Raul Bobadilla: Si Bengal dari Argentina di Timnas Paraguay

Beberapa hari lalu, Paraguay berhasil memastikan kelangsungan kiprah mereka di Copa America 2015. Nama Paraguay memang masih kalah mentereng dibanding raksasa Amerika Latin seperti Argentina dan Brazil ataupun negara tetangga mereka, Uruguay. Namun, siapa yang menyangka kalau dua nama yang disebut belakangan di atas malah sudah angkat koper lebih dahulu dibanding Los Guaranies.

Meskipun telah menjadi juara Amerika Selatan sebanyak dua kali dan merupakan salah satu langganan Piala Dunia, sulit rasanya menganggap Paraguay sebagai salah satu tim besar, baik di Amerika Selatan maupun dunia. Tim nasional (timnas) mereka tidak pernah bertabur bintang dan biasanya, di tiap generasi, hanya ada satu atau dua pemain dengan kemampuan eksepsional. Penyerang klub Meksiko, Cruz Azul, Roque Santa Cruz barangkali merupakan pemain Paraguay terakhir dengan reputasi mendunia.

Dengan semakin menuanya Santa Cruz (33 tahun), berarti akan ada satu tempat kosong (dalam waktu dekat) yang diperebutkan oleh para penyerang yang lebih muda untuk menjadi ujung tombak andalan timnas. Pada pergelaran Copa America kali ini, ada enam penyerang (termasuk Santa Cruz) yang didaftarkan pelatih Ramon Diaz. Mereka adalah Roque Santa Cruz, Nelson Valdez, Lucas Barrios, Edgar Benitez, Derlis Gonzalez, dan terakhir, Raul Bobadilla.

Hal menarik dari seorang Raul Bobadilla adalah fakta bahwa ia bukanlah pemain asli Paraguay. Penyerang 28 tahun yang bermain untuk Augsburg ini sejatinya merupakan orang Argentina dan mengawali karier profesionalnya di klub kota kelahirannya, River Plate. Bobadilla sendiri baru melakukan debut untuk timnas Paraguay pada bulan Maret 2015 melawan Kosta Rika.

Pertama kali saya menyaksikan Bobadilla adalah kala ia memperkuat BSC Young Boys, sebuah klub dari ibukota Swiss, Bern. Kedatangannya di YB (dilafalkan seperti “i-be”, begitu Young Boys biasa disebut) pada medio musim 2011/12 berkontribusi mengantarkan klub berseragam kuning-hitam ini meraih posisi ke-3 Swiss Super League dengan 7 gol dan 4 asis dari 13 pertandingan, sekaligus meraih tiket babak kualifikasi Liga Europa 2012/13. Bobadilla kembali tampil ciamik sebagai penyerang YB pada musim selanjutnya dengan lesakan 14 gol dan 5 asis dari 22 pertandingan. Di antara gol-gol tersebut terdapat beberapa gol krusial di kancah Liga Europa yakni ketika YB menahan Liverpool 2-2 di Anfield dan trigol serta satu gol saat dua kali mengalahkan Udinese.

BACA JUGA:  Pembuktian Pantaleo Corvino dan Restorasi Bologna

Namun bukan Bobadilla bila tanpa masalah. Pemain ini memang terkenal bengal dan mudah tersulut emosinya. Pada paruh musim perdananya di YB, pada laga melawan FC Luzern, Bobadilla menerima kartu kuning kedua sebelum memberi tepuk tangan sinis dan makian pada wasit. Aksi tersebut akhirnya membuatnya dilarang tampil sebanyak lima pertandingan.

Musim selanjutnya, cerita masih sama. Bobadilla tidak dapat bermain pada tujuh pertandingan karena kartu merah yang diterimanya saat menghadapi Lausanne. Sikunya yang mendarat telak di dada bek Lausanne, Guillaume Katz, membuat federasi sepak bola Swiss menjatuhkan hukuman berat pada pemain bertinggi 181 cm tersebut. Lelah dengan ulah Bobadilla, YB pun menjualnya ke FC Basel pada pertengahan musim 2012/13.

