Sepenggal Cerita Kompetisi Perserikatan Tahun 1931 (Bagian Kedua)

Formasi susunan pemain yang digunakan pada saat itu bisa dikatan masih menggunakan skema yang kolot karena umumnya semua tim memasang satu penjaga gawang, dua bek, tiga pemain tengah dan lima penyerang sekaligus. Pola ini sendiri beken dengan nama formasi WM.

Tugas para pemain di setiap posisi juga masih terbatas dan sederhana. Misalnya kiper yang fungsi utamanya hanya menjaga gawang agar tidak kebobolan, bek yang tugasnya menjaga area pertahanan sehingga lawan tak mampu mendekati gawang. Sementara para gelandang bertugas menyalurkan ke depan guna dimanfaatkan pemain depan untuk mencetak gol sebanyak-banyaknya.

Peraturan-peraturan tak tertulis juga dirasakan hingga pernah terdengar jika seorang bek mencetak gol maka wajib dianulir karena itu bukan tugasnya. Pun dengan sepak pojok yang bila terjadi tiga kali beruntun maka dihitung sebagai gol meski bola tidak memasuki gawang. Kemudian tentang penalti yang muncul akibat kesalahan bek, kiper malah membalikkan badannya ke arah gawang sendiri dan membelakangi eksekutor seolah ingin menunjukkan bahwa gol penalti tersebut lahir karena kesalahan bek, bukan kiper.

Jalannya putaran final Kompetisi Perserikatan PSSI edisi pertama pada bulan Mei 1931 bisa dikatakan lancar dan sukses. Padahal awal persiapan dan penyelenggaraannya, para pengurus PSSI seperti Ir. Soeratin Sosrosoegondo beserta panitia penyelenggara dari VVB seperti Raden Soetarman sempat khawatir apabila pertandingan tersebut akan sepi penonton lantaran masyarakat lebih senang melihat pertandingan-pertandingan kompetisi NIVB yang sudah ada sejak tahun 1919 dan rutin menggelar kompetisi. Apalagi di Surakarta juga sudah berdiri bond bentukan bangsa kolonial dan Tionghoa yaitu VBS (Voetbalbond Soerakarta) dan SVB ( Solosche Voetbalbond).

Kekhawatiran itu akhirnya terpatahkan setelah masyarakat kota Surakarta dan sekitarnya bahkan ada juga masyarakat dari Yogya juga ikut membanjiri alun-alun selatan Surakarta untuk menyaksikan pertandingan di putaran final kompetisi Perserikatan edisi perdana ini.

Pada pertandingan hari pertama tanggal 22 Mei 1931 yang mempertemukan PSIM dengan VVB, para pemain kedua tim masuk dari arah timur lapangan pertandingan diiringi dengan musik (saat ini mungkin seperti diiringi anthem FIFA) menuju ke depan tribun di mana para tamu undangan, pengurus bond, dan pembesar-pembesar PSSI duduk.

Setelah perwakilan tuan rumah dan pengurus PSSI memberikan sambutan, stedenwedstrijden atau putaran final kompetisi PSSI yang pertama ini juga diisi dengan lezing atau ceramah mengenai “Sport dan Pendidikan” oleh Dr. Marzoeki Mahdi serta ceramah mengenai “Sport dan Pendidikan” oleh Tuan Daslan.

Pertandingan pertama juga dibuka juga dengan pertunjukan tari Beksan Wireng yang merupakan hadiah dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat saat itu untuk memeriahkan acara pembukaan stedenwedstrijden PSSI yang pertama. Selain pertunjukan Tari Beksan Wireng, secara simbolis kompetisi PSSI pertama ini juga dibuka dengan suara dentuman seperti tembakan meriam dan disambut meriah dengan tepuk tangan para penonton yang membanjiri alun– alun selatan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat.

Sementara di pertandingan terakhir antara VVB melawan VIJ yang dilaksanakan tanggal 24 Mei 1931, acara penutupannya dihiasi suara dentuman keras yang menandai berakhirnya kompetisi Perserikatan PSSI edisi pertama yang dijuarai oleh VIJ.

Untuk lebih mengenal para pahlawan lapangan hijau yang berjuang untuk kesuksesan pelaksanaan kompetisi PSSI edisi pertama pada tahun 1931 ini, saya akan menguraikan sedikit tentang skuad yang ada di tubuh VVB, PSIM maupun VIJ yang turun di putaran final kompetisi Perserikatan edisi perdana. Dari ketiga bond tersebut para pemain tuan rumah VVB yang mungkin akan paling lengkap diuraikan.

