Mereka yang Terlupakan dari Gemerlap La Liga

Meski popularitasnya kalah dibandingkan Liga Primer Inggris dan Bundesliga, La Liga Spanyol masih salah satu liga terbaik dunia dengan pesona yang dimilikinya.

Liga, yang konon hanya bergairah ketika El Clasico atau Derby Madrileno dihelat ini resmi berubah nama menjadi Liga Santander. Mulai musim 2016/2017, Banco Santander, bank terbesar ketiga di Eropa, resmi menjadi sponsor utama, mulai dari liga teratas hingga liga tercera (divisi tiga).

Terhitung musim ini, La Liga telah berusia 89 tahun. Sejak mulai digulirkan pada tahun 1929, banyak usaha dilakukan otoritas La Liga untuk menarik perhatian publik.

Mulai dari LaLiga Promises, suatu kompetisi pemain muda di bawah usia 12 tahun. Lalu dihelat juga LaLiga World Challenge, sebuah pertandingan persahabatan antara klub-klub daerah yang populer di Spanyol melawan tim-tim dari La Liga atau dari luar Spanyol.

Di balik keberhasilan La Liga mempertahankan eksistensinya, terdapat para founder yang menginisiasi beberapa klub profesional di tanah kekuasaan King Felipe. Siapa saja yang memprakarsai lahirnya La Liga? Dan apakah klub legendaris tersebut masih ada geliatnya hingga sekarang?

**

Mundur jauh ke belakang, sebelum La Liga bergulir, di Spanyol hanya ada turnamen primordial dan Copa del Rey untuk tingkat yang lebih prestisius guna memfasilitasi animo kegemaran akan menonton sepak bola.

Baru pada tahun 1929, kampanye untuk membuat kompetisi sepak bola terealisasikan, bahkan langsung dibuat dua kasta. Kualifikasi peserta pun unik. Sembilan dari 10 peserta La Liga edisi perdana merupakan juara dan runner-up Copa del Rey enam tahun ke belakang.

Dan, 1 kuota tersisa harus diperebutkan oleh Sevilla, Real Betis, Valencia, dan Racing Santander yang beruntung mendapatkannya.

Sepuluh kontestan La Liga edisi perdana adalah Real Madrid, FC Barcelona, Athletic Bilbao, Real Sociedad, Atletico de Madrid, RCD Espanyol, Racing Santander, Real Union de Irun, CD Europa, dan Arenas Getxo. Ada yang terdengar tak familier?

Tiga kontestan pertama adalah klub tradisional yang belum pernah terdegradasi hingga saat ini. Empat tim selanjutnya masih sering meramaikan panggung La Liga dari musim ke musim kecuali Racing Santander yang degradasi pada musim 2011/2012.

BACA JUGA:  Olympique Marseille: Ironi di Balik Prestasi

Sedangkan tiga kontestan terakhir yang terdengar asing ini “terpaksa melipir” ke Segunda (divisi 2) dan Segunda B (liga di bawah divisi 2).

Nama yang pertama, Real Union de Irun. Klub tertua keempat di Basque ini sebelumnya merupakan dua klub berbeda, yaitu Irun Sporting Club dan Racing Club de Irun.

Pertengahan tahun 1915, atas mandat dari King Alfonso XIII, kedua klub tersebut kemudian seiya sekata untuk merger dan berafiliasi dengan Kerajaan Spanyol dan mengganti nama menjadi Real Union de Irun.

Popularitas mulai didapat berkat memenangi beberapa turnamen regional, hingga puncaknya menjuarai Copa del Rey pada tahun 1924. Hebatnya, kemenangan ini diraih di Atotxa, kandang Real Sociedad sebelum hijrah ke Anoeta pada tahun 1993.

Perlu diketahui, meski berstatus sebagai rival, Real Union dan Real Sociedad berada di bawah naungan Kerajaan Spanyol. Peta rival Basque adalah: Real Union vs Real Sociedad dan Athletic Bilbao vs Arenas Getxo. Derby Basque sekarang ini merupakan versi modern karena dua tim tradisional yang lain sudah jauh tenggelam.

Sayangnya, Real Union harus melepas status “Real” karena Kerajaan Spanyol lebih memerhatikan Real Sociedad. Lebih parahnya lagi, pemain penting Union Club (setelah gelar dicabut) diambil oleh Sociedad. Otomatis, prestasi klub terjun bebas.

Puncaknya, pada tahun 1932, Union Club terdegradasi setelah kalah di partai playoff melawan Alaves. Saat ini, Union Club bermain di Segunda Division B atau divisi ketiga Liga Spanyol.

Satu lagi klub pionir asal Basque yang tak jelas rimbanya sekarang adalah Arenas Club de Getxo. Klub yang lahir tahun 1912 ini didirikan dengan campur tangan beberapa mahasiswa dari Inggris yang kuliah di daerah tersebut dan memopulerkan sepak bola.

Klub yang berjuluk El Historico ini didirikan akibat gedung olahraga Lamiako dan stadion Joloseta ditinggalkan oleh Athletic Bilbao yang pindah ke San Mames.

Nama Arenas Club de Getxo dipilih untuk membedakan dengan beberapa tim lokal yang ada di daerah Getxo seperti Romo FC. Arenas berhasil mendapatkan tiket untuk berlaga di La Liga setelah menjuarai Copa del Rey pada tahun 1919.

BACA JUGA:  Sepakbola yang Menyatukan Palestina dan Israel

Namun setelahnya, Arenas harus pindah federasi karena berselisih paham dengan Athletic Bilbao. Arenas lebih memilih mendirikan federasi Montanesa.

Kisah tragis merosotnya popularitas Arenas bukan campur tangan pemerintah seperti yang dialami Union Club. Namun, nama Getxo yang melahirkan perkara. Disinyalir, nama tersebut cenderung membawa aroma kedaerahan dan semua keuntungan klub diambil oleh tim asal ibukota di provinsi tersebut, dalam hal ini diwakili Athletic Bilbao.

Pada tahun 1935, Arenas terdegradasi ke divisi dua, lalu 1 dasawarsa kemudian turun lagi ke divisi ketiga. Kini, Arenas masih berkutat di Segunda Division B.

Nama terakhir yang keluar dari ingar-bingar La Liga adalah CD Europa. CD Europa merupakan saudara muda dari FC Barcelona dan RCD Espanyol karena sama-sama berasal dari wilayah otonom Barcelona. Klub yang berasal dari lingkungan Camp de la Industria ini diinisiasi oleh Rodolf Collell pada 5 Juni 1907.

CD Europa mulai meraih kejayaan setelah mendapatkan status juara Copa del Rey pada tahun 1923. Saat itu, CD Europa mampu mengalahkan rivalnya, FC Barcelona. Namun kisahnya di La Liga hanya seumur jagung, karena dua musim setelahnya harus terdegradasi. Dan disinilah permasalahan itu dimulai.

Turun ke divisi kedua membuat CD Europa mengalami penurunan prestasi. Akibatnya, suasana di jajaran petinggi klub menjadi tidak harmonis. Masalah yang ada masih ditambah membengkaknya hutang dan mulai ditinggalkan fans

Lebih parah lagi, beberapa mantan pemain CD Europa membentuk klub baru yang bernama Gracia FC. Akibatnya, nama CD Europa makin tenggelam.

Memang benar seperti yang dikatakan Antonio Gramsci, bahwa sejarah hanya menyediakan tempat bagi manusia-manusia yang besar, begitu juga dalam sepak bola.

Union Club, Arenas, dan CD Europa merupakan para pionir. Sayang, ketiganya tak bisa menanggung beban sebagai tonggak sejarah. Mereka tak dicatat sebagai “manusia-manusia besar” supaya layak berada di lini masa sejarah seperti kata Gramsci.

Untuk menyambut La Liga Spanyol yang akan bergulir sesaat lagi, mari kita rayakan sebuah kenangan.

Bienvenido, La Liga.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan sejarah yang sedang berusaha menyelesaikan studinya di salah satu universitas di semarang, penikmat sepakbola dari layar kaca setiap minggunya dan mantan pemain futsal tingkat jurusan.