Apabila ditilik lebih jauh, masalah memang selalu mengikuti pemain yang satu ini. Pemilik Bobadilla sebelumnya, Borussia Monchengladbach, pernah menghukum pemain ini setelah menerima kartu merah usai menginjak pemain Hannover, Sergio Pinto dan menghina wasit. Perilakunya ini berbuntut sanksi pertandingan, denda, diturunkan ke tim kedua dan diasingkan ke klub Yunani, Aris Thessaloniki hingga pengujung musim 2010/11. Karier Bobadilla di Borussia-Park pun mentok setelah ia didepak pada medio musim 2011/12.

Di FC Basel pun kariernya setali tiga uang. Ia hanya bertahan tujuh bulan di St. Jakob’s Park lagi-lagi karena perilaku buruknya tidak disukai pihak klub. Ketika itu, Bobadilla berurusan dengan pihak berwajib akibat memacu mobilnya jauh di atas batas kecepatan di jalanan Swiss yang terkenal memiliki peraturan ketat.

Kesempatan selanjutnya bagi Bobadilla datang lewat kepindahannya ke klub Bundesliga Jerman, FC Augsburg. Namun, cedera pada awal musim 2013/14 membatasi dirinya untuk unjuk kemampuan di Bundesliga. Hanya ada tiga gol yang berhasil ia cetak pada musim itu.

Pada musim berikutnya, performa Bobadilla membaik. Ia pun berhasil menjadi pencetak gol terbanyak bagi Augsburg dengan raihan 10 gol dan 4 asis dari 32 pertandingan. Dari sepuluh gol tersebut, ada satu gol yang tercipta lewat proses yang spesial, yakni ketika ia menciptakan gol dengan tumit ke gawang Manuel Neuer kala Augsburg menjungkalkan FC Bayern 0-1 di Allianz Arena. Penampilan apiknya tersebut turut membantu Augsburg mencapai posisi terbaiknya di Bundesliga sekaligus meraih tiket ke Liga Europa.

BACA JUGA:  Argentina Remake Jersey Away Piala Dunia 1994

Apakah dengan begini sang bintang sudah kembali ke jalan yang benar? Tampaknya kita tidak bisa terburu-buru menilai, karena pada laga Bundesliga terakhir musim lalu, Bobadilla kembali menerima kartu merah saat menghadapi “musuh bebuyutannya”, Hannover. Kali ini, ia dianggap mendorong pemain lawan, Miiko Albornoz yang dianggapnya mengulur-ulur waktu.

Jika di level klub akhirnya ia mampu berkontribusi secara signifikan, lantas bagaimana kiprah Bobadilla di timnas Paraguay?

Bobadilla menerima panggilan pertamanya bulan Maret 2015 lalu dari Ramon Diaz, pelatih timnas Paraguay berkebangsaan Argentina. Sejak laga debut kontra Kosta Rika yang berakhir imbang tanpa gol, ia telah tampil 6 kali tampil bersama Paraguay. Ia pun selalu tampil dalam setiap pertandingan Los Guaranies di Copa America 2015. Sejauh ini Paraguay belumterkalahkan di turnamen ini, dan Raul hanya sekali turun sebagai pengganti. Memang baru satu gol melalui adu penalti (saat melawan Brazil) yang tercipta dari kakinya, tetapi dengan catatan belum sekali pun mendapatkan kartu, maka kiprahnya patut diapresiasi. Apalagi, tensi tinggi sering menyertai pertandingan-pertandingan Copa America.

Seiring dengan usia yang bertambah, Bobadilla mungkin akan benar-benar memanfaatkan perhelatan Copa America 2015 untuk membuang label “pemain bermasalah” pada dirinya. Ajang ini juga sekaligus untuk membuktikan kepercayaan Paraguay yang telah memanggilnya ke timnas. Akankah ini menjadi titik balik yang sebenarnya bagi Raul Bobadilla? Atau akankah ia kembali menghiasi deretan troublemakers di perhelatan turnamen ini menemani Gonzalo Jara dan Carlos Zambrano? Menarik kita tunggu penampilannya saat menghadapi negara kelahirannya, Argentina, beberapa jam lagi.

 

Komentar