Safet Susic: Penyihir Sejati Paris dan Sarajevo

Sebagai salah satu kota yang paling menghibur di dunia, Paris telah menyediakan segalanya untuk dinikmati. Beragam fasad bersejarah nan indah seperti Louvre dan Eiffel berdiri dengan megahnya.

Reputasi City of Art yang diemban kota terbesar di Prancis ini juga sebanding dengan melimpahnya galeri dan seniman yang tersebar di setiap penjuru kota.

Wajar jika banyak sekali pelaku seni yang datang ke kota ini sekadar untuk mencari inspirasi, atau bahkan meneguhkan karakter yang telah dimiliki.

Hal yang sama juga berlaku dalam sepak bola. Sebagai kesebelasan ibu kota dan salah salah satu penguasa liga, Paris Saint-Germain (PSG) kini rutin menjadi destinasi para virtuoso yang dapat memanjakan mata para penonton lewat aksi olah bola yang memukau.

Apalagi saat gelontoran uang dari bos besar Qatar Sports Investments mulai dikucurkan untuk mendongkrak finansial dan reputasi kesebelasan pada medio 2010.

Manajemen pun sampai berani membayar mahal jasa Zlatan Ibrahimovic, Marco Verratti, Edinson Cavani, Angel di Maria, Neymar, dan Kylian Mbappe untuk menyihir Parc des Princes.

Sedikit mundur sebelum uang mengubah segalanya, publik telah mengenal Rai, bintang Brasil di Piala Dunia 1994 yang menjadi sosok kunci berjayanya PSG pada pertengahan era 1990-an.

Tepat sebelum pergantian milenium, ada nama Jay-Jay Okocha yang menjajal peruntungan di sana selama dua musim pasca masa-masa keemasannya di Fenerbahce.

Ia kelak menjadi mentor bagi Ronaldinho muda, yang juga menjadikan kesebelasan ini sebagai batu loncatannya sebelum bersinar lebih jauh bersama Barcelona.

Meskipun begitu, sederetan nama besar tadi rupanya belum cukup diakui khalayak Paris sebagai pesepakbola PSG terbaik sepanjang masa.

Kebanyakan orang mungkin masih tak menyangka kalau gelar kehormatan tersebut malah diberikan ke tangan Safet Susic pada 2010 oleh majalah sepak bola terkenal France Football.

Seakan belum cukup, gelandang serang Yugoslavia ini juga dianugerahi sebagai pemain asing terbaik yang pernah mentas di Ligue 1 dua tahun sesudahnya. Kali ini ia mengangkangi nama seperti Juninho Pernambucano, Pedro Pauleta, Didier Drogba, dan Eden Hazard.

Kedua penghargaan itu sudah cukup untuk membuktikan kapasitasnya sebagai pemain berbakat di mata khalayak, meski fakta tentang pencapaiannya selama membela panji Les Parisiens dapat membuat beberapa orang kembali mempertanyakan tingkat kepantasannya untuk meraih predikat tadi.

Selama sembilan musimnya di Paris, Susic mencetak 96 gol dan 61 asis dalam 343 penampilan serta hanya memberikan masing-masing sebiji trofi liga dan Piala Prancis.

Di sisi lain, hal ini juga dapat diartikan bahwa gelar dan torehan individunya sebagai pemain bukan menjadi alasan utama mengapa ia begitu dihormati di sana.

Semua berawal kala Susic merapat ke Paris pada musim dingin 1982. Ia, yang telah berusia 28 tahun didatangkan bersamaan dengan Osvaldo Ardiles, bintang Argentina yang memenangi Piala Dunia 1978 dan penyerang AZ sekaligus penyandang Golden Boot, Kees Kist.

Kedatangan mereka dianggap sebagai bagian revolusi PSG yang waktu itu baru berdiri selama 12 tahun dan masih mencari bentuk permainan terbaiknya.

Status penguasa Liga Prancis masih jadi rebutan Bordeaux, Marseille, Nantes dan Saint-Etienne.

Prestasi PSG selama berkompetisi di papan atas Liga Prancis hanyalah meraih peringkat tujuh klasemen liga dan sebiji Piala Prancis.

Tak butuh waktu lama baginya untuk membuat namanya dielu-elukan para pendukung Les Parisiens. Musim pertamanya diakhiri cukup apik dengan membawa kesebelasan barunya finis di peringkat tiga klasemen dan mempertahankan trofi Piala Prancis.

Peran Susic cukup penting dalam perolehan trofi tersebut lewat lesakan tiga golnya di semifinal dan satu gol di final.

