Apakah Barcelona Tetap Hebat Tanpa Pelatih?

Ketika Sergio Ramos meminta Barcelona untuk bersenang-senang selagi bisa, sepertinya ia dan timya memang harus menanti lebih lama lagi di ruang tunggu. Ya, sebab sekarang kita sedang melihat Barcelona yang superior dengan performa yang luar biasa

Baru-baru ini Blaugrana melindas Real Madrid di Santiago Bernabeu, membuat AS Roma remuk redam, meluluh lantakkan Real Sociedad dengan empat gol tanpa balas, juga mengalahkan Villanovense 6-1 dengan pemain lapis kedua mereka. Meski hanya bermain imbang 1-1 dengan Valencia, Barcelona tetap dinilai tampil luar biasa musim ini.

Anak asuh Luis Enrique, sejauh ini, berhasil memuncaki Liga Spanyol, memastikan tiket 16 besar Liga Champions dengan keluar sebagai juara grup, serta baru saja memastikan melaju ke babak berikutnya di ajang Copa Del Rey.

Satu dekade terakhir, kedigdayaan dan dominasi Barcelona memang luar biasa. Sejak tahun 2006 Blaugrana adalah tim yang konsisten meraih trofi dibandingkan tim-tim lain di Eropa.

Terhitung sudah empat kali berada di podium tertinggi Liga Champion. Enam kali keluar sebagai juara La Liga,  tiga kali Piala Super Eropa, lima kali mengangkat Piala Super Spanyol, dan tiga kali menggondol Copa Del Rey.

Masa tersebut dimulai sejak Barcelona ditukangi Frank Rijkard dengan gacoan mereka bernama Ronaldinho. Secara estafet kemudi kemudian berlanjut ke Pep Guardiola, mendiang Tito Vilanova, Tata Martino, hingga pria dari Gijon. Mereka adalah para penafsir filosofi Barcelona yang diprakarsai  Johan Cruyff.

Performa yang apik dan konsistensi dari Barcelona memunculkan opini bahwa sebetulnya mereka akan baik-baik saja meskipun tanpa pelatih dalam tim. Benarkah demikian?

Barcelona sedang melakukan perjudian ketika menunjuk pelatih ingusan bernama Pep Guardiola. Barcelona seperti mengabaikan prasyarat “harus memiliki pengalaman kerja” ketika menunjuk Pep sebagai pelatih.

Ketika Pep sudah merasa memberikan segalanya, asistennya Tito Villanova ditunjuk sebagai suksesornya. Sebelum itu, Tito hanya dikenal karena konfrontasinya dengan Jose Mourinho dalam sebuah pertandingan di El-Clasico.

Praktis, hanya Tata Martino yang dicap sebagai pelatih paling gagal pada periode ini tapi nyatanya dalam periode paling buruk pun, Tata Martino tetap mampu menyumbang trofi Super Copa di lemari trofi klub.

BACA JUGA:  Sergi Samper dan Isaac Cuenca: Eks Barcelona di Negeri Sakura

Lalu Luis Enrique? Ia adalah orang yang sama dengan orang yang tak mampu berbuat banyak ketika berkiprah sebagai pelatih di Roma dan hanya mampu membawa Celta Vigo finis di urutan sembilan La Liga sebelum ditunjuk melatih El Barca.

Tanpa bermaksud menyepelekan kemampuan melatih Pep Guardiola, almarhum Tito Villanova, Tata Martino, dan Luis Enrique, melihat pengalaman-pengalaman mereka sebelum melatih di Camp Nou, barangkali Barcelona memang tak membutuhkan seorang pelatih di sana. Ada alasan kenapa sepintas opini tersebut terlihat benar.

Cruyff, filosofi dan La Masia

Tanggal 4 Mei 1988, Johan Cruyff ditunjuk sebagai pelatih Barcelona setelah sebelumnya ia juga pernah berkiprah sebagai pemain.  Meskipun kembalinya El Flaco ke Nou Camp dilatarbelakangi oleh peristiwa Hesperia Mutiny, di mana 15 pemain dijual, termasuk pemain favorit seperti Victor Munoz, Ramon Caldere and Bernd Schuster.

Tapi, sejak itulah Barcelona membangun lagi kedigdayaan mereka termasuk dengan menjuarai Liga Champions untuk pertama kalinya setelah mengalahkan Sampdoria.

Dan lebih dari itu, Johan Cruyff menemukan seperti apa sebaiknya Barcelona bermain, ia telah menanamkan filosofi ke dalam tubuh Barcelona. Menyerang dengan penguasaam bola yang dominan. Filosofi yang kemudian melekat dan menjadi ciri khas permainan Barcelona selama bertahun-tahun di bawah kepemimpinannya bahkan hingga saat ini.

Tidak hanya itu, berkat Cruyff pulalah akademi bernama La Masia berdiri dan berkembang. Berawal dari idenya yang ingin membuat salinan akademi Ajax Amsterdam di Barcelona dan demi menciptakan sebuah tim yang dapat bermain dengan gaya total football ala Rinus Michels. Selanjutnya La Masia menjadi sistem pendukung terhadap filosofi yang diusung Barcelona.

Pemain lulusan La Masia seperti Lionel Messi, Andres Iniesta, Xavi Hernandez, Sergio Busquets, hingga Gerard Pique telah menjadi satu unit yang amat kokoh. Dalam wawancaranya pada FourFourTwo Andres Iniesta menjelaskan.

“Kami bermain bersama dalam jangka waktu yang lama dengan sistem tertentu, setiap orang bahkan tahu ke mana mereka harus bergerak, hal tersebut membuat pekerjaaanku lebih mudah.”

La Masia dan filosofi menjelaskan sebetulnya Barcelona akan tampak baik-baik saja meskipun tanpa didampingi seorang pelatih. Tapi sebelum kita membenarkan sepenuhnya argumen tersebut, ada baiknya jika kita mengetahui peran apa saja yang dilakukan oleh seorang pelatih.

BACA JUGA:  Fans Manchester United yang Terbelah Dua

Mengetahui peran pelatih

Jika peran pelatih tak lebih dari berjongkok di pinggir lapangan ala Andre Villas Boaz, atau hanya menghisap cerutu seperti yang dilakukan Marcelo Lippi, tentu akan sulit untuk membantah argumen bahwa memang “Barcelona betul-tidak membutuhkan seorang pelatih”. Tapi nyatanya, peran pelatih jauh lebih kompleks daripada itu.

Peran pelatih sangat penting selama masa persiapan sampai pertandingan usai. Selama masa berlatih dan persiapan, pelatih menentukan seberapa besar porsi latihan, durasi latihan, maupun jenis latihan yang akan diberikan.

Seorang pelatih akan menilai sisi mana sajakah yang masih kurang dan perlu dipoles. Seorang pemain yang memiliki stamina buruk, akan terus digenjot untuk mencapai stamina maksimum.

Pemain yang mentalnya lemah, tugas sang pelatih adalah mencari metode khusus untuk meningkatkan motivasi pemain.

Pelatih pula yang menetapkan pola atau formasi apa yang akan dimainkan oleh timnya. Biasanya setiap pelatih memiliki formasi pakem tersendiri. Beberapa hal yang juga harus dipertimbangkan oleh pelatih dalam menentukan komposisi sebelas pemain inti, mulai dari kondisi fisik, mental, situasi dan kekuatan tim lawan.

Pelatih juga harus tahu apa yang mesti dilakukan apabila terjadi gol pada menit-menit awal pertandingan atau bagaimana mempertahakan keunggulan.

Apa pula yang dilakukan pelatih ketika turun minum? Apa instruksinya ketika tim sementara unggul atau sebaliknya dalam kondisi tertinggal?

Salah memberikan instruksi kepada pemain pada saat istirahat bisa berakibat fatal. Sebaliknya, aksi yang tepat akan membuat pemain mendapatkan motivasi berlipat. Dalam hal ini Sir Alex Ferguson dengan hairdryer treatment bisa dijadikan rujukan.

Ada banyak lagi peran pelatih yang tidak bisa disebut satu per satu. Tapi itu sudah cukup menjelaskan bahwa sehebat apa pun sebuah tim, bahkan tim sekelas Barcelona sekalipun, tetap saja membutuhkan seorang pelatih.

Saya percaya dalam kondisi apa pun Barcelona akan konsisten menjadi tim hebat, tapi membayangkan Barcelona tanpa seorang pelatih, tetap saja akan menjadi sebuah pemikiran yang banal.

 

 

Komentar
Fahmin
Bangunkan saya jika sudah berada di depan Mol Antonelliana, atau saat terdampar di perairan Venezia. Penulis bisa dihubungi melalui akun Twitter @vchmn22.