Menanti Evolusi Taktik Sepakbola Pasca-Corona

Jonathan Wilson memberikan pendapat menarik di tengah vakumnya sepakbola menyusul pandemi Corona yang melanda seluruh dunia. Dalam tulisannya di kolom The Guardian akhir Maret lalu, penulis buku Inverting the Pyramid itu mengambil hikmah dari terhentinya kompetisi sepakbola yang ada.

Dengan situasi seperti ini, setiap pelatih memiliki waktu lebih beristirahat dari penatnya kompetisi yang padat. Dalam rehatnya itu, mereka sekaligus berpeluang mendapatkan inspirasi baru yang kelak bisa jadi mengubah tren taktik beberapa tahun mendatang.

Pasalnya situasi serupa pernah terjadi. Kala itu sepak bola terhenti akibat perang dunia kedua. Di masa perang inilah Marton Bukovi menemukan kembali peran false nine yang kelak berpengaruh besar dalam evolusi sepak bola modern.

Sebenarnya Hugo Weisl bersama Danubian School lah yang pertama kali menemukan false nine di Austria sekitar tahun 1930-an. Namun, Bukovi adalah orang yang mempopulerkannya dengan meletakkan pondasi itu di Timnas Hungaria yang didominasi pemain klub asuhannya, MTK Budapest.

Bukan tidak mungkin bakal muncul Marton Bukovi yang baru di tengah vakumnya sepakbola saat ini.

Mengingat pandemi Corona jelas berdampak terhadap perekonomian global, ekosistem pasca-Corona mengharuskan semua pihak untuk mengencangkan ikat pinggangnya menghadapi lesunya perekonomian akibat terbatasnya ruang gerak dan himbauan pembatasan sosial berskala besar.

Termasuk di dalamnya klub sepakbola, di mana mereka bakal kehilangan banyak pemasukan yang memaksa mereka untuk berhemat beberapa waktu mendatang.

Beberapa klub bahkan memotong gaji pemain guna menjamin kesehatan keuangan mereka sekaligus memberi dukungan finansial bagi pemerintah setempat menanggulangi pandemi ini.

Diprediksi tak banyak klub yang sudi menghamburkan uang setelah wabah ini berakhir nanti. Kondisi ini menuntut pelatih untuk memutar otak dalam memaksimalkan sumber daya yang dimiliki guna memenuhi tuntutan untuk tetap berprestasi.

Dalam situasi serba keterbatasan inilah biasanya otak terangsang menemukan ide baru yang lebih gila dari biasanya. Namun, sebelum itu, rasanya kita perlu menengok tren taktik yang populer sebelum pavirus Covid-19 ini menyebar.

Fase Pra-Corona

Sesaat sebelum vakum, sepakbola di level tertinggi didominasi oleh gaya permainan bertempo cepat yang menekankan vitalnya fase transisi antara bertahan ke menyerang dan sebaliknya.

Mayoritas klub elit ―yang disebut superclubs oleh Wilson, sebuah klasifikasi terhadap klub besar dengan prestasi mentereng, seperti Real Madrid, Barcelona, Liverpool, dan sebagainya― umumnya bermain dengan intensitas dan pressing tinggi terhadap lawan.

Utamanya kebanyakan manajer muda asal Jerman menghentak sepakbola Eropa dengan karakteristik permainan yang banyak dipengaruhi oleh ide Ralf Rangnick perihal cara bermain enerjik serta cepat dengan pressing dan intensitas konstan sepanjang laga.

BACA JUGA:  Chairil Anwar Menulis Akhir Kisah Bale di Real Madrid

Gegenpressing yang dipraktekkan Jurgen Klopp bersama The Reds menjadi bukti sahih dominasi taktik tersebut. Beberapa manajer muda Jerman generasi baru, seperti Ralph Hasenhuttl dan Julian Nagelsmann meraih sukses dengan segala keterbatasan kualitas di klub mereka dengan taktik serupa.

Pakem tersebut memecahkan periode dikotomi ekstrem antara dua mazhab besar sepak bola. Yaitu aliran sepakbola menyerang yang tetap dimotori oleh Pep Guardiola lewat filosofi juego de posicion serta sepakbola reaktif yang dipopulerkan oleh Jose Mourinho lewat skema yang kerap dijuluki parkir bus.

Pada akhirnya pakem parkir bus dinilai ketinggalan zaman dan mulai terkikis bahkan tergantikan posisinya sebagai antitesis utama sepak bola menyerang.

Kita semua tahu Mourinho perlahan tak lagi spesial seperti dahulu melihat betapa sulitnya dia mencapai final Liga Champions selepas terakhir kali bersama Inter Milan pada 2010 silam. Sementara itu, Klopp telah menapaki tiga partai final selama satu dasawarsa terakhir.

Betapa perkasanya penampilan Liverpool musim ini seakan melegitimasi sebuah ciri utama sepak bola modern: pertandingan yang berjalan semakin cepat dari masa ke masa dengan intensitas konstan sepanjang laga.

