Membaca Analisis Taktik Untuk Pemula

Sebuah artikel biasanya memiliki judul menarik. Namun, jangan dulu berharap mendapatkan isi yang sama menariknya. Judul kerap menjadi sekadar pemanis. Judul seperti itu menggiring pembaca ke dalam artikel untuk kemudian menjebaknya pada lautan konten yang tawar.

Pun dalam artikel sepak bola. Apalagi yang bertipe analisis. Sebuah artikel bisa saja menurunkan tajuk bahwa formasi 4-4-2 menjadi kunci kesuksesan beberapa tim Liga Primer Inggris musim lalu.

Argumentasi dibangun. Mulai dari keberadaan dua striker yang dinilai lebih potensial menghasilkan gol, adanya dua gelandang pekerja keras di tengah menyulitkan tim lain dalam memainkan bola, dan formasi 4-4-2 yang menjadikan area permainan menjadi lebih sempit, dan sebagainya.

Analisis tersebut mungkin saja benar. Namun, bagi beberapa pembaca, akan menimbulkan beberapa pertanyaan baru.

Bagaimana formasi 4-4-2 bisa menjadikan area permainan menjadi sempit dan apa pengaruhnya bagi tim? Apakah jumlah penyerang berkorelasi positif terhadap jumlah gol dan kemenangan sebuah tim? Bukankah formasi lain juga memungkinkan sebuah tim memainkan dua gelandang pekerja keras, kenapa 4-4-2 bisa efektif?

Pertanyaan-pertanyaan lanjutan itu sebenarnya bisa dijawab dengan analisis taktikal. Sebagai contoh, analisis yang membahas bagaimana Leicester City memainkan pola 4-4-2 mereka sepanjang musim. Analisis seperti ini akan memberikan pemahaman lebih dalam sehingga memberikan gambaran jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi.

Analisis taktikal biasanya ditulis dalam bahasa yang lebih teknis. Hal itu menjadikannya relatif sulit dipahami. Kesulitan-kesulitan dalam “membaca” analisis taktikal sebenarnya bisa teratasi dengan beberapa langkah mudah. Berikut beberapa di antaranya;

1. Mengetahui peran pemain berdasarkan nomor

Pada 20 Mei 2016 Ryan Tank menulis analisis taktik dengan judul Resep Taktik Sang Juara Liga Inggris. Artikel tersebut yang akan digunakan penulis dalam tulisan ini sebagai ilustrasi/contoh agar mudah memahami konteksnya.

“Di jajaran pemain reguler, beberapa menjadi bintang bagi penonton. Pemain pertama adalah Jamie Vardy, no. 9 Leicester”

“Pemain ketiga yang banyak diapresiasi adalah N’golo Kante. Sebagai no. 6, Kante dipasangkan dengan Danny Drinkwater”

Analisis taktikal sering mengidentifikasi peran pemain dengan menyebut nomor. Seperti dua contoh di atas.

BACA JUGA:  Crystal Palace v Arsenal: Urgensi dan Non Sequitur

Tentu mudah mengetahui maksudnya bila kita sudah akrab dengan sang pemain. Karena Vardy adalah penyerang dan Kante adalah gelandang bertahan maka kita bisa dengan mudah mengetahui maksud no. 9 dan no. 6.

“Dibandingkan Vardy, Okazaki lebih banyak bergerak ke area no. 10 bahkan sampai ke 8 atau 6”

Nah, sekarang bagaimana kita memahami kalimat di atas?

Maka yang kita, para pembaca pemula ini butuhkan, adalah sebuah daftar tentang nomor yang berkaitan dengan peran seorang pemain. Dan yang banyak digunakan analis taktik adalah nomor berdasarkan formasi 4-2-3-1 di bawah ini.

1 Goalkeeper
2 Right fullback
3 Left fullback
4 Center back
5 Center back
6 Defending/Holding midfielder
7 Right midfielder/wingers
8 Central/Box-to-box midfielder
9 Striker
10 Attacking midfielder/Playmaker
11 Left midfielder/wingers

 

Sekarang kita bisa dengan mudah mengetahui maksud pergerakan Okazaki dalam kalimat di atas. Okazaki ternyata tidak statis di depan, perannya lebih dari itu. Pemain jepang ini bahkan turun sampai sejauh posisi Kante (no. 6).

