Analisis Pertandingan Juventus 1-0 Manchester City

Susunan pemain Juventus vs Manchester City
Susunan pemain Juventus vs Manchester City, 3-5-2 vs 4-2-3-1

Juventus mampu memenangi laga melawan Manchester City dengan skor 1-0 berkat gol yang dicetak Mario Mandzukic pada menit ke-18 di Juventus Stadium, Kamis (26/11) dinihari WIB. Dengan hasil ini Juventus memastikan diri melaju ke perdelapan final.

Taktik Juventus

Massimo Allegri, pelatih Juventus, memilih memainkan bentuk 3 bek tengah dan 2 bek sayap. Sebuah bentuk dasar yang membantu Juventus memenangkan pertandingan menghadapi AC Milan pada pertandingan Serie A akhir pekan lalu (22/11).

Andre Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini mengisi pos tiga bek tengah. Untuk dua posisi bek sayap, Alex Sandro dan Stephane Lichtsteiner menjadi pilihan.

Saat memainkan pola 3-5-2, kedua bek sayap Juventus sering kali mampu bergerak lebih cepat ke atas, baik dalam serangan balik maupun non-serangan balik. Ini yang terjadi ketika menghadapi Milan. Dalam pertandingan tersebut, Alex Sandro memberikan contoh sempurna melalui sebuah asis.

Di pertandingan menghadapi City, selain gol Mandzukic yang merupakan asis Alex, peluang lain Mandzukic di menit ke-28 juga merupakan contoh bagaimana umpan langsung dari lini tengah ke bek sayap (lichtsteiner) yang bergerak maju mampu menciptakan situasi serang yang menjanjikan.

Di lini tengah, Si Nyonya Tua memainkan satu pivot yang diisi oleh Claudio Marchisio. Dua posisi lainnya ditempati oleh Paul Pogba yang bertugas sebagai box to box, yang ditemani oleh Stefano Sturaro yang bermain lebih ke dalam dan lebih banyak menjaga sisi kanan lapangan.

Dari ketiga pemain ini, Marchisio merupakan deep-lying midfielder. Oleh Allegri, Marchisio dijadikan titik transisi serangan Juventus dari satu sisi ke sisi lain. Beberapa kali Marchisio melakukan umpan jarak jauh, dari area tengah ke sayap, yang langsung menjangkau bek sayap maupun langsung ke lini depan berusaha untuk menjangkau ruang di belakang garis pertahanan City.

Di depan, duet Paulo Dybala menjadi deep-lying striker yang banyak bergerak ke area 10, baik untuk menciptakan superioritas jumlah maupun sebagai akses vertikal bagi Juventus dalam melewati dua lapis teratas pressing City. Mario Mandzukic menjadi rekan duetnya.

Nyaris dalam semua fase bertahan pasif dan blok rendah Juventus, pemain Kroasia ini mengambil posisi sebagai pemain terdepan sementara Dybala turun lebih dalam dan mengubah bentuk Juventus menjadi 5-3-1-1/5-4-1.

Seperti yang sudah-sudah, dan akan selalu sama, fokus dalam mempertahankan area tengah merupakan rencana awal permainan bertahan Allegri. Ditopang oleh kehadiran tiga gelandang tengah, tiga bek tengah, dan keterlibatan no. 9-nya, kekuatan Juventus di sekitar area tengah makin stabil.

Dengan memainkan tiga bek tengah (dan City memainkan satu penyerang) dalam pola lima pemain belakang, bila diperlukan, salah satu bek tengah dapat bergerak naik ke atas demi menciptakan tekanan lebih kepada pemegang bola City atau, dalam fase lain, ia bisa bergerak ke depan saat tim sedang menguasai bola.

Taktik Manchester City

Manchester City memainkan formasi 4-1-4-1/4-4-2 asimetris. Sergio Aguero dimainkan di depan, sebagai no. 9 murni.

Di lini kedua, pengambilan posisi Kevin de Bruyne dan Jesus Navas menciptakan bentuk asimetris dalam pola serang City. Navas yang dikenal sebagai sayap klasik lebih banyak bergerak di flank kanan sementara de Bruyne bermain sebagai sayap modern yang banyak bergerak ke tengah maupun menemani Aguero sebagai duo penyerang.

Di tengah, Yaya Toure dimainkan sebagai hibrida no. 10 dengan no. 8. Orientasi geraknya, vertikal. Ia banyak berada di lapis depan struktur serangan City, karena Manuel Pellegrini membutuhkannya baik dalam fase serang ke-3, yaitu penciptaan peluang, maupun fase serang ke-4, yaitu eksekusi peluang. Mengenai fase menyerang, tulisan ini bisa memberikan sedikit pemahaman tentang 4 fase menyerang dalam sepak bola.