Pertama adalah pemain VVB bernama Soekirjo yang berposisi sebagai kiper. Namanya sendiri pada saat itu sudah cukup terkenal di seantero pulau Jawa sebagai kiper jebolan tim MARS (Mardi Anggo Roping Swanito) dan tangguh. Kehebatan Soekirjo melambung karena kemampuannya menepis atau menangkap tembakan-tembakan akurat pemain lawan. Perawakan Soekirjo yang tinggi besar, pembawaannya yang tenang, dan tidak takut untuk berduel dengan pemain lawan membuatnya menjadi kiper yang disegani dan ditakuti lawan. Walau begitu, Soekirjo memiliki kelemahan yakni antisipasi bola-bola mendatar.

Di era 1930-an, Soekirjo pernah memperkuat tim kesebelasan JPO (Javasche Padvinders Organization) atau bisa disebut Organisasi Pandu Jawa yang merupakan kombinasi antara tim THOR (Tot Heil Onze Ribbenkast) dan MARS. Dalam suatu pertandingan untuk kesebelasan JPO, Soekirjo sebagai penjaga gawang sangat tangguh dengan terus mementahkan upaya lawan buat mencetak gol.

Namun salah seorang lawannya yang bernama Abidin dari Jakarta, mengetahui kelemahan Soekirjo dengan rajin menembakkan bola menyusur ke sudut gawang yang tidak terjangkau olehnya. Alhasil, kesebelasan yang dibela Soekirjo harus menyerah dengan skor telak yaitu 0-6 dengan gol-gol yang bercorak sama dengan gol yang dicetak oleh Abidin.

BACA JUGA:  Phnom Penh Crown, Sam Schweingruber dan Sisi Gelap Sepakbola Kamboja

Dalam kompetisi PSSI yang pertama, Soekirjo dan penggawa VVB lainnya menghadapi para pemain VIJ yang didominasi oleh pemain VBO (Voetbalbond Batavia en Omstreken) dan merupakan bond sepakbola bentukan bangsa kolonial Belanda, tapi diperkuat juga oleh para pemain lokal bumiputra seperti Idris Halim yang berposisi sebagai kiri luar dan berasal dari tim MVV.

Pos kiri dalam diisi oleh Jainin yang merupakan pemain SVBB, centervoor bernama Soemo yang terkenal dengan tendangan meriamnya berasal dari tim Hercules. Moedjitaba yang bermain sebagai kanan luar juga berasal dari tim yang sama dengan Soemo.

Jika dilihat dari komposisi pemain VIJ yang juga diperkuat oleh pemain VBO, pemain VVB tampaknya akan mudah. Terlebih kekuatan VIJ yang memainkan Soemo dianggap krusial buat menaklukkan Soekirjo.

Dalam suatu serangan yang dibangun oleh Soemo dan Jainin di daerah pertahanan VVB, nama pertama mampu melepaskan tendangan voli yang sangat keras bagai hunjaman meriam ke arah gawang Soekirjo. Bisa ditebak tendangan keras tersebut kemungkinan besar akan berbuah gol bagi VIJ. Namun di luar dugaan para pemain dan penonton, bola itu sukses dimentahkan Soekirjo dan hanya menghasilkan tendangan sudut. Aksi Soekirjo membuat penonton bertepuk tangan dan berteriak gembira.

Setelah berakhirnya pertandingan antara VVB dan VIJ yang dimenangkan VIJ dengan skor tipis 2-1, keesokan harinya tangan Soekirjo harus diperban karena didiagnosa retak tulangnya setelah menghalau usaha lawan secara bertubi-tubi.

Beberapa waktu setelah putaran final kompetisi Perserikatan perdana tersebut, Soekirjo kembali berlatih sepak bola, namun tidak menjadi seorang kiper lagi melainkan berpindah-pindah posisi. Mulai dari bek, centre-half, kiri dalam dan kiri luar serta centervoor karena ternyata Soekirjo merupakan pemain serba bisa.

Setelah era Soekirjo, mistar gawang VVB yang pada tahun 1933 berubah nama menjadi Persis diisi oleh kiper tangguh yang juga melegenda di kota Bengawan hingga saat ini, R. Maladi. Hingga era 1970-an, Persis juga pernah memiliki kiper tangguh bernama Judohadiyanto yang merupakan putra asli Surakarta.

Pada posisi bek kanan, diisi oleh seorang pemain bernama Farooq O. R. Beliau adalah putra dari seorang haji yang sangat menyukai sepakbola. Bahkan ayah dari Farooq memiliki perkumpulan klub sepakbola sendiri bernama De Leeuw (singa dalam Bahasa Belanda) dan tentu saja, Farooq berlatih sepakbola di klub yang diinisiasi oleh sang ayah tersebut.

