Samir Handanovic: Batman yang Kehilangan Kekuatan Supernya?

Tatkala gawang sebuah tim begitu mudah ditembus, sorotan publik acap tertuju kepada para penjaga gawang. Cara mereka beraksi di bawah mistar jadi fokus perhatian. Bagaimana cara sang kiper mengomandoi rekan-rekannya di lini belakang? Bagaimana refleks, dan respons sang kiper menghadapi situasi berbahaya? Hal itulah yang belakangan ini acap disorot dari penjaga gawang Inter Milan, Samir Handanovic.

Bergabung ke I Nerazzurri pada musim panas 2012 silam, Handanovic diproyeksikan sebagai pilihan nomor satu menggantikan Julio Cesar yang dilego ke Queens Park Rangers (QPR). Pilihan manajemen Inter jatuh kepadanya disebabkan oleh performa apik Handanovic selama membela Udinese dalam kurun 2007-2012.

Biaya tak kurang dari 15 juta Euro kudu disetorkan kubu biru-hitam guna memuluskan proses transfer sang kiper. Semenjak saat itu pula, pos kiper utama ada di genggamannya.

Berbekal aksi ciamik dan seringkali membuat penyelamatan krusial nan akrobatik serta menepis sepakan penalti, Handanovic beroleh pujian berikut julukan Batman.

Apesnya, ia bergabung pada momen regresi yang dialami klub. Alih-alih dilindungi bek sekelas Cristian Chivu, Marco Materazzi, atau Walter Samuel, Handanovic kudu menerima nasib memiliki Hugo Campagnaro, Juan Jesus, dan Rolando sebagai palang pintu yang berdiri di depannya. Dalam rentang 2012 sampai 2018, tak sekalipun I Nerazzurri finis di tiga besar Serie A.

Perbaikan nyata mulai terlihat setelah Suning Group mengakuisisi klub dari tangan Erick Thohir. Pembenahan skuad dilakukan secara konsisten meski dampaknya tak langsung signifikan. Pergantian pelatih pun digeber demi mengembalikan marwah Inter sebagai klub papan atas di Italia maupun Eropa.

Kendati dihinggapi resistensi, tetapi presensi Antonio Conte sebagai allenatore per musim 2019/2020 kemarin sanggup mengubah peruntungan Inter.

BACA JUGA:  Membayangkan AC Milan Tanpa Zlatan

Buat pertama kalinya sejak musim 2010/2011, mereka finis di posisi dua Serie A. Handanovic dan kawan-kawan juga melaju ke final Liga Europa meski pada akhirnya tumbang dari Sevilla.

Ironisnya, ketika tim mempertontonkan perubahan ke arah yang lebih baik, hal sebaliknya justru terlihat dari sang kiper. Sosok yang memanggul jabatan kapten sejak 13 Februari 2019 ini performanya dinilai kian menurun.

Dibanding melentingkan tubuh atau terbang seraya merentangkan tangan guna menghalau tembakan yang meluncur deras ke gawangnya, Handanovic lebih banyak terpaku, mematung.

Gara-gara serangkaian aksi bengong itu pula, bertebaran kritik dan olok-olok kepada Handanovic di dunia maya. Interisti jelas meradang melihat perilaku sang penjaga gawang. Sebagai kiper utama sekaligus kapten tim, penampilan Handanovic memang mengecewakan dan kerap merugikan I Nerazzurri.

Benar jika aksi bertahan sebuah tim adalah tentang kerja kolektif. Pemain outfield berusaha menutup ruang dan menghambat sirkulasi bola yang dikuasai lawan.

Namun segalanya akan sia-sia bila sang kiper tak bergerak dan pasrah saja menyaksikan jalanya bergetar. Alhasil, poin yang seharusnya bisa dibawa pulang dari suatu laga, tiba-tiba melayang dan melahirkan rasa kecewa serta sesal.

Aksi-aksi mematung pemilik 81 caps bersama tim nasional Slovenia itu bahkan dirangkum menjadi sebuah video kompilasi dan bikin siapa saja yang menontonnya merasa kesal sekaligus geli.

Entah berkaitan dengan usianya atau tidak, tetapi penurunan kualitas Handanovic mulai tampak seiring dengan umurnya yang semakin uzur. Pada musim panas 2021 mendatang, lelaki setinggi 193 sentimeter ini bakal genap berusia 37 tahun.

BACA JUGA:  Atalanta Memang Pantas Dipuja

Tak heran bila Interisti terus menggemakan keinginan agar manajemen mendatangkan kiper baru yang usianya lebih muda dan memiliki kualitas brilian atau mencoba Ionut Radu, kiper Rumania yang jadi pelapis Handanovic saat ini.

Tanpa pembenahan dan pembaruan di sektor penjaga gawang. fans merasa ambisi Inter buat memetik prestasi akan sulit diwujudkan.

Dalam trilogi The Dark Knight yang mengisahkan tentang perjuangan pahlawan super, Batman, melawan sejumlah penjahat kelas kakap, Christopher Nolan sebagai sutradara justru tak memamerkan kedigdayaan sang pahlawan.

Ia membungkus filmnya yang kemudian laris di pasaran serta digemari khalayak itu dengan bingkai pahlawan super seperti Batman yang memiliki sisi lemah. Sebuah keniscayaan dari sesosok anak manusia.

Kondisi serupa, barangkali tengah menimpa sang Batman di lapangan hijau, Handanovic. Seiring berjalannya waktu, di balik aksi-aksi kerennya selama ini, tersimpan juga kelemahan yang bakal terekspos. Dan mungkin saja, momen tereksposnya kelemahan Handanovic terjadi belakangan ini.

Kontrak Handanovic sendiri akan berakhir musim panas 2022 mendatang. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda manajemen I Nerazzurri siap memperpanjang durasi kerja sang kiper.

Walau ingatan publik takkan lepas dari perilaku mematungnya, tetapi Handanovic masih punya kesempatan buat membuktikan kapabilitasnya di Inter seperti beberapa musim silam.

Sisa-sisa kekuatan yang ada pada dirinya, kudu dimaksimalkan pemain bernomor punggung 1 untuk menghentikan aksi jahat lawan dengan meregangkan badan, melompat, melayang, hingga menyusur tanah supaya gawangnya tetap steril.

Siapa tahu, dengan begitu ia dapat membawa I Nerazzurri meraup prestasi seraya menyudahi paceklik gelar selama sedekade terakhir.

Sanggup, Batman?

Komentar