Mimpi-mimpi yang Terbang Melayang di Stadion Persijam

Ada anggapan klasik bahwa stadion itu seperti sebuah tempat ibadah. Stadion kerapkali dianggap sebuah identitas bagi sebuah klub, sama seperti agama dan tempat peribadatan, serta kecintaan terhadap klub yang mendorong anggapan-anggapan model ini muncul.

Namun bayangkan begini, bagaimana jika sebuah stadion hanyalah sebuah stadion. Stadion yang tak ada hubungannya (atau bahkan hilang) dengan klub sepak bola. Stadion yang tak ada tawa, tangis, umpatan, nyanyian, riuh ramai di dalamnya.

Stadion yang hanya berisikan tribun kosong, rumput-rumput yang tak terawat, atau lapangan yang tak lagi rata. Bayangkan, jika stadion tak lebih dari sebuah gedung, yang hanya menyajikan sebuah impian yang terlampau besar bagi orang-orang.

Dan itulah Persijam, stadion yang berlokasi di Kota Jambi. Nama ini diambil dari klub yang telah mati, Persijam (Persatuan Sepak Bola Indonesia Jambi). Stadion, yang sama sulit saya meraba sejarah dan kejayaan Persijam.

Mungkin pula ada satu atau pun dua hal yang tidak saya ketahui pada masa 2000-an, atau bahkan memang klub ini sudah mati bahkan sebelum masa itu pula. Namun yang jelas, stadion ini seakan mengamini sebuah frasa lama: hidup segan, mati tak mau.

Adalah stadion milik pemerintah provinsi, Stadion Tri Lomba Juang, yang menjadi sebab lainnya mengapa Stadion Persijam ini kian sepi. Semua pertandingan kelas atas di Provinsi, semisal pertandingan Piala Gubernur atau pun laga-laga Liga Pendidikan Indonesia hingga pertandingan Persisko dilaksanakan di sana.

Stadion ini pelan-pelan ditinggalkan dan tak lagi digunakan sebagaimana seharusnya stadion. Ia hanya menjadi sebuah training ground bagi SSB-SSB kacang gurem yang pelatihannya hanya mengandalkan latihan main dari hari ke hari.

Meski dengan realita demikian, bagi saya, stadion tetaplah sebuah stadion. Dalam kesunyian, anak-anak SSB ini selalu berusaha memimpikan hal-hal besar. Adalah sebuah kekaguman, bagi saya sendiri, mendengar bagaimana mereka mengatakan ingin mewakili Jambi, mungkin seperti sang legenda Bang Jon, di kemudian hari. Mimpi mereka, bak beberapa bait di chants West Ham, Forever Blowing Bubbles.

BACA JUGA:  Mandala Krida: Derak Roda Zaman

“They fly so high, nearly reach the sky

Then like my dreams they fade and die”

Stadion ini, mungkin bagi mereka, seperti akademi klub-klub idola nun jauh di Eropa sana. Mereka senang dilatih dan ditempa untuk menjadi pesepak bola yang baik.

Dan setelahnya, mmengesankan sang pelatih, adalah satu-satunya cara untuk naik ke level berikutnya. Sehingga mereka bisa dipanggil turnamen nasional dengan mewakili provinsi atas rekomendasi sang pelatih dan koneksi-koneksinya adalah harapan yang diinginkan oleh pemain-pemain ini.

Atau juga, sebagaimana percakapan basa-basi saya dengan keponakan yang bermain di SSB tersebut, ia kadang membayangkan pertandingan latih tanding di lapangan ini macam pertandingan kelas atas di Camp Nou, klub yang menjadi idolanya.

Dan hal tersebut, membuatnya berusaha mati-matian. Berharap ada scout Barcelona, yang menurutnya, tersebar di seluruh dunia itu menyaksikannya sehingga ia direkrut ke akademi La Masia dan menjadi Lionel Messi pada suatu masa.

Saya, menyaksikan mimpi-mimpi macam ini, hanya bisa mengamini. Saya paham betul bagaimana gejolak masa anak-anak dan mimpi yang terkadang tidak realistis. Mungkin pula, di masa nanti mimpi mereka akan mati seiring dengan tak mendukungnya keadaan Jambi sendiri untuk klub sepak bola, apalagi soal pembinaan pemain muda.

Namun, di diri saya sendiri, ada sebuah harapan bahwa semoga mimpi-mimpi dari bocah-bocah, yang seperti bola gelembung mereka, takkan pecah. Semoga, ada dari sekian banyak mereka yang bermimpi untuk menjadi pesepak bola profesional, ada satu-dua orang yang mampu mewujudkannya.

Karena, meski sangat utopis, ada sedikit keyakinan di hati ini bahwa ada satu dari sekian harapan yang menemui jalannya. Ada satu dari sekian bola gelembung, yang takkan pecah, sebelum ia berhasil ke angkasa.

BACA JUGA:  Kiprah Jawa Pos Mengembangkan Sepakbola Lokal

Dan tentu akan sangat menarik, saat satu harapan yang tercapai itu diwawancarai oleh seorang jurnalis dan ditanya dari mana ia memulai, ia menjawab “saya memulai dari stadion tak layak, namun memberikan harapan dan menjadi seperti sekarang. Stadion itu bernama Stadion Persijam.”

Ya. Semoga.

 

Komentar