Bangun tubuh Farooq tergolong besar dan kokoh. Karakternya petarung dan pemberani. Striker lawan tentu berhati-hati jika berhadapan dengan Farooq. Sebagai bek, Farooq sudah memenuhi syarat untuk menjadi bek yang bagus. Walau dianggap pemberani dan menakutkan, Farooq bukan sosok yang hobi bermain kasar.

Posisi bek kiri diperkuat oleh Ponco yang juga berpostur besar dan gagah. Tidak suka bermain kasar, tapi Ponco dikenal berani berhadapan dengan lawan seperti apapun kondisinya. Ponco yang juga merupakan tentara Legiun Mangkunegaran banyak berlatih sepakbola dan bergabung dengan tim kesebelasan Legioen yang kebanyakan juga dihuni oleh Legiun Mangkunegaran.

Bek VVB pada satu ini memang ditakuti oleh pemain VIJ sehingga muncul asumsi bahwa dua gol yang bersarang di gawang VVB hanya keberuntungan untuk VIJ. Resiko besar yang pernah didapat oleh Ponco karena berposisi sebagai bek adalah retak tulang depan kaki kanannya sebab benturan keras dengan lawannya. Kabar terakhir yang dapat dilacak, Ponco meninggal dunia ketika masa revolusi di Indonesia atau sekitar tahun 1950-an gara-gara masuk angin.

Di posisi half  kanan VVB ditempati oleh R.M. Soediyono atau yang dikenal dengan sebutan ndara Di. Beliau termasuk bangsawan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat yang bertubuh besar dan tampan. Ia sosok yang kalem tapi rmemiliki gaya main yang spartan dan lugas tapi jarang melakukan pelanggaran. Soediyono tidak begitu suka jika disoraki atau dielu-elukan oleh penonton. Hingga tahun 1970-an keadaanya masih sehat dan sugeng meski beberapa giginya sudah mulai copot.

Centre-half  VVB pada saat itu ditempati oleh Soegiman. Sama seperti Ponco, Soegiman juga merupakan anggota Legiun Mangkunegaran sehingga tepat untuk menempatkannya di posisi tersebut. Didukung dengan napasnya yang panjang, Soegiman juga berstamina tinggi karena gemar akan olahraga lari jarak jauh. Bila ada perlombaan lari 10 kilometer yang biasanya diadakan sewaktu ada Pasar Malam di Sriwedari, hampir setiap perlombaannya dimenangkan Soegiman. Tercatat, hanya sekali ia kalah dalam perlombaan lari. Soegiman sudah tutup usia pada usia yang belum begitu sepuh  akibat penyakit pada paru-parunya.

Di posisi half kiri, ada Djamadi yang berasal dari klub MARS. Sama seperti Ponco dan Soegiman, Djamadi merupakan anggota tentara Legiun Mangkunegaran. Kendati perawakannya tidak besar, tetapi badannya kuat dan kokoh. Djamadi mendapat julukan Si Napas Panjang karena ausdeur–nya baik. Sebagai pemain VVB, Djamadi termasuk pemain yang ulet dan tidak mudah dilewati oleh para lawannya.

BACA JUGA:  Suporter dan Fanatisme yang Melahirkan Gerakan Sosial

Lucunya, saat berduel dengan lawan, ia kerap menyunggingkan senyum bahkan tertawa. Sebuah hal yang kerap dinilai negatif oleh lawan meski hal itu memang kebiasaan Djamadi yang periang. Di hari tuanya, pada tahun 1970-an, beliau mengaku fokus untuk momong atau mengasuh cucunya di kediamannya di daerah Colomadu, Karanganyar.

Posisi kanan luar VVB ditempati oleh Soeharno yang perawakannya cukup besar. Beliau memiliki keistimewaan dapat menendang dengan keras menggunakan kura-kura kakinya yang jarang dimiliki oleh pemain lainnya. Menendang meggunakan kura-kura kaki memang menghasilkan tendangan yang sangat keras sehingga Soeharno sering mendapat kepercayaan untuk mengeksekusi tendangan bebas maupun sepak pojok. Cukup disayangkan karena beliau pada akhirnya harus menepi dari lapangan hijau karena menderita penyakit lumpuh dalam waktu yang lama. Soeharno wafat di kota Surabaya.