Raihan itu membuat PSG berhak tampil di ajang Piala Winners meski akhirnya kandas di putaran kedua setelah kalah gol tandang di tangan Juventus yang kelak menjadi juara.

BACA JUGA:  Serie A, Timnas Italia dan Kenangan Tentangnya

Performa PSG memang naik-turun di beberapa musim berikutnya, tetapi Susic selalu dapat menghibur khalayak Paris lewat caranya mengolah bola.

Kesabarannya dalam berproses akhirnya membuahkan hasil pada musim keempatnya, saat ia membawa PSG meraih juara liga pertamanya sepanjang sejarah.

Les Parisiens mengantongi 56 poin pada akhir klasemen dan unggul tiga poin di atas Nantes, yang menjadi pesaing terdekatnya.

Kemenangan ini makin terasa manis dengan catatan rekor baru berupa rentetan 27 pertandingan beruntun tanpa satu pun kekalahan.

Di musim itu, ia didaulat menjadi tulang punggung penyerangan tim. Umpannya siap memanjakan duet penyerang Dominique Rocheteau dan Robert Jacques. Pergerakannya juga kelak membuahkan sepuluh gol di liga.

Hal ini tak lepas dari peran Luis Fernandez, sang kapten yang ulet dalam menjaga lini tengah dan memberikan jaminan kebebasan bagi Susic untuk lebih aktif memainkan bolanya tanpa perlu repot-repot memikirkan pertahanan.

Jangan lupa juga dengan ketangguhan lini belakangnya yang dikomandoi kiper tim nasional Prancis, Joel Bats.

Jika saya diminta menyebutkan alasan selain teknik olah bolanya yang dapat dijadikan patokan penghargaan dari France Football, aspek itu jelas berupa kekuatan mental yang dimilikinya.

Ia menjadi salah satu pemain yang memutuskan untuk tetap bermain di Paris ketimbang mengejar kampiun bersama kesebelasan lain layaknya Ardiles dan Kist, yang masing-masing hanya bertahan semusim.

Sušić menikmati atmosfer Parc des Princes selama sembilan musim sampai akhirnya pamit untuk melanjutkan petualangannya di sisi lain Paris bersama Red Star Saint-Ouen selama semusim hingga memutuskan untuk berhenti bermain di usia 37 tahun.

Ini bukan pertama kalinya ia bertahan di sebuah kesebelasan lebih dari lima musim. Susic juga telah melakukannya saat masih bermain di Liga Yugoslavia bersama FK Sarajevo.

Di sana dirinya juga mentas selama sembilan musim sejak debutnya di tim senior yang didapat saat berusia 18 tahun.

Seorang pemain dengan kemampuan teknis di atas rata-rata seperti dirinya bisa saja meraih trofi lebih banyak dengan tampil untuk penguasa liga seperti Red Star, Partizan atau Hajduk Split.

Kenyataannya, ia lebih memilih meningkatkan bakat secara leluasa dengan mendapatkan jatah main lebih banyak di tim biasa daripada membatasi pergerakannya di kesebelasan yang lebih besar.

Selama waktunya bermain di Sarajevo, Susic memang tidak memenangkan satu pun gelar bagi timnya.

Penghargaan tertinggi yang diterimanya sebatas gelar individual berupa Pesepakbola Terbaik Yugoslavia pada 1979, yang disusul dengan trofi pencetak gol terbanyak di musim berikutnya.

Meski begitu, bakatnya tak tertutupi dan seakan bersinar di belahan Yugoslavia yang lain. Statistik golnya di Sarajevo yang hampir mencapai seratus buah tak dapat berbohong, belum lagi sekian asis dan mungkin ratusan dribel sukses yang tak sempat terekam.

Mengamati beberapa cuplikan pertandingan Sušić yang tersisa di YouTube benar-benar memanjakan mata.

Beruntunglah bagi para generasi tua yang hidup di Paris sekitar dekade 1980-an dan sempat menyaksikan perkembangannya secara langsung dalam setiap laga yang dimainkan.

Sebagai seorang fantasista, Pria kelahiran Zavidovići, kota di timur Bosnia ini, memiliki sekian banyak trik di memorinya yang menunggu untuk dipakai.

Teknik olah bolanya ialah harmonisasi antara kecepatan berpikir, rasa percaya diri, dan obsesi untuk melewati lawan dengan anggun.

Bakatnya memang cocok untuk lingkungan seperti Paris yang sangat mengedepankan seni dan keindahan.

Siapapun rasanya patut waspada saat kakinya mulai menyentuh bola. Kualitas dribelnya ada di level yang berbeda jika dibandingan dengan pemain lain pada masanya.

