Rasa Iri Terhadap Persib

“Kalau kamu ke Bandung di hari minggu atau pada waktu long weekend, kamu tak akan menemukan Bandung yang sebenarnya” – Pidi Baiq

Memang benar adanya bahwa anda takkan bisa menyaksikan wajah asli Bandung saat libur akhir pekan ataupun long weekend. Dimulai dari kemacetan tol Pasteur, tempat-tempat wisata di Lembang atau di Asia Afrika yang ramai dikunjungi oleh wajah turis, hingga kemudian pusat perbelanjaan yang berisi oleh orang-orang yang ingin membelanjakan uangnya di kota yang juga dikenal sebagai kota mode ini. Sulit kemudian anda mengenali, mana wajah-wajah someah warga asli Bandung, mana yang turis. Semuanya membaur dan bahkan tak jarang kemudian membuat Bandung terasa asing bagi warga mereka sendiri.

Kecuali, jika hari itu hari Persib. Hari saat sang Maung Bandung berlaga.

Seperti hari Minggu (18/10) lalu, di mana Bandung lagi-lagi menunjukkan wajah aslinya. Tak peduli soal turis. Mereka yang tak mampu menyaksikan langsung di Jakarta kemudian meramaikan ruang-ruang public yang ada untuk menyaksikan Persib bertanding. Mulai dari stadion Sidolig, Alun-Alun Bandung, Alun-Alun Ujung Berung, Cikapundung Riverspot, dan Taman Film semuanya diizinkan oleh Ridwan Kamil –sang walikota— untuk dipergunakan sebagai tempat nonton bareng (nonbar) demi menyalurkan hasrat mereka guna menunjukkan cinta mereka terhadap Persib. Bahkan tak hanya sampai di situ, tempat-tempat seperti warung, warteg, pangkalan ojek, atau setiap tempat yang memiliki televisi kemudian disulap menjadi venue nonbar meski terkesan ala kadarnya.

Tak peduli mau pria ataupun perempuan, mereka larut dalam kecintaan terhadap Pangeran Biru. Tak peduli tempatnya di mana, anda bisa mendengarkan mereka berteriak “gol!” dan segala sorak sorai saat Persib mencetak gol. Semua terdengar jelas.

Mereka satu suara dalam mendukung Persib untuk menjadi juara. Kecintaan mereka kemudian tergambar jelas. Persib Day, kata mereka. Mereka berupaya untuk menunjukkan loyalitas mereka terhadap Persib. Mulai dari meggunakan syal, topi, bendera, hingga kostum biru khas klub kebanggan kota Kembang dan masyarakat Jawa Barat ini. Sesekali terdengar teriakan “Persib Nu Aing”, yang berarti Persib milikku, di jalanan tanpa peduli siapa yang dituju.

BACA JUGA:  Andai Hariono Menjadi Seorang Pelatih

Ini adalah hari di mana Bandung menjadi Bandung. Di mana warganya larut dalam euforia mencintai Persib. Di mana warganya tak segan meneriakkan umpatan atau pujian dalam bahasa Sunda dan tak peduli apakah para pendatang akan mengerti apa yang mereka katakan. Hari di mana Persib kemudian menjadi segalanya, dan membuat mereka mudah menyepelekan segalanya selain Persib.

Sebagai mahasiswa yang telah dua tahun merantau di tanah Pasundan, saya kagum terhadap semangat mereka. Para bobotoh kemudian sangat paham dan mafhum mengenai frasa “support your local club”. Hal ini membuat saya kagum, sekaligus membuat saya iri terhadap bobotoh.

Sebagai seorang pendukung tim lokal yang sedang krisis, saya selalu memandang iri terhadap Persib. Saya selalu membayangkan, kapan masanya klub lokal saya, bisa kemudian membuat warga-warga yang ada di dalamnya bergelora layaknya saat Persib bertanding. Atau jangan kejauhan, saya membayangkan, kapan masanya klub lokal saya kemudian mampu bermain di level liga yang sama dengan Persib.

Klub lokal saya adalah Persatuan Sepak Bola Bangko Jambi, atau Persisko Jambi. Klub yang terbentuk pada tahun 1970. Klub yang dulunya milik Tanjung Jabung Timur, namun kini telah menjadi milik masyarakat Jambi. Klub yang pernah membuat saya bermimpi untuk menyaksikan klub asal Jambi untuk bermain di Indonesia Super League (ISL) karena sempat memiliki catatan bagus di Divisi Utama pada tahun 2012.

Klub ini pernah membuat kami bermimpi dan hampir menjadi sebuah identitas layaknya Persib dan Bandungnya. Saat itu, koran-koran terus memberitakan soal Persisko Jambi. Tayangan dan pemberitaan soal klub berjuluk Laskar Sultan Thaha dilumat habis oleh warga Jambi. Kami saat itu mulai mengerti apa rasanya mencintai klub lokal. Karena sebelum-sebelumnya, kami selalu mendukung klub-klub yang berada di luar jangkauan kami.

Maka kemudian berbondong-bondonglah kami ke stadion ataupun menyaksikan mereka bertanding di televisi lokal meski kualitasnya apa adanya. Meski tak sevulgar kecintaan bobotoh terhadap Persib, namun kami kemudian berada di tahap progresif. Euforia-nya, meski awalnya terasa asing, kemudian lama-lama menjadi kuat.

BACA JUGA:  Benang Merah Masalah Setan Merah

Akan tetapi, ternyata mimpi-mimpi itu hanya sampai di situ saja. Belum sempat kami belajar mencintainya, klub itu terbengkalai . Dana Pemerintah kemudian dicabut dari klub ini dan tak ada sponsor yang berminat mensponsori meski di tanah Jambi memiliki puluhan juragan sawit yang memiliki tanah ratusan hektar untuk perkebunan. Tak seperti Persib yang bergelimang sponsor mulai perusahaan tingkat lokal, nasional, hingga ada yang reputasinya internasional, klub kami bahkan tak mampu untuk menarik minat investor lokal. Akibatnya, klub itu kini berada di situasi krisis mahadahsyat.

Belum sempat kami memahami arti loyalitas, akibat permasalahan finansial ini, kami tak mampu menyaksikan Persisko Jambi di level nasional. Pemainnya pergi, dan manajemennya kini acak adul. Ia kembali lagi ke tim kacang gurem yang hanya mampu berlaga di Piala Gubernur yang tak jelas esensinya demi apa. Akibatnya, kami kemudian memiliki paham sendiri sekarang: jangan mendukung klub lokal, kecuali anda ingin kecewa.

Lalu, kami pelan-pelan mundur, hilang satu demi satu dan kembali mendukung tim asing kesayangan kami. Termasuk saya. Kecintaan warga Jambi terhadap Persisko Jambi kemudian memudar. Dan hilang seiring dengan hilangnya kabar klub yang pernah membuat kami bangga ini.

Namun, kemudian menyaksikan bobotoh mencintai Persib-nya, membuat saya kemudian seolah membangkitkan rasa kecintaan saya terhadap Persisko Jambi. Teringat pada masa-masa indah itu lagi. Saat kami menikmati indahnya menjadi pendukung klub lokal. Jujur, saya iri kepada bobotoh. Mereka selalu bisa menunjukkan cinta mereka dan cinta itu pun berbalas. Sedangkan kami? Cinta kami kini masih belum menunjukkan buahnya. Ia masih jauh dari bahagia, dan masih membutuhkan kesabaran yang sangat panjang untuk menuju bahagia.

Berbahagialah Bobotoh, bahagialah. Sementara saya memendam iri terhadap kebahagiaan kalian.

 

Komentar