Wangi Brasil di Italia

sepakbola italia
test caption

Pele pernah berkata bahwa orang-orang Brasil makan, tidur, dan minum sepakbola. Mereka hidup dengan sepakbola, dan hal ini memang benar adanya.

Lima kali keluar sebagai juara Piala Dunia, sembilan kali memenangkan Copa America odan empat kali merebut Piala Konfederasi sangat membantllu mereka menaikkan reputasi sebagai negara sepakbola.

The Guardian pernah menulis artikel mengenai mengapa orang-orang Brasil sangat maju dalam bermain sepakbola.

Pertama berkaitan dengan populasi. Jika kita bicara mengenai kuantitas, Negeri Samba merupakan negara keenam dengan jumlah penduduk terbanyak di muka Bumi.

Namun bagaimana mereka bisa sukses ketika negara-negara berpenduduk banyak lain seperti Cina, India, dan Indonesia kesulitan berbicara banyak di kancah sepakbola?

Bila kita mengingat kata-kata Pele di awal, semangat bermain sepakbola adalah hal yang tidak dimiliki negara-negara lain itu.

Di Brasil, tidak banyak lapangan rumput yang layak untuk digunakan bermain sepakbola di area perkotaan.

Halangan itu pada akhirnya memicu kreativitas dan adaptasi tinggi dari masyarakat Negeri Samba.

Alhasil, banyak anak-anak kecil di sana yang menempa kemampuan olah bolanya dengan bermain sepakbola tanpa bola. Benda krusial tersebut diganti dengan benda-benda lain seperti jeruk, kelapa, bahkan telur.

Bermain sepakbola di jalanan menjadi salah satu kultur yang kental di Brasil. Ada pula yang memanfaatkan lapangan-lapangan indoor maupun pantai untuk melatih kemampuannya.

Saat ini, Brasil bahkan memimpin jumlah ekspor pemain sepakbola di dunia. Berdasarkan catatan Statista, ada 1.287 pesepakbola profesional dari negara kondang pengekspor kopi ini yang bermain secara profesional di negara-negara lain.

Bahkan di liga-liga top Eropa sendiri, pemain asal Brasil selalu memiliki caranya sendiri untuk bersinar.

Gabriel Jesus, Ederson, dan Raphinha membuktikan kapasitasnya di Premier League. Casemiro serta Vinicius Junior merambah La Liga. Sementara Arthur Cunha dan Gleison Bremer memantapkan diri di Serie A. Negara lain? Tentu banyak sekali.

Kepiawaian mereka bermain Sepakbola bahkan bukan hanya diakui di level klub, tapi juga level Tim Nasional.

Sampai saat ini, sudah banyak pemain sepakbola yang lahir di Brasil tapi membela negara lain dalam kancah internasional.

Misalnya saja Elkeson dan Alan di Timnas Cina, Diego Costa di Timnas Spanyol, Mario Fernandes bersama Timnas Rusia, Marlos dan Junior Moraes yang kini memperkuat Timnas Ukraina, dan lain sebagainya.

BACA JUGA:  Arsenal Berhati Nyaman: Sebuah Kritik Identitas

Andai kita menilik sejarah, bahkan ada nama Wagner Lopes, Ruy Ramos, dan Alex di Timnas Jepang, Phan Van Santos di Timnas Vietnam, Egmar Goncalves di Timnas Singapura, bahkan Beto Goncalves serta Otavio Dutra yang mengenakan baju Timnas Indonesia.

Dari situ, kita bisa melihat seberapa ketat persaingan sepakbola di Brasil hingga untuk mendapat kesempatan memakai baju Timnas saja susahnya setengah mati.

Pengecualiannya adalah Andreas Pereira yang menjadi anomali karena ia merupakan pemain pertama dalam sejarah Timnas Brasil selama seratus tahun lebih yang tidak lahir di Negeri Samba.

Saking bagusnya kualitas pemain-pemain kelahiran Brasil, banyak dari mereka yang memegang peran sentral buat tiga dari empat kampiun Piala Eropa terakhir.

Pada 2008, Marcos Senna adalah sosok sentral untuk Timnas Spanyol. Edisi 2016 dihiasi nama Pepe yang selalu tampil ciamik untuk Timnas Portugal dan membantu mereka menjadi kampiun.

Terakhir, giliran Timnas Italia yang sanggup menjuarai Piala Eropa 2020 lewat ‘bantuan’ pemain kelahiran Brasil seperti Emerson Palmieri, Jorginho, dan Rafael Toloi.

Sejarah hubungan Brasil dan Italia sendiri adalah cerita yang menarik. Cerita ini dimulai pada seperempat akhir abad ke-19.

Saat itu Italia yang baru bersatu mengalami krisis ekonomi sehingga banyak penduduk Negeri Pizza yang memilih untuk melakukan emigrasi.

Di sisi lain, pada tahun 1850, Brasil yang baru saja melarang perdagangan budak transatlantik dan mengakhiri praktik perbudakan, ingin menambah jumlah tenaga kerja demi kemajuan agrikultur mereka.

Maka dari itu, mereka mulai menarik para imigran, utamanya dari Italia, Portugal, dan Spanyol.

Di antara tahun 1880 hingga 1900, tercatat ada satu juta emigran Italia yang hengkang ke Brasil.

Sisa-sisa masa itu masih terlihat hingga sekarang, di mana tercatat 15% dari populasi negeri di kawasan timur wilayah Amerika Selatan ini memiliki sekitar 31 juta orang yang punya darah Italia.

Selain Argentina, hingga sekarang pun banyak pemain keturunan Brasil yang telah bermain untuk Timnas Italia alias Oriundi.

Dimulai pada tahun 1934 di mana Anfilogino Guarisi dan Otavio Fantoni memiliki peran dalam membantu Italia meraih Piala Dunia pertamanya.

Meski kontribusi mereka kalah dari Oriundi asal Argentina seperti Attilio Demaria, Enrique Guaita, Luis Monti, dan Raimundo Orsi, nama Guarisi dan Fantoni bakal tetap diingat.

BACA JUGA:  Geliat Sepak Bola di Sokola Rimba dan Sokola Asmat

Akan tetapi, kegagalan Angelo Sormani dan Jose Altafini pada medio 1960-an dan ditutupnya akses bermain di Serie A untuk orang-orang yang lahir di luar Italia menutup peran-peran Oriundi selama beberapa dekade.

Mauro Camoranesi, pemain kelahiran Argentina dan keturunan Italia dari kakek buyutnya serta membantu Negeri Pizza meraih Piala Dunia 2006 adalah orang yang berhasil membuka pintu Oriundi yang sebelumnya terkunci rapat.

Selepas kisah gemilang Camoranesi, Italia kembali ramah terhadap Oriundi, khususnya dari Brasil.

Thiago Motta sempat membawa Italia menembus final Piala Eropa 2012 kendati akhirnya takluk 0-4 di tangan Spanyol.

Sementara Eder Citadin pernah mencetak gol semata wayang nan penting melawan Swedia di fase grup Piala Eropa 2016 sehingga Italia melaku ke babak gugur. Kampanye Gli Azzurri di ajang tersebut berakhir pada babak perempat final.

Saat ini, ada trio kelahiran Brasil di Italia yang terdiri dari Jorginho, Emerson Palmieri, dan Rafael Toloi.

Hubungan mereka dengan Italia memang tidak semurni generasi-generasi sebelumnya. Jorginho berasal dari kakek buyut sisi ayahnya, Emerson dari keturunan ibunya yang lahir tahun 1853 dan Toloi bahkan berasal dari kakek buyutnya yang lahir di Cervignano Del Friuli pada tahun 1891 atau ketika wilayahnya masih merupakan bagian dari Kekaisaran Austro-Hungarian.

Meski demikian, pengaruh mereka benar-benar terasa sepanjang Piala Eropa 2020 lalu yang sukses mereka menangkan. Jorginho menjadi aktor utama di sektor tengah dan bahkan didapuk sebagai bagian dari Team of The Tournament Piala Eropa 2020.

Emerson sendiri bertugas sebagai bek kiri pada dua laga terakhir menggantikan Leonardo Spinazzola yang cedera.

Sementara Toloi kerap menjadi pemain pengganti di sektor belakang pada turnamen itu.

Memang sampai sekarang masih ada kontroversi mengenai penggunaan pemain-pemain ini di kalangan pendukung Gli Azzurri.

Sampai pelatih legendaris semisal Arrigo Sacchi sempat mengatakan bahwa Italia bermain tanpa harga diri dan kebanggaan dengan pemain-pemain yang lahir di luar negeri in.

Namun rasanya tidak ada yang salah selama hasilnya terlihat. Sebagai penutup, Vittorio Pozzo pernah berkata, “Bila mereka bisa mati untuk Italia, maka mereka boleh bermain untuk Italia.”

Akankah tradisi Oriundi asal Brasil berlanjut di tubuh Italia?

Komentar
Rafli Arafat Zulkifli
Mahasiswa penggemar sepakbola yang berasal dari Tangerang Selatan.