Mike Maignan dan Babad Kiper Prancis di Serie A

Beberapa waktu lalu, AC Milan merampungkan perekrutan kiper asal Prancis yang dimiliki Lille OSC, Mike Maignan. Lelaki berusia 25 tahun ini diboyong dengan banderol 15 juta Euro dan menyepakati kontrak sampai musim panas 2026 plus gaji sebesar 2 juta Euro per musim.

Pada musim 2020/2021, Maignan tampil cukup fantastis bersama Lille. Buktinya tersaji dengan melesatnya Les Dogues sebagai kampiun Ligue 1 dan menyetop dominasi tak tahu adat Paris Saint-Germain (PSG).

Kedatangan Maignan sendiri jadi isyarat jelas bahwa I Rossoneri sudah siap kehilangan Gianluigi Donnarumma secara gratis. Alih-alih berkubang pada drama berkepanjangan ekstensi kontrak Donnarumma yang diageni Mino Raiola, manajemen Milan memutuskan untuk menyudahi kerja sama.

Dilansir oleh banyak media, Raiola meminta kenaikan gaji (berkisar di angka 8-10 juta Euro) untuk kliennya sekaligus komisi lebih tinggi (20 juta Euro) bagi dirinya sendiri. Selama ini, hampir tiap dua musim sekali drama ekstensi kontrak kiper berusia 22 tahun tersebut menyeruak dan bikin Milanisti keki.

Sebetulnya, I Rossoneri sudah berusaha untuk memberi penawaran terbaik kepada Donnarumma. Namun berbelit-belitnya proses yang ada bikin pihak klub senewen dan akhirnya menggamit Maignan.

Apakah Maignan adalah sosok sepadan untuk menggantikan Donnarumma? Tak ada yang tahu. Namun kemampuan kiper setinggi 191 sentimeter ini layak buat diperhitungkan.

Dalam sejarahnya, tidak banyak kiper asal Negeri Anggur yang merumput di Serie A. Melimpahnya talenta asli Italia di posisi ini membuat klub-klub Negeri Pasta jarang mengandalkan stranieri untuk mengisi pos ini. Sebelum Maignan, baru ada tiga nama kiper asal Prancis yang bermain di Serie A.

Anthony Basso

Basso mendarat di kota Udine pada musim panas 2001. Usianya saat itu masih muda yakni 20 tahun. Hengkang dari Auxerre ke Udinese, Basso berharap mendapat kans bermain yang lebih banyak.

Nahas, harapan itu sirna karena sampai kontraknya habis, ia lebih banyak dipinjamkan ke klub-klub divisi bawah dan hanya tampil satu kali buat Le Zebrette. Realita itu membulatkan tekadnya untuk pindah ke Viking, klub Eliteserien (kasta tertinggi Liga Norwegia) pada tahun 2005.

BACA JUGA:  Beda Hakan Calhanoglu

Sebastien Frey

Frey datang ke Italia pada 1998 usai Inter Milan merekrutnya dari Cannes. Ia dijadikan pilihan ketiga setelah Gianluca Pagliuca dan Andrea Mazzantini. Saat nama kedua dilego, Frey pun naik pangkat jadi deputi utama Pagliuca. Sepanjang musim 1998/1999, Frey beroleh kesempatan main di tujuh pertandingan.

Ia lalu dipinjamkan ke Verona semusim berselang. Bermain dalam 30 laga bersama I Gialloblu, Frey membantu rival sekota Chievo Verona tersebut sintas di Serie A.

Begitu masa studinya di Verona kelar, Frey ditarik lagi oleh Inter dan langsung dijadikan kiper utama karena I Nerazzurri sudah menjual Angelo Peruzzi dan Marco Ballotta. Dengan performa yang cukup konsisten, Frey tampil di 38 partai lintas ajang selama musim 2000/2001.

Sayangnya, penampilan jeblok tim secara keseluruhan bikin Massimo Moratti gerah dan mengubah komposisi skuad tim yang dimilikinya jelang musim 2001/2002. Salah satunya dengan mencomot Francesco Toldo dengan banderol mahal dari Fiorentina.

Kedatangan Toldo bikin Frey masuk daftar jual. Dari sekian klub yang menginginkan jasanya, Frey memutuskan untuk menerima pinangan Parma.