BACA JUGA:  Lazio: Tentang Afeksi dan Kesabaran

Fakta bahwa Susic dapat menggunakan kedua kakinya dengan luwes untuk menggiring dan menendang bola secara akurat menjadi ancaman lanjutan.

Hal ini lalu ditambah dengan akselerasi dan manuvernya yang begitu mengesankan. Laju dan arah bola dapat berubah dengan cepat begitu saja, meninggalkan para bek tim lawan yang kepayahan menjaganya.

Ia juga bukan tipikal pemain yang egois saat lawan berhasil mematikannya dalam duel satu lawan satu.

Beberapa rekaman yang memperlihatkan trik umpan satu sentuhannya menunjukkan visinya yang bagus dan sikap yang tak mudah terpengaruh.

Kepiawaiannya dalam mengumpan sudah diakui oleh mesin gol Red Star, Darko Pancev, yang sempat bermain bersamanya di tim nasional Yugoslavia sejak 1984 sampai 1991.

Si Kobra menyebut Susic sebagai “harta karun bagi setiap penyerang” karena caranya mengumpan silang sangat luar biasa.

Ia kadang tak menyadari kalau bolanya sudah mengenai kakinya tanpa harus diminta dengan isyarat atau teriakan.

Kemampuannya tadi lalu dilengkapi dengan senjata pamungkas berupa ketajaman di depan gawang.

Total 176 gol yang berhasil dicetak sepanjang karier profesionalnya bersama kesebelasan dan tim nasional dengan posisi asli sebagai gelandang serang bukan merupakan catatan yang buruk.

Naluri golnya yang cukup tinggi membuat Susic terkadang diplot sebagai second striker saat dibutuhkan.

Ia juga cukup lihai mengeksekusi skema bola mati, terutama tendangan bebas dan penalti.

Produktivitasnya tetap terjaga saat ia bertanding untuk Yugoslavia di kancah internasional. Sebanyak 21 gol berhasil ia lesakkan dalam 54 pertandingannya.

Jangan lupakan pula brace yang dicetak dalam laga debutnya melawan Hungaria, serta hattrick fenomenalnya yang dilakukan secara beruntun melawan Rumania, Italia, dan Argentina.

Tidak mengherankan, jika Susic akhirnya dipanggil untuk memperkuat Yugoslavia di gelaran kompetisi nasional seperti Piala Eropa 1984, dan Piala Dunia 1982 serta 1990.

Susic masih menjadi sosok vital di jagad sepakbola Bosnia bahkan selepas gantung sepatu. Pengalaman, visi, dan karakter kuatnya kelak ditularkan ke dalam anggota skuat tim nasional selama dirinya menjadi manajer.

Kegagalan sempat dirasakan setelah anak asuhnya dibantai 6–2 dalam laga penentuan kelolosan negaranya menuju Piala Eropa 2012 melawan Portugal.

Ia dengan cepat membalikkan keadaan dengan membentuk dan menggembleng skuad baru yang kelak mencetak sejarah dengan tampil untuk kali pertama di gelaran Piala Dunia Brasil dua tahun kemudian. Kecemerlangannya masih belum terlampaui oleh manajer lainnya hingga kini.

Dinamika sepakbola di era modern membuat motivasi pemain dalam membangun karier profesionalnya menjadi beragam.

Iming-iming gaji besar, ditambah dengan bonus dan jaminan trofi yang dijanjikan beberapa kesebelasan yang lebih besar akan membuat para pemain dengan mudahnya datang dan pergi.

Di sisi lain, kesebelasan yang lebih kecil memang sukar bersaing untuk memperebutkan trofi.

Satu hal yang mungkin dapat terjamin ialah kebebasan para pemain dalam mengekplorasi bakatnya. Hal inilah yang kemudian memengaruhi motivasi pemain dalam membangun karier profesionalnya.

Ketatnya persaingan juga membuat kita bakal jarang melihat pemain seperti Susic, seorang idealis yang menyimpan segudang bakat dengan keteguhan mentalitas di dalam dan luar lapangan di masa kini.

Pemain sepertinya memang sepatutnya dihormati. Tak mengherankan jika Federasi Sepakbola Bosnia kompak mendaftarkannya dalam UEFA Jubilee Awards sebagai talenta Bosnia paling luar biasa dalam 50 tahun terakhir.

Penghargaan dari France Football juga menjadi tanda dari publik Paris yang nyatanya tak pernah melupakannya.

Ia juga menjadi contoh bagi para pesepakbola lainnya, bahwa untuk dicintai penggemar dan menjadi besar tidak melulu berpatokan dari banyaknya gelar.

Komentar
Primagung D. Riliananda
Penggemar sepakbola yang masih menempuh pendidikan di Universitas Padjadjaran.