Mengikhlaskan Kepergian Achraf Hakimi

Kesempatan bermain reguler di tim utama menjadi faktor penting agar pemain muda bisa terus berkembang. Tak jarang, beberapa dari mereka gagal memenuhi ekspektasi publik akibat kurangnya menit berada di lapangan, khususnya ketika berada di tim besar.

Hal tersebut membuat banyak pemain muda memilih pergi dari klub tersebut guna mencari kesempatan bermain yang lebih. Namun, bagi fans yang telah memperhatikan bakat pemain-pemain tersebut, kepergian mereka bisa menjadi penyesalan tersendiri.

Harapan melihat pemain akademi bersinar di tim utama pupus akibat sang pemain memilih pergi. Itulah yang saat ini dialami oleh para Madridistas di seluruh dunia melihat kepergian seorang Achraf Hakimi ke Inter Milan.

Sejak usia tujuh tahun, ia telah bergabung bersama La Fabrica. Pemain berposisi bek kanan itu selama kurang lebih 10 tahun mengenyam pendidikan di sana. Empat tahun lalu, Hakimi dipromosikan ke Real Madrid Castilla. Sebanya 2 gol dan 10 asis ia catatkan di sana.

Di awal musim 2017, Madrid kehilangan Danilo yang memutuskan untuk hijrah ke Manchester City. Alih-alih mencari pemain baru, Zinedine Zidane, pelatih Los Galacticos saat itu, memutuskan untuk mempromosikan Hakimi yang saat itu masih berusia 19 tahun ke tim utama.

Meskipun diproyeksikan sebagai back up dari Dani Carvajal, Hakimi bermain sebanyak 17 kali dengan mencetak 2 gol dan 1 asis. Rekor sebagai pencetak gol termuda kedua Madrid di Liga Spanyol juga dipegangnya. Ia hanya kalah dengan Raphael Varane soal itu.

Kedatangan Alvaro Odriozola ke Real Madrid di awal musim 2018, membuat posisi Hakimi terancam. Namun, sadar akan potensi yang dimilikunya, Madrid memutuskan untuk menyekolahkan Hakimi sebentar ke klub Borrusia Dortmund selama 2 musim.

BACA JUGA:  Déjà Vu Yaya Toure

Bersama klub dari Lembah Ruhr itu, Hakimi menjadi pilihan utama di pos fullback kanan maupun wingback kanan. Eksplosivitasnya saat menyerang menjadi senjata andalan. Bahkan di musim ini saja, ia total mencatatkan 9 gol dan 10 asis bagi Dortmund.

Per 30 Juni 2020, kontrak peminjaman Hakimi resmi berakhir. Namun, bukannya kembali ke Madrid, ia justru ke Italia. Sontak keputusannya mengejutkan berbagai pihak, termasuk dari kalangan Madridistas sendiri.

Akan tetapi, alasan kepergian Hakimi bisa dipahami. Di skuad Los Blancos saat ini masih ada Carvajal yang juga sedang berada di puncak performanya. Apalagi usianya yang memasuki 28 tahun dianggap sebagai usia prima pesepakbola.

Ditambah faktor bahwa Carvajal adalah sosok terdekat untuk menggantikan peran krusial pemain senior macam Sergio Ramos. Sebagai pemain asli binaan La Fabrica dan pemain yang cukup lama membela Madrid, ia adalah sosok ideal sebagai kapten beberapa musim kedepan.

Selain itu, faktor ekonomi juga menjadi pertimbangan pihak klub untuk melepasnya. Tawaran 40 juta euro dari Inter dirasa cukup menguntungkan mengingat Madrid harus menyeimbangkan neraca keuangan.

Tentu saja pandemi yang menerpa juga menjadi hambatan bagi keuangan mereka. Di tambah, baru-baru ini mereka juga memutuskan untuk merenovasi Santiago Bernabeu. Dikutip dari Managing Madrid, Zinedine Zidane menyebut ada dua faktor dilepasnya Hakimi ke Inter.

“Dia memiliki musim yang baik. Namun, dalam klub ada dua hal lain, yakni sisi ekonomi dan olahraga. Kami harus mengerti dua situasi tersebut. “Saya bukan tidak tertarik pada Achraf (Hakimi), tetapi itu masalah klub,” ujarnya.

Seperti yang saya tulis diawal, penting bagi para pemain muda ini untuk terus bermain, termasuk Hakimi. Pindah ke Inter menurut saya adalah keputusan yang benar untuk masa depannya.

BACA JUGA:  Persaudaraan dalam Derbi Hai Van

Posisi wingback kanan di Inter masih kerap berganti antara Antonio Candreva dan Danilo D’Ambrosio. Jika dilihat sekilas berdasarkan kualitas, rasanya peluang Hakimi tampil reguler di pos tersebut sangat besar.

Lagipula, suka atau tidak, Madridistas harus mulai menerima keputusan yang Hakimi ambil. Meskipun harus diakui bahwa keputusan tersebut bisa saja jadi blunder, tapi memaksanya terus bermain di Madrid bukanlah hal yang bijak.

Hanya saja, jika manajemen Madrid sedikit lebih cerdas, mereka seharusnya menyertakan klausul buy back, seperti yang mereka lakukan saat melepas Carvajal ke Bayer Leverkusen dulu.

Sebagai Madridistas, saya tentu kecewa dengan keputusan manajemen melepas Hakimi. Alasannya, saya yakin Hakimi berpotensi menjadi salah satu bek kanan terbaik di dunia suatu saat nanti. Apalagi melihat yang ia lakukan di Jerman. Kehilangannya memang menyesakkan.

Akan tetapi, potensi itu hanya akan terpenuhi jika ia diberikan kesempatan bermain yang memadai. Percuma saja kita berteriak bahwa Hakimi harus bertahan dan berjuang merebutkan tempat utama, jika pada akhirnya ia hanya akan duduk di bangku cadangan.

Toh, dengan situasi saat ini —bahkan mungkin 3-5 tahun kedepan—, bertahan di Madrid hanya akan membuatnya duduk manis di sisi lapangan sembari berharap Carvajal absen. Situasi yang bisa membuatnya memiliki karier yang biasa-biasa saja dan gagal memnuhi ekspektasi.

Komentar
Nurul Arrijal Fahmi
Seorang penggemar Real Madrid yang sedang menjalani masa kuliah di Universitas Negeri Surabaya. Dapat dihubungi di akun Twitter @RijalF19.