Oriundo Pesanan Mussolini

Nama Marco Scaglia dan Luciano Benetti akan selamanya menjadi catatan kaki dalam buku besar sejarah manusia, akan tetapi, apa yang mereka perbuat di Montevideo, Uruguay, pada tanggal 30 Juli 1930 akan membawa kita kepada sebuah momen besar dalam sejarah sepak bola. Dua pria Italia ini menyamar menjadi suporter Uruguay dan membaurkan diri dalam kerumunan besar berjumlah (kurang lebih) 80.000 orang di Stadion Centenario. Mereka bukan turis yang hanya sekadar ikut serta dalam euforia partai final Piala Dunia pertama antara tuan rumah Uruguay dan Argentina. Lebih dari itu, mereka adalah dua orang agen rahasia dari Brigade Baju Hitam Mussolini.

Ada dua tugas yang dibebankan kepada Scaglia dan Benetti oleh Il Duce pada hari itu. Tugas pertama adalah memata-matai empat pemain Argentina berdarah Italia yang diproyeksikan oleh rezim fasis Mussolini untuk menjadi legiun oriundi Italia di Piala Dunia 1934. Empat pemain tersebut adalah Guillermo Stabile, Francisco Varallo, Carlos Peucelle, dan sang bintang terang, Luis Monti. Pada masa itu, aturan soal bermain untuk lebih dari satu negara di ajang internasional masih membolehkan seorang pemain melakukan hal tersebut.

Tugas kedua adalah membuka jalan bagi para pemain tersebut agar bersedia pindah ke Italia dan memperkuat negara tempat leluhur mereka dilahirkan di Piala Dunia berikutnya. Mussolini ingin agar Scaglia dan Benetti memastikan kekalahan Argentina pada pertandingan tersebut. Dengan kekalahan tersebut, diharapkan rezim Mussolini akan lebih mudah dalam membujuk mereka agar bersedia membela panji Gli Azzurri. Segala cara dilakukan, dan seperti yang sudah dapat diperkirakan, rezim fasis Italia menggunakan cara khas mereka: mengirim teror kematian.

Luis Monti adalah pemain Argentina paling menonjol saat itu. Ia adalah pengoleksi empat gelar kompetisi domestik bersama Huracan dan San Lorenzo. Selain itu, ia juga merupakan anggota tim nasional (timnas) Argentina yang menjuarai kejuaraan Amerika Selatan tahun 1927 dan timnas Argentina yang meraih medali perak Olimpiade Amsterdam 1928. Reputasi Monti telah dibuktikannya lewat berbagai gelar tersebut, dan Piala Dunia 1930 adalah kesempatan besar bagi Monti untuk mematri namanya dalam sejarah sepak bola dunia.

Bermain sebagai centre-half, Monti adalah konektor antara lini belakang dengan lini depan tim. Posisi ini memungkinkan Monti untuk mengover area permainan secara luas. Atas keahlian ini, ia mendapat julukan Doble Ancho atau Double Wide. Kemampuan defensifnya setara dengan kemampuan ofensifnya. Tekelnya dikenal sangat keras, tetapi aspek defensif tersebut tidak mengurangi kemampuan ofensif Monti untuk menginisasi serangan dari belakang. Bukti nyata dari kemampuan ofensif ini adalah ketika ia mencatatkan diri sebagai pencetak gol pertama Argentina di Piala Dunia dalam pertandingan melawan Perancis (15 Juli 1930) yang dimenangi Argentina dengan skor 1-0.

Sebagai bintang yang bersinar paling terang di skuat Argentina, Monti menjadi target utama Italia. Terlebih, kemampuan Monti dianggap sebagai kepingan puzzle yang hilang dari formasi Metodo ala Vittorio Pozzo. Formasi Metodo ini merupakan pengembangan dari formasi 2-3-5 yang menjadi tren arus utama kala itu. Pozzo menarik dua dari lima penyerangnya lebih ke dalam untuk memperkuat lini tengah. Monti diproyeksikan untuk menginisiasi serangan Italia tepat dari depan dua palang pintu pertahanan; mirip dengan apa yang dilakukan Andrea Pirlo saat ini.

