Analisis Pertandingan Borussia Dortmund 2-2 Real Madrid

Real Madrid bertandang ke Signal Iduna Park pada pertandingan kedua Liga Champions 2016/2017.  Pertandingan ini menjadi cukup penting bagi El Real dikarenakan pada dua pertandingan di La Liga, mereka gagal meraih kemenangan setelah sukses mencatatkan 16 kali menang beruntun.

Tentu merupakan pekerjaan berat, bahkan bagi tim sekelas Real Madrid, untuk mendapatkan 3 poin di kandang Borussia Dortmund. Tim berseragam kuning-hitam tersebut sudah menunjukan kelasnya sejak musim lalu dengan juego de posicion ala Thomas Tuchel.

Bentuk awal Dortmund dan Real Madrid
Bentuk awal Dortmund dan Real Madrid

 

Pendekatan umum dalam fase menguasai bola (menyerang)

Baik tuan rumah maupun Los Galacticos memainkan formasi dasar yang sama, yaitu 4-3-3. Yang signifikan dari kedua bentuk dasar yang identik ini adalah permainan posisional serta pendekatan progres serangan yang diambil oleh kedua juru taktik.

Pemain-pemain Dortmund memilih untuk menciptakan superioritas posisional (bila superioritas jumlah tidak memungkinkan) dengan memainkan strategi overload satu sisi untuk membuka area lain.

Di babak pertama, Dortmund memanfaatkan sisi kiri lapangan sebagai area progresi bagi build-up fase pertama menuju ke fase selanjutnya. Dari lini belakang, bola diarahkan kepada Julian Weigl untuk kemudian diamankan di sisi kiri.

Di area ini, Dortmund meng-overload 3 koridor vertikal terdekat (sayap, half-space, dan tengah) menggunakan 7 sampai 8 pemain. Pemain-pemain lain tetap berada di area krusial, baik di lini pertama (paling bawah) maupun 1 pemain lain berada di sisi sayap jauh.

Strategi semacam ini mau tidak mau menarik struktural blok Real Madrid untuk bergeser ke sisi kanan pertahanan mereka, yang juga memunculkan beberapa kemungkinan strategis bagi Dortmund.

Kemungkinan strategis yang pertama adalah membuat Ousmane Dembele sebagai pemain bebas (free-player). Terindikasi Tuchel ingin memanfaatkan kemampuan Dembele yang bukan hanya cepat, tetapi juga oke dalam situasi 1v1.

Caranya adalah, dari area overload, pemain-pemain tuan rumah melakukan perpindahan permainan ke sisi kanan, ketika strukural blok Real Madrid terfokus ke satu sisi (kiri). Julian Weigl, dengan kemampuan umpannya, mendapatkan tugas untuk melakukan perpindahan.

Saat bola mendarat di kaki Dembele, ada kemungkinana sayap kanan Dortmund tersebut mendapatkan ruang yang relatif besar untuk melakukan penetrasi melalui area kiri yang dijaga oleh Danilo, bek kiri Real Madrid.

Overload-switch dalam penetrasi sepertiga akhir Dortmund
Overload-switch dalam penetrasi sepertiga akhir Dortmund

 

Kemungkinan lain adalah dengan Real Madrid berfokus ke satu sisi yang tentunya membuka kesempatan bagi Pierre-Emerick Aubameyang untuk bergerak di sekitar area tengah mencari celah horizontal untuk menciptakan akses vertikal ke dalam kotak 16 Real Madrid.

Peluang tembakan Aubameyang yang membentur mistar gawang (dan offside) merupakan contoh bagaimana kombinasi overload satu sisi ditambah pergerakan tanpa bola striker asal Gabon tersebut yang memiliki potensi merusak yang besar.

Dari tim tamu, Zinedine Zidane memilih pendekatan berbeda. Real Madrid bermain dengan tujuan sesegera mungkin mencapai sepertiga akhir lawan. Prinsip ini membuat pola progres bola anak asuh Zidane berbeda dengan Dortmund.

Bila Dortmund sebisa mungkin memanfaatkan bola-bola pendek yang didukung oleh spacing (pengisian ruang strategis dan penjarakan) demi mendapatkan progresi yang “lebih bersih”, Real Madrid lebih banyak memainkan bola panjang dari belakang ke lini depan.

Sejak Zidane mengambil alih tongkat kepelatihan dari Rafa Benitez, salah satu poin menarik dalam serangan Real Madrid adalah bentuk build-up fase pertama mereka yang seperti pisau bermata dua.

Sering terlihat Real Madrid memainkan build-up fase pertama dengan 7 pemain di sepertiga awal yang sekaligus menciptakan jarak vertikal yang besar dengan 3 pemain terdepan mereka. Di satu sisi, bentuk ini dapat merenggangkan celah vertikal dalam blok pressing lawan.