BACA JUGA:  Seandainya Ferguson Pensiun Pasca-Treble

Fernandinho dan Fernando yang bermain lebih dalam, di belakang Yaya, lebih banyak bertindak sebagai recycler, yang membantu City membangun ulang serangan bila mereka kehilangan kesempatan berprogresi maupun sebagai titik transisi horizontal sirkulasi.

Di lini belakang, Bacary Sagna dan Gael Clichy mengapit duet bek tengah, Martin Demichelis dan Nicolas Otamendi. Dalam pertandingan yang berlangsung Kamis (26/11) dini hari, dua bek tengah City ini sering kali kedapatan melemahkan sistem pertahanan, akibat lemahnya inisiatif maupun kemampuan keduanya dalam mengganggu penyerang Juventus yang bergerak turun ke pos no. 10 atau no. 8.

Titik lemah Manchester City

Beberapa kali Dybala bergerak turun ke bawah untuk menciptakan jalur umpan ketiga bagi pertahanan Juventus yang ditekan oleh lini depan The Citizen. Dalam situasi seperti ini merupakan pemandangan yang jamak bila seorang bek tengah yang mengikuti pergerakan Dybala, baik berusaha memotong umpan atau paling tidak mengganggunya.

Ini yang kurang dapat (tidak konsisten) diperlihatkan oleh kedua bek tengah City. Akibatnya, selain Juventus mampu melepaskan diri dari tekanan City, Juventus juga mendapatkan akses langsung ke lapis paling dalam dari struktur blok City.

Grafik ilustratif pergerakan Dybala
Grafik ilustratif pergerakan Dybala yang tidak diikuti oleh bek tengah City

Selain kelemahan bek tengah City dalam mengantisipasi pergerakan Dybala, pujian juga seharusnya dialamatkan kepada Dybala. Sepanjang musim ini Dybala lebih banyak bermain sebagai penyerang yang bergerak dari area yang lebih dalam ketimbang pasangannya.

Penempatan posisi Dybala sering sekali menciptakan jalur umpan bagi lini belakang Juventus sehingga timnya mampu bertransisi dengan cepat dari mode bertahan ke mode menyerang.

City tidak memainkan pressing dalam blok tinggi. Mereka lebih memilih menunggu Juventus dalam blok menengah. Sangat mungkin hal ini disebabkan City yang berniat bermain lebih berhati-hati dan sedikit “menunggu” Juventus keluar menyerang.

Pada fase ini kembali terlihat kelemahan lain City. Konektivitas mereka tidak terjalin secara sempurna dan membuka beberapa celah bagi “bersihnya” progresi serangan Juventus.

Sergio Aguero dalam pressing blok menengah City sering kali, seorang diri, melakukan pressing terhadap tiga bek tengah Juventus. Aksi Aguero ini membuka kesempatan bagi lini tengah Juventus untuk berhadapan langsung dengan lini tengah City.

Sesuatu yang tidak perlu mengingat City sedang berada dalam mode blok menengah. Dalam pressing blok menengah, beberapa tim sengaja menerapkan resting-press dengan membiarkan bek tengah lawan menguasai bola sementara penyerang dan lini tengah serta lini belakang membentuk blok struktural yang rapat, baik secara horizontal maupun vertikal (jarak berkisar 22-25 meter antara lini paling bawah dengan lini penyerang).

Tujuannya menghambat serangan lawan ke area tengah, sehingga lawan dipaksa bergerak melalui kedua sisi terluar.

Di sisi lain, aksi Aguero ini bisa dikategorikan sebagai gambling, yaitu sebuah kondisi di mana pemain menyerang tidak ikut serta dalam fase bertahan ketika pemain bertahan lawan ikut menyerang.

Selain Aguero, dalam kesempatan lain giliran Yaya Toure yang terkadang terlalu cepat melakukan pressing terhadap lini belakang Juventus, sementara Aguero sendiri juga sudah terlanjur berada di garis depan.

Keadaan ini makin parah karena di lini kedua, penempatan posisi para pemain City membuka celah di tengah dan memberikan kesempatan bagi Paul Pogba atau Claudio Marchisio untuk bergerak maju. Ada kemungkinan, bila Juventus mempercepat aliran bola ke sepertiga akhir, lini belakang City akan semakin terekspos dan berpotensi menciptakan ruang lain untuk dieksploitasi.

Fokus Juventus ke area tengah dan half-space, sekitar zona 5, mempersulit lawan untuk berpenetrasi tanpa superioritas jumlah atau superioritas posisional yang tepat. Begitu pula yang dialami oleh City. Dengan catenaccio-nya, Juventus selalu mampu menciptakan situasi menang jumlah. Baik di tengah maupun saat sedang melakukan pressing di sayap (touchline-pressing). Sulitnya City melakukan penetrasi ke sekitar area tengah sangat jelas terlihat di babak pertama.