Posisi kanan dalam dihuni oleh Siswanto yang sudah membela VVB sejak usia 17 tahun dari keanggotaannya bersama tim MARS. Bersama Soeharno, Darmowisman, dan Soedadio, Siswanto berkali-kali membela bendera bond Surakarta sejak bernama VVB hingga berganti nama menjadi Persis. Setelah adanya perjanjian dan persetujuan antara PSSI dengan NIVU (perubahan nama dari NIVB, federasi bond Hindia Belanda) pada tahun 1937, Siswanto dan Darmowisman terpaksa berpindah ke bond milik bangsa kolonial yang juga bermarkas di Surakarta bernama VBS (Voetbalbond Surakarta).

Alasannya karena mereka bekerja di instansi kepunyaan bangsa kolonial.. Siswanto memilih bergabung menjadi anggota klub internal VBS yang bernama VOICE sedangkan Darmowisman pindah ke klub internal VBS bernama Al Ittihad (klub ini merupakan kesebelasan milik warga keturunan Arab yang bermukim di Surakarta namun memilih ikut kompetisi internal di bawah bond federasi sepak bola Hindia Belanda).

Dari beberapa keterangan yang didapat, Darmowisman merupakan pemain yang piawai bermain di segala posisi. Wisman, sapaan akrabnya, merupakans salah satu anggota De Leeuw. Awalnya ia seorang pemain yang kurang berani dan memilih mencari aman dalam bermain bola. Namun segalanya berubah saat ia bertemu dengan rekan-rekannya di De Leeuw serta Pembina klub tersebut, Haji Adenan. Nama terakhir, ternyata juga seorang wasit.

Pernah pada suatu latihan De Leeuw, Haji Adenan memimpin pertandingan yang salah satu pemainnya adalah Wisman. Ketika sang pemain menguasai bola akan bertubrukan dengan penggawa lawan, Wisman memilih menghindar untuk menyelamatkan diri dan bola dengan mudah direbut oleh lawannya.

Tiba-tiba saja Haji Adenan meniup peluitnya sehingga pertandingan berhenti sejenak. Beliau memanggil Wisman dan berkata, “Aja wedi, ora keno main ngono kuwi, kudu wani tempukan, ayo dibaleni” (jangan takut, tidak boleh bermain seperti itu, harus berani bertabrakan, ayo diulangi), seru Haji Adenan kepada Wisman dan lawannya.

Pada momen lain, keduanya kembali berhadapan dan akhirnya bertubrukan karena memperebutkan bola. Haji Adenan pun tertawa dan berkata, “ Hla, rak ngono kuwi main bal-balan” (Nah, begitu caranya main sepakbola). Tidak lama kemudian, Wisman pun menjelma menjadi pemain yang cukup pemberani malah kadang menjurus kepada pemain yang kasar.

Setelah bond VBS milik bangsa kolonial bubar usai kemerdekaan, Wisman kembali membela panji sepakbola Surakarta di bawah naungan Persis yaitu De Leeuw. Wisman memperkuat Persis bersama kakak beradik bernama Marso, Marno dan Martal.

Di posisi kiri dalam, VVB mengandalkan anggota MARS bernama Soedadio yang memiliki banyak pengalaman karena pada tahun 1931, ia baru saja pulang dari tur bersama tim sepakbola bayaran dari kelompok pasar malam keliling bernama Miss Riboet selama dua tahun di Malaya (kini Malaysia). Perawakannya tidak terlalu besar tapi cukup pemberani untuk ukuran pemain seperti dirinya.

Bersama Darmowisman dan penyerang lain, Soedadio merupakan barisan depan penyerang VVB yang cukup ditakuti oleh bek VIJ seperti Sarim alias Mat Jan, Sutrisno, dan Rachim. Sarim memang pemain yang keras dan pemberani, tapi para penyerang VVB tidak jeri lantaran mereka juga berkarakter sama.

Pemain inti terakhir dari VVB dan berposisi di kiri luar adalah Kajat. Jika Ponco, Soegiman dan Djamadi merupakan anggota tentara Legiun Mangkunegaran, Kajat dahulu adalah anggota Tentara Kasunanan Surakarta. Sebagaimana perawakan tentara, Kajat memiliki badan yang tegap dan gagah. Ia jago melepas tembakan akurat baik dengan kaki kanan maupun kiri. Kajat juga tak gentar beradu fisik dengan pemain lawan.

Setelah berhenti bermain sepakbola dengan membela panji VVB dan Persis serta berakhirnya masa revolusi setelah kemerdekaan, Kajat beralih profesi menjadi seorang Brandweer atau petugas pemadam kebakaran yang bertugas di Kodya Surakarta.

(Bersambung)

Komentar