Perlukah Melakukan Naturalisasi?

“Kalau 2 thn ke depan masih pakai naturalisasi, silahkan anda tegur saya spt ini. Tp utk skrg, target saya SEA Games 2017 Indonesia juara!”

Penggalan kalimat di atas saya salin langsung dari cuitan Ketua Umum PSSI, Edy Rahmayadi di Twitter, per tanggal 6 Januari 2017.

Pria yang juga menjabat sebagai Pangkostrad ini tampak begitu menggebu bahwa demi prestasi di SEA Games 2017, naturalisasi akan diterapkan. Tapi pertanyaannya, seberapa perlu timnas kita melakukan naturalisasi?

Saya bukan pengidap xenophobia atau memiliki kecenderungan chauvinistik yang menggebu. Namun, melihat pemain yang awalnya warga negara asing, bisa dan mampu membela panji timnas Indonesia, menimbulkan perasaan aneh yang sukar dijelaskan.

Hal ini perlu dijelaskan di awal agar pembaca paham posisi penulis sebagai orang yang kontra dengan kebijakan naturalisasi pemain.

Sepak bola modern yang berkembang luar biasa masif memang membuka jalur untuk memudahkan suatu negara melakukan naturalisasi.

Singapura melakukannya dengan sempurna kala ketangguhan pemain khas Afrika di kaki-kaki Itimi Dickson dan Agu Casmir dipadu dengan fisik tegap ala Eropa milik Daniel Bennett. Hasilnya, Singapura merajai Piala AFF (dulu Piala Tiger) 2004 dengan brilian.

Mau tidak mau, pencapaian Singapura jelas menggiurkan. Apalagi, bagi negara yang tengah kemarau gelar seperti Indonesia. Maka, dimulailah proyek ambisius dan sedikit ambigu itu pada 2010 lalu. Cristian Gonzales, Irfan Bachdim, sampai Kim Jeffrey Kurniawan dinaturalisasi.

Berbeda dengan Kim dan Bachdim yang masih memiliki darah Indonesia, El Loco Gonzales mendapat keistimewaan membela panji timnas karena performa gemilang dan durasi tinggal di Indonesia yang sudah lebih lima tahun. Dan dari Gonzales, secara pribadi, skeptisme saya mulai tumbuh terhadap program naturalisasi PSSI.

Dua tahun berselang, Nil Maizar mengisi skuat Piala AFF 2012 dengan tiga pemain naturalisasi atas nama Raphael Maitimo, Toni Cussell, dan Jhonny van Beukering. Titik skeptisme saya akan program naturalisasi menemui puncaknya.

Toni Cussell, sepupu Stefano Lilipaly, ternyata hanya pesepak bola yang bahkan tidak lebih baik dari Firman Utina. Saya ingat satu laga kontra Malaysia di AFF 2012, saat umpan sepak pojok yang dilepaskan Cussell melenceng keluar dan saya terpingkal-pingkal di depan layar kaca.

Bagaimana mungkin seorang yang tidak bermain bola lebih baik dari pemain lokal kita bisa membela timnas?

Dan van Beukering? Badannya yang overweight, teknik olah bola yang pas-pasan, melengkapi parodi yang sialnya, sama sekali tidak lucu untuk ditertawakan karena mereka mengenakan seragam timnas Indonesia.

Ini efek dari kelatahan federasi dalam melakukan naturalisasi sebagai jalan instan yang dianggap paling cepat membawa kejayaan. Sialnya, kita lupa satu hal, bermain di Eropa, di jantung sepak bola dunia, tidak menjamin segalanya.

Menjemput Ezra Walian

BACA JUGA:  Fantasy Premier League: Alternatif Pemain Premium

Selepas kegagalan di Piala AFF 2016, gaung naturalisasi kembali dicanangkan. Pengurus baru, kebijakan lama.

Melupakan mubazirnya naturaliasi kepada Greg Nwokolo, Bio Paulin, dan Victor Igbonefo, seakan tidak jera, PSSI kembali mencanangkan satu pemain muda dari Jong Ajax sebagai calon pemain timnas. Ezra Walian, pemuda 19 tahun yang memiliki darah Manado dari sang ayah menjadi target utama.

Sekilas, Ezra menawarkan profil yang menawan. Ia mampu menembus skuat muda Ajax dan bermain di Divisi II Belanda bersama Jong Ajax. Secara bertahap, Ezra sukses melakoni jenjang karier skuat timnas Belanda dari U-15, U-16, hingga U-18.

Semua dilengkapi dengan berbagai tautan yang diunggah Ezra di media sosialnya yang menunjukkan hasrat menggebu untuk berseragam Garuda. Menyejukkan dan sedap dipandang.

Menaturalisasi Ezra secepatnya adalah langkah tepat, mengingat usianya yang muda dan kariernya yang panjang. Ditambah, ia akan memenuhi kriteria umur yang cukup untuk membela timnas U-23 nanti di SEA Games 2017.

Tapi yang patut diingat, Ezra tetap terhitung satu pemain. Dan memiliki satu pemain naturalisasi, walaupun ia berasal dari akademi sepak bola ternama di Belanda, tidak menjamin apa pun.

Ezra tidak menjadi tiket otomatis bahwa emas SEA Games 2017 akan mudah saja diraih. Sepak bola dimainkan dengan sistem dan pemain yang pas. Dan tentu saja, sepak bola dimainkan sebelas orang, bukan satu pemain semata.

