Peran Analis dalam Tim Sepakbola

Analis merupakan “mata tambahan” bagi pelatih dalam menentukan strategi dan taktik serta penyedia informasi terkait pembangunan tim, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Kewajiban secara umum

Diagram di atas merupakan penyederhanaan rantai komando sebuah tim dalam merespon pertandingan dalam kaitannya dengan kebutuhan strategi, taktik, analisis, dan latihan.

Pelatih menentukan persiapan untuk pertandingan(-pertandingan) berikutnya berdasarkan: (1) apa yang pernah terjadi di masa lalu dan (2) prediksinya terhadap pertandingan berikutnya.

Analis merupakan penyedia jasa yang bertugas membantu pelatih memfokuskan masalah, menemukan pemecahan masalah, dan, karenanya, masukan-masukannya harus memiliki nilai tambah atau, setidaknya, tidak “salah kamar” (akan dijelaskan nanti).

Sebagai penyedia jasa dan pemberi masukan, analisis harus mampu menyampaikan kesimpulan teori berdasarkan premis-premis.

Misalnya, sebuah analisis harus mampu menyimpulkan proses sebuah tembakan tepat sasaran oleh tim A dengan “menarik mundur” alur kejadian mulai dari tembakan dilakukan, fase penciptaan peluang, struktur progres, dan bentuk build up tim A yang dikaitkan dengan pressing blok tinggi, komunikasi taktik, dan blok rendah tim B.

Yang juga sebaiknya diingat dan dipahami, dalam perannya sebagai penyedia informasi, seorang analis harus memahami apa dan bagaimana bentuk laporan yang mudah dipahami oleh klien.

Laporan analis diberikan kepada pelatih yang berarti ada orang lain yang mengaksesnya. Mengetahui cara berpikir pelatih dapat membantu analis membuat laporan yang mudah diakses.

Ada yang memilih deduksi dalam membedah masalah dan ada yang lebih memilih metode induksi. Ada orang yang lebih mudah mengingat ketika bagian-bagian esensi dari sebuah tulisan diberikan penanda khusus (warna, lingkaran, garis bawah, dan sebagainya) tetapi ada juga orang yang lebih suka tampilan monokrom.

Memahami cara berpikir orang lain sama dengan menemukan cara tercepat dan efektif untuk klik dengan lawan bicara. Hal ini bukan hanya sangat dapat menghemat waktu tetapi sangat mungkin membuka subtopik diskusi lain yang bernilai positif terhadap perkembangan tim secara keseluruhan.

Latihan sebagai bagian tak terpisahkan

Pertanyaan tentang perlu-tidaknya seorang analis ikut menganalisis latihan menjadi salah satu topik menarik. Di dalam Konferensi Nasional Statistik 2017 di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), salah satu peserta melontarkan pertanyaan tentang perlunya menganalisis latihan.

Pendek saja, jawabannya adalah perlu. Sangat perlu.

Latihan merupakan media yang didesain untuk membantu pemain memahami model permainan. Sebaliknya, latihan juga merupakan alat bagi pelatih untuk mengevaluasi serta menentukan model permainan.

Dalam kaitannya dengan persiapan menghadapi pertandingan terdekat, latihan merupakan media untuk menguji serta menentukan strategi dan taktik.

Menentukan parameter spesifik diperlukan untuk menilai sesi latihan yang didesain dengan target spesifik – meliputi durasi, intensitas, volum, kewajiban pemain, dan lain-lain. Parameter(-parameter) spesifik inilah yang digunakan sebagai salah satu alat untuk mengevaluasi latihan.

Contoh, bila pelatih membatasi satu sentuhan bagi pemain di posisi tertentu, akan sangat baik bila semua aksi si pemain dapat dianalisis. Bagaimana ia menerima bola membelakangi lawan dan seberapa cepat ia memanipulasi pressing sebelum melepaskan umpan ke lokasi tertentu.

Untuk mendukung premis dan kesimpulan terkait, analis dapat menyediakan analisis kualitatif yang dibarengi dengan analisis kuantitatif berisikan angka-angka spesifik terkait aksi-aksi si pemain.

Satu bahasa

Satu bahasa merupakan faktor wajib. Analis, pelatih, dan pemain harus menemukan bahasa atau istilah yang sama sebelum dapat benar-benar bekerja sebagai sebuah tim.

Dalam level praktis (analis yang melakukan presentasi atau sedang dalam diskusi taktik) kesamaan bahasa adalah mutlak. Karenanya, sampai batas ini, menggunakan kalimat yang mudah dipahami, walaupun panjang, masih sangat dapat dimaklumi.

Namun, bila mengacu ke bagaimana mempercepat proses komunikasi di antara semua elemen tim, penggunaan istilah yang tepat (dan dipahami bersama) akan sangat membantu terutama dalam menghemat waktu dan tenaga yang terpakai.

Di Jerman dan komunitas taktik Twitter maupun Fandom, istilah half space merupakan sesuatu yang sangat jamak digunakan. Hal yang berbeda ditemui di Spanyol dan Inggris.

