Monchengladbach (3-1) Dortmund: Pressing Dortmund Terlalu Mudah Dilewati

Peluang Borussia Dortmund untuk merebut tiket ke Eropa musim depan semakin tertutup setelah menelan kekalahan saat melawat ke kandang Borussia Monchengladbach (Gladbach), Borussia Park, pada lanjutan Bundesliga akhir pekan lalu (11/4). Dortmund yang mampu sedikit mengimbangi permainan FC Bayern pada pekan sebelumnya, kemarin harus merelakan gawangnya dibobol Gladbach tiga kali.

Susunan pemain

1-susunan-pemain

Pada pertandingan ini, Lucien Favre kembali mengandalkan skema 4-4-2-nya. Yann Sommer mengawal gawang M.Gladbach di belakang Roel Brouwers dan Alvaro Dominguez yang berada di sentral pertahanan. Tony Jantschke dan Oscar Wendt menempati posisi fullback. Wendt yang menempati posisi fullback kiri kerap melakukan overlapping run sedangkan Jantschke yang berada di sisi kanan lebih berhati-hati dalam memposisikan dirinya.

Di posisi poros ganda (double pivot), Favre yang kehilangan Cristoph Kramer – karena suspensi – menduetkan Granit Xhaka dengan Harvard Nordtveit. Keduanya secara fleksibel memainkan peran no.6 dan no.8 secara bergantian namun Xhaka lebih sering berperan sebagai pemain no.6 sedangkan Nordtveit sebagai pemain no.8. Di posisi sayap, Patrick Hermann dan Fabian Johnson kembali menjadi andalan. Untuk posisi penyerang, Favre menduetkan Raffael dan Max Kruse. Kruse lebih banyak berlari ke arah channel (celah antara dua pemain lawan) sedangkan Raffael bergerak turun ke posisi no.10 untuk menghubungkan lini tengah dengan lini depan.

Sementara itu, Jurgen Klopp melakukan sejumlah perubahan dari susunan pemain yang diturunkannya saat menghadapi Bayern. Sebastian Kehl yang sebelumnya hanya duduk di bangku cadangan kini menemani Ilkay Gundogan sebagai double pivot. Kehl memainkan peran no.6 sedangkan Gundogan – yang pada pertandingan melawan Munchen lebih banyak memainkan peran no.6 – kembali memainkan peran no.8 yang merupakan spesialisasinya. Klopp yang kehilangan Marco Reus karena cedera memainkan Shinji Kagawa di posisi no.10 sedangkan Mkhitaryan menggantikan Kevin Kampl di posisi sayap kiri. Selebihnya merupakan pemain-pemain yang turun sebagai starting XI saat dikalahkan Bayern.

Sistem pressing Dortmund

Akar dari permasalahan yang dihadapi anak asuh Klopp pada pertandingan ini adalah sistem pressing yang mereka terapkan. Klopp menerapkan sistem pressing situasional dengan orientasi bola.

2-pressing-dortmund

Dortmund mengarahkan bola untuk diberikan ke area sentral sebelum menjebaknya dengan mengerumuni pemain yang membawa bola. Ketika bola berhasil direbut, posisi bola akan berada di tengah. Dengan demikian, pemain yang menguasai bola akan memiliki ruang dan opsi yang cukup dibandingkan dengan ketika berhasil merebut bola di sisi lapangan.

Terdengar brilian? Sayangnya tidak. Yang terjadi justru ketika Xhaka atau Nordtveit berhasil menerima bola, ruang dan opsi yang dimilikinya juga banyak. Gundogan dan Kehl sering berdiri terlalu jauh dari Xhaka maupun Nordtveit. Hal ini menyebabkan akses pressing ke keduanya sulit dijangkau, sehingga ketika Xhaka atau Nordtveit mendapatkan bola, mereka memiliki cukup waktu untuk mengambil keputusan. Selain itu, pressing dengan orientasi bola seperti ini menyebabkan mudahnya pemain-pemain Gladbach terlepas dari pengawasan.

BACA JUGA:  Bayer Leverkusen (2-0) FC Bayern: Pressing Brilian ala Roger Schmidt

3-granit-xhaka

Pada diagram di atas terlihat bahwa Granit Xhaka cukup leluasa dalam memberikan umpan-umpan vertikal dan diagonal dari area sentral. Hal tersebut menunjukkan betapa bebasnya ruang yang dimilikinya sepanjang pertandingan. Buruknya koordinasi dalam mengontrol ruang ini direpresentasikan dengan baik oleh gol kedua Gladbach yang dicetak oleh Raffael.

Dortmund mencoba menerapkan counterpressing ketika Max Kruse baru saja mendapatkan bola dari kemelut di lini belakang. Karena posisi Gundogan dan Kehl yang terlalu maju, Mats Hummels mau tak mau harus menerjang ke depan untuk menutup ruang dan waktu yang dimiliki Max Kruse. Gundogan dan Kehl pun kemudian bergerak mundur menuju bola.

Namun, Mkhitaryan yang berada di lokasi counterpressing justru diam membiarkan Patrick Hermann berdiri tidak terkawal. Hermann yang mendapatan bola dari Max Kruse berhasil melewati Hummels yang maju terlalu jauh dan beberapa pemain lainnya hingga berhadapan 1vs1 melawan Weidenfeller sebelum akhirnya memberikan bola ke Raffael yang berdiri lebih bebas.

Absennya Reus dan Sahin merupakan kehilangan besar

Pada pertandingan ini, selain kehilangan Marco Reus, Klopp juga kehilangan Nuri Sahin. Seberapa signifikan absennya kedua pemain tersebut? Mari kita lihat bagaimana Gladbach melakukan pergerakan tanpa bola.