BACA JUGA:  Pentingnya Stadion Bagi Klub dan Negara

Ketika bola mencapai 3 pemain terdepan, celah vertikal yang memisahkan lini belakang dan lini tengah menyebabkan minimnya support dari lini tengah ke belakang. Pada gilirannya, trio Gareth Bale, Karim Benzema, dan Cristiano Ronaldo (BBC), dengan kemampuan individual masing-masing, membuat bentuk pertahanan lawan menjadi tidak stabil.

Namun, di sisi lain, bentuk ini memiliki efek negatif bagi progres serangan Los Blancos.

Akibat negatif dari bentuk build-up semacam ini adalah pressing lawan mampu memaksa Real Madrid melepaskan umpan-umpan jauh yang prematur dalam build-up fase pertama. Ini disebabkan 7 pemain yang berkumpul di sepertiga awal memberikan akses pressing bagi lawan di kedalaman area Real Madrid.

Contoh build-up Real Madrid vs pressing Atletico Madrid di final Liga Champions 2016/2017
Contoh build-up Real Madrid vs pressing Atletico Madrid di final Liga Champions 2016/2017

 

Dengan 7 pemain berkumpl di kedalaman pertahanan, ruang gerak pemain-pemain Real Madrid menjadi terlalu sempit. Ketika lawan mampu menerapkan press dengan struktur terjaga, tidak ada pilihan lain bagi pemegang bola dalam build-up fase pertama untuk (terlalu) segera membuang bola jauh ke depan.

Di pertandingan ini, isu internal tersebut masih terlihat. Dalam banyak momen, mereka tetap memainkan bentuk yang identik, yang mempersulit progres serangan mereka sendiri. Bila dilihat lebih jauh, okupansi ruang dalam progres serangan juga ikut andil memudahkan Dortmund melakukan pressing dan mengisolasi sirkulasi bola Real Madrid.

Kenapa bisa demikian? Ini dikarenakan pemain-pemain Real Madrid mengisi satu area (sayap, contohnya) menggunakan 3 pemain dalam jarak vertikal yang relatif dekat. Spacing dan jarak semacam ini memudahkan Dortmund untuk segera melakukan jebakan dan memaksa Real Madrid melepaskan umpan prematur.

Bergeser ke depan, isu dalam Penetrasi sepertiga akhir Los Merengues pun masih teridentifikasi. Ini merupakan isu lama. Dalam serangannya, koneksi dalam penetrasi sepertiga akhir lawan sering kali menolong lawan untuk mengisolasi koneksi antarlini Real Madrid. Seperti yang terlihat dalam pertandingan menghadapi Sporting Lisbon (Match Day 1), isu serupa masih terlihat.

Struktur serangan sayap yang tidak terkoneksi dengan area tengah dan half-space. Ketiadaan pemain di area abu-abu menyebabkan kemungkinan pergeseran serangan ke area tengah menjadi minim. Di sisi lain, ketiadaan kehadiran di area tersebut membuat pemain-pemain Dortmund mempu mengisolasi Gareth Bale dan Karim Benzema yang berada di sisi terluar struktur blok Dortmund.
Struktur serangan sayap yang tidak terkoneksi dengan area tengah dan half-space. Ketiadaan pemain di area abu-abu menyebabkan kemungkinan pergeseran serangan ke area tengah menjadi minim. Di sisi lain, ketiadaan kehadiran di area tersebut membuat pemain-pemain Dortmund mempu mengisolasi Gareth Bale dan Karim Benzema yang berada di sisi terluar struktur blok Dortmund.

 

Poin lain yang juga perlu menjadi perhatian Real Madrid adalah situasi ini terjadi dalam fase penguasaan bola yang terencana (established-possession) di mana seharusnya sebuah tim tidak sedang berada dalam bentuk chaos”.

Dalam keadaan “chaos”, serangan balik cepat misalnya, situasi serupa sangat mungkin terjadi mengingat ada banyak transisi yang bermain, sementara dalam fae build-up segalanya terbangun secara gradual dan lebih terstruktur.

Pressing Real Madrid vs sirkulasi Dortmund

Real Madrid memainkan bok pressing yang relatif tinggi, dengan sedikit memberikan ruang bagi kedua bek tengah Dortmund untuk menguasai bola. Akses Dortmund ke area tengah ditutup oleh Real Madrid dengan mengorientasikan pressing mereka kepada posisi Julian Weigl.

Real menyadari pentingnya progres serangan tuan rumah melalui area #6, yaitu melalui Weigl. James Rodriguez, bertugas mengikuti ke mana saja Weigl bergerak. Sementara Benzema, sebagai penyerang tengah, turut menjaga aksesnya terhadap Weigl.

Pressing Real beberapa kali membuat Dortmund kesulitan mengembangkan permainan melalui lini belakang. Okupansi ruang yang mereka lakukan menutup ruang maupun jalur umpan pendek dan menengah. Ini membuat pemain-pemain tuan rumah harus melepaskan umpan jauh melambung ke area depan.

Namun, dalam banyak kesempatan pressing, Real Madrid, terutama gelombang awal, terlalu pasif atau kekurangan intensitas dalam melakukan press. Akibatnya, Dortmund mampu berprogres sampai mendekati sepertiga awal.

