Pesepak Bola Spanyol yang Menggunakan Nama Populer

Dalam roman Bumi Manusia yang masyhur itu, Minke yang menjadi tokoh utama dikisahkan ialah seorang pelajar HBS (setara SMP untuk Belanda, Eropa dan elit Pribumi) yang cerdas akan tetapi tidak mempunyai nama keluarga.

Sungguh mengejutkan seorang terpelajar HBS tidak mempunyai nama keluarga. Selain penting, nama keluarga juga berfungsi sebagai simbol status sosial yang menunjukkan di mana keluarga tersebut berada. Atau yang lebih familiar disebut Marga oleh suku Batak.

Belakangan ini dalam sebuah situsweb jakubmarian.com telah merilis nama keluarga yang populer di Eropa. Di Inggris nama Smith yang populer, Jerman diwakili oleh Muller, Silva menjadi yang paling umum di Portugal dan Garcia yang paling diminati di Spanyol.

Lalu berdasarkan sensus dari Institut Statistik Nasional bahwa nama keluarga paling populer di Spanyol adalah Garcia, diikuti Gonzalez, Rodriguez, Fernandez, serta yang terakhir Lopez.

Arti nama Garcia pun beragam macamnya, tergantung kepada siapa nama tersebut diberikan. Misalnya dalam bahasa Basque, Garcia memiliki arti beruang muda. Sedangkan dalam bahasa Spanyol, Garcia memiliki arti kasar atau kebesaran untuk bayi laki-laki dan berarti wanita yang berbahagia dan penuh keceriaan untuk bayi perempuan.

Pesepak bola Spanyol pun banyak yang menggunakan nama ini. Berikut beberapa di antaranya.

1. Gabri Garcia

Sumber: fcbarcelona.cat
Sumber: fcbarcelona.cat

Lahir dengan nama lengkap Gabriel Francisco Garcia de la Torre pada Februari 1979, pria berkepala plontos ini merupakan warga tulen Catalonia. Ketika berumur 18 tahun, Gabri memutuskan bergabung ke La Masia setelah sebelumnya bermain di Sabadell, kampung halamannya.

Setelah dua usim bermain di akademi, Gabri dipromosikan ke tim utama dengan Nano dan Carles Puyol oleh meneer Van Gaal. Tujuh musim selanjutnya ia memutuskan hengkang dan berlabuh di Ajax Amsterdam dan bertemu dengan Roger Garcia yang merupakan adik kandung Oscar Garcia yang sekarang melatih Red Bull Salzburg.

Untuk level klub Gabri Garcia hanya mendapatkan gelar ketika berseragam Barca dan Ajax saja. Akan tetapi di level tim nasional, Gabri sempat bersinar dengan menyumbang trofi FIFA U-20 dan medali emas di Olimpiade Sydney tahun 2000. Di kedua turnamen tersebut Gabri memainkan peranan penting di lapangan tengah bersama Xavi, Carlos Marchena dan Francisco Yeste.

Sesudah menyatakan pensiun, Gabri melanjutkan karier sebagai pelatih FCB Juvenil A mulai musim 2015/2016.

2. Luis Garcia

Sumber: fourfourtwo.com
Sumber: fourfourtwo.com

Produk asli La Masia ini terlahir di daerah Badalona yang letaknya di timur wilayah otonom Catalonia. Pria yang bernama lengkap Luis Javier Garcia Sanz mencuat ketika bermain di level Juvenil A untuk kemudian promosi bersama Xavi Hernandez.

Namun, pada musim itu juga Luis Garcia dipinjamkan ke Real Valladolid. Luis Garcia didatangkan bersama dengan direktur olahraga Atletico Madrid, Jose Luis Caminero, yang masih bermain saat itu. Setelah itu ia berpindah-pindah klub terus, sampai akhirnya Rafael Benitez memboyong Luis Garcia ke kota kelahiran The Beatles, Liverpool.

BACA JUGA:  Terima Kasih, Aritz Aduriz

Perlu diketahui bahwa sebelumnya Rafael Benitez yang meminjam Luis Garcia dari Barca ketika masih melatih CD Tenerife, sayang talenta seperti ini disia-siakan hingga akhirnya ia memboyong Luis Garcia bersama Fernando Morientes dan Xabi Alonso ke Anfield.

Puncak keemasan kariernya adalah bersama Liverpool, dari semua koleksi trofi yang didapatkannya semua diperoleh ketika bermain untuk The Reds. Dengan capaian tersebut Luis Garcia menjadi pemain Spanyol paling berpengaruh sedekade terakhir bersama Fernando Torres dan Xabi Alonso untuk Liverpool.

Kini meskipun sempat tidak mendapatkan klub, Luis Garcia di usia yang ke-37 masih ingin berlari dengan menjelajah ke India bersama Atletico Kolkata dan Australia dengan bermain untuk Central Coast Mariners.

3. Raul Garcia

Sumber: insidespanishfootball.com
Sumber: insidespanishfootball.com

Dari statisik yang sudah dijelaskan pada bagian awal, penggunaan nama Garcia paling banyak di wilayah otonom Basque dan sekitarnya. Hal itu terbukti pada sosok bernama lengkap Raul Garcia Escudero yang lahir di Pamplona (ibukota wilayah otonom Navarre) yang berada di timur Basque.

Raul Garcia mengawali kariernya di CA Osasuna selama tiga musim, selanjutnya ia merantau ke ibukota dan Atletico Madrid jadi pilihan. Vicente Calderon jadi rumah kedua setelah Estadio El Sadar.

