Solo: Antara Persis dan Kubu Pendatang

Selayaknya masyarakat kota-kota lain di Pulau Jawa, warga Solo juga amat menggilai sepakbola. Terlebih, di sana berdiri dua stadion legendaris dan megah bernama Sriwedari dan Manahan. Ada begitu banyak kisah dalam persepakbolaan nasional yang ditulis dari kedua arena tersebut.

Kesebelasan yang identik dari Solo adalah Persis. Klub berjuluk Laskar Sambernyawa ini berdiri pada 8 November 1923 dan berasal dari Vorstenlandschen Voetbal Bond (VVB) di era penjajahan Belanda. Di era Perserikatan, Persis dikenal sebagai salah satu klub papan atas. Hal ini didasari oleh keberhasilan mereka mengepak tujuh gelar yang didapat pada tahun 1935, 1936, 1939, 1940, 1941, 1942, dan 1943. Torehan itu cuma kalah dari Voetbalbond Indonesish Jakarta (VIJ) yang kini kita kenal sebagai Persija.

Nahasnya, pasca-kemerdekaan prestasi Persis merosot. Mereka kesulitan untuk bersaing dengan klub-klub lain semisal Persib, Persija, Persebaya, dan PSM guna memperebutkan titel kampiun. Keadaan itu sendiri bikin persepakbolaan Solo meredup. Eksistensi Persis tak dibarengi gairah suporternya yang telanjur kecewa.

Presensi Arseto

Gegap gempita sepakbola Solo sempat menyeruak lagi saat kompetisi semi-profesional dengan tajuk Galatama bergulir. Pasalnya, kota yang melahirkan dua penyanyi kenamaan, Didi Kempot dan Waldjinah, ini punya wakil dalam wujud Arseto.

Kendati demikian, Arseto bukanlah tim asli Solo. Klub yang dimiliki Sigid Haryojudanto tersebut dibentuk di Jakarta pada 1978. Barulah di tahun 1983, klub yang satu ini pindah ke Jawa Tengah dan berkandang di Stadion Sriwedari.

Kiprah The Cannon, julukan Arseto, sendiri tergolong cukup baik. Mereka pernah menjadi jawara Galatama di tahun 1992 dan Piala Galatama tujuh tahun sebelumnya. Sayang, perjalanan Arseto di Solo berakhir prematur sebab mereka bubar per tahun 1998 usai Indonesia dihantam krisis moneter.

Datangnya Pelita Jaya

Tatkala perhatian masyarakat Solo mulai kembali ke pangkuan Persis yang penampilannya masih begitu-begitu saja, giliran klub ibu kota lainnya merapat ke sana. Adalah kesebelasan milik keluarga Bakrie, Pelita Jaya, yang angkat kaki dari Jakarta menuju Solo serta mengganti namanya jadi Pelita Solo.

BACA JUGA:  Tarkam: Kultur Sepakbola Indonesia yang Penuh Warna

Kedatangan Pelita rupanya menggolakkan lagi semangat masyarakat lokal buat hadir ke stadion. Presensi Pelita juga yang akhirnya melahirkan komunitas suporter bernama Pasoepati (Pasukan Soeporter Solo paling Sejati). Namun ironis, ketika rasa cinta suporter sedang masif-masifnya, masalah finansial membelit Pelita. Akhirnya, manajemen memutuskan untuk pergi dari Kota Batik dan pindah ke Cilegon seraya mengusung nama baru, Pelita Krakatau Steel (KS).

Persijatim yang Cuma Mampir

Tak adanya kesebelasan di level teratas sepakbola nasional bikin para suporter ‘pulang’ ke Persis. Namun momen itu tidak berjalan lama. Rasa jengah karena Persis tak kunjung membaik bikin atensi publik beralih ke Persijatim. Tim ini, seperti Arseto dan Pelita, adalah klub asal Jakarta. Mereka memilih Solo sebagai kandangnya meski tak mempunyai kantor atau tempat latihan di Kota Batik. Nama mereka pun berubah menjadi Persijatim Solo FC saat mengarungi kompetisi di awal era 2000-an.

Akan tetapi, kebersamaan warga Solo dan Persijatim Solo FC tak berlangsung lama. Layaknya Pelita, klub asal Jakarta Timur itu memutuskan pindah ke kota Palembang dan berganti nama jadi Sriwijaya FC plus mengeruk cukup banyak kesuksesan sebagai tim profesional.

Banyaknya cerita tim-tim pendatang yang akhirnya pergi, bikin perhatian warga lokal kepada Persis malah semakin meningkat. Perasaan memiliki Persis yang memang asli Solo jadi semakin besar. Tak ayal, dukungan kepada Laskar Sambernyawa pun kian masif dari waktu ke waktu. Tak peduli bahwa Laskar Sambernyawa masih tertatih-tatih buat menembus kasta teratas sepakbola Indonesia.

Boyongan Bhayangkara FC

Manakala Persis terus berbenah dan mengusung ambisi promosi ke Liga 1, hadir lagi tim pendatang dari Jakarta dalam wujud Bhayangkara FC. Kampiun Liga 1 musim 2017 itu juga pindah ke Kota Batik. Dilansir CNN Indonesia, Sumardji selaku Chief Operation Officer (COO) Bhayangkara FC, mengungkapkan bahwa kepindahan ke Solo karena The Guardian ingin memiliki homebase permanen di masa yang akan datang.

BACA JUGA:  Andik Sementara, Persebaya Selamanya

Keseriusan Bhayangkara FC hijrah ke Solo juga ditandai dengan berubahnya nama mereka yang kini jadi Bhayangkara Solo FC. Bermarkas di Stadion Manahan, klub yang memiliki relasi kuat dengan Kepolisian Republik Indonesia itu juga bekerja sama dengan Universitas Sebelas Maret (UNS) buat menggunakan Stadion UNS sebagai tempat berlatih serta penginapan di dekat stadion sebagai mess pemain.

Walau demikian, banyak pengamat yang tak seratus persen percaya bahwa tujuan Bhayangkara FC merapat ke Solo hanya untuk memiliki homebase permanen. Mereka justru yakin bahwa klub yang diasuh Paul Munster tersebut ingin mencuri hati masyarakat lokal sehingga beroleh dukungan lebih masif. Cara ini juga ditempuh agar eksistensi mereka di kancah sepakbola nasional terjaga.

Terlebih, kultur di Solo sendiri membuktikan bahwa atensi publik lokal seringkali terpecah antara klub asli Solo, Persis, dengan para pendatang, Arseto sampai Persijatim. Artinya, kans buat mendapat dukungan pun cukup besar. Rasa jenuh karena Laskar Sambernyawa tak kunjung merumput di kasta tertinggi berpotensi mendorong warga lokal ‘menggadaikan jiwa’ dengan mendukung tim-tim pendatang.

Kini, dengan resminya Bhayangkara FC bermukim di Solo dan mengubah namanya jadi Bhayangkara Solo FC, kita bisa sama-sama melihat apakah perhatian masyarakat Kota Batik tetap teguh dan mendukung kesebelasan lokal yang tak kunjung bangkit seperti Persis atau berpindah haluan ke The Guardian sebab tim ini berlaga di puncak piramida sepakbola nasional dan punya skuad mentereng.

Komentar