Proyek Mussolini memang ambisius. Tak tanggung-tanggung, untuk memastikan kekalahan Argentina pada laga final tersebut, Il Duce meminta Scaglia dan Benetti untuk mengirimkan ancaman kepada skuat Argentina. Monti, sebagai pemain paling diinginkan, mendapat ancaman khusus yang lebih personal. Ancaman yang diterima Monti adalah bahwa jika Argentina “gagal kalah” hari itu, entah ia atau ibunya akan mati. Situasi ini benar-benar sanggup menciptakan teror di skuat Argentina. Mereka turun ke lapangan hari itu dengan pikiran nanar dan keengganan luar biasa.

Babak pertama berakhir dengan keunggulan Argentina 2-1 atas tuan rumah. Carlos Peucelle dan Guillermo Stabile mencetak gol pada menit ke-20 dan ke-37 setelah Uruguay unggul terlebih dahulu pada menit ke-12 lewat kanan luar, Pablo Dorado. Ketika turun minum, skuat Argentina benar-benar dilanda ketakutan. Luis Monti, pemain yang mendapat ancaman paling hebat, menangis sesenggukan di ruang ganti. Siapa yang ingin kalah di final Piala Dunia? Tetapi, siapa pula yang rela mengorbankan nyawa keluarganya demi sebuah kemenangan?

Babak kedua adalah paradoks sempurna untuk Argentina. Mereka akhirnya kalah setelah kemasukan tiga gol dari Pedro Cea (57’), Santos Irairte (68’), dan Hector Castro (89’). Namun, meski kalah, mereka berhasil memenangi perjudian dengan maut. Mereka selamat dari intervensi laknat rezim Mussolini, walaupun sekembalinya di Argentina, keadaan ternyata menjadi tidak bersahabat bagi mereka. Kekalahan tersebut membuat mereka menjadi bulan-bulanan publik. Pers menjadi aktor antagonis utama yang menyudutkan para pesepak bola malang tersebut.

Rencana besar rezim Mussolini berhasil. Situasi semacam itu membuat mereka semakin bersemangat untuk membujuk Monti. Dikisahkan, Scaglia dan Benetti mendatangi Monti dan menawarkan segala kemewahan yang bisa ia dapatkan di Italia. Sekadar informasi, sepak bola profesional belum dikenal pada masa itu di Argentina. Jadi, selain menjadi pesepak bola, Luis Monti juga bekerja sebagai pegawai negeri sipil. Scaglia dan Benetti menyampaikan bahwa di Italia, ia bisa mendapatkan penghasilan sampai 5000 dolar per bulan–belum termasuk rumah, mobil dan hadiah-hadiah lainnya. Sementara itu, di Argentina, penghasilannya hanya mencapai 200 dolar per bulan.

BACA JUGA:  Jejak Arab Hadrami dalam Persepakbolaan Indonesia

Tawaran itu masih ditambah dengan informasi dari Scaglia dan Benetti bahwa ada seorang pejabat teras dari sebuah klub besar Italia yang ingin bertemu Monti secara langsung. Belakangan diketahui bahwa pejabat klub tersebut adalah pejabat Juventus yang konon dikirim langsung oleh Mussolini, karena klub Monti di Italia kelak adalah Juventus. Monti mendapat dua iming-iming sekaligus: penghidupan yang lebih baik dan kesempatan berprestasi yang lebih luas. Ditambah dengan kemarahannya terhadap respons publik Argentina yang ia anggap tidak menghargai para pahlawannya, Monti segera mengiyakan tawaran dari Italia tersebut.

