Tentang Nama

 

“Ketika itu saya berjanji akan memberi nama anak kedua saya berbau Spanyol atau Italia, tergantung yang jadi pemenang di Euro 2012. Karena Spanyol yang jadi juara akhirnya anak laki-laki kedua saya beri nama Dionisian VIVA Manuskripta, kalau Italia yang juara ya Forza, tapi untungnya Spanyol yang menang,” cerita Fajar Junaedi tentang asal usul nama putra keduanya. Fajar kemudian mengaku bersyukur karena Spanyol yang juara lantaran Italia jelas bukan tim nasional (timnas) idolanya.

Memberi nama anak dengan hal-hal yang dikaitkan dengan sepak bola merupakan hal umum di Indonesia. Penyerang timnas U-23 yang moncer bersama timnas U-19, Muchlis Hadi Ning Syaifullah merupakan nama yang diinspirasi dari ekspenyerang Petrokimia Gresik, Ning Syaifullah. Kompatriotnya di timnas U-23, Vava Mario Yagallo, namanya diambil dari nama pesepak bola legendaris Brasil.

Kemudian, ada pula gelandang yang sempat memerkuat PSS Sleman sebelum akhirnya tim dibubarkan lantaran kompetisi Divisi Utama tak jadi digelar, Voller Ortega. Mantan pemain Persibangga Purbalingga itu mengaku namanya diambil dari dua maestro lapangan hijau, Rudi Voller yang berkebangsaan Jerman dan gelandang mungil nan cerdik asal Argentina, Ariel Ortega.

Anang Hadi, eks gelandang PSS Sleman memberi nama anaknya Zidan yang berasal dari nama maestro sepak bola dunia, Zinedine Zidane. Mantan kapten Laskar Sembada – julukan PSS – tersebut mengaku mengidolai Zidane sejak lama, bahkan ketika belum terjun sebagai pesepak bola profesional.

Pada umumnya, memberi nama anak dari nama pesepak bola bermula dari kegemaran sang orang tua pada olah raga Si Kulit Bulat ini. Kemudian, dari sana muncullah nama pemain-pemain kesayangan atau pesepak bola yang sedang berprestasi. Oleh karena itu, nama pemain seperti Zidane, Alessandro Del Piero, Francesco Totti, Ryan Giggs, David Beckham, Gianfranco Zola hingga Gabriel Omar Batistuta kerap digunakan untuk anak-anak kelahiran 1990-an akhir hingga awal 2000-an. Sementara, nama Cristiano Ronaldo, Lionel Messi, hingga El Shaarawy digunakan oleh anak yang lahir setelah tahun 2005.

BACA JUGA:  Pep Guardiola dan Keterasingan dari Si Kuping Besar

Orang tua yang kreatif ada pula yang menyambungkan dua atau lebih nama pesepak bola. Contohnya, ada anak yang diberi nama Muhammad Alessandro Zidane. Ada juga orang tua yang mengambil satu nama untuk dua anak, seperti anak kembar laki-laki dan perempuan yang diberi nama Dona dan Doni yang berasal dari salah satu bintang sepak bola Italia, Roberto Donadoni.

Fenomena seperti ini tidak hanya terjadi di Indonesia tapi juga di berbagai negara. Nama Jasper menjadi populer digunakan untuk bayi di Belanda yang lahir pada tahun 2014 setelah kiper Ajax Amsterdam tersebut tampil gemilang di liga dan Piala Dunia 2014 Brasil. Nama Neymar juga populer di Brasil bagi bayi kelahiran tahun 2014.

Tidak melulu dari nama pesepak bola, kecintaan seorang ayah atau ibu pada klub tertentu membuat mereka menamai anak mereka dengan nama klub, pemilik klub, hingga nama stadion. Oleh karena itu bisa kita jumpai ada anak di Indonesia dengan nama Real Madrid, Milan, Fiorentina, dan lain sebagainya.

Namun, ada baiknya memikirkan masak-masak dalam memberi nama anak dengan nama klub. Bisa saja ketika dia tumbuh besar, si anak tidak jadi fans klub yang sama dengan namanya alias klub yang dibela oleh ayah atau ibunya.

Ada seorang kawan bernama Bryan. Dia lahirtahun 1992, dan pada masa itu Barcelona sedang dikenal dengan the Dream Team di bawah asuhan Johan Cruyff. Sulit bagi pencinta sepak bola pada masa itu untuk tak jatuh cinta pada Barcelona seperti halnya ketika Blaugrana diarsiteki oleh Pep Guardiola. Tatkala Barcelona meraih gelar juara Liga Champions 1992 setelah mengalahkan Sampdoria 1-0 di stadion Wembley, sang ayah pun tak segan untuk memberinya nama belakang Barcelona. Nama lengkapnya pun menjadi Bryan Barcelona.

BACA JUGA:  Ishizaki yang Pantas Diteladani

Sayang, ketika Bryan beranjak dewasa dia tak jadi suporter Barcelona. Seperti halnya kawan-kawan sebayanya yang tumbuh besar dengan sepak bola Italia yang gegap gempita dan Juventus merupakan klub tersukses dalam sejarah sepak bola negeri pizza tersebut, Bryan pun menahbiskan diri sebagai seorang Juventino.

Kini, dengan memakai nama Barcelona, dia akan mendukung Juventus untuk mengalahkan Barcelona di final Liga Champion 2015. Itu juga berarti dia akan beradu mulut dengan ayahnya di rumah, untuk saling mengunggulkan kesebelasan favorit masing-masing mengangkat Piala yang jadi perlambang supremasi sepak bola antarklub di Eropa.

Pelajaran penting dari Bryan Barcelona, sebaiknya jangan beri nama anakmu dengan nama klub kesayanganmu. Karena mungkin saja di masa depan dia akan melawan klub yang telah ditahbiskan jadi namanya.

Akan menggelikan jika setelah ini banyak anak diberi nama Juventus dan di kemudian hari mereka tumbuh menjadi penggemar Internazionale Milano. Pergolakan batin yang terlalu rumit untuk dirasakan oleh setiap ayah yang seorang Juventini dengan anak bernama Juventus tapi memilih membela panji biru-hitam.

Komentar
Akrab dengan dunia penulisan, penelitian, serta kajian populer. Pribadi yang tertarik untuk belajar berbagai hal baru ini juga menikmati segala seluk beluk sepak bola baik di tingkat lokal maupun internasional.