Wadah Pembinaan Sepakbola Bernama Elite Pro Academy

Perhelatan kompetisi usia muda, Piala Asia U-16 dan U-19, yang tahun ini akan digelar di Bahrain dan Uzbekistan, tidak mengalami perubahan jadwal signifikan. Hanya saja untuk kelompok umur U-16, ajang itu terpaksa diundur hingga bulan November akibat .

Pandemi yang sama berdampak lebih besar kepada gelaran yang lebih kecil, Piala AFF. Untuk level senior yang sejatinya digelar tahun ini, ajang sepakbola Asia Tenggara tersebut masih akan menunggu perkembangan selama beberapa bulan ke depan.

Sementara itu, untuk kompetisi kelompok umur U-16 dan U-19 tahun 2020, AFF memutuskan untuk meniadakannya. Padahal, semestinya dua gelaran tersebut menjadi kesempatan besar bagi Indonesia untuk menunjukkan kepantasannya menggelar Piala Dunia U-20 setahun mendatang.

Perhelatan sepakbola usia muda seluruh dunia itu hingga saat ini belum menunjukkan tanda-tanda perubahan jadwal. Artinya, kompetisi tersebut tetap akan dilaksanakan pada bulan Mei hingga Juni 2021 di Indonesia.

Pada dasarnya, keberadaan ajang-ajang sepakbola di level kelompok umur tersebut menguntungkan bagi Indonesia. Setidaknya, ada pelecut bagi PSSI untuk terus memperbaiki sistem pembinaan sepakbola usia muda mereka yang kini diejawantahkan dalam Elite Pro Academy.

Sebelum diadakannya gelaran tersebut, hampir tidak ada kompetisi usia dini bagi klub profesional. Walaupun, beberapa dari mereka juga mengikuti Piala Soeratin yang sejatinya merupakan kompetisi amatir.

Selain itu, beberapa ajang yang melibatkan tim kelompok umur maupun sekolah sepakbola kerap digarap oleh pihak swasta. Mulai dari kompetisi dengan nama besar, seperti Liga Topskor dan Liga Kompas, hingga turnamen-turnamen kecil di lingkup kota atau kabupaten

Baru pada tahun 2018, Indonesia benar-benar mempunyai sistem kompetisi usia dini yang diikuti oleh klub profesional. Ajang itu merupakan lanjutan dari sebuah turnamen inaugurasi yang bertajuk Festival Filanesia setahun sebelumnya.

BACA JUGA:  Robin van Persie dan Kisah Getirnya di Inggris

Elite Pro Academy sendiri boleh dikatakan bak lembaran baru dalam sepakbola Indonesia. Meskipun butuh perbaikan di sana-sini dalam penyelenggaraannya, setidaknya ajang tersebut cukup memaksa klub Liga 1 untuk menggarap sepakbola untuk level usia muda.

Untuk saat ini, kompetisi tersebut menggelar tiga liga, mulai dari kelompok umur U-16, U-18, hingga U-20. Semakin menggembirakan lagi kala usulan untuk mengadakannya di Liga 2 sangat santer tahun ini. Begitu juga dengan Liga 1 U-19 putri. Tentu saja, kebijakan itu bisa berubah setelah pandemi.

Elite Pro Academy tentu tidak sendirian. Di level amatir, Piala Soeratin U-15 dan U-17 tetap dijalankan. Meskipun, pada praktiknya masih tumpang tindih ketika klub profesional justru ikut terjun dalam ajang di mana tim peserta semestinya dikerjakan oleh Asprov, Askab, atau Askot PSSI.

Walau begitu, tak bisa dipungkiri bahwasanya pembinaan usia muda di Indonesia tengah memasuki babak baru. Keberadaan Elite Pro Academy benar-benar merupakan sebuah progres yang memunculkan harapan besar.

Apalagi pemantauan terhadap bakat-bakat muda dalam kompetisi itu lebih terstruktur kali ini. Bekerja sama dengan tim pelatih dari masing klub di setiap kelompok umur, PSSI melalui tim bernama High Performance Unit, mendapatkan laporan tentang pemain-pemain potensial di Elite Pro Academy.

Sistem tersebut tentu saja membantu tim nasional. Salah satu hasilnya terlihat pada Piala AFF U-16 tahun 2018. Namun, tidak adil rasanya jika kompetisi yang baru berjalan beberapa tahun langsung diukur kesuksesannya dengan raihan trofi.

Dalam pandangan saya, untuk tolok ukur awal, jam terbang timnas Indonesia usia muda di kompetisi internasional yang membaik sudah merupakan prestasi. Ambil contoh, timnas U-16 dan U-19. Dua tim tersebut tidak pernah absen dalam dua kali penyelenggaraan Piala Asia pada tahun 2018 dan 2020.

BACA JUGA:  PSSI: Persatuan Sepakbola Serba Instan

Kemampuan dua timnas tersebut menembus babak delapan besar pada tahun 2018 tentu merupakan kemajuan pesat. Mengingat sebelumnya, timnas kelompok umur itu selalu mentok di fase grup saja, bahkan dalam beberapa kesempatan tak lolos kualifikasi ke babak utama.

Tidak bisa dipungkiri bahwa hasil itu ada benang merahnya dengan penyelenggaraan kompetisi usia muda yang baik dalam beberapa tahun terakhir. Oleh karena itu, akan sangat penting bagi sepakbola Indonesia untuk terus menjalankan sistem pembinaan itu dengan juga menjaga kualitasnya.

Karena ada fakta yang tak bisa dielakkan bahwa pesepakbola yang bagus, tumbuh dari liga yang apik pula. Bagitu juga pemain-pemain muda berkualitas hanya bisa dihasilkan melalui sistem kompetisi usia muda yang ciamik. Dan Indonesia telah mulai menapaki jalan yang benar tersebut dengan diselenggarakannya Elite Pro Academy.

Komentar