Pada 1 Agustus 1931, Luis Monti akhirnya menginjakkan kaki di tanah Italia. Kota yang pertama kali dilihatnya di negeri semenanjung itu adalah Genoa. Dari Genoa, Monti yang cukup lama absen bermain sepak bola dan mengalami kelebihan berat badan, segera menuju ke Turin untuk bergabung dengan Juventus. Ia tidak langsung bermain karena pelatih Carlo Carcano memberinya porsi latihan khusus untuk menurunkan berat badan. Akhirnya, hanya dalam 10 hari, Monti berhasil menurunkan berat badannya hingga 12 kilogram. Sejak saat itu, Monti menjadi seseorang yang sangat takut gemuk. Kelak, ia bahkan tidak pernah membeli mobil dan memutuskan untuk berjalan kaki ke mana pun ia pergi.

Karier Monti di Italia berjalan sesuai harapan. Juventus, pada saat itu merupakan kekuatan dominan di liga. Hingga pensiun pada musim 1938/39, Monti berhasil membawa Juventus meraih empat gelar liga (1931/32, 1932/33. 1933/34, dan 1934/35) serta satu Coppa Italia (1937/38). Kemudian, mulai musim 1935/36 hingga pensiun, Monti menjadi kapten Juventus menggantikan Virginio Rosetta. Peran Monti memang sangat krusial di Juventus kala itu dan penampilan apik di level klub ternyata sanggup dibawanya ke level timnas.

Debut Monti untuk timnas Italia terjadi pada 27 November 1932 di pertandingan melawan Hungaria yang dimenangi Italia 4-2. Dua tahun kemudian, Piala Dunia 1934 yang kontroversial itu pun digelar dan Monti bersiap untuk memenuhi takdirnya sebagai salah satu juara dunia sepak bola. Piala Dunia ini benar-benar menjadi ajang pembuktian bagi Monti bahwa ia adalah seorang legenda. Hampir semua gelar di dunia sepak bola sudah ia menangi, dan Piala Dunia adalah sebuah keharusan baginya. Apalagi, mengingat cerita empat tahun sebelumnya di Uruguay, tim Monti kalah bukan karena mereka tidak mampu.

Piala Dunia 1934 merupakan Olimpiade Berlin-nya rezim Mussolini. Di sinilah diktator kelahiran 1883 itu benar-benar menunjukkan maksud propagandanya kepada dunia. Sejarawan asal Inggris, John Foot, yang juga penulis buku Calcio: A History of Italian Football mengatakan bahwa memisahkan sepak bola dengan politik di Italia adalah hal yang mustahil. Foot juga menambahkan bahwa Mussolini sadar betul soal efek positif yang bisa ia dapatkan bagi rezimnya melalui sepak bola.

Benito Mussolini memang tidak pernah main-main. Dalam bidding yang dilakukan dua tahun sebelumnya di Stockholm, Swedia, Mussolini mengutus orang kepercayaannya untuk melobi Presiden FIFA, Jules Rimet sehingga pergelaran akbar tersebut bisa diselenggarakan di Italia. Semua hal yang berkaitan dengan penyelenggaraan Piala Dunia ini dilakukan secara mendetail dan serius. Dalam suatu kesempatan, Jules Rimet bahkan sempat berkata, “FIFA tidak mengatur pergelaran ini (Piala Dunia 1934), ia (Mussolini)-lah yang melakukannya.”

Piala Dunia ini memang mengundang kritik dan kecaman dari banyak pihak. Uruguay menolak untuk turut serta di Italia 1934. Konon, hal tersebut mereka lakukan sebagai balasan atas keengganan Italia untuk turut serta pada Piala Dunia 1930. Uruguay kabarnya juga mengajak Argentina dan Brasil untuk memboikot Piala Dunia 1934 ini, namun ajakan tersebut tampaknya kurang berhasil. Diselimuti kontroversi dan kecaman, ternyata tidak membuat Mussolini menyembunyikan apa-apa. Secara terang-terangan, ia mengatur Piala Dunia ini agar dimenangi oleh Lo Nazionale.