Dan ini titik pandang yang kerap alpa, melihat naturalisasi sebagai proyek mengejar kejayaan. Nyatanya, upaya itu semu dan tidak memiliki potensi jangka panjang. Misalnya, pengembangan akademi atau kompetisi usia dini.

Dan kalau gelar AFF 2004 Singapura yang dijadikan acuan keberhasilan naturalisasi, saya lebih memilih Indonesia tidak mengambil jalan yang sama.

Bolehlah mereka menjuarai AFF dengan kedahsyatan pemain naturalisasinya, tapi lantas, apakah itu membuat sepak bola tetangga kita yang kecil dan kaya-raya itu terbangun dengan rapi dan berkelanjutan?

Naturalisasi tanda negara darurat bakat?

Sub judul yang saya tulis di atas mungkin ambigu. Tapi, kita tidak bisa memungkiri bahwa beberapa pengurus sepak bola memiliki sikap yang mengesankan bahwa naturalisasi perlu karena (sepertinya) Indonesia terlihat mengalami krisis bakat.

Gatot Dewa Broto, Kepala Komunikasi Publik Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) berujar, bahwa tidak hanya Ezra Walian yang akan diupayakan untuk dinaturalisasi.

Dalam beberapa waktu mendatang, ia menambahkan lebih lanjut bahwa ada beberapa pemain potensial di luar negeri yang berminat dinaturalisasi. Gatot juga menyebut satu nama, Andri Syahputra.

“Dari Qatar ada Andri Syahputra. Sayang kalau sampai talentanya diambil negara lain,” ujar Gatot seperti seperti dikutip Bola.net.

Kalimat yang terdengar aneh dan tidak lazim. Memangnya kenapa kalau talenta kita di negara lain diserobot negara selain Indonesia?

BACA JUGA:  Liaoning FC: Raja yang Kehilangan Singgasananya

Memang harus diakui, mengumpulkan 11 pemain terbaik dari Sabang sampai Merauke guna bermain bagi timnas merupakan pekerjaan sulit setengah mati. Tapi, dari ratusan juta jiwa penduduk Indonesia, ketakutan bahwa talenta kita akan diserobot negara lain adalah ketakutan yang tidak masuk akal.

Talenta akan selalu ada, namun mengembangkannya adalah perkara lain. dari Jerman kita bisa belajar banyak hal, bahkan bila perlu menirunya supaya lebih mudah.

Jerman melewati puluhan tahun yang berdarah-darah dan pontang-panting membangun sepak bolanya, bahkan sempat hancur lebur di Euro 2000. Sebelum kemudian kegagalan itu menjadi titik awal dan mereka berjaya di 2014.

Mesut Ozil yang berwajah sendu dan kalem khas Turki, Sami Khedira yang keturunan Arab-Mediteranian, hingga Lukas Podolski dan Miroslav Klose yang bermuka tirus khas orang Slavik, mereka bukan pemain naturalisasi.

Mereka bibit-bibit akademi yang diurus dengan sempurna dan cerminan kompetisi usia dini yang berjalan baik. Dan yang paling utama, mereka hasil dari kompetisi profesional yang berjalan dan diurus dengan sistematis dan tertata. Itu yang tidak didapat dari proses naturalisasi.

Naturalisasi mengaburkan proses, mulai dari pembibitan bakat pemain-pemain muda di akademi hingga keengganan untuk membenahi sistem kompetisi. Naturalisasi mengabaikan tahapan penting dalam keberlangsungan pembinaan sepak bola, dan itu bukan pertanda yang baik bagi masa depan sepak bola kita.

Medali emas SEA Games 2017 adalah target jangka pendek. Hal ini sudah bukan lagi sasaran yang bijak. Saat ini, di tengah keterpurukan sepak bola lokal, membangun fondasi merupakan suatu keharusan. Target bukan lagi kapan menjadi juara, tapi seberapa profesional kompetisi kita dalam 5 tahun ke depan.

Bukan suatu masalah apabila masa jabatan Edy Rahmayadi adalah batu penjuru untuk perbaikan sepak bola Indonesia secara holistik. Bahkan tak menjadi masalah apabila selama masa jabatan tersebut Indonesia masih puasa gelar. Asal, sekali lagi, fondasi masa depan terbangun kokoh.

Bukankah membangun sepak bola yang lebih profesional, bersih, dan berkelanjutan adalah tugas siapa saja yang duduk di pucuk pimpinan PSSI?

Medali emas SEA Games 2017 dengan bekal naturalisasi hanya akan menjadi euforia sesaat. Sudah saatnya kita memikirkan sepak bola secara jangka panjang.

Sepak bola tidak pernah menjadikan cara instan sebagai solusi yang baik. Jerman, Spanyol, dan Italia sudah menunjukkannya dengan jelas dan yang perlu kita lakukan hanya meniru.

Apa gunanya jika, katakanlah, Indonesia sukses menggondol emas SEA Games 2017 namun untuk 10 tahun ke depan, sepak bola kita masih diwarnai konflik internal, pengaturan skor, jual beli lisensi klub, dan pencurian umur?

Naturalisasi itu semu dan fana. Cukup hidup dan waktu kita saja yang fana, sepak bola jangan.

Komentar
Penulis bisa dihubungi di akun @isidorusrio_ untuk berbincang perihal banyak hal, khususnya sepak bola.