Periode pertama ia berseragam Los Colchoneros semua berjalan manis bagi pria maskulin berjanggut lebat ini, bahkan sempat ada peran Garcia Role karena menurut Bleacherreport peran itu ada bagi pemain yang mewakili esensi kepelatihan dari Cholo Simeone.

Namun tak ada yang permanen, dalam sebuah wawancara yang dilakukan oleh AS dengan Cholo Simoene. Sang pelatih klimis ini mengatakan bahwa Atletico Madrid perlu stimulus baru dan perubahan agar tidak stagnan, dan Raul Garcia bisa dibilang seperti dikorbankan untuk menuju perubahan tersebut.

Total lebih dari 350 pertandingan dan delapan musim dihabiskan Raul Garcia untuk mengabdi pada publik Los Rojiblancos. Namun kisah ini harus berakhir sehari sebelum bursa transfer musim lalu ditutup, tawaran untuk lebih dekat ke rumah dari Athletic Bilbao jadi penyebab.

Upacara perpisahan pun segera digelar, emosional sekali nampaknya sampai Raul Garcia tak kuat menahan air mata yang kecewa karena dijual atau akibat rasa cinta yang bergelora. Berikut ini emotional farewell Raul Garcia itu:

4. Sergio Garcia

Sumber: elpais.com
Sumber: elpais.com

Pria ketiga asal Barcelona yang menggunakan nama Garcia sebagai nama keluarga adalah Sergio Garcia. Ia merupakan produk didikan La Masia yang mengawali kariernya di Barca C (ketika itu masih ada sebelum dibubarkan pada 2007), lalu Barca B dan kemudian promosi ke tim utama bersama Roberto Trashorras, Victor Valdes, Andres Iniesta dan Fernando Navarro.

Hanya memainkan empat pertandingan saja membuat ia tak betah, menit bermain jadi prioritas dan Real Zaragoza memberikan itu. Bersama dengan Marcelino Garcia Toral yang sekarang melatih Villareal dan duo Milito, Gabriel dan Diego, ia menjadi pilar penting Real Zaragoza. Sayang kariernya harus berakhir akibat perselisihan dengan pelatih pada sesi latihan.

BACA JUGA:  Andakara Prastawa: Si Anak Ajaib dari Indonesia

Setelah sempat gonta-ganti klub, justru di Barcelona lah ia dipuja bak seorang dewa. Bukan di Barca tapi, saudaranya RCD Espanyol. Bermain dalam 162 pertandingan dengan klub berjuluk Los Periquitos membuatnya sejajar dengan Raul Tamudo.

Ia bisa bergumul dengan pemain senior macam Ivan De la Pena dan Walter Pandiani, serta bisa jadi mentor bagi pemain muda seperti Phillippe Coutinho dan Joan Jordan.

Lagi-lagi ia harus minggat karena disinyalir terlibat perselisihan internal dalam pertandingan antara RCD Espanyol dan CA Osasuna dalam lanjutan jornada ke-36 musim 2012/2013, ditambah kedatangan Constantin Galca yang menyukai pemain muda membuatnya berlabuh ke Al-Rayyan.

5. Javi Garcia

Sumber: mcfc.co.uk
Sumber: mcfc.co.uk

Pria terakhir yang memakai nama Garcia berasal dari Mula yang berada di dalam wilayah otonom Murcia. Pria ini bernama lengkap Francisco Javier Garcia Hernandez.

Javi Gardia merupakan didikan La Fabrica semenjak berumur 17 tahun. Di klub berjuluk  itu dia hanya memainkan 15 pertandingan saja dan menjadi pemain muda dalam skuat Bernd Schuster bersama Dani Parejo, Esteban Granero dan Ezequiel Garay.

Bekerja sama dengan Manuel Garcia Quillon membuat Javi Garcia cepat dikenal publik. Jelas saja dalam wawancara dengan LA Razon agen dari Javi Garcia ini setidaknya pernah membawa 90% pemain di La Liga. Lalu Jorge Jesus yang berhasil mendapatkannya dan dibawanya lah ia ke Benfica.

Puncak keemasan kariernya pun dialami ketika bermain di Benfica, Javi Garcia menjadi bagian penting Dream Team a la Jorge Jesus yang berhasil memenangkan Liga Portugal pada musim 2008/2009 bersama anak muda militan lain macam Angel Di Maria, Fabio Coentrao, Ramires dan David Luiz.

Dua musim berselang setelah itu gelontoran mahar sebanyak 15,8 juta euro tak bisa menahan Javi Garcia untuk pergi dari Estadio da Luz. Alih-alih bakal lebih bersinar dari klub sebelumnya, ia malah bermain tidak sesuai ekspektasi. Akibatnya dalam situs talksport.com ia dipilih sebagai pembelian terburuk Sheikh Mansour bersama Robinho.

Kini seperginya dari kota Manchester, Javi Garcia sedang menyusun ulang mozaik-mozaik kejayaan bersama Zenit St. Petersburg sekaligus reuni kembali bersama Ezequiel Garay dan Axel Witzel yang sempat bermain di Benfica.

Itulah beberapa nama pesepak bola yang menggunakan nama Garcia sebagai nama keluarga, di samping lima pemain yang dipilih berdasarkan tingkat kesuksesan di sepak bola dewasa masih banyak Garcia-Garcia lain yang belum terlacak dan bisa melampaui capaian para seniornya di kemudian hari.

 

Komentar
Mahasiswa jurusan sejarah yang sedang berusaha menyelesaikan studinya di salah satu universitas di semarang, penikmat sepakbola dari layar kaca setiap minggunya dan mantan pemain futsal tingkat jurusan.