BACA JUGA:  Analisis Chelsea 1-3 Liverpool: Build-up dan Pressing Liverpool, Celah Antarlini Chelsea, dan Christian Benteke

Di Spanyol, penggunaan half space (dalam bahasa Spanyol, tentunya) tidak atau mungkin sangat jarang ditemukan di dalam kursus-kursus kepelatihan. Karenanya, half space termasuk sesuatu yang baru. Di Inggris, hal serupa terjadi. Baru tahun 2017 ini jurnalis-jurnalis Inggris menggunakan istilah half space.

Bahkan, ketika Jurgen Klopp diwawancarai oleh Jamie Carragher di Monday Night Football dan Klopp melontarkan kata half space, terlihat sedikit kebingungan di wajah Carragher. Kenapa? Karena, nampaknya, Carragher belum familiar dengan istilah ini.

Moral cerita dari kisah di atas adalah perbedaan budaya dan referensi pengetahuan sangat bisa membuat isi pikiran dua orang sangat berbeda. ini bukan hanya terjadi dalam lintas negara tetapi sangat mungkin terjadi dalam sebuah klub yang berisikan orang-orang dari negara yang sama.

Untuk menjembatani perbedaan seperti ini, menyamakan persepsi dan menyamakan bahasa sepakbola dapat mempercepat mengubur jurang perbedaan.

Spoiler!!

Memahami betapa bahasa sepakbola merupakan elemen penting bukan hanya bagi dunia profesional tetapi juga bagi pencinta sepakbola, fandom.id sedang menggodok sebuah buku yang berisikan istilah-istilah taktik, statistik, dan latihan disertai penjelasan konseptual, contoh praktis, dan contoh ilustratif yang didukung oleh teori-teori dari berbagai pakar dan praktisi. Buku yang sedang dalam tahap penyelesaian akhir ini diperkirakan sudah dapat dirilis pada Desember 2017 atau paling lambat Januari 2018.

Pengetahuan sepakbola bagi analis

Pengetahuan yang memadai dan up date membantu seorang analis untuk memahami dinamika pertandingan. Memahami teori-teori sepakbola bukan segalanya tetapi dalam banyak hal, memahami teori dapat mempercepat pembacaan dan analisis momen aksi. Perhatikan diagram di bawah.

Pengetahuan sepakbola memadai

Kata kuncinya adalah pengetahuan memadai. Analis tidak harus menjadi seorang teoris top seperti Profesor Jean Francois Grehaigne, Marcelo Bielsa, dan Juanma Lilo yang terkenal filosofis, atau praktisi hebat seperti Pep Guardiola, Leonardo Jardim, dan Jose Mourinho.

Tentu saja, memiliki kemampuan selevel pakar membuat analis memiliki kedalaman dan keluasan pengetahuan. Namun, yang ditekankan di sini adalah perlunya analis memiliki pengetahuan sepakbola agar (1) ia nyambung saat berdiskusi taktik dengan pelatih, (2) teori yang disampaikannya memiliki dasar-dasar yang dapat dipertanggung jawabkan, dan (3) seperti yang diperlihatkan dalam diagram di atas, mampu “mengontrol” kedinamisan pertandingan.

Pengetahuan sepakbola dan kemampuan mensintesis bukan hanya diperlukan dalam persiapan maupun evaluasi sesudah pertandingan. Kemampuan seorang analis juga diperlukan dalam evaluasi berkelanjutan terhadap setiap pemain maupun evaluasi model permainan itu sendiri yang nantinya digunakan sebagai dasar mengambil keputusan terkait rencana jangka panjang (seperti rencana tengah musim atau rencana mendatangkan pemain baru musim selanjutnya).

Pengetahuan sepakbola seorang analis juga mencakup kemampuan si analis dalam memahami model permainan dalam pengertian umum – termasuk model permainan yang sedang tren maupun model permainan spesifik setiap tim.

Pendeknya, analis harus ngelontok (betul-betul paham) model permainan yang mencakup kelebihan maupun keterbatasan setiap model. Dengan memahami model permainan, analis dapat menghindarkan diri dari analisis yang “salah kamar” atau salah kaprah.

Contoh ekstrem salah kaprah adalah analis yang mengatakan tim A tidak menguasai pertandingan karena (1) melepaskan umpan jauh terlalu banyak dan (2) penguasaan bolanya hanya 41% tanpa mengevaluasi model permainan tim tersebut.

Teori di analis di sini menjadi salah kalau ternyata build-up tim A sengaja dilakukan menggunakan umpan-umpan jauh menyasar ke sepertiga akhir. Contoh tim yang menggunakan model permainan serupa adalah RasenBallsport  Salzburg (RB Salzburg) dan RB Leipzig.

Serangan Salzburg ke sepertiga awal Ajax Amsterdam

Bola panjang dari lini belakang Salzburg diarahkan kepada Joel Veltman, bek Ajax. Sebelum Veltman mampu menyundul dengan nyaman, Jonathan Soriano mengganggunya.