2. Mengetahui pembagian ruang dalam sepak bola

“Leicester Ranieri bermain dengan tujuan segera menjangkau kotak penalti dan Vardy merupakan target utama. Untuk memberikan ruang gerak bagi Vardy, The Tinkerman menginstruksikannya untuk juga bergerak dari half-space atau sayap”

Dalam berbagai ulasan taktikal kata half space banyak dipakai. Di mana sebenarnya ruang itu.

Picture1

Gambar di atas tentu memberikan gambaran yang mudah dimengerti mengenai half space. Sebuah lapangan dibagi menjadi 5 koridor vertikal. Koridor di antara sayap  (flank) dan tengah (center) di situlah ruang yang kita cari berada.

Sekarang kita bisa mengetahui area tempat Vardy biasanya berada sebelum memberikan ancaman ke gawang lawan. Pembagian itu juga memudahkan kita memahami maksud analisis di bawah ini.

“Ketika lawan berkesempatan membentuk formasi membangun serangan yang direncanakan, Leicester bertahan dalam sebuah barikade yang mengisi 3 koridor vertikal terdekat (dari bola) sebagai bentuk awal”

Mengisi 3 koridor vertikal terdekat. Artinya bila bola berada di flank sebelah kiri misalnya, maka pemain-pemain Leicester akan berada di area flank kiri, half space kiri, dan center (3 koridor vertikal terdekat).

BACA JUGA:  Kedekatan Liverpool dengan Dewi Fortuna

3. Mengetahui zona sepak bola ala Van Gaal

“Tetapi, pada dasarnya, baik Ranieri maupun Simeone dan Sacchi bertahan dengan prinsip yang sama. Yaitu, menjaga zona 5 dengan sedikit memberikan ruang bagi lawan di sayap”

Zona 5 itu di mana?

Pembagian ruang itu merupakan kerjaan Louis Van Gaal. Dia membagi lapangan sepak bola menjadi 18 zona!

Picture2

Zona 1 sampai 9 berada di lapangan sendiri. Saya pikir tak perlu menghapal karena biasanya, hanya beberapa zona yang sering dipakai oleh analis taktik.

4. Mengerti arti istilah sepak bola

Pada poin terakhir ini tidak ada rumusan khusus. Pengertian tentang pressure resistance, work rate, pressing-trap akan diperoleh lewat jam terbang dalam membaca artikel-artikel analisis taktikal. Selain itu, biasanya analis taktik juga memberikan pengertian sederhana tentang istilah-istilah yang dipakainya.

Setiap orang berhak menafsirkan sepak bola dengan cara yang mereka sukai. Analisis taktikal adalah salah satunya.

Analisis ini eksis karena hukum aksi reaksi berlaku dalam sepak bola. Kemenangan demi kemenangan yang diperoleh Leicester City bukanlah kebetulan belaka. Ada aksi yang dilakukan Claudio Ranieri dan pemainnya yang ternyata bereaksi dengan sangat baik.

Sepak bola bukanlah hal yang eksak, kata Anda. Sepak bola tidak dilakukan di atas kertas. Memang, adakalanya keunggulan taktikal tidak memberikan kejayaan.

Adakalanya kemenangan tidak bisa ditafsirkan dengan teori dan statistik, sisi yang membuat sepak bola dicintai.

Namun, seorang Leonardo Da Vinci menciptakan keindahan melalui proporsi-proporsi, melalui ukuran-ukuran, seperti yang tergambar dalam Virtuvian Man.

Analisis taktikal membedah sepak bola melalui bahasa sepak bola. Bahasa yang terukur. Siapa tahu dengan memahaminya Anda menjadi lebih mencintai olahraga ini. Cobalah!

 

Komentar
Penyuka desk research. Sedang belajar menulis feature. Bisa dihubungi melalui akun Twitter @waprijadi