Bagi timnas Italia sendiri, Piala Dunia 1934 adalah sebuah beban tersendiri. Pertama, ini adalah Piala Dunia debut mereka. Kedua, debut ini diselenggarakan di negeri sendiri yang artinya, tuntutan publik akan sangat besar. Terakhir, Piala Dunia ini adalah piala pesanan Mussolini. Fatal akibatnya jika mereka sampai gagal dalam turnamen ini. Meski begitu, para pemain turun berlaga dengan optimisme tinggi. Mereka percaya bahwa mereka memiliki skuat yang berkualitas dan siap untuk merengkuh trofi juara.

Piala Dunia ini seakan memang didesain sebagai ajang unjuk gigi bagi Luis Monti. Dalam pertandingan semifinal melawan Austria, Monti berhasil menunjukkan permainan terbaiknya. Austria, pada masa itu merupakan tim yang sangat berbakat dan disegani. Tim arahan Hugo Meisl ini memainkan sepak bola indah dan mampu memelopori penggunaan false nine yang ramai dibicarakan dewasa ini. Adalah Mathias Sindelar atau Si Manusia Kertas yang menjadi tumpuan skuat Meisl.

BACA JUGA:  Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Pertama)

Pada pertandingan tersebut, Sindelar dibuat tak berdaya oleh Monti. Secara taktikal, kedua pemain ini memang diharuskan bentrok dan bentrokan ini secara mutlak dimenangi oleh sang oriundo. Italia menang tipis 1-0 atas Austria. Penampilan brilian Monti dan Italia secara umum pada partai semifinal ini seolah menghapus skeptisisme publik yang mengatakan bahwa mereka tidak layak berada di semifinal. Penyebabnya adalah, pada pertandingan perempatfinal kontra Spanyol, Italia secara terang-terangan menunjukkan keberpihakan korps wasit terhadap mereka. Permainan kasar tim Italia pada babak perempatfinal seperti tidak pernah terdeteksi indera penglihatan wasit yang bertugas kala itu.

Akhirnya, babak final yang ditunggu-tunggu pun tiba. Italia akan meladeni tim penuh talenta namun kurang berpengalaman, Cekoslowakia yang sebelumnya mengalahkan Jerman. Partai puncak yang diselenggarakan di Roma tersebut sudah disiapkan untuk menjadi pesta bagi kemenangan fasisme Italia. Mussolini sendiri turun tangan langsung untuk memastikan bahwa timnya tidak akan kalah. Sebelum pertandingan, Il Duce memasuki ruang ganti pemain untuk menyampaikan sebuah pidato penyemangat bernada mengancam. Pidato tersebut diakhiri dengan gestur memotong leher untuk meyakinkan anggota tim bahwa mereka benar-benar tidak akan selamat jika sampai kalah.

Babak pertama berakhir imbang tanpa gol. Pada masa jeda turun minum, Vittorio Pozzo menerima sebuah memo yang bertuliskan:

Anda bertanggungjawab atas kesuksesan ini, tetapi jika Anda gagal, biar Tuhan yang membantu Anda.”

Ancaman semacam ini memang sangat khas rezim otoritarian seperti milik Mussolini dan Pozzo tahu, Mussolini tidak menggertak. Pozzo kemudian memberi instruksi kepada para anggota timnya untuk berusaha sekuat mungkin untuk memenangi pertandingan.

Babak kedua menjadi sebuah adegan thriller bagi para penonton di stadion. Ketika babak kedua hanya tersisa 20 menit, Antonin Puc, kanan luar Cekoslowakia menggetarkan gawang Giampiero Combi. 1-0 Cekoslowakia unggul. Situasi ini direspons dengan sangat apik oleh Italia. Sepuluh menit kemudian, Raimundo Orsi, yang juga seorang oriundo, berhasil menyamakan skor. Pertandingan waktu normal berakhir dengan skor imbang 1-1. Pertandingan pun memasuki masa perpanjangan waktu dan tidak butuh waktu lama bagi Italia untuk memastikan kemenangan. Lima menit perpanjangan waktu berjalan, penyerang legendaris Bologna, Angelo Schiavio, berhasil mencetak gol yang memastikan kemenangan Italia.