BACA JUGA:  Chelsea (1-0) Crystal Palace: Konsistensi Boring, Boring Chelsea Demi Gelar Juara

Di lini paling belakang dari overload Salzburg, keempat pemain tim tamu bersiap melakukan pressing secepatnya (gegenpressing) bergantung pada lokasi jatuhnya bola hasil sundulan Veltman. Seperti yang ditunjukan oleh foto di atas, bola sundulan Veltman jatuh di lokasi elips berwarna merah dan direbut oleh Christoph Leitgeb yang mendahului Klaassen.

Banyaknya serangan mengandalkan umpan-umpan panjang dari lini belakang (deep pass) membuat prosentase penguasaan bola Salzburg menjadi rendah. Dari total penguasaan bola, Ajax mengambil prosentase sebanyak 59% dibandingkan Salzburg yang hanya 41%.

Apakah artinya Ajax lebih menguasai pertandingan? Pada kenyataannya tidak karena berkali-kali build up Ajax gagal melewati garis tengah lapangan akibat pressing Salzburg sukses menahan progres bola tuan rumah.

Yang kedua, melalui permainan bola-bola panjangnya, Salzburg berkali-kali sukses merebut bola-bola liar hasil duel udara di dekat kotak penalti tuan rumah. Dan, yang terpenting, tim tamu sukses memutilasi tuan rumah dengan skor 0-3.

Menggunakan statistik yang kontekstual

Menilai performa sebuah tim dapat dilakukan dengan cara (1) menentukan parameter berdasarkan model permainan (2) menghitung statistik berdasarkan parameter tadi. Dengan menentukan tujuan spesifik dan parameter yang sesuai, analis sedang berada dalam konteks yang tepat untuk mengintegrasikan statistik sebagai dasar dari teori yang disampaikannya.

Dua contoh statistik fungsional yang dapat kita adaptasi adalah PPDA dan deep(box) completion yang keduanya dipopulerkan oleh Dustin Ward. PPDA adalah Umpan yang Diderita Per Aksi Bertahan (UDdPAB).

Statistik ini dapat digunakan untuk menghitung intensitas pressing blok tinggi tim bertahan. Semakin rendah UDdPAB tim bertahan semakin sering pula pressing blok tingginya memaksa lawan kehilangan penguasaan bola.

UDdPAB tim putih yang dihitung berdasarkan aksi bertahan (tackle, interception, dan duel) dari koordinat  x ≥ 40 meter.

UDdPAB dapat digunakan sebagai patokan awal untuk mengevaluasi pressing yang dilakukan. Dengan membandingkan angka UDdPAB dari pertandingan ke pertandingan, kita bisa menghitung nilai rata-ratanya.

Selanjutnya kita membandingkannya dengan melakukan analisis melalui video pertandingan untuk menemukan apa penyebab perubahan naik-turunnya UDdPAB.

Apa imbasnya terhadap tembakan, apa imbasnya terhadap kemenangan, apa imbasnya terhadap penguasaan bola di sepertiga lawan, apa pengaruh antarvariabel dan seberapa erat hubungan antara satu variabel dengan yang lain, dan lain-lain.

Deep(box)completion adalah Umpan Sukses di Dalam Kotak Penalti (USDKP)  lawan. USDKP merupakan adaptasi dari istilah deep completion yang dipakai oleh Dustin – praktisi statistik sepakbola – untuk menjelaskan umpan sukses yang dilakukan dalam radius 15 yard atau ± 13,7 meter dari gawang lawan.

Dustin menggunakan kata deep karena umpan yang dihitung adalah umpan yang dilakukan di “kedalaman” kotak penalti lawan.

USDKP tim putih ditandai oleh area berwarna abu-abu.

Dalam catatan sejarah liga-liga utama Eropa, tim yang merupakan langganan juara liga setempat memiliki rata-rata jarak tembak yang pendek dibandingkan para pesaing yang berlevel “sekadar meramaikan” atau langganan degradasi.

Hubungan antara peluang menjuarai liga dengan USDKP adalah USDKP berbanding lurus dengan jumlah tembakan yang dilepaskan di dekat gawang lawan yang berimbas pula ke meningkatnya kemungkinan mencetak gol.

Penutup

Analisis sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari sepakbola. Dengan menganalisis, kita dapat menentukan nilai lebih dan kurang sebuah objek. Dalam sepakbola, menganalisis performa dapat dilakukan dengan menggabungkan variabel-variabel berbeda mulai dari strategi, taktik, pemain, dan statistik.

Satu bahasa menjadi faktor awal yang menentukan cepat-lambatnya komunikasi antarindividu. Pengetahuan sepakbola memadai menjadi syarat berikutnya agar analis memiliki dasar-dasar yang tepat dalam memberikan penilaian.

Mengetahui dan memahami model permainan dan hubungan dinamiknya dengan pemain juga menjadi faktor yang harus dikuasai. Dari sisi statistik, memahami esensi dan menentukan fungsi masing-masing statistik dapat menyediakan penilaian dengan sudut pandang yang lebih variatif.

Komentar