BACA JUGA:  Van Gaal Memanfaatkan Fellaini untuk Keluar dari Pressing Tottenham

Di sepanjang babak pertama, City melepaskan tiga tembakan dari dalam kotak 16. Dari tiga tendangan tersebut, dua tendangan berasal dari serangan terbuka terstruktur dan hanya satu tendangan, oleh Fernandinho, yang bisa dikategorikan peluang bagus. Satu tendangan lainnya berasal dari blunder Alex Sandro yang dimanfaatkan oleh Aguero namun digagalkan oleh Gianluigi Buffon.

Perubahan di babak kedua

Di babak kedua, City, yang tertinggal 0-1, mendorong garis permainan mereka lebih tinggi. Dan geloambang pressing mereka dimulai lebih ke depan daripada yang mereka lakukan di babak pertama.

Penempatan kedua bek sayap juga didorong untuk lebih segera maju ke depan. Dalam fase kedua atau ketiga serangan, City terlihat menempatkan 3-4 pemain di lini belakang Juventus.

Tidak banyak perubahan berarti. Juventus tetap bermain dengan ciri mereka selama ini. Bertahan dalam blok rendah, melakukan pergeseran formasi (shifting-formation) dengan kompaksi yang cukup terjaga, melibatkan kedua penyerang dalam fase bertahan, dan melakukan serangan balik cepat ketika terbuka kesempatan melakukannya.

Fokus pertahanan Juventus ke area tengah tidak diimbangi oleh struktur posisional yang ideal dari skema serangan yang diracik Manuel Pellegrini. Saat City mencoba masuk dari sayap ke tengah di sepertiga awal Juventus, contohnya, Juventus mampu bermain nyaman dalam situasi 7v4 pemain.

Akses bola City termasuk buruk karena mereka hanya memiliki satu pemain di tengah-tengah formasi lokal Juventus dan terisolasi dari tiga rekan lainnya. Akibatnya, ada dua kemungkinan, Juventus merebut bola atau City dipaksa memainkan bola kembali ke area belakang.

Contoh grafik ilustratif struktur posisional serangan Manchester City
Contoh grafik ilustratif struktur posisional serangan Manchester City menghadapi pergeseran blok dan overloading pemain-pemain Juventus.

Masuknya Alvaro Morata, menggantikan Mandzukic yang cedera, membawa dimensi berbeda dalam permainan Juventus. Selain termasuk penyerang dengan penempatan posisi bertahan yang ciamik, Morata juga memiliki kemampuan olah bola, kecepatan, dan dribbling lebih baik ketimbang Mandzukic.

Hasilnya, beberapa serangan yang potensial tercipta. Salah satu kelebihan Morata adalah kemampuannya mempertahankan bola sambil melakukan putaran tubuh 180° (half-turn). Ini diperlihatkannya dalam sebuah peluang emas yang digagalkan bek City. Peluang besar yang diperoleh Juventus, selain faktor serangan balik cepat, juga dikarenakan oleh City yang makin bernafsu menyamakan kedudukan.

Kesimpulan

Mapping expected goal(xG)-nya Michael Caley
Dari mapping expected goal(xG)-nya Michael Caley Juventus lebih baik tetapi, pada dasarnya,City pun tidak bisa dikatakan buruk. Pada hari lain, kondisi lain, bisa saja satu dari peluang City di atas berbuah gol.

Juventus menang 1-0 dan lagi-lagi tanpa permainan menyerang yang impresif. Sesuatu yang menjadi wajar karena mereka berasal dari Italia. Fokus Allegri terhadap area tengah membawanya memainkan Juventus dalam catenaccio yang sulit ditembus, dikarenakan pergeseran blok, overloading, dan keterlibatan penyerang dalam fase bertahan mereka sangat terstruktur.

Kehadiran Mandzukic bisa membawa aura kompetitif yang positif bagi Juventus. Pengalamannya segudang dan Mandzukic termasuk penyerang yang fasih terlibat dalam transisi maupun fase bertahan pasif.

Alvaro Morata pun memiliki kualitas setara. Bila Morata kembali pada kondisi puncaknya, duetnya dengan Paulo Dybala bisa jadi lebih berbahaya ketimbang saat Dybala dipasangkan dengan penyerang lain.

Kekalahan ini makin membuat khalayak ragu akan City. Permainan mereka di level Eropa belum banyak berubah. Kompaksi yang jadi isu di pertahanan masih terlihat dan berpotensi dieksploitasi oleh tim-tim alien macam Barcelona atau FC Bayern, bila City bertemu mereka.

Pembenahan sistem permainan, kembalinya Aguero (dan David Silva) ke kondisi puncak 100% bisa menolong kekuatan serangan City. Di pertahanan, masalah kompaksi yang masih saja terlihat, baik dengan atau tanpa Vincent Kompany, menjadi pekerjaan besar bagi Pellegrini.

 

Komentar