Pressing Real Madrid banyak memperlihatkan man-oriented pressing. Tetapi, dalam praktiknya terlihat beberapa kelemahan, yang salah satunya adalah koordinasi pressing kolektif.

Ketika lini terdepan melakukan press blok tinggi, lini di belakangnya malah memilih langsung berfokus ke blok menengah. Ini membuat pemain-pemain Dortmund mendapatkan ruang di sekitar area tengah.

Peluang Dembele di menit ke-25 merupakan contoh. Gonzalo Castro memberikan umpan vertikal kepada Aubameyang tanpa tekanan berarti. Untung bagi Real Madrid, eksekusi Dembele melambung tipis.

Dalam usahanya melepaskan diri dari gelombang awal pressing Real, Dortmund mempraktikan beberapa skema. Salah satunya adalah memanfaatkan pergerakan vertikal bek tengah.

Ketika, dalam build-up awal, Weigl dijepit oleh Benzema dan James serta kedua penyerang sayap El Real berorientasi kepada dua bek sayap Dortmund, salah satu bek tengah mendapatkan ruang untuk bergerak ke depan.

Ruang gerak ke depan bagi bek tengah Dortmund
Ruang gerak ke depan bagi bek tengah Dortmund

 

Ketika kemudian #8 terdekat, Mario Gotze, bergerak melebar dan memancing Luka Modric untuk mengikutinya, Dortmund mendapatkan ruang lain di area #10 yang bisa dimanfaatkan oleh Aubameyang untuk turun ke bawah menciptakan jalur umpan sekaligus superioritas jumlah (Aubameyang-Gotze-Castro vs Kroos-Modric).

Struktur semacam ini akan ikut menarik Benzema dan Rodriguez untuk turun ke area yang lebih dalam, yang artinya mereka meninggalkan Weigl sehingga melepaskan #6 Dortmund tersebut dari pressing.

Ketika Ginter mengumpan kepada Aubameyang, sang #9 bisa dengan mudah memberikan umpan balik kepada Weigl yang sudah bebas dari pengawalan James Rodriguez.

Rodriguez tampak sangat tidak terbiasa memainkan peran ini. Dalam banyak momen, Ia terlalu terfokus kepada Weigl sehingga membiarkan pemain Dortmund lain yang sedang menguasai bola dan berada di dekatnya untuk melepaskan umpan ke depan.

Pada momen lain, ia terlalu cepat meninggalkan Weigl dan masuk ke area 8 Real Madrid. Hal ini memberikan ruang gerak lebih bagi Weigl untuk menentukan arah serangan selanjutnya.

Dalam fase serangan selanjutnya, terutama dalam usahanya menciptakan jalan masuk melalui area tengah, Dortmund mendayagunakan half-space. Dan, lagi-lagi, seperti juga musim sebelumnya, Aubameyang merupakan pemain yang bertugas mengisi half-space (terdekat).

Skenarionya adalah merenggangkan kompaksi horizontal lawan memanfaatkan umpan ke sayap, oleh bek tengah kepada bek sayap, yang didukung oleh okupansi ruang di sekitar area sayap oleh dua pemain di depan lini belakang.

Umpan horizontal ke sayap, kemudian ditambah pergerakan melebar oleh pemain-pemain depan membuka celah di half-space. Aubameyang kemudian mengisi celah ini.

Dortmund membuka ruang di half-space
Dortmund membuka ruang di half-space

 

Dari sini, Dortmund memulai peralihan fase kedua menuju fase ketiga serangan (penciptaan peluang). Biasanya akan ada 2-3 pemain di dalam kotak 16 sementara pemain lain mengisi area yang lebih dalam, bersiap terhadap cut-back cross, dan sayap.

Kualitas eksekusi peluang

Expected Goal
Expected Goal

 

Menurut statistik yang dihitung oleh Michael Caley, kualitas tembakan Real Madrid lebih unggul. Perhatikan 4 bujur sangkar dengan ukuran besar. Terlihat 4 bujur sangkar besar di sisi Real Madrid dan 1 di sisi Dortmund.

Tetapi, sekali lagi, statistik ini tidak memperlihatkan bahwa kedua tim berimbang atau Real Madrid lebih unggul. Alasannya, karena apa yang terjadi di atas lapangan kembali memperlihatkan Dortmund lebih mampu menguasai sirkulasi bola dengan struktur yang menjamin progresi “bersih”.

Kesimpulan

Isu Real Madrid masih seperti yang terlihat di musim lalu. Baik pressing maupun pola sirkulasi mereka sering membantu lawan dalam progresi, maupun dalam merebut penguasaan bola. Zidane merasa kecewa dengan hasil ini, sementara Tuchel cukup puas.

Dari Dortmund, isu yang terlihat di awal musim belum bisa dikatakan terselesaikan. Kenapa? Karena Real Madrid sendiri tidak memainkan pressing mereka secara konsisten, baik koordinasi kolektf antarlini, timing, maupun intensitas pressing itu sendiri.

 

Komentar