Mengapa Jersey Pemain Ada Banyak Sponsor?

Persib Bandung sempat menjadi perhatian ketika mereka berhasil menggaet banyak sponsor. Daya dukung dana yang melimpah membuat Maung Bandung berhasil mengumpulkan pemain-pemain terbaik hingga mereka bisa menjadi juara Indonesia Super League 2014.

Anak asuh Djajang Nurjaman juga tak pernah punya masalah gaji yang tertunggak. Fasilitas klub dan latihan bagus. Kondisi finansial yang sehat seperti di Persib ini tak banyak terjadi di klub Indonesia lainnya.

Sayangnya, ada saja anggapan miring terhadap mereka. Misalnya, menyebut Persib sebagai tim dengan jersey balap, karena saking banyaknya sponsor yang nempel di kostum bertanding.

Musim ini, Arema, yang merupakan salah satu klub dengan basis pendukung terbesar di Indonesia juga disebut demikian. Arema sebenarnya sudah punya banyak sponsor musim-musim sebelumnya.

Tapi, kehadiran Torabika Duo di kostum bagian depan mereka memang membuat tampilan kostum lebih semarak. Jadi, predikat jersey balap pun menyemat ke mereka.

Sebenarnya, tak ada yang salah dengan Persib dan Arema. Itu membuktikan keduanya berhasil menggaet sponsor besar untuk mau menggelontorkan dananya bagi tim.

Sekali lagi, tidak banyak klub di Indonesia yang mampu menggaet sponsor besar. Hal yang tentunya akan berimbas pada finansial tim, yang berujung pada gaji yang tak dibayar, catering yang ala kadarnya, hingga kebingungan untuk membuat program tim lantaran dana yang terbatas.

Jadi, sah-sah saja kemudian untuk punya banyak sponsor utama yang nampang di jersey pemain. Karena bagaimanapun, nilai kontrak bagi sponsor yang terpasang di jersey, apalagi di bagian depan, tentulah besar, bahkan paling besar dibandingkan sponsor di media promo lainnya.

Lalu, mengapa perlu banyak sponsor? Kenapa tidak satu atau dua saja, seperti klub-klub top Eropa?

Ada dua persoalan utama. Pertama, sponsor belum bersedia mengeluarkan nominal yang sangat besar karena masih dalam tahap coba-coba menanamkan uang di sepakbola Indonesia.

Kedua, biaya operasional tim di Indonesia ini sudah terlampau besar nilainya. Keperluannya mulai untuk gaji pemain, pelatih, karyawan, juga untuk kebutuhan akomodasi yang melingkupi mess pemain, catering, hingga biaya tandang.

BACA JUGA:  Laga Pembantaian di Liga 2

Sponsor belum mau mengeluarkan nominal besar lantaran mereka masih belum sepenuhnya yakin bahwa uang yang ditanamkan di sepakbola bisa membuat brand mereka semakin kuat dan meningkatkan penjualan produk. Jika sudah berhasil, tentu ekspansinya akan semakin besar.

Contoh sponsor yang tampak sukses di sepakbola tentulah Corsa dan Torabika. Ketika mereka memulai investasi di sepakbola, mereka lalu mendapati pendapatan perusahaan melimpah ruah. Apa yang terjadi kemudian? Mereka lantas memperluas kerjasama di bidang sepakbola.

Untuk nilai kontraknya bisa bermacam-macam. Faktornya mulai dari di mana klub tersebut bermain, jumlah pendukung, prestasi, hingga pemain bintangnya. Untuk klub Liga 1, satu sponsor utama bisa menggelontorkan uang setidaknya 1-5M. Jumlah itu bisa makin besar jika prestasi klub meningkat dan ada kerjasama yang lebih luas.

Sementara, jika bermain di Liga 2 harganya bisa lebih murah, misalnya Torabika di PSS senilai 1M. Tentulah jumlah itu berbeda dengan yang didapatkan oleh Arema meski sama-sama ada di bagian depan jersey.

Setiap sponsor utama yang masuk itu, sejauh ini paling hanya menutup 10-15% dari biaya operasional tim. Untuk Liga 2 dengan jumlah pertandingan lebih sedikit dan rata-rata gaji pemain lebih murah, untuk satu musim kompetisi akan membutuhkan biaya 7-15 miliar.

Sementara biaya operasional Liga 1 tentu lebih mahal. Karena jumlah pertandingan yang lebih banyak dan jarak tempuh lebih jauh, juga terkait dengan nilai kontrak pemain. Jika menggunakan standar Indonesia Super League (ISL) yang telah tiada, setiap klub setidaknya membutuhkan biaya 20-30 miliar per musim kompetisi.

Ini kemudian membuat manajemen klub mesti berusaha keras untuk bisa menggaet sponsor besar. Karena setidaknya butuh lima sponsor untuk menutup biaya operasional.

Angka-angka yang disebut di atas tentunya perkiraan. Karena masing-masing klub tentu punya standar akomodasi berbeda dan juga lokasinya berada menentukan seberapa besar biaya operasional.

BACA JUGA:  Feras Ali : Dalang di Balik Datangnya Thomas Doll dan Quarted Bintang Persija

Hal sederhana seperti klub yang di kotanya ada stasiun kereta api dan bandara saja bisa memengaruhi urusan finansial dibanding klub mesti menempuh puluhan kilometer sekadar untuk mencapai bandara terdekat.

Lalu, apakah suatu saat jersey klub Indonesia bisa lebih elegan seperti klub Liga Inggris?

Tentu saja bisa. Hanya saja itu butuh waktu. Kita butuh waktu untuk membangun industri sepakbola.

Awal mulanya kita membentuk tata kelola kompetisi yang baik. Jika menjawab pertanyaan kapan liga dimulai saja masih sulit, ya berarti tata kelola kita belum bisa dikatakan baik. Jadi, tata kelola mesti jadi prioritas.

Lalu, edukasi terhadap seluruh stakeholder sepakbola perlu terus dilakukan. Kampanye membeli tiket resmi pertandingan, meminimalkan kerusuhan antarsuporter, pelatih dan pemain yang profesional serta sadar sebagai bagian dari industri, dan lain sebagainya perlu terus dilakukan.

Jika nantinya industri kuat, tentulah semakin banyak sponsor yang masuk. Nilainya pun akan terus membesar.

Jadi, marilah kita jadi bagian dari perubahan dan perbaikan industri sepakbola. Salah satu yang bisa kita lakukan, nonton langsung di stadion dan membeli tiket resmi.

Sembari tetap memaklumi jika makin banyak jersey klub yang ditempeli banyak logo sponsor, karena itu adalah permulaan yang baik. Kita masih dalam tahap meyakinkan sponsor untuk masuk ke sepakbola, bukan sok jual mahal dengan brand yang akan berinvestasi.

Karena, sponsor utama yang nilainya lebih dari 10M itu sangat mungkin di Indonesia. Buktinya sudah ada klub yang ditawari kontrak dengan nilai lebih dari 10M, hanya saja saya enggan menyebut klub mana itu. Ini semua perihal waktu saja.

Peluang itu ada, kini tinggal bagaimana manajemen dan pengurus PSSI mengurus klub dan kompetisi dengan sebaik-baiknya.

 

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.