Setiap tim dituntut menyeimbangkan manajemen teritorial dan penguasaan bola di lapangan. Transisi menjadi fase terpenting dalam permainan. Pressing menjadi identitas utama sepakbola modern. Tak peduli apakah kamu lebih banyak bertahan atau menyerang.

Oleh karena itulah, sekarang kita amat jarang melihat keberadaan pemain dengan kemampuan individu semacam classic number 10, Juan Roman Riquelme misal. Lagipula tak semua pelatih suka dengan keberadaan seorang metronom yang bebas menari dengan bola.

Liverpool lagi-lagi menjadi bukti sahih bagaimana mendominasi pertandingan tanpa gelandang yang bertipikal playmaker murni. Mereka cenderung memainkan tiga gelandang pekerja keras secara bersamaan.

Ekosistem permainan sekarang memungkinkan menjamurnya pemain dengan peran-peran seperti, inverted winger, false nine, deep lying playmaker, sweeper goalkeeper, hingga ball playing defender.

Menerawang Periode Pasca-Corona

Tersungkurnya Liverpool di fase knock out, Liga Champions saya rasa menjadi alarm munculnya penawar baru atas keperkasaan gegenpressing dan taktik serupa. Adalah Diego Simeone yang memprakarsai inovasi di tengah konservatisme sepakbola reaktif dan kemapanan sepak bola menyerang.

Jurnalis asal Spanyol, Mario Torrejon mempelopori nomeklatur taktik itu dengan istilah Cholismo, merujuk kepada gaya permainan Atletico Madrid selama diasuh pelatih asal Argentina yang dijuluki El Cholo tersebut.

Simeone lebih sering diklasifikasikan dengan manajer yang berbaris di belakang imam besar sepak bola reaktif, Jose Mourinho. Namun, sepak bola yang ia usung jelas berbeda jauh dengan konsep taktikal ala pelatih kelahiran Setubal, Portugal itu.

BACA JUGA:  Dunia Kebalikan Messi dan Ronaldo

Simeone mengusung sepak bola yang mengutamakan kemenangan dan menghalalkan segala cara untuk meraihnya, meskipun itu harus bermain ultradefensif sepanjang laga.

Akan tetapi, pemain Atletico tetap mempertahankan intensitas pressing meskipun mereka menurunkan tempo permainan dan garis pertahanan sekalipun. Skema ini membutuhkan keandalan fisik serta kekompakan tim mempertahankan ruang demi menjamin kerapatan antar lini.

Meskipun bermaterikan skuad dengan sedikit pemain bintang, Simeone mampu membawa Atletico menyelinap di antara duopoli Real Madrid dan Barcelona di La Liga serta berprestasi lebih di ajang kontinental bermodalkan kolektivitas yang solid.

Evolusi sepakbola reaktif yang digawangi Simeone mungkin bukan hal baru bagi kita semua. Namun cholismo jelas mempunyai prospek cerah menantang dominasi sepak bola pressing dan atraktif yang menjamur khususnya di level tertinggi sepakbola Eropa.

Namun, saya masih memikirkan beberapa kemungkinan evolusi taktik yang bisa muncul ketika sepak bola hadir kembali nantinya setelah pandemi ini selesai.

Perubahan bersifat kekal di dunia ini. Setiap hal pasti mengalami siklus di mana ada suatu saat ia dianggap kuno ditinggalkan lalu di kemudian hari kembali lagi digemari banyak orang.

Mungkin saja bakal muncul kembali sosok libero kuat macam Franz Beckenbauer yang bakal menyihir lewat atraksinya di lapangan hijau. Lagipula, skema tiga bek juga semakin marak di sepakbola akhir-akhir ini.

Bisa jadi di masa depan libero menjadi patron pertandingan. Tak sekedar berperan sebagai ball playing defender, tetapi berhak melakukan solo run ke depan lalu memainkan kombinasi umpan dan mencetak gol.

Atau kita bakal melihat evolusi juego de posicion milik Guardiola. Kemenangan Manchester City atas Real Madrid di Santiago Barnabeu akhir Februari lalu mengindikasikan sesuatu yang janggal dari kebiasaan strategi Guardiola.

Pada laga itu City lebih bermain reaktif dan banyak mengandalkan bola panjang ke depan. Hal itu bertolak belakang dengan citra pelatih asli Catalonia yang kental dengan karakter permainan menyerang dengan umpan pendek.

Mungkin kelak ia lebih suka bermain dengan umpan panjang dan mengandalkan striker jangkung guna membuka pertahanan grendel yang suka diaplikasikan lawan terhadap tim asuhan mantan pelatih Barcelona dan Bayern Munchen itu.

Apakah bek sayap bakal memegang peranan yang lebih penting di masa depan? Tak hanya bertahan dan membantu penyerangan dari sisi sayap dengan diberi keleluasaan yang memungkinkan untuk mengontrol permainan dari sayap. Itu semua bukan tidak mungkin, kan?

Bagaimanapun, pasti ada hikmah tersembunyi dibalik vakumnya sepakbola sekarang. Namun, berwujud apakah pelajaran itu? Waktu yang akan menjawab semuanya.

 

Komentar