Lewat beberapa orang anak muda dari Brasil, seluruh pencinta sepakbola Indonesia dapat melihat bobroknya federasi sepakbola negeri ini, PSSI. Tanpa tedeng aling-aling justru PSSI sendiri yang melambungkan lagi wacana proyek naturalisasi sebagai persiapan tampil di Piala Dunia U-20 tahun 2021 mendatang. Kebetulan, ajang tersebut bakal dilaksanakan di tanah air.
Sebenarnya, naturalisasi bukan sesuatu yang haram untuk dilakukan. Asal mengikuti aturan yang berlaku. Namun khusus PSSI, segalanya jadi menggelikan. Mentalitas pengurus PSSI sendiri masih terjajah dengan terus melanggengkan program yang satu ini. Padahal masih segar dalam ingatan ketika Ketua Umum PSSI saat ini, Mohammad Iriawan, dengan lantang menyebut.
“Pada tahun 2020, saya akan memulai modernisasi program pembinaan. Lalu tahun 2021, Indonesia menggapai juara di kawasan Asia Tenggara, tahun 2022 jadi kampiun Asia dan lolos ke Piala Dunia 2026.”
Rekomendasi Jersey Fantasy dan Jaket Bertema Garuda yang Keren
Ucapan tersebut memang seperti bualan belaka. Siapapun tahu, kualitas sepakbola Indonesia masih tertinggal jauh sehingga apa yang disebutkan Iwan Bule, sapaan akrab M. Iriawan, tak patut diyakini sepenuh hati. Bisa membenahi sepakbola Indonesia dan mengurainya dari kekusutan saja sudah jadi prestasi tersendiri.
Sayangnya, belum genap satu tahun menjabat sebagai Ketua Umum PSSI, Iwan Bule justru memunculkan wacana untuk melakukan naturalisasi lagi. Ini sama artinya dengan mengingkari janjinya untuk memodernisasi pembinaan sepakbola usia dini di Indonesia.
Andai terwujud, langkah praktis yang diambil oleh PSSI ini memang tidak mengejutkan buat pencinta sepakbola Indonesia. Organisasi yang sudah berusia 90 tahun ini memang lebih senang mendapatkan hasil yang instan daripada berproses secara konstan.
Andy Fuller dalam tulisannya Indonesian Football – A Matter of Life and Death pun sepakat bahwa, “Kemunduran sepakbola Indonesia merupakan hasil dari masalah yang terus-menerus terjadi pada skala domestik. Seperti campur tangan politik dalam menjalankan Persatuan Sepakbola Seluruh Indonesia (PSSI), kontrak dan kesejahteraan pemain, maraknya pengaturan skor hingga kekerasan yang tak berkesudahan antara penggemar sepakbola.”
Dari pernyataan Fuller di atas, kita sebetulnya tahu bahwa keringnya prestasi sepakbola negeri ini seharusnya bisa dibenahi PSSI sedari lama. Kusutnya masalah yang sudah mengakar, tampaknya akan tetap luput lagi dari Ketum terpilih yang bermimpi bahwa Indonesia akan menjadi juara Asia pada tahun 2022.
Alih-alih merajai Benua Kuning, pada tahun ini sepakbola Indonesia justru kehilangan satu slotnya di Liga Champions Asia dan kini duduk sama rata dengan Kamboja pada peringkat 173 rangking FIFA (per Juli 2020). Apakah Iwan Bule masih yakin di tahun 2026 nanti timnas senior bisa lolos ke Piala Dunia?
Padahal, PSSI hanya butuh melakukan dua hal agar hobi naturalisasi tidak menjadi tradisi. Pertama, berkoordinasi dengan asosiasi provinsi hingga kota, sekolah-sekolah sepakbola sampai pemerintah di tingkat daerah, serta menyelenggarakan kompetisi di level usia muda secara berjenjang dan berkala.
Generasi emas Evan Dimas pada tahun 2013 merupakan salah satu contoh bahwa PSSI tidak membutuhkan program naturalisasi. Namun demikian, kesuksesan Evan Dimas dan kawan-kawan mempersembahkan gelar Piala AFF U-19 pada tahun 2013 justru membuka aib dari PSSI dalam hal pembinaan usia dini.
Kita tentu ingat bagaimana Indra Sjafri yang pada saat itu menjabat sebagai pelatih timnas U-19 harus blusukan dan melakukan seleksi hingga ke seluruh daerah di Indonesia. Melalui proses yang cukup panjang tersebut, Indra akhirnya dapat membentuk skuad yang dapat berbicara banyak di level Asia Tenggara sampai Asia.
Namun di balik kisah sukses generasi emas tersebut, Indra dengan tegas mengatakan bahwa proses seperti itu semestinya sudah tidak dilakukan lagi. Menurutnya, tugas utama PSSI adalah memperbaiki jaringannya mulai dari Askot sampai Asprov agar sistem pembinaan usia dini tersebut berjalan.
Lewat penguatan jaringan dan koordinasi yang tepat dengan para stakeholder di daerah, PSSI dapat melakukan edukasi dan sosialisasi soal tipe dan karakter pemain seperti apa yang dibutuhkan timnas Indonesia. Selain itu, koordinasi yang baik akan menghidupkan peran pelaku sepakbola di daerah, sekolah sepakbola, dan pemerintah daerah setempat. Hal ini tentu menguntungkan PSSI karena tugas untuk menemukan talenta muda menjadi lebih mudah.
Setelah menguatkan koordinasi di tingkat daerah, hal kedua yang harus dilakukan adalah menyelenggarakan kompetisi di level usia muda secara berjenjang dan berkala. PSSI harusnya dapat menggelar kompetisi rutin mulai dari tingkat Askot hingga Asprov agar lahir talenta muda setiap tahunnya.
Penyelenggaraan kompetisi yang berjenjang dan rutin bakal berdampak kepada proses yang dilalui oleh para pemain menjadi terarah dan membuat mereka lebih terasah dalam hal kemampuan individunya maupun mental bertanding. Kompetisi yang berjenjang juga memastikan regenerasi pemain yang berkesinambungan untuk timnas Indonesia di semua level usia.
Pada akhirnya, kedua cara di atas menuntut upaya dan biaya yang lebih banyak ketimbang program instan bernama naturalisasi. Hanya dengan kedua cara tersebut PSSI dapat mewujudkan filosofi sepakbola Indonesia yang termaktub dalam program kerja lima tahun mereka. Pencinta sepakbola Indonesia pun lebih bangga jika lambang Garuda dipakai oleh putra-putra bangsa.
Ayolah PSSI, jangan malas!