Apa Itu Zona Mista?

Sudah menjadi rahasia umum jika sepakbola memiliki berbagai variasi taktik serta gaya. Hal itu pulalah yang membuat permainan sebelas lawan sebelas ini menjadi menarik untuk diikuti.

Banyak taktik dan gaya sepakbola yang berbeda dan telah menginspirasi banyak hal dalam diri kita.

Dari Amerika Selatan ada Jogo Bonito dari Brasil yang melambangkan joie de vivre (sebuah frasa Bahasa Prancis yang melambangkan kenikmatan menjalani hidup dengan bahagia dan semangat) yang tentunya membuat kita terhibur dan seakan ingin menari Samba hanya dengan menontonnya.

Beralih ke Eropa, ada taktik yang disebut dengan Gegenpressing, di mana Jerman menjadi awal kemunculannya. Lalu ada juga Totaal Voetbal khas Belanda yang dipopulerkan pada era Johan Cruyff kemudian disempurnakan Pep Guardiola menjadi Juego de Posicion, sesuai dengan metode Spanyol.

Tak ketinggalan, Catenaccio ala Italia yang melegenda berkat fokusnya pada pertahanan yang kuat, sulit ditembus, dan lekat dengan man-to-man marking.

Khusus yang disebut terakhir, memiliki turunan yang begitu kondang dipraktikkan pada era 1970-an sampai 1990-an. Namanya adalah Zona Mista yang dalam Bahasa Italia disebut sebagai Modulo Misto.

Walau kental aroma Catenaccio karena merupakan turunannya, Zona Mista juga mengandung bumbu utama dari Totaal Voetbal yakni permutasi posisi dalam menerapkan zonal marking seraya memanfaatkan ruang yang ada untuk menyerang.

Luigi Radice merupakan pelatih yang disebut-sebut sebagai pionir taktik ini saat mereka menukangi klub asal kota kelahirannya, Torino.

Zona Mista terapannya lalu diwarisi dan diadaptasi oleh banyak pelatih Italia lainnya seperti Enzo Bearzot, Giovanni Trapattoni, Arrigo Sacchi, Marcello Lippi, sampai Dino Zoff.

Siapa Luigi Radice?

Radice adalah bekas penggawa AC Milan pada era 1950-an dan 1960-an serta sukses meraih tiga Scudetto dan sebiji Piala Champions.

Usai pensiun, ia menjalani karier sebagai pelatih. Sebelum menukangi Torino, ia lebih dahulu membesut Monza, Treviso, Cesena, Fiorentina, dan Cagliari.

BACA JUGA:  Menghormati Handanovic

Akan tetapi, kiprahnya bersama Il Toro selalu dikenang sebab Radice berhasil membawa rival sekota Juventus tersebut merasakan Scudetto pertamanya di musim 1975/1976 pasca-tragedi Superga.

Berbeda dengan kebanyakan pelatih asal Italia yang mengimani Catenaccio, Radice adalah penganut Totaal Voetbal yang dipopulerkan Rinus Michels pada era Cruyff. Ia suka sekali dengan permainan menyerang.

Taktik khas Negeri Kincir Angin itu diadopsinya, lalu dimodifikasi dengan campuran Catenaccio untuk menciptakan Zona Mista.

Oleh banyak pengamat, Zona Mista ala Radice ini dianggap paten buat menghancurkan strategi defensif khas Catenaccio yang banyak diperagakan klub-klub Italia pada masa itu.

Dalam penerapannya, Radice lebih banyak menggunakan formasi 3-5-2 atau 4-4-2. Namun ide utamanya tetap sama untuk setiap formasi.

Dalam skemanya, ia menggunakan tiga Centre Back yang salah satunya adalah Sweeper. Pemain dengan peran yang disebutkan terakhir memiliki kebebasan untuk bergerak ke depan membantu serangan sekaligus build up.

Kemudian ada satu Wing Back yang mengemban tugas untuk membantu serangan melalui sayap (utamanya di sisi kiri). Sementara di sisi sayap lainnya diimbangi oleh Winger atau Side-Midfielder yang berdiri lebih ke depan, dekat dengan para striker.

Radice menggunakan satu Defensive Midfielder yaitu Eraldo Pecci dan dua Centre Midfielder yakni Renato Zaccarelli yang menjadi penghubung lini belakang dan depan serta Claudio Sala yang ketika itu berperan sebagai pembawa bola utama alias playmaker.

Sementara di lini serang Radice mengandalkan dua juru gedor dalam diri Francesco Graziani dan Paolo Pulici. Duet ini total mencetak 36 gol pada gelaran Serie A 1975/1976.

Saat bertahan, sang pelatih sering menginstruksikan para pemainnya untuk bertahan dalam bentuk 4-4-2 atau 5-3-2. Hal ini bertujuan untuk mempersempit area tengah dengan memberikan tekanan satu lawan satu di seluruh lapangan.

BACA JUGA:  Reinkarnasi Juan Cuadrado di Turin

Winger kanan dan Wing Back kiri biasa menjadi tujuan untuk melakukan serangan balik, sedangkan dua pemain depan tetap berada di area lawan untuk menciptakan ruang sekaligus menyelesaikan peluang.

Taktik Zona Mista mengharuskan para pemain untuk bermain secara kompak. Seorang pemain yang berada di luar posisinya harus digantikan oleh rekan satu timnya.

Hal itu berfungsi untuk menjaga organisasi permainan tim. Alhasil, satu pemain bisa memiliki banyak peran berbeda di lapangan.

Gaya yang cair dan fleksibel ini membuat Zona Mista sulit diantisipasi pada masanya. Fleksibilitas itu membuat lawan kebingungan harus menjaga siapa dan berbuat apa di lapangan.

Percampuran gaya Catenaccio dan Totaal Voetbal yang terlihat dari Zona Mista menjadikannya primadona. Namun tidak semua kesebelasan yang mengadaptasi cara ini menuai banyak kesuksesan.

Walau Radice dianggap sebagai pionir dari Zona Mista, tetapi Juventus-nya Giovanni Trapattoni serta Italia-nya Bearzot lebih dikenal sebagai kubu yang mendapat berkah lewat taktik ini.

Bagaimana tidak, Trapattoni sukses mengantar I Bianconeri mendominasi sepakbola Italia, Eropa, dan dunia medio 1980-an dengan masing-masing menggamit dua titel Serie A, Piala Italia, dan Piala UEFA, plus satu Piala Champions, Piala Winners, Piala Super Eropa, dan Piala Interkontinental.

Sementara Bearzot membawa pulang trofi Piala Dunia ketiga sepanjang sejarah Negeri Spaghetti pada tahun 1982 di mana mayoritas skuadnya berisikan pemain-pemain Juventus asuhan Trapattoni.

Akan tetapi, dinamika taktik dalam kancah sepakbola membawa Zona Mista pada masa kedaluwarsanya.

Persis seperti taktik-taktik terdahulu. Pada pertengahan 1990-an, taktik ini menjadi usang dan ditinggalkan.

Meski begitu, prinsip-prinsip khas Zona Mista diadopsi untuk dikembangkan lagi sesuai dengan dinamika taktik pada era sekarang.

Komentar
Seorang karyawan swasta yang ingin tahu banyak mengenai taktik sepakbola dan belajar menulis artikel. Senang berdiskusi tentang sepakbola dan bisa disapa via akun Twitter @itsghiza