5-kehilangan-besar

Lucien Favre menerapkan sistem pressing situasional dengan orientasi posisi. Setiap pemain akan bertanggung jawab untuk meng-cover ruang tertentu berdasarkan posisinya namun dengan mempertahankan kerapatan secara vertikal (ruang antar lini) dan horizontal (jarak antar pemain dalam satu lini). Ketika bola berada di sisi kiri lapangan, maka Hermann dan Jantschke akan bergerak merapat ke tengah untuk mempertahankan kerapatan horizontal. Ketika bola berpindah ke sisi kanan, maka Hermann dan Jantschke akan bergerak kembali ke kanan dengan cepat sedangkan Wendt dan Johnson akan merapat ke tengah.

Pada babak pertama, Dortmund kesulitan untuk menemukan ruang antar lini. Kagawa dan Mkhitaryan yang kesulitan menemukan ruang efektif akhirnya cenderung untuk menghindari ruang antar lini yang terlalu sempit. Umpan-umpan yang mereka lakukan dari zona 14 cenderung horizontal dan aman. Hal ini juga diperburuk oleh kecenderungan Gundogan untuk memainkan umpan-umpan horizontal yang aman. Di sinilah kemampuan seorang Marco Reus dalam bergerak di ruang sempit serta kecemerlangan Nuri Sahin dalam memberikan distribusi bola sangat dibutuhkan.

6-pemain-kunci

Selain absennya kedua pemain kunci tersebut, produk akhir dari pergerakan Marcel Schmelzer juga menjadi sorotan utama. Sistem zonal marking yang diterapkan Lucien Favre sebenarnya meninggalkan sedikit celah yaitu ketika bola berpindah dengan cepat dari sisi kiri ke sisi kanan, Jantschke cukup lambat untuk segera meng-cover areanya. Beberapa kali Schmelzer dengan sangat baik mampu bergerak mengeksploitasi ruang yang kosong ini. Namun sayangnya, distribusi bolanya ke kotak penalti sangat buruk. Dari delapan kali percobaan, tak ada satupun umpan silang Schmelzer yang akurat.

BACA JUGA:  Kecerdikan Potter Bawa The Blues Puncaki Klasemen Grup E di UCL

Perubahan di babak kedua

Setelah turun minum, Klopp mencoba mengubah skema dengan beralih ke 3-4-3/3-4-2-1. Sokratis yang semula bermain sebagai fullback kanan berpindah sebagai halfback kiri. Kuba sebagai wingback kanan, sementara di sisi yang berseberangan Schmelzer bermain sebagai wingback kiri. Kagawa dan Mkhitaryan bermain sebagai inside forward dengan Aubameyang sebagai penyerang tunggal.

Sistem pressing yang diterapkan masih berupa situasional dengan orientasi akses. Skema 3-4-3 tampaknya memang sangat mendukung penggunaan pressing dengan orientasi akses karena banyaknya pemain yang bergerak ke area yang lebih agresif. Selain itu, skema ini memang membutuhkan pressing yang dilakukan secara kontinu untuk menutupi berkurangnya pemain di barisan terkahir. Ketika tim lawan berhasil mengontrol ritme permainan, maka skema 3-4-3 akan memiliki banyak celah yang dapat dieksploitasi seperti yang dipergakan oleh Manchester United dan Arsenal ketika mengalahkan Liverpool.

7-babak-kedua

Kehl dan Gundogan yang sebelumnya tampak ragu-ragu untuk menutup ruang di depan mereka didorong ke posisi yang lebih agresif ketika Gladbach menguasai bola. Kagawa dan Aubameyang dapat memposisikan diri mereka lebih baik untuk menempatkan Xhaka dan Nordtveit dalam bayang-bayang mereka sehingga akses bola ke keduanya sulit didapat. Ketika bola dapat diumpankan kepada kedua gelandang sentral ini maka keduanya akan menerima tekanan yang cukup besar.

8-granit-xhaka

Pada diagram di atas tampak bahwa umpan-umpan yang dilakukan Xhaka di babak kedua lebih banyak berupa umpan panjang yang dipaksakan karena adanya tekanan yang besar. Bahkan, jumlah umpan gagalnya pun meningkat drastis dibandingkan pada babak pertama.

Dengan berpindahnya Klopp ke skema 3-4-3 ini bukan berarti timnya lepas dari masalah. Skema tiga bek akan meninggalkan ruang yang cukup lebar di barisan belakang terutama antara halfback dengan wingback. Hal ini terlihat jelas ketika Adrian Ramos masuk menggantikan Kagawa. Pemosisian dirinya untuk menutup akses bola ke area sentral tidak cukup baik sehingga beberapa kali Gladbach dapat melewati pressing yang diterapkan anak asuh Klopp dan melakukan serangan balik dengan umpan-umpan yang diarahkan langsung ke channel.

Buruknya koordinasi saat bertahan dalam situasi setpiece mengubur mimpi Dortmund untuk membalikkan keadaan. Dua kekalahan beruntun yang dialami Dortrmund ini tentu saja memunculkan kembali pertanyaan apakah Klopp sudah benar-benar membenahi timnya. Buruknya koordinasi saat melakukan pressing dalam dua pertandingan terakhir ini menunjukkan masih ada beberapa hal yang harus terus dibenahi Klopp. Sementara itu, bagi Lucien Favre kemenangan ini merupakan poin yang sangat berharga. Kemenangan ini semakin mengokohkan posisi mereka di peringkat tiga klasemen.

 

Komentar