Thomas N’kono: Inspirasi Buffon

Saat itu Piala Dunia 1990 di Italia. Laga pertama adalah Argentina vs Kamerun di San Siro. Buffon yang baru berusia 12 tahun berada di ruang tamu sendirian untuk melihat pertandingan itu.

Sepatu futsal Mills ori di sini!

Dia tidak tahu di mana Kamerun berada. Tentu saja, Buffon tahu Argentina dan Maradona. Tapi dia merasa ada sesuatu yang ajaib dari para pemain Kamerun. Di hari yang sangat panas itu, Buffon melihat kiper Kamerun yang masih mengenakan setelan lengkap.

Celana hitam, dan jersey hijay panjang dengan kerah merah muda. Cara dia bergerak, berdiri tegak, dan kumisnya yang khas. Dia adalah pria paling keren di mata Gianluigi Buffon. Komentator mengatakan namanya adalah Thomas N’kono.

Cari sepatu sepakbola Ortus ori? Klik di sini!

Terdapat satu momen yang menggugah Buffon. Sepak pojok diberikan untuk Argentina. Thomas berlari ke arah penonton dan meninju bola sejauh 30 yard di udara. Itu adalah saat di mana Buffon tahu apa yang ingin dia lakukan dalam hidupnya.

Tidak hanya sekadar menjadi kiper. Tapi Buffon ingin menjadi seorang kiper yang seperti itu. Di matanya, Thomas adalah penjaga gawang yang liar, berani, dan bebas.

Buffon saat itu sudah bermain sepakbola. Namun posisinya bukan sebagai kiper, melainkan bek sayap. Namun aksi-aksi dari Thomas N’Kono telah merubah keinginannya. Semenjak itu, ia bertekad untuk menjadi seorang penjaga gawang sejati.

Piala Dunia 1994 menjadi akhir kiprah Thomas bersama Timnas Kamerun. Tiga tahun berselang, Thomas gantung sarung tangan. Saat memutuskan pensiun, Thomas meminta Buffon hadir pada partai perpisahannya di Kamerun.

Kala itu, Buffon sendiri menjadi bintang muda yang bersinar bersama FC Parma. Awalnya, Thomas berpikir dia tidak akan datang. Namun, pada saat menjelang pertandingan, Buffon menelpon Thomas dan mengatakan bahwa ia sudah dalam perjalanan.

BACA JUGA:  Luigi Riva: Mengenang Si Raungan Guntur Pujaan Sardinia

Saat dua kiper itu kembai bertemu di kesempatan lain, pembahasannya adalah soal anak tertua Buffon. Pasalnya, kiper legendaris Juventus itu menamai anaknya dengan unsur nama yang dimiliki idola masa ciliknya, yakni Louis Thomas.

Kini, Buffon telah menyusul Thomas yang sudah lama gantung sarung tangan. Terima kasih Thomas telah ‘melahirkan’ Buffon. Dan terima kasih Buffon telah menghiasi dunia sepakbola 30 tahun lamanya.

Grazie. Grazie.

Cari Sepatu Nike Tiempo? Klik di sini!

Komentar
Menjadi fans Chelsea karena pengaruh bapak. Dapat disapa via akun Twitter @iiklil.