Mengenal Warrix, Apparel Baru Timnas Indonesia

Mengenal Warrix, Apparel Baru Timnas Indonesia

Memadu kasih selama kurang lebih 12 tahun (2007-2019), kebersamaan tim nasional Indonesia dengan produsen pakaian olahraga kenamaan asal Amerika Serikat, Nike, akhirnya kedaluwarsa. Sebagai pengganti, federasi sepakbola Indonesia (PSSI) menggandeng jenama dari Thailand, Warrix, untuk menyediakan apparel timnas yang baru.

Melalui akun Instagram ofisialnya, jenama bentukan Wisan Wanasaksrisakul tersebut sudah mengumumkan bahwa mereka adalah pihak yang menyediakan seluruh jenis kit dari timnas Garuda. Hal ini memastikan Indonesia menjadi negara ketiga yang menjadi partner Warrix karena sebelumnya telah bekerja sama dengan timnas Thailand dan timnas Myanmar.

Didirikan pada 2013 silam, Warrix mengawali kiprahnya dengan memproduksi sejumlah item olahraga, mulai dari kaus, jaket, celana hingga sepatu. Barulah pada tahun 2014, mereka berekspansi ke dunia sepakbola dengan mensponsori klub lokal Thailand, Chiangmai dan Nakhon Ratchasima.

Di tahun 2015, Warrix melebarkan sayapnya dengan menggandeng salah satu kesebelasan beken dari Negeri Gajah Putih, Suphanburi. Seolah belum cukup, Warrix pun berani melangkah ke luar Thailand lewat relasi yang mereka bangun dengan klub asal Kamboja, Lao Toyota.

Setelah momen tersebut, keseriusan Warrix untuk menjadi jenama top di Thailand maupun Asia Tenggara semakin menggelora. Guna mempertegas komitmennya, Warrix merangkul banyak klien baru, baik yang ada di Thailand, Singapura sampai Indonesia. Antara lain Angthong, BTU United, PTT Rayong, Hougang United, dan Persela.

Namun di atas itu semua, langkah paling bombastis yang mereka buat adalah mengajak timnas Gajah Putih untuk bekerja sama per tahun 2017 silam (kontrak sampai 2020). Warrix menggantikan apparel timnas Thailand sebelumnya, Grand Sports, dan mengucurkan dana tak kurang dari 400 juta baht.

Dua jersi pertama Thailand yang dirancang Warrix diberi nama Chayanuparb dan Prabtrichak, dua prajurit legendaris Negeri Gajah Putih. Sepasang kostum ini pun dinilai khalayak memiliki desain yang sangat elegan dan kualitasnya paripurna.

BACA JUGA:  Bola Piala Dunia 2022 Dibuat di Indonesia, Timnasnya Kapan?

Kendati demikian, kerja sama timnas Indonesia dengan Warrix sempat menimbulkan pro dan kontra di kalangan penggila sepakbola nasional. Banyak yang menyayangkan keputusan PSSI memilih Warrix sebagai partner anyarnya alih-alih bekerja sama dengan sejumlah jenama lokal.

Dalam benak mereka, ada sejumlah jenama asli Indonesia yang dinilai sanggup memproduksi jersi kelas premium, yang mungkin lebih baik ketimbang garapan Warrix, dan pantas untuk mensponsori timnas Garuda.

Akan tetapi, perlu diketahui bahwa PSSI sudah mempertimbangkan segalanya, mulai dari aspek bisnis hingga kualitas jersi yang bisa diciptakan Warrix. Hal inilah yang membuat mereka sepakat untuk menjalin kerja sama.

Mengenai desain kostum timnas Indonesia, Warrix pun memberi sentuhan yang menarik. Alih-alih polos, mereka justru menampilkan kondisi geografis Indonesia yang terdiri dari gugusan banyak pulau. Uniknya, dengan motif tersebut, ada kemungkinan bahwa setiap jersi timnas Indonesia, baik yang digunakan para pemain atau yang diperjualbelikan, berbeda-beda.

Bicara tentang seragam tempur buatan Warrix bagi timnas Indonesia, para sepuh (baca: pengamat) jersi bahkan menyebut jika kualitasnya sangat bagus dan tidak kalah dengan kostum yang pernah dibuat Nike. Lebih asyiknya lagi, harga jualnya terjangkau sehingga tidak menguras isi kantong para pencinta timnas Garuda yang ingin memilikinya.

Warrix sendiri membagi jersi timnas Indonesia ke dalam tiga jenis untuk dilepas ke pasaran. Pertama, versi Player Issue atau serupa dengan yang digunakan para pemain. Kedua, kategori Replika dan yang terakhir adalah jenis Cheer (Supporter Version).

Timnas Indonesia dan Warrix telah memulai era barunya. Walau kontribusi seragam sepakbola tidak sekrusial daya juang pemain atau strategi pelatih di atas lapangan, semoga saja kerja sama dengan Warrix menghadirkan peruntungan yang lebih baik bagi Indonesia.

Komentar