Keputusan bergabung dengan I Ducali rupanya tepat. Di Stadion Ennio Tardini, Frey menjadi pilar utama di bawah mistar selama kurang lebih empat musim. Sosok yang gemar mewarnai rambutnya ini bahkan ikut berkontribusi atas titel Piala Italia yang didapat Parma pada musim 2001/2002.

Apes buat Parma, masalah ekonomi yang melanda mereka bikin Frey terpaksa dijual. Dana 6 juta Euro yang ditawarkan Fiorentina akhirnya disepakati Parma. Pria kelahiran Thonon-les-Bains ini pun resmi hengkang ke Stadion Artemio Franchi jelang musim 2005/2006.

Walau jadi figur pilar, momen bermain Frey di La Viola banyak diganggu cedera. Tercatat, ia pernah menderita cedera tulang kering, cedera lutut, sampai cedera Anterior Cruciate Ligament (ACL) yang memakasanya menepi beberapa bulan dari lapangan hijau.

Cedera yang disebut terakhir juga membuat Fiorentina tak memperpanjang kontrak Frey yang kedaluwarsa. Beruntung, Genoa menampungnya jelang musim 2011/2012 bergulir. Tak tanggung-tanggung, ia langsung disodori kontrak selama lima musim.

Akan tetapi, kiprahnya bareng I Rossoblu cuma bertahan dua musim karena Frey memilih pindah ke Turki untuk membela Bursaspor pada musim 2012/2013. Situasi ini sekaligus mengakhiri kariernya selama 15 musim di Serie A dengan mencatatkan 446 penampilan bersama lima kesebelasan.

BACA JUGA:  Perlunya Inter Mempermanenkan Alexis Sanchez

Alban Lafont

Portiere Prancis selanjutnya yang sempat mencicipi kerasnya Serie A adalah Lafont. Berstatus sebagai wonderkid, Lafont secara mengejutkan dicomot Fiorentina dari Toulouse seharga 8 Juta Euro.

Meski masih berusia 19 tahun saat didatangkan, pengalaman tiga musim sebagai starter bersama klub asal selatan Prancis itu bikin Lafont langsung dipercaya sebagai kiper utama La Viola. Pemain yang lahir di Burkina Faso ini tampil sebanyak 38 kali di Serie A dan Piala Italia sepanjang musim 2018/2019.

Potensi Lafont terlihat dengan mengukir 10 nirbobol dan serangkaian penyelamatan gemilang. Namun kelemahan Lafont dalam mengantisipasi umpan silang dan memotong bola membuat gawang Fiorentina tak sepenuhnya aman.

Pergantian pemilik Fiorentina ikut mempengaruhi nasibnya sehingga pada musim 2019/2020, Lafont dipinjamkan ke Nantes dengan klausul pembelian sebesar 7 Juta Euro yang belakangan diaktifkan oleh Nantes.

Kendati La Viola masih memiliki opsi pembelian kembali, performa gemilang Bartlomiej Dragowski di bawah mistar memperkecil peluang Lafont untuk kembali ke Fiorentina dalam waktu dekat.

Maignan datang ke Serie A berbekal penampilan apik bersama Lille usai lulus dari akademi PSG. Marcelo Bielsa menjadi pelatih pertama yang memberinya kesempatan unjuk gigi di tim utama Les Dogues. Christophe Galtier yang menggantikan Bielsa, rupanya tetap memberi kepercayaan kepada Maignan.

Tangan dingin Galtier berperan dalam peningkatan karier sosok keturunan Cayenne ini. Pemiliki 1 caps bersama tim nasional Prancis tersebut tidak tergantikan selama tiga musim terakhir dan mampu membayar kepercayaan sang pelatih dengan membuat 3,2 penyelamatan per laga serta menorehkan catatan 21 pertandingan tanpa kebobolan.

Modal gelar juara Ligue 1 memang bukan jaminan Maignan akan bersinar di Stadion San Siro. Namun setidaknya, Maignan punya potensi untuk menjawab kebutuhan Milan akan seorang kiper tangguh.

Siapa tahu juga, kelak Maignan bisa menjadi pilar andalan dan melegenda bareng I Rossoneri sekaligus membuat Milanisti lupa akan sosok Donnarumma.

Komentar
Menyukai sepakbola. Menggemari klub yang sudah tiada. Bisa disapa via akun Twitter @ramawombar