Memuji Vincenzo Montella, Sang Dewa Penyelamat Milan

Kehidupan itu bak roda yang berputar, kadang di bawah, kadang di atas. Seperti yang diungkapkan dalam sebuah peribahasa “Untung bagaikan roda pedati sekali ke bawah sekali ke atas”.

Hal inilah yang sedang dialami oleh AC Milan. Begitu digdaya di tahun 90-an sampai awal 2000-an, Milan merosot bak ditelan bumi beberapa tahun terakhir.

Tetapi, sepertinya kemerosotan tersebut akan mendekati akhir dengan Vicenzo Montella sebagai aktor utamanya.

Bukan tanpa alasan mengatakan Milan akan bangkit bersama Montella. Dalam enam pertandingan terakhir, Milan tidak pernah kalah dan berhasil menduduki posisi kedua. Selisih dua poin saja dari Juventus di posisi pertama.

Ada beberapa hal positif yang dilakukan oleh Montella untuk membawa Milan kembali ke jalan yang benar musim ini.

Meningkatkan mentalitas pemain

Beberapa tahun terakhir, mentalitas para pemain Milan berada di level terendah, layaknya pemain medioker. Hal ini yang membuat kesal beberapa legenda Milan seperti Zvonimir Boban, Gennaro Gattuso, dan Alessandro Nesta yang mengkritisi mentalitas para pemain Milan.

Mental medioker tersebut, perlahan, mulai dikikis Montella. Pertandingan melawan Sassuolo menjadi bukti sahihnya. Dari ketinggalan 1-3, Milan membalikkan keadaan menajdi 4-3. Hal yang terakhir kali bisa dilakukan oleh Milan pada musim 2011/2012.

Variasi taktik

Pada dasarnya, Montella menggunakan formasi 4-3-3. Tetapi pada penerapannya di lapangan sering kali berubah menyesuaikan situasi.

Ketika fase menyerang, Milan bertransformasi dari 4-3-3 menjadi 3-4-3 dengan Mattia De Sciglio turun menjadi bek tengah dan Ignazio Abate maju ke depan menjadi gelandang sayap. Hal ini mulai terlihat ketika pertandingan melawan Chievo di giornata 8.

Begitu juga dalam fase bertahan, Milan bertransformasi dari 4-3-3 menjadi 4-2-3-1 atau 4-4-1-1. Mendorong kedua penyerang sayapnya, M’Baye Niang dan Suso untuk turun membantu pertahanan. Dan mendorong Jack Bonaventura ke depan untuk berada tepat di belakang Carlos Bacca.

BACA JUGA:  Kecerdikan Potter Bawa The Blues Puncaki Klasemen Grup E di UCL

Hal ini terlihat jelas pada pertandingan melawan Juventus, terutama setelah Niang diganti Andrea Poli. Suso, yang awalnya bermain sebagai penyerang sayap, ditarik ke tengah tepat di belakang Bacca dalam formasi 4-4-1-1.

Selain itu, Montella juga sering mengubah formasi tim ketika dalam keadaan unggul. Memasukkan bek untuk menggantikan salah satu dari penyerang atau gelandang. Sehingga, Milan akan bermain dalam formasi 3-6-1 atau 5-4-1.

Memaksimalkan potensi pemain

Mercato Milan di musim panas kemarin bisa dikatakan buruk sekali. Pemain-pemain yang diinginkan oleh Montella gagal didapatkan seperti Milan Badelj, Juan Cuadrado, dan Marko Pjaca.

Walaupun gagal mendapatkan beberapa pemain yang diinginkannya, Montella mampu menyulap beberapa pemain Milan untuk tampil bagus. Mulai dari Gabriel Paletta, yang musim lalu sempat dipinjamkan ke Atalanta, disulap menjadi tembok yang sulit ditembus di lini belakang Milan.

Kemudian, Suso yang musim lalu juga sempat dipinjamkan ke Genoa, dipercaya oleh Montella menjadi salah satu tridente di lini depan. Dan tentunya Manuel Locatelli, potensi pemuda 18 tahun ini berhasil dimaksimalkan.

Dua gol penting telah dilesakkan Locatelli, satu gol ke gawang Sassuolo yang menandai awal comeback Milan pada pertandingan tersebut dan satu gol lagi ke gawang Gianluigi Buffon yang membuat Milan meraih kemenangan pertama atas Juventus dalam empat tahun terakhir.

Selain Locatelli, beberapa pemain muda lainnya pun semakin matang di bawah asuhan Montella. Gianluigi Donnarumma, yang semakin cekatan di bawah mistar, Alessio Romagnoli, dan De Sciglio yang semakin tenang mengawal pertahanan Milan dan tentu saja Niang, yang semakin tajam di depan gawang lawan.

Selain hal-hal positif tersebut, ada satu hal negatif yang harus dikurangi atau bahkan dihilangkan oleh Montella, yaitu masih terlalu gampang kemasukan gol.

BACA JUGA:  Bayern Munchen (3-0) Bayer Leverkusen

Sebenarnya bukan hanya di Milan, tim asuhan Montella cukup sering kemasukan banyak gol. Hal ini juga terjadi di Catania, Fiorentina, dan Sampdoria.

Jika Milan ingin meraih Scudetto, mantan striker AS Roma tersebut harus memperbaiki aspek ini. Berdasarkan sejarah, tim yang meraih Scudetto adalah tim dengan pertahanan yang kuat.

Jika mampu konsisten sampai akhir musim dan Montella berhasil mengatasi permasalahan Milan dalam hal kemasukan gol, bukan hal mustahil untuk Milan lolos ke Liga Champions atau bahkan meraih Scudetto.

 

Komentar