Begitu peluit akhir dibunyikan, seisi stadion bersorak. Italia berhasil menjadi juara dunia di negeri sendiri. Piala Jules Rimet berhasil diamankan di lemari trofi Italia. Prestasi ini, bagi Luis Monti, meskipun harus dibayar cukup mahal, adalah sebuah capaian yang layak. Ia sudah berhasil memenuhi takdirnya untuk menjadi seorang juara dunia dan setelah gelar juara tersebut, Monti berkata bahwa saat itu ia (dan rekan-rekan setimnya) menjadi orang-orang yang hidupnya paling menyenangkan di Italia. Segalanya dapat mereka raih pada saat itu, mulai dari ketenaran, harta, sampai dengan jaminan keamanan.

Kiprah Monti tidak selesai sampai di Piala Dunia. Pada 14 November 1934, Italia memainkan pertandingan pertamanya setelah menjadi juara dunia. Kali ini, lawannya adalah Inggris, yang pada saat itu menolak untuk ikut serta di Piala Dunia karena merasa lebih hebat dibanding negara-negara lainnya. Pertandingan diselenggarakan di Highbury, kandang Arsenal. Pada pertandingan yang kelak disebut sebagai The Battle of Highbury tersebut, Monti berhasil menjadi pembeda, walau kali ini dalam konotasi yang kurang menyenangkan.

Ketika itu, pertandingan baru berusia dua menit saat Luis Monti dan penyerang Inggris asal klub Arsenal, Ted Drake, berduel memperebutkan bola. Sial bagi Monti, kakinya patah dan ia tidak dapat melanjutkan pertandingan. Pada masa itu, pergantian pemain belum diperkenalkan, sehingga Italia harus bermain dengan 10 orang selama 88 menit. Kalah jumlah dan harus tertinggal tiga gol pada lima belas menit pertama, Italia kesulitan menandingi Inggris meski sempat memperkecil ketertinggalan lewat dua gol Peppino Meazza. Italia harus mengakui keunggulan Inggris dengan skor 3-2 saat peluit akhir dibunyikan.

Setelah pertandingan keras di Highbury tersebut, Monti masih bermain untuk Italia sampai dua tahun ke depan dan untuk Juventus sampai lima tahun ke depan. Total, ia bermain sebanyak 18 kali (1 gol) untuk Italia dan 225 kali (20 gol) untuk Juventus. Setelah pensiun dan mematenkan status legenda sebagai pemain, Monti memutuskan untuk menjadi pelatih. Profesi ini dijalaninya sampai tahun 1950. Selepas 1950, ia memutuskan untuk benar-benar berhenti dari hingar bingar sepak bola sampai meninggal pada tahun 1983.

Cerita Luis Monti ini adalah sebuah pembelajaran bagi generasi kekinian. Sepak bola dan politik sejatinya tidak pernah bisa benar-benar berpisah. Meskipun kedua hal ini seringkali menjalani hubungan terlarang, namun tak jarang, hubungan terlarang ini menghasilkan buah yang manis. Rezim fasis Mussolini jelas memiliki banyak dosa, tetapi kengototan mereka untuk melakukan propaganda lewat sepak bola ternyata membawa buah manis bagi Calcio sendiri baik secara langsung maupun tidak langsung, dan sadar maupun tidak sadar.

*) Tulisan ini pernah tayang di situs web Football Fandom yang lama. Ditayangkan kembali setelah mengalami proses penyuntingan ulang.

 

Komentar
Punya fetish pada gelandang bertahan, penggemar calcio, dan (mencoba untuk jadi) storyteller yang baik. Juga menggemari musik, film, dan makanan enak.