Migrasi Pesepak Bola Indonesia

Salah satu fenomena luar biasa yang terjadi pada tahun 2015 adalah fenomena imigran asal Suriah yang keluar dari negaranya untuk mencari penghidupan yang lebih baik di negara lain. Negara yang menjadi tujuan tak hanya Timur Tengah lain seperti Yordania, atau negara sesama negara Islam seperti Turki, tapi juga negara-negara yang bersedia menawarkan bantuan seperti negara Eropa, juga Kanada.

Dalam mengambil keputusan untuk bermigrasi, seorang individu atau pun sebuah komunitas pasti memiliki keinginan untuk memperbaiki salah satu aspek kehidupan, sehingga dalam keputusan berimigrasi dapat dipengaruhi oleh beberapa macam faktor.

Berdasarkan teori migrasi kependudukan, ada empat faktor yang menjadi pertimbangan dalam melakukan migrasi baik individu maupun kelompok, yaitu faktor daerah asal, faktor yang terdapat pada daerah tujuan, rintangan perantara dan faktor individual.

Faktor daerah asal dan individual yang melatarbelakangi migrasi paling sering tentu saja ekonomi, untuk mencari penghidupan yang lebih baik dibanding daerah atau negara asal. Meskipun, faktor non-ekonomi seperti kondisi sosial, lingkungan, demografi dan budaya juga dapat melatarbelakanginya.

Sepak bola Indonesia tahun ini, sebagaimana kita sama-sama tahu, berada pada ketidakjelasan akibat konflik berkepanjangan antara Menpora dengan PSSI. Konflik itu berakibat pada dihentikannya kompetisi Liga, tanpa ada kejelasan kapan dimulai lagi.

Beberapa pihak yang mengaku peduli dengan nasib sepak bola tetap berusaha menyelenggarakan kompetisi. Piala Kemerdekaan, Piala Presiden, Piala Jenderal Sudirman dan turnamen lain digelar. Meskipun, tentu saja kompetisi yang sifatnya turnamen itu tak dapat menggantikan kompetisi liga yang menuntut konsistensi dan kemampuan prima sepanjang musim.

Sangat jamak bagi kita, melihat atau membaca di media televisi, koran dan media daring para pemain nasional mengeluhkan kondisi ini. Keluhan tak jauh-jauh seputar periuk nasi dan dapur yang berhenti mengepul.

BACA JUGA:  Mau Bermain Sepakbola yang Bagaimana, Luis Milla?

Kondisi ini, digambarkan dengan baik oleh suatu iklan minuman pereda panas dalam di mana Hamka Hamzah yang dulunya pemain sepak bola sekarang goreng-goreng ayam, Ismed Sofyan yang membantu dagang baju si istri, dan paling pahit tentu saja Alamsyah Nasution, mantan pemain PSMS Medan, yang harus kembali nguli.

Dari sudut pandang ini, seharusnya seluruh persyaratan mengenai emigrasi pemain sepak bola Indonesia ke luar negeri terpenuhi. Namun kenyataannya, hanya beberapa pemain yang memutuskan demikian.

Ada nama Irfan Bachdim di Consodale Sapporo (Jepang), Victor Igbonefo di Osotspa Samut Prakan (Thailand), Greg Nowokolo di BEC Tero Sasana (Thailand), hingga Sergio Van Dijk di Suphanburi (Thailand). Paling sukses tentu saja Andik Vermansyah. Bersama timnya Selangor FC, Andik ikut andil dalam merengkuh gelar Piala Malaysia 2015.

Tahun 2014 lalu, ada Hamka Hamzah di PKNS FC dan Patrich Wanggai di T-Team. Keduanya adalah tim Liga Super Malaysia yang mengalami degradasi pada akhir musim. Tim terakhir disebut, bakal ditangani oleh Rahmad Darmawan dan diperkuat Makan Konate pada musim kompetisi 2016.

Pemain yang paling dapat dicontoh dalam hal ini adalah Dedy Gusmawan. Nama Dedy barangkali tak setenar pemain yang sudah malang melintang di tim nasional seperti Ahamad Bustomi, Firman Utina dan Boaz Solossa.

Namun, Dedy lumayan sukses bersama timnya Zeyar Shwe Myay di Liga Myanmar yang dilatih Stefan Peter Hansson, mantan pelatihnya di Mitra Kukar.

Meski tim yang diperkuatnya hanya mengakhiri kompetisi di urutan 8 dari 12 peserta, Dedy menjadi pilar utama mengawal lini pertahanan klubnya. Performa bagus Dedy yang direkrut pada pertengahan kompetisi Mei 2015 lalu itu, membuatnya dipercaya manajemen dengan dikontrak penuh untuk satu musim kompetisi 2016 mendatang.

BACA JUGA:  Tantangan Menjadi Penggemar Bundesliga di Indonesia

Kita mempunyai banyak stok pemain yang kemampuannya setara, bahkan lebih baik daripada Dedy Gusmawan. Selain Malaysia, Myanmar dan Thailand, negara ASEAN lain seperti Kamboja, Vietnam dan Singapura menjadi daerah potensial yang dapat dituju.

Kondisi ini, tentu saja tak hanya bagi pemain, tapi juga oleh pelaku sepak bola lain seperti pelatih, fisioterapis dan lain-lain. Untuk sementara, prinsip hidup mangan ora mangan sing penting ngumpul barangkali harus dikesampingkan.

Sejak zaman dulu kita dikenal punya nenek moyang pelaut yang gemar berlayar. Sekarang, merantau adalah hal yang jamak bagi pelajar, mahasiswa dan pencari kerja. Tak sedikit warga Indonesia yang berdiaspora baik sebagai tenaga kerja buruh atau profesional. Tak ada salahnya, jika para pesepak bola Indonesia berekspansi ke negara-negara sekitar.

 

Komentar