FC Internazionale vs Juventus : 0-0 dalam Derby d’Italia

  • Yamadipati Seno

    Secara garis besar, saya, yang ndak nonton match ini bisa mendapatkan gambaran jalannya laga. Namun, ada baiknya ada visualisasi soal U-shape yang mungkin masih asing di telinga pembaca tertentu. Great job, om Ryan. Banyak informasi penting soal taktikal dari “artikel sederhana” ini…hehehehe..

    • Budi Windekind

      Diliat secara awam, laga ini membosankan. Gak ada gol, gak ada penciptaan peluang yang bener2 WAH dari kedua tim yang bisa bikin penonton demen. Tapi klo diulas, duel taktik di dalamnya bener2 kompleks.

      • Itu sisi positf jadi “penonton taktik”, mas. Kita berfokus pada strategi dan taktik, jadi lupa dengan “yang membosankan” 😉

    • Kali lain, saya coba ingat untuk tambahkan ilustrasi penjelas dari istilah yang mungkin belum familiar dengan pembaca, gan 😉

    • Sirajudin Hasbi

      saya setuju dengan om Seno, konsep2 yang “taktik banget” seperti U-Shape ini perlu dijelaskan, mungkin bisa jadi artikel sederhana seperti artikel gegenpressing agar kita dihindarkan dari kesalahan pemahaman 🙂

  • Post yang bagus sekali. Kayaknya masalahnya Inter ini – terlalu suka mainin bola di sayap karena kurang kreativitas di posisi narrow itu udah lama, kira2 peninggalan jamannya Mazzari/Stramaccioni. Selain itu, kedua pelatih itu mainnya emang suka pola2 yang kaku/rigid dan sayangnya pemain2 Inter (maaf) intelejensia taktik sepakbola dan mentalitasnya (serta kemauan untuk belajar) untuk ukuran liga tinggi kek Serie A pada rendah2 secara rata2. Masak main bola modern ogah pressing dan pergerakan tanpa bolanya awur-awuran gitu, gak ada yang mau offer passing option sama posisi pemainnya suka jauh2 gitu kek tim ISL.

    • lini tengah Inter emang gak ada pemainbertipe playmaker macam Pirlo, Thiago Alcantara, atau paling nggak seperti Marchisio (yg musim lalu sering gantikan Pirlo jadi playmaker no. 6) ditambah lagi (ada indikasi) bek-bek tengah Inter di partai vs Juventus juga bukan ball playing macam Hummels, Boateng, Bonucci, atau Chiellini. Sehingga saat dibutuhkan untuk melakukan progresi dari deep build-up, Inter tampak kikuk. Medel punya kemampuan sebagai ball player, tetapi dia sendiri juga tidak dimaksimalkan didayagunakan dalam deep build-up Inter.

      • Sebenarnya bukan cuman Bull Medel, tapi juga ada Miranda yang umpan panjangnya suka dipake buat open up play pas masih di ATM. Umpan panjang sendiri lebih cenderung dipakai untuk melakukan by-pass serangan melewati lini tengah yang penuh sesak, langsung ke penyerang. Atau, untuk serangan balik kilat. Kalau saya lihat sejauh ini sih, dengan mengandalkan build up play dari belakang tanpa kejelasan serangan di kedua lini selanjutnya, Inter bakal gak ke mana2 deh, untuk jangka panjang. Memang betul sekali, perlu pemain yang bisa jadi pembeda untuk final third.

        Sayang dulu mereka punya Kovacic tapi gagal untuk dimanfaatkan karena gak punya mentor (Snyder keburu dibuang), jadinya nggak matang cuman bisa sprint doang padahal bakatnya seabreg tuh.

        • Walau ga familiar dgn Inter, tapi saya setuju dengan opini di atas.

          Ngomong2 soal Kovacic, sy yakin pemain ini punya kapasitas utk jadi sebaik Thiago Alcantara atau Luka Modric. Gelandang no. 8 yang cerdas bermain dari deep area sekaligus punya kemampuan playmaking.

          Sy musim lalu buanyak nonton Monaco dan saya juga buat tulisan semua pertandingan Monaco di CL. Kondogbia punya potensi mnyamai level Yaya Toure. Tapi dia butuh 1 DM yg punya disiplin taktik dan positioning bagus macam Busquets/Coquelin/Schneiderlin utk meng-cover naluri serang alaminya. Kondogbia sangat baik brmain sbg B2BM.

          • Sayang sekali Kovacic sekalinya keluar malah ke RM, ini mah udah susah berkembang karena jarang dimainkan, kecuali kalo dia sudi untuk dipinjamkan dulu ke tim yang punya pelatih bertangan dingin.

            Prancis lini tengahnya ngeri ada dua nigga raksasa yang punya skill set complete.

          • Dan secara umum, Prancis punya skuad yang lumayan lengkap dari depan sampai belakang.