknya piawai menjaga bola juga memiliki kemampuan passing bagus. Pemain dengan kedua parameter on the ball ini, seperti telah dijelaskan di awal, dihargai tinggi di bursa transfer.

Pada tataran ini baik Madrid ataupun Barca sama, mereka membutuhkan pemain-pemain terbaik untuk memenuhi kebutuhan taktikal mereka. Dan besarnya kekuatan finansial (nilai transfer, gaji) akan menentukan apakah mereka bisa mendapatkannya atau tidak.

Atletico Madrid

Diego Simeone datang ke Atletico Madrid menghadapi situasi dimana dominasi finansial dan branding Madrid dan Barca terasa begitu superior. Ia sadar bahwa pemain dengan teknik tinggi atau gelandang dengan kemampuan passing brilian akan dengan mudah memutuskan bergabung dengan Madrid atau Barca ketimbang Atletico.

Menjadi suatu hal yang nyaris mustahil untuk menang melawan Madrid dan Barca dengan pemain-pemain kelas dua, pemain dengan parameter on the ball yang tidak sebaik yang dimiliki Madrid-Barca.

Pertanyaannya yang muncul kemudian adalah, kenapa Simeone harus memakai ball player kelas dua di dalam timnya untuk menyaingi Madrid dan Barca? Atau lebih jauh lagi, kenapa perlu bermain dengan bola?

BACA JUGA:  Sylvestre Stallone dan Kecintaannya Kepada Everton

Diego Simeone sangat paham bahwa tujuan sepak bola adalah memenangkan pertandingan. Dan sebuah clean sheet akan mendekatkan timnya dengan hal itu.

Atletico kemudian menjelma menjadi sebuah tim yang tidak terlalu mementingkan ball posession namun mendewakan kompaksi/kepadatan di dalam lapangan.

Atletico menjadi tim yang sulit ditembus. Mereka juga melakukan pressing dengan sangat agresif untuk mendapat bola dan peluang mencetak gol.

Los Rojiblancos melakukan segala upaya untuk cepat-cepat mendapatkan bola demi merusak fase transisi menyerang lawan (counterpressing) untuk kemudian melepaskan serangan cepat. Pemain-pemain Atletico bergerak bersama-sama, menciptakan aliran yang mampu mendikte irama permaianan, meskipun mereka tidak sedang menguasai bola.

Atletico Madrid bersama Diego Simeone memutus dominasi Madrid-Barca di La Liga pada musim 2013/2014.

Diego Simeone berhasil mendobrak dogma bahwa Ball Posesion Model dan Los Galacticos Team, skema yang akan sangat menguntungkan tim-tim kaya, bukanlah semata-mata jalan untuk meraih kejayaan dalam sepak bola.

Liga Inggris 2015/2016  

Liga Inggris tahun ini adalah salah satu turnamen paling prestisius di muka bumi dimana tim dengan materi pemain murah mampu menjadi juara, Leicester City.

Saya mengidentikkan permainan Leicester dengan Atletico Madrid. Meskipun tidak sama persis, Leicester yang memainkan formasi yang sama dengan Atletico juga bermain dengan determinasi tinggi, melakukan pressing sepanjang laga, dan bermain dirrect.

Melihat Leicester menjadi juara, memutuskan dominasi pemodal besar, adalah sebuah keindahan dalam sepak bola. Begitu pula dengan yang dilakukan oleh Portugal ketika menjuarai Piala Eropa, jarang menguasai bola bukan berarti tak bisa mendominasi pertandingan.

NB: Disarikan penulis dari artikel ‘What Is ‘Good’ Football? The Role Of Aesthetics In The Modern Game’ oleh Jamie Hamilton 

 

Komentar
Penyuka desk research. Sedang belajar